Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
144. AYAH



Sudah pukul 11 menjelang siang, semua sudah bersiap-siap untuk cek out dari hotel dan akan kembali ke mansion dan apartemen masing-masing. Namun sepasang pengantin baru yang baru saja tidur menjelang siang itu masih nyaman di bawah selimut yang sama dengan tubuh polos mereka.


Tringg tringg tringg


bunyi posel Reno mengganggu tidurnya, sehingga ia menggeliat untuk bangun, tapi pergerakannya sama sekali tidak mengganggu Novi dalam tidurnya yang masih pulas itu.


Reno bangun lalu duduk bersandar di kepala ranjang lalu mengulurkan tangannya mengangkat ponsel yang masih berbunyi di atas nakas sejak tadi. Sudah mati tapi kembali berbunyi untuk yang kedua kalinya.


* Halo


* .......


* Baiklah.


Reno mengeraskan rahangnya saat mendapat telepon dari seseorang yang dia tempatkan di kantor pusat perusahaan peninggalan kedua orang tuanya.


Reno bangun dan sebelumnya ia mengecup kening isterinya yang baru dia nikahi satu hari yang lalu. Pria itu akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diriinya terlebih dahulu.


(Tidurlah yang nyenyak sebelum memulai hidup yang rumit bersamaku, yakinlah bahwa aku akan selalu melindungimu bahkan dengan nyawaku sendiri.) Batin Reno sambil duduk di pinggir ranjang hanya dengan mengenakan handuk jubahnya.


Reno tahu bahwa mengambil keputusan menikahi Novi sebelum masalahnya diselesaikan adalah sesuatu yang berbahaya, tapi akan lebih berbahaya jika dia mengorbankan Novi jika belum ada ikatan yang jelas.


"Sayang, ayo bangun sudah jam 11" ucap Reno sambil mengusap kepala sang isteri.


"Hmmmm" gumam Novi tanpa membuka matanya.


"Bangun dan makan, setelah itu kamu bisa tidur lagi sepuasnya" ucap Reno lagi saat tidak melihat reaksi isterinya.


"Aku capek, ngantuk" gumam Novi. Reno yang tidak kehabisan akal, berjongkok tepat di depan sang isteri dan mendekatkan wajahnya dan beberapa saat kemudian kedua bibir itu bersentuhan. Reno sedikit ********** sehingga Novi langung terkejut dan bangun.


"Ka, ih jorok" teriak Novi yang sudah duduk dengan kedua tangannya menahan selimut untuk menutup tubuh polosnya.


"Jorok?" tanya Reno sambil menaikan sebelah alisnya.


"Iya jorok,"


"Aku kan belum sikat gigi" ucap Novi dengan suara rendah sambil menutup wajahnya karena malu dengan selimut tersebut.


Reno tersenyum melihat tingkah isterinya yang menurutnya sangat imut dan menggemaskan.


"Jangan malu, kamu harus membiasakan diri mulai dari sekarang. Apapun kekuranganmu aku tidak peduli, entah kamu ngorok saat tidur atau banyak ilernya atau lainnya, aku tetap mencintaimu" ucap Reno menggoda isterinya uang semakin menenggelamkan kepalanya di dalam selimut saking malunya.


"Ka, jangan diteruskan nanti ada yang tahu kalau aku wanita begituan" ucap Novi dengan suara manjanya.


"Memang siapa yang tahu? kan cuma kita berdua di kamar ini, kecuali semalam dia sudah hadir maka akan ada kita bertiga" ucap Reno membuat Novi langsung mengangkat kepalanya panik saat suaminya mengatakan kalau ada orang ketiga yang sudah hadir sejak semalam.


"Ka, berarti dia melihat kita melakukan itu" ucapnya panik.


Reno yang mengerti maksud ucapan isterinya langsung tertawa terbahak-bahak.


"Sayang, walaupun dia sudah hadir semalam tapi dia tidak bisa melihat dan tidak bisa berbuat apa-apa" ucap Reno membuat Novi semakin tidak mengerti.


"????" pasang muka bingung.


"Dia akan tumbuh dulu di sini" ucap Reno sambil menjamah perut isterinya dari luar selimut.


"Ayo bangun dan mandi, setelah itu kita xcari makan karena sekarang sudah jam 11" ucap Reno.


"Hah, jam 11?" ucap Novi langsung melompat turun dari atas ranjang dengan kedua tangannya yang masih setia memegang selimutnya.


"Akhhhh" teriak Novi langsung berjongkok di lantai membuat Reno panik.


"Itunya sakit" lirih Novi membuat Reno mengerti karena semalam adalah yang pertama bagi isterinya. Dengan sigap ia langsung mengangkat tubuh ramping isterinya dan dan membawa ke dalam kamar mandi.


Reno menyiapkan air hangat di dalam bathtub lalu membuka selimut isterinya yang dia dudukan di atas closed tadi.


"Mau apa?" cegat Novi saat suaminya akan melepaskan selimut dari tubuhnya.


"Aku hanya mau kamu mandi, aku tidak akan melakukannya karena kamu masih sakit dan kelelahan" ucap Reno sambil terus melakukan pekerjaannya yang sejak tadi tertunda karena cegatan isterinya. Ia membawa isteri masuk dalam bathtub lalu membantunya untuk mandi.


Novi merasa sangat istimewa dimata sang suami, ternyata dugaannya yang negatif selama ini terhadap suaminya itu salah.


"Terima kasih" lirih Novi.


"I love you" balas Reno.


Setelah beberapa saat membantu sang isteri membersihkan diri akhirnya ia kembali menggendong isterinya keluar.


Pria itu kembali membantu isterinya untuk memasang pakaiannya dan setelah itu mereka keluar dari dalam kamar untuk mencari makan sekalian makan siang karena sudah lewat jam sarapan.


"Mas, apa yang lain sudah sarapan tadi?" tanya Reno pada seorang pelayan hotel.


"Sudah tuan, mereka semua juga sudah cek out sejak tadi pagi jam 9" jawab pelayan itu.


"Baiklah, terima kasih." ucap Reno.


"Apa bunda juga sudah pergi?" tanya Novi yang sejak tadi menyimak pembicaraan suaminya bersama pelayan hotel.


"Sepertinya" jawab Reno singkat karena memang dia juga belum tahu.


Mereka akhirnya meneruskan niat mereka yang akan mencari makan,


*****


Di salah satu apartemen yang di beli Reno kusus buat Novi dan bunda Nur.


"Ayah, sebaiknya telepon nak Arjo untuk menjemputmu" ucap bunda Nur.


"Bunda, jika aku ke ana maka kamu juga harus ikut." ucap ayah dengan penuh penekanan. Pria itu sedikit tersinggung saat wanita yang baru ia sahkan sebagai isterinya sehari yang lalu mengusirnya untuk segera pergi dari tempat itu.


"Tempatku di sini bukan di sana" ucap bunda Nur tenang.


"Mau kamu itu apa bun?" tanya ayah Veron sambil menatap dalam ke arah isterinya.


"Aku tidak ingin apa-apa" jawab bunda Nur.


"Baiklah, aku juga tidak ingin apa-apa, aku hanya ingin tetap hidup sama bunda seperti dulu, walaupun kita miskin tapi kita tidak pernah terpisahkan. Selama ini sudah cukup bunda meninggalkanku saat aku sakit, sekarang aku sudah sembuh dan aku tidak akan kemana-mana lagi." ucap ayah Dengan mata berkaca-kaca.


"Ayah tidak cocok hidup susah, karena ayah punya tempat yang berbeda dengan kami" ucap bunda tenang.


Wanita itu memilih pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang pada mereka.


Setelah satu jam berkutat dengan alat-alat dapur, bunda Nur akhirnya menyelesaikan tugas memasaknya. Ia menyiapkan semua di atas meja makan dan keluar untuk memanggil suaminya untuk makan siang.


"Ayah?" panggil bunda yang tidak mendapatkan ayah Veron di tempatnya.


Ketika hendak keluar dari apartemen untuk mencari suaminya, ia di suguhkan dengan sepotong surat yang terletak tepat di pintu keluar.


Deg


BERSAMBUNG