Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Menemukanmu



Pria itu mencoba untuk mendekati gadis itu untuk memastikannya, semakin dekat dan lebih dekat lagi.


Bugh bugh akhhh


"Dasar pria mesum! jangan macam-macam denganku! kamu pikir bisa berbuat seenak jidat pada seorang gadis di tempat sepi seperti ini?" bentak Maggie penuh emosi.


Gadis itu pergi begitu saja dari sana meninggalkan pria itu sedang terkapar karena walaupun cuma dua pukulan tapi Maggie mengeluarkan seluruh tenaganya.


"Cihhh menjengkelkan, Untung aku tidak membunuhnya" gerutunya sambil membuang langkahnya dengan kasar.


Maggie tiba di sebuah kedai kopi di dekat pantai ternyata kedua adiknya sedang menikmati cappucino sambil bersenda gurau.


"Kaka jalannya kejauhan jadi kita menunggu di sini saja" ucap Daffa kepada sang kaka.


"Daddy sama mommy belum kemari?" tanya Maggie kepada mereka.


"Belum telepon, mungkin sebentar lagi" jawab Daffa.


"Kaka mau juga?" tawar Daffi sambil menunjukkan gelasnya yang berisi cappucino yang sudah sebagian.


"Ada coklat panas Bu?" tanya Maggie kepada seorang wanita paruh baya seusia Oma Ratna.


"Ada non" jawab wanita itu sambil berbalik kearah ketiganya.


Deg


"O Oma Nur?" gumam Maggie terpaku menatap wanita itu tanpa berkedip.


"Mau dibuatkan satu non" ucap wanita tua itu kembali memastikan.


"Ka, jawab tuh, mau apa nggak?" ucap Daffi sedikit berteriak untuk mengembalikan kesadaran kakaknya.


"Oma Nur?" ucap Maggie sambil berjalan ke arah wanita tua itu.


"Maaf nak, apa kamu mengenalku?" tanya wanita itu bingung.


"Aku ..." uca Maggie terputus dan langsung memeluk wanita tua itu.


"Aku Maggie Oma, gadis kecila yang dulu pergi bersama ka Novi ke Australia." ucap Maggie dengan mengeratkan pelukannya.


Daffa dan Daffi bingung dengan sang Kaka yang sembarangan memeluk orang asing.


Saat asyik berpelukan, tiba-tiba masuk seorang pria yang berjalan terseok-seok dengan keadaan sudut bibirnya yang mengeluarkan darah walaupun sudah mulai mengering.


Pria muda yang langsung mengenal gadis yang tadi menghajarnya melalui jaket yang dipakai gadis itu, langsung naik darah.


"Hei kau! apa yang kau lakukan kepada omaku hah?" bentak pria itu kepada Maggie yang masih berdiri dengan Oma tidak jauh dari sana.


Bukan hanya Daffa dan Daffi yang berbalik tetapi Oma Nur dan Maggie juga ikut berbalik ke arah sumber suara. Maggie terkejut karena yang dia pukul tadi adalah teman kelas di kampus dan juga apa katanya tadi? Oma Nur?


Maggie tidak percaya karena setahunya anak Novi masih remaja dan perempuan, kenapa pria ini mengenalkan diri sebagai cucu Oma Nur.


"Kaka Roberth kan?"tanya Daffa setelah suasana hening melanda mereka beberapa saat kemudian.


"Daffa, Daffi?" ucap Roberth kaget.


"Kenapa bentak ka Maggie?" cecar Daffi sedikit emosi karena sang Kaka dibentak oleh pria yang bertemu dengan keluarganya beberapa saat lalu bahkan baru kemarin malam mereka makan malam bersama di kota.


"Hah? ka Maggie?" beo Roberth mengikuti ucapan Daffi.


"Ka Maggie ayo kita pulang. Pasti daddy sama yang lain udah tiba" pria kecil itu bangkit dan melangkah ke arah sang kaka dan langsung menariknya keluar tanpa pamit.


Oma bingung, apa yang sebenarnya terjadi sedangkan Daffa ikut berdiri dan memasukkan ponsel ke dalam sakunya dan menuju Oma Nur untuk membayar tagihan dari minuman mereka.


"Kaka sudah membuat pertemuan dengan teman masa kecil Kaka jadi berantakan. Gadis yang Kaka bentak tadi adalah orang yang Kaka cari selama ini" ucap Daffa dan langsung melangkah keluar dari kedai tersebut.


Roberth yang sepenuhnya sudah sadar langsung berlari keluar dari kedai tanpa pikir panjang langsung menarik gadis kecil yang baru hendak masuk ke dalam mobil lebih tepatnya untuk mengemudi.


"Maaf, maaf.. maafkan aku yang tidak mengenal kamu yang sudah lama ada disekitarku" ucap Roberth dengan suara bergetar.


Maggie yang baru sadar dipeluk oleh orang asing langsung mau bertindak namun Roberth tidak memberikan kesempatan untuknya.


"Lepasin" ucap Maggie geram karena tidak diberi kesempatan untuk kembali menghajar pria itu.


"Aku Roberth sayang, teman masa kecilmu" ucap Roberth langsung pada intinya.


Deg


Maggie terkejut seolah tidak percaya jika teman sekelasnya ini adalah Roberth, pria kecil yang sering melindunginya dulu di sekolah.


Roberth merenggangkan pelukannya dan menangkap kedua pipi Maggie dengan sangat lembut. Maggie seperti anak ayam yang sangat jinak karena semuanya masih dikelolah di dalam otaknya soal pria yang ada di depannya sekarang.


"Aku Lobetmu yang dulu. Maaf pergi tanpa pamit karena aku juga tidak tahu soal orang tuaku yang berencana pundak ke Indonesia." jelas Roberth dengan selembut mungkin.


"Ka kamu?" ucap Maggie terbantah.


"Iya aku Lobet" ucap Roberth membuat Maggie memayunkan bibirnya panjang ke depan.


"Apa kamu tidak merindukanku?" ucap Roberth sambil merentangkan tangan agar gadi itu bisa memeluknya. Namun Maggie malah pergi begitu saja menjauhinya, sekitar 10 meter jauhnya.


Roberth terkejut, ucapan Oma Ratna kembali mengganggu pikirannya yang mengatakan jika Maggie sudah menyukai pria lain.


Dengan hati-hati, Roberth melangkah mendekat ke arah gadis itu.


"Apakah aku sudah tidak bisa mendapatkan tempat lagi di hatimu?" ucap Roberth sambil menahan sesak di dada.


"Jika kamu sangat mencintainya tak apa" lanjutnya dan berbalik.


(Kamu harus kuat Roberth, ini bukan salahnya. Keinginanmu untuk bertemu dengannya sudah tercapai, biarkan dia bahagia) batin Roberth menguatkan diri sendiri.


Roberth melangkah pergi kembali ke kedai sang Oma dan opanya.


(Aku takut kamu tidak menerima keadaanku yang sekarang. Aku seorang pembunuh yang sebentar lagi akan disahkan menjadi ketua maffia Mara Salvatrucha.) batin Maggie sambil meneteskan air matanya yang sudah membanjiri di pipinya.


Alfa dan yang lainnya yang memang sudah tiba di sana dan menyaksikan pemandangan tadi, ikut sedih. Mereka tahu Puteri kecil itu sedang menahan sesak di dadanya. Mereka juga tahu aturan apa yang diberikan olah opa Gaston kepada gadis kecil itu sehingga ia merelakan kebahagiaannya begitu saja yang selama ini dia harapkan.


"Ayo kita pulang nak" ucap Alfa sambil menyentuh kedua pundak gadis itu.


Maggie yang sudah tidak tahan langsung menghambur ke dalam pelukan sang Daddy dan menangis sejadi-jadinya di sana.


"Jika berjodoh, kalian akan kembali bersama." ucap Alfa sambil mengusap pucuk kepala sang Puteri.


"Apakah dia akan mengerti denganku dad? aku takut dia kecewa denganku" ucap Maggie masih sesugukan.


"Mungkin saat ini dia kecewa karena kamu tidak membalasnya. Tapi jika ia tahu nanti, ia akan mengerti dan memaafkan kamu" jelas Alfa selembut mungkin.


"Aku takut dia diambil orang dad" ucap Maggie lagi dengan bibir mayunnya membuat Alfa terkekeh.


"Kalau begitu Kaka harus memberitahunya supaya dia mau menunggu Kaka sampai tugas yang diberi opa selesai" umpan Alfa kepada sang Puteri.


"Tidak mungkin dad, itu artinya aku membuatnya menjauhiku sejak sekarang. Daddy tahu, dia itu teman sekelasku di kampus" ucap Maggie membuat Alfa tersentak.


BERSAMBUNG