
"Ka, kenapa wajah kamu seperti ini?" tanya Novi yang baru menyadari jika wajah suaminya ada sedikit lembam.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit insiden saat aku dan teman-teman mendatangi perusahaan Daddy" jelas Reno jujur. Pria itu tidak mau lagi menyimpan rahasia dari isterinya karena mengingat hubungan mereka yang hampir berakhir waktu masih berstatus kekasih, karena pada saat itu dia banyak menyimpan rahasia untuk wanita yang sudah sah menjadi isterinya itu.
"Ya Tuhan, kenapa tidak bilang dari tadi sih?" gerutu Novi karena suaminya bahkan menyembunyikan hal seserius ini.
"Tidak apa-apa syg. Hei mau kemana?" ucap Reno sambil menangkap tubuh isterinya yang hendak keluar.
"Ambil kotak P3K" ucap Novi sambil berusaha turun.
"Tidak usa sayang, semalam aku sudah mengobatinya di rumah papa" ucap Reno sambil menguatkan pelukan pada sang isteri sehingga Novi tidak bisa bergerak.
"Hah? kamu ke rumah papa?" tanya Novi.
"Iya sayang. Maaf aku semalam tidur di rumah papa sekalian memberitahukan hal tentang perusahaan kepada papa sama mama" jelas Reno tidak ingin Novi marah.
"Baiklah aku maafkan tapi..." ucap Novi sambil membayangkan sesuatu dan itu membuat Reno penasaran.
"Tapi apa sayang" tanya Reno mendesak.
"Tapi aku pengen makan bakso yang diujung jalan perumahan ayah Devid" ucapnya dengan suara melemah takut Reno tidak mengabulkan permintaannya.
"Kenapa harus di sana hmmm?" tanya Reno ingin tahu.
"Itu tempat yang dulu sering aku dan kaka makan di sana" jawab Novi jujur.
"Baiklah kita akan mengajak si gadis matre itu" ucap Reno sambil terkekeh mengingat tingkah cucu dari majikan besarnya itu.
"iiih jangan bilang begitu, kalau dengar bisa perang dia" ucap Novi sambil mencubit perut suaminya.
"Bagaimana dia dengar, orangnya saja tidak ada di sini, palingan kamu yang kasih tahu" ucap Reno.
"Cihh emang iya kenapa?" jawab Novi enteng.
"Kenapa kamu harus lebih takut singa kecil itu dari pada suamimu?" ucap Reno, sedangkan Novi sudah turun dari tempat tidur dan langsung masuk ke kamar mandi.
*****
"Dafiiiii jangan cali gala-gala kalo tidak mau ditonjok sama kaka ya?" Ancam Maggie yang melihat sang adik mengambil alih tas sekolahnya dan mengeluarkan isi dalam tas tersebut.
"Tuyis (tulis)" jawabnya sambil tangan mungilnya terus mengobrak-abrik isi tas mencari bolpoin.
"Yeee kalo mau nulis ya minta pena sama daddymu yang sok kaya laya itu" ucap Maggie sambil menari tasnya dari Daffi.
"Jahat" gerutu Daffi kecil kepada sang kaka.
"Cihh dasal pelusak balang olang" ucap Maggie sambil melangkah naik kembali ke lantai atas mencari sang daddy untuk mengantarnya ke sekolah.
"Daddy... cepat dikit dg, kaka udah trlambat ni" teriak Maggie dibalik pintu kamar orang tuanya.
"Iya daddy masih pake dasinya" teriak Alfa dari dalam kamar.
"Cih palingan juga mommy yang pakaiin" gerutunya sambil berdiri di depan pintu.
Beberapa saat kemudian, kedua orang tuanya keluar dan mereka kembali turun ke lantai dasar untuk sarapan.
"Kenapa kaka tidak tunggu saja di bawah sayang?" tanya Mey pada puteri sulungnya.
"Malas" jawabnya culas.
"Jahat!!" teriak Daffi yang memasang wajah lucunya dengan mengembungkan kedua pipinya marah kepada sang kaka.
"Kenapa de?" tanya Mey yang mendapati putera bungsunya sedang berdiri dengan emosinya di ujung tangga terakhir.
Anak lelaki kecil itu malah buang muka saat mendengar pertanyaan sang mommy. Maggie yang tahu sebab akibat kenapa adiknya marah, malah mengibaskan rambut panjangnya di depan Daffi dan pergi begitu saja melewati sang sang adik.
"Daffa mana?" tanya Mey setelah Alfa mengambil alih putera bungsunya.
"Cini" jawab anak lelaki kecil itu. Ternyata Daffa sedang menikmati sarapannya ditemani asisten.
Mereka semua akhirnya bergabung dan sarapan bersama di meja makan. Namun kekacauan kembali terjadi saat dua orang yang punya kesukaan yang sama yakni Maggie dan Daffi yang sama-sama suka ayam goreng tapi pahanya saja.
Paha ayam yang memang sisa satu itu menjadi rebutan dua anak itu sehingga Mey jadi pusing.
Kenapa harus ada Maggie kedua dalam rumah ini yang versi cowok ya? sepertinya kesejahteraan rumah ini akan hilang kalau seperti ini. Batin Alfa sambil melipat tangan di dadanya.
"Dad, pokoknya harus beli lagi satu kulkas dan itu kusus untuk tempat penyimpanan paha ayam" ucap Mey tegas membuat Alfa menaikan salah satu alisnya.
"Mom, sejak kapan daddy beralih profesi jadi penjual daging ayam?" tanya Alfa tidak terima baik.
"Sejak sekarang"
"Sejak sekalang"
Jawab Mey dan Maggie bersamaan.
Cih kenapa aku yang kena getahnya? Gerutu Alfa dalam hati.
"Dad jangan ngelamun, kaka sudah telambat ni" ucap Maggie menyadarkan sang daddy.
"Iya puteri ratu, sesuai keinginanmu" gerutu Alfa.
Mereka melanjutkan makan mereka hingga selesai. Hari ini Mey tidak ikut ke kantor karena kedua orang tuanya pergi ke luar negeri untuk menangani salah satu cabang perusahaan di sana sehingga Mey terpaksa tidak masuk kantor untuk beberapa waktu karena Alfa yang begitu posesif terhadap si kembar.
Pria itu tidak mau anak-anaknya tanpa pengawasan dari salah satu diantara mereka.
Daffi yang masih dendam pada sang kaka karena kejadian dua kali pagi ini membuatnya tidak puas. Anak lelaki kecil itu menatap kearah sang kaka dengan tatapan tajamnya.
"Kenapa liat-liat" gerutu Maggie dengan tidak kalah sinis.
"Kaka jangan seperti itu nanti nangis dia" ucap Mey dengan nada yang sangat lembut.
"Cihh dianya yang mulai mom" ucap Maggie.
"Dad, beliin pena buat Daffi bial tidak melusak punya kaka. Katanya kaya, anaknya tidak dikasih pena yang cuma 2 libuan" lanjutnya sambil menggerutu.
"Daddy akan beli sekalian pabriknya" ucap Alfa sombong.
"Yee jangan omong doang" cibir Maggie.
****
"Kenapa kamu tidak berhasil menangkap para bajingan yang sudah berhasil masuk ke kantor?" bentak seorang pria yang sangat marah karena keuangan yang dia harapkan untuk melanjutkan pembangunan peeusahaan baru itu tiba-tiba saja menghilang.
Lebih marah lagi saat dia tahu kalau ada orang yang menyusup masuk ke dalam kantor dengan malam-malam.
"Maaf bos, tapi tiba-tiba saja ketua mereka menghilang sehingga kami jadi lengah dan yg lain melarikan diri." jelas salah seorang dari mereka.
"Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu jarus menemukan bajingan itu dan membawanya ke hadapanku" ucap pria itu lagi dengan tegas.
"I iya tuan" jawab mereka serentak dan langsung keluar dari ruangan itu.
"Sepertinya ada yang tidak beres, bukannya aku sudah membunuh satu keluarga itu? tidak mungkin si Sandro penakut itu yang bertindak" gumam pria itu.
"Aku harus cari tahu sampai dapat." lanjutnya.
BERSAMBUNG