Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
66. Perjuangan



"Ma, pa...." seru Alfa setelah tiba di markas.


"Hmmmm sudah puas pacaran?" ucap papa mengganggu Alfa.


"Apa sih pa, kita hampir saja kena musibah" ucap Alfa tidak terima


"Itu tugas kamu untuk melindungi mereka Al" ucap mama


"Bukan aku tapi cucu mama itu, yang terlalu bersemangat main tembak-tembakan" ucap Alfa memberi tahukan


"Maksudnya?" tanya mama yang memang hanya tahu bahwa orang-orang yang mengejar rombongan puteranya itu mati tapi siapa pelakunya.


"Cucu mama itu yang buat suasana semakin panas. Aku saja kaget saat tiba-tiba mobil yang di samping mobilku terbalik dan masuk jurang" jelas Alfa


"Memangnya apa yang dia lakukan?" tanya mama penasaran.


"Dia yang menebak, dan mungkin saja tepat di bannya jadi mobil itu oleng akhirnya terbalik dan masuk jurang" sambung Alfa.


"Sudah ku duga, cucuku sangat luar biasa. Aku jadi sedih hampir saja kehilangannya" ucap mama berkaca-kaca mengingat kembali Mey yang membawa Maggie pergi dari rumah waktu itu.


"Maaf" lirih Alfa yang juga menyadari akan kesalahannya.


"Sudah jangan sedih lagi, yang terpenting sekarang kita sudah menemukan lagi mereka. Alfa, kamu perlu berjuang lebih keras. Hati seorang wanita itu lembut, tapi jika sudah terluka maka susah untuk sembuh" ucap papa yang sudah melihat tingkah Mey selama ini, seolah menghindari Alfa.


" Apa kamu mau melihat Nina?" ucap mama


"Tidak. Terserah mama mau apakan dia, aku sudah tidak peduli bahkan aku sudah menganggapnya mati" ucap Alfa yang memang tidak mau berurusan dengan wanita itu lagi.


"Ah yang benar, lalu kenapa kamu masih rela memberi pengobatan pada anakanya?" ucap mama lagi.


"Mungkin untuk saat ini anak itu tidak berguna. Tapi aku yakin dia akan berguna suatu saat nanti" ucap Alfa karena dia punya maksud tertentu saat mengadopsi anak itu.


"Bagus nak" ucap papa mendukung.


******


Lima bulan kemudian


Hubungan Alfa dan Mey juga Maggie semakin membaik, tapi Alfa belum berani mengutarakan isi hatinya untuk rujuk sama Mey. Mey juga yang perlahan mulai nyaman lagi dengan mantan suaminya itu namun tidak ia tunjukkan kepada Alfa.


Mey ingin Alfa bemar-benar berubah agar tidak kembali seperti dulu lagi.


Alfa yang sangat menyayangi keluarga kecilnya membuatnya hampir-hampir menghabisakan waktu di jalan. Ia harus pergi pulang dua negara ini setiap dua minggu sekali dan tentu iya tidak merasa kelelahan karena rindunya bisa terobati bertemu dengan dua orang kesayangannya.


Baik papa Alberth dan mama Ratna maupun ayah Devid, mereka tidak ingin campur tangan karena mereka mau Alfa berjuang sendiri dan Meypun sendiri membuka hati tanpa paksaan mereka.


"Dad, kenapa sih tidak tinggal sama kita saja?" ucap Maggie yang mulai jelas gaya bicaranya.


"Daddy masih punya banyak kerja di Indonesia. Ade mau nanti harta ade dirampas orang jahat?" balas daddy Alfa.


"Tapi ade kan mau tinggal sama daddy, sama mommy kaya teman-teman ade" rengek gadis kecil itu.


"Iya daddy akan usahakan secepatnya. Nanti kita akan tinggal bersama lagi" ucap daddy Alfa membujuk puterinya sambil melirik Mey yang ada di sampingnya.


Keluarga kecil itu menghabiskan waktu di taman bermain menemani puteri mereka saat weekend seperti ini.


Maggie kembali berlari ke tempat bermain dengan diikuti Novi yang setia menemaninya.


"Mey,," ucap Alfa setelah keduanya diam beberapa saat ketika Maggie meninggalkan mereka.


"Hmm" jawab Mey singkat dan hanya daheman


"Apa kita akan terus seperti ini? sementara Puteri kita terus bertumbuh" ucap Alfa setelah menarik dan menghembuskan nafasnya pelan.


""Maksud kamu?" Tanya Mey pura-pura tidak mengerti.


"Sebelumnya aku ingin minta maaf jika kebersaan kita sebelumnya hanya luka yang aku torehkan. Tapi aku benar-benar ingin memperbaiki semuanya, aku mau hidup bahagia bersama dengan kamu dan puteri kita" ucap Alfa mengutarakan isi hatinya.


Alfa yang tidak mendengar respon Mey akhirnya ikut diam dengan rasa sesak didadanya.


Kalaupun kamu tudak ingin lagi hidup bersamaku, asalkan ijinkan aku ada di sekitar kamu dan terus melindungi kamu. Batin Alfa yang tidak mau memaksa Mey lagi.


Mereka terus diam hingga Maggie menyelesaikan aktivitas bermainnya dan mendatangi mereka dengan kelelahan.


"Ade mau pulang. Ade lelah" ucap anak kecil itu langsung menjatuhkan tubuh kecilnya di atas pangkuan sang ayah.


"Ayo, kita pulang" ucap Alfa yang langsung membawa puterinya ke dalam gendongan menuju tempat parkir.


"Ka, kalian kenapa? kelihatan kaku sekali" tanya Novi berbisik tepat di telinga Mey saat melihat perubahan kedua orang itu.


"Tidak kenapa-kenapa" jawab Mey singkat.


"Ka, jangan kemahalan jualnya, jaman sekarang banyak hama yang berkeliaran, apa ka Mey tidak takut ka Alfa diambil orang? secara dia ganteng, kaya lagi." ucap Novi panjang lebar saat mereka sedikit jauh berjalan di belakang Alfa dan Maggie.


"Jika dia masih terpengaruh, itu artinya dia tidak sungguh-sungguh memperjuangkan kami" ucap Mey acuh.


"Dia sudah berjuang tapi ka Mey tidak respon. Dan kalau gadis lain juga mau berjuang buat dia bagamana?" ucap Novi memanasi


"Memang cuma segitu perjuangannya? aku lebih menderita sejak usiaku baru 17 tahun. Usia dimana seharusnya aku masih mencari jati diriku tapi dia hancurkan lalu hempaskan begitu saja" ucap Mey dengan suara bergetar.


Tanpa mereka ketahui, Alfa mendengar semua perbicangan mereka, Alfa sengaja berjalan lambat, dan keduanya yang sudah asyik mengobrol lupa jika volume suara mereka sudah semakin tinggi.


Alfa ikut teriris mendengar curahan hati Mey. Ia benar-benar salah membiarkan wanita yang dulu mengandung puterinya berjuang sendiri padahal usianya masih sangat muda.


Tanpa sadar juga Alfa meneteskan air mata saat melihat puterinya yang sudah terlelap dalam gendongannya.


"Kita cari makan dulu atau pulang rumah." ucap Alfa saat tiba di mobil.


"Pulang saja, ade sudah tidur tu. Nanti makannya di rumah saja" ucap Mey


"Baiklah." ucap Alfa yang langsung melajukan Mobil menuju mansion Smith.


Mereka terdiam tanpa ada yang mengeluarkan suara. Alfa yang menyetir dan Puterinya tertidur di sampingnya dengan posisi setengah berbaring yang sudah diatur sebaiknya, Sedangkan Mey dan Novi di bagian belakang.


Setibanya di mansion, Alfa kembali menggendong puteriny menuju kamar dan diikuti oleh Mey dari belakang mereka.


Alfa dengan telaten mengatur posisi tidur puterinya saat mereka sudah tiba di kamar Mey dan Maggie.


Mey yang serius melihat aktivitas pria itu, sampai tidak sadar jika saat ini Alfa sudah berdiri tepat di depannya.


"Hei, jangan banyak pikiran. Aku akan berjuang lebih kuat lagi untuk mendapatkan kembali hati kamu. Aku juga tidak mau kamu menerimaku karena terpaksa" ucap Alfa kemudian membuat Mey bingung.


Kebingungan Mey terlihat lucu di mata Alfa, pria itu gemas dan menghadiahkan sekali kecupan di kening Mey. Namun wanita itu masih tetap ternganga karena baru menyadari jika Alfa pasti dengar obrolan mereka tadi.


Alfa yang melihat itu terkekeh karena ternyata orang secerdas Mey bisa kelihatan oon juga jika dalam keadaan seperti ini.


Melihat Mey yang masih seperti orang linglung yang kesambet roh jahat, mendorong Alfa melakukan sesuatu.


Dengan perlahan Alfa menyatuhkan kedua bibir yang sudah lama tidak bersentuhan itu. Mey juga yang adalah wanita normal dan sudah tidak di sentuh beberapa tahun ini akhirnya mengikuti nalurinya.


Kedua benda kenyal yang awalnya hanya menempel perlahan mulai ada gerakan, Alfa perlahan ******* dan menyapu setiap sisi bibir wanita itu dan sedikit gigitan membuatnya membuka mulut, sehingga dengan gampang pria itu mengakses semua rongga mulutnya.


Setelah beberapa menit saling berpagutan, akhirnya Mey kembali ke alam sadarnya dan langsung mendorong Alfa hingga tersungkur di lantai.


Alfa yang menyadari kesalahannya kembali bangun dan langsung membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Maaf. Tidak seharusnya aku bertindak sejauh ini" ucapnya penuh penyesalan. sedangkan Mey sudah menangis dalam pelukan sang mantan suami.


"Maaf. Maaf... "hanya kata itu yang keluar dari bibir pria itu. Ia juga tersenyum ketika tangan mungil itu mulai bergerak dan melingkar tepat di pinggang kekarnya. Alfa berulang-ulang mengecup pucuk kepala wanitanya, walaupun tidak ada respon kata-kata tapi bahasa tubuhnya sudah mewakili jawabannya pada pria itu.


-Bersambung-