
Malam ini, Adam dan membawa rombongannya dan membawa serta Novi yang masih pingsan karena setiap kali ia sadar mereka kembali menyuntikan obat yang membuatnya kembali tek sadarkan diri. Mereka membawa Novi ke sebuah gedung tua tempat mereka menyusun kembali rencana mereka untuk menyerang mansion utama keluarga Adipaty.
"Lakukan sebaiknya malam ini, kita tidak boleh gagal dengan para semut kecil itu" ucap Adam sambil menyesap sebatang rokoh sambil duduk memangku kakinya.
"Siap bos" jawab salah seorang pria yang adalah bawahan Adam.
"Bagaimana dengan keadaan di Indonesia dan di Australia, pasti mereka kewalahan jadi tidak punya kesempatan untuk saling menolong, jadi biarlah pria tua itu bersama isterinya habis ditanganku." ucap Adam dengan sombongnya.
Tepat tengah malam kira-kira jam 11 malam, Adam mulai menggerakkan para anak buahnya untuk menjalankan misi mereka malam itu juga, setibanya mereka di sana,mulailah mereka terpencar untuk mengepung mansion keluarga Alberth.
"Aneh, kenapa solah tidak ada penjaga ya di mansion ini ya?" bisik salag satu anak buah Adam kepada teman sebelahnya.
"Iya sepertinya mansion ini memang kosong" jawab teman disampignya.
"Coba kita masuk" setelah mereka masuk ke dalam mansion mereka tiidak mendapati apa-apa dan di sana juga tidak ada siapa-siapa.
Mereka memeriksa dari ruang ke ruang dan memang betul mansion itu kosong tidak ada siapa-siapa.
""Berarti?" ucap salah seorang yang baru menyadari kalau mereka tertipu.
Saat akan keluar ternyata mereka sudah dikepung oleh sejumlah orang yang kuat dan perkasa, jumlah mereka yang hanya sekitar 20 orang akhirnya dengan pasarah menyerah dan diseret menuju markas.
Adam yang sejak tadi menunggu informasi dari orang-orangnya ternyata sudah tidak dapat dihubungi lagi.
Drttt drtt drtt
Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ternyata sebuah panggilan video dari nomor yang tidak di kenal.
"Siapa yang kamu cari tuan Adam" ucap seorang pria yang tidak kelihatan wajahnya dan hanya langit-langit ruangan tersebut.
"Siapa kau? dan apa maksudmu?" ucapnya geram.
"Hahahaha aku? aku adalah orang yang kau incar, apakah kau sudah berhasil mengincar mansion kosong itu?" ucap pria misterius di balik telepon.
"Rupanya kau sudah tahu akan kedatanganku ke sini, tapi sayang tidak lama lagi akan kau kenal siapa aku sebenarnya, kau salah main api denganku" ucap Adam dengan emosi yang semakin memuncak.
"Aku tunggu kedatanganmu ke sebuah gedung di pinggiran kota, di sini kau akan bertemu dengan putera kesayanganmu" ucap pria itu sambil mengarahkan kamera ponsel ke arah Aldrich yang sudah sangat prihatin keadaannya.
"Kurang ajar, aku akan membunuhmu yang sudah bermacam-macam dengan anakku" ucapnya dengan suara teriak karena emosi.
Pria itu langsung mematikan ponselnya dan mengumpulkan semua anak buahnya yang cukup banyak untuk mendatangi tempat yang diberi tahu oleh sang penelepon tadi.
Strategi yang terpaksa harus berubah secara mendadak itu membuat para orang-orangnya mengalah.
Kedatangan kelompok musuh itu cukup menggemparkan seluruh orang-orang di mansion karena jumlah mereka yang cukup banyak membuat para penjaga cukup kewalahan.
kelompok musuh semakin masuk ke dalam markas, mereka sangat terkejut ketika melihat isi gedung itu serba mewah padahal bentuk luar gedung itu seperti rumah tua yang sudah tidak berpenghuni namun ternyata isi dalamnya serba canggih.
Di sisi lain dari gedung itu, Reno dan Roky juga tengah menghadapi musuh yang begitu banyak padahal mereka hanya berdua saja tapi karena semangat Reno untuk menyelamatkan sang kekasih, ia bahkan tidak peduli dengan nyawanya sendiri.
Perkelahian semakin memanas dan membawa mereka masuk ke sebuah ruang yang cukup luas dan sedikit remang-remang karena cahaya lampu yang tidak begitu terang.
Reno yang hendak menghantam lawannya mendadak berhenti saat mendengar ada suara yang berseru dengan sangat nyaring.
"Stop!! jika tidak maka gadis ini akan aku habisi" ucap Adam sambil menekan pisau kecil ke arah leher Novi sehingga gadi itu meringis kesakitan karena darah segar yang mulai mengalir dari tekanan pisau tersebut.
Reno mendadak kaku saat melihat gadisnya yang menjadi tawanan musuh mereka, apalagi saat ini keadaannya tidak baik-baik saja.
Reno yang lengah karena melihat sang kekasih langsung dimanfaatkan oleh lawannya yang melepas sebuah tendangan tepat di dadanya membuat pria itu terbuang agak jauh dengan menyemburkan darah segar melalui mulutnya.
Perlawanan yang tidak seimbang itu akhirnya membuat Roky juga senasib dengan Reno membuat kedua laki-laki itu tidak berdaya dikepung oleh orang-orangnya Adam.
Novi histeris, melihat keadaan sang kekasih yang sangat memprihatinkan sehingga gadis itu ingin memberontak namun benda tajam itu semakin dalam sehingga darahnya semakin banyak yang keluar.
Reno menatap dalam kedua mata gadisnya dengan sayu seolah berkata "Sayang, jangan bergerak karena aku tidak apa-apa."
Novi menangis pilu tanpa suara saat melihat Reno dan Roky di tendang bergilir oleh orang-orang di sana, bahkan kedua pria itu yang sudah tidak berdayapun masih terus diperlakukan dengan sangat sadis.
"Hei anak muda, jangan sok hebat untuk menjadi pahlawan bagi kekasihmu, aku akan membuatnya menjadi wanitaku mulai sekarang" ucap Adam dengan suara lantang dan percaya diri.
Ia percaya bahwa anak buahnya yang lain sudah membasmi semua para pengawal yang tadi berjaga di dalam markas ini.
Plak plak plak
Tiba-tiba ruang yang tadi remang itu berubah menjadi terang benderang, dan terdengar tepukan tangan seseorang yang sangat dikenali oleh Adam, dia adalah Alberth.
"Hai tuan Adam, rupanya kau sudah sangat merindukanku. Selamat datang di tempatku yang tidak layak ini" ucap Papa Alberth sambil melangkah mendekati Adam.
Anak buah Adam yang sejak tadi tengah menganiaya Reno dan Roky akhirnya berhenti dan beberapa dari mereka langsung memcabut pistol mereka masing-masing dan mengarahkannya ke arah papa Alberth.
"Oh Alberth, rupanya kau sudah semakin berani sekarang. Dimana puteraku kau sembunyikan hah?" ucap Adam dengan suaranya yang meninggi.
Karena kau sudah melukai anak gadisku maka aku juga akan menunjukan kepadamu bagaimana seorang Alberth yang dulu kau kenal lembut bisa menggambar di wajah puteramu dengan ini." ucap papa Alberth sambil memutar pisau lipat yang ada dalam genggamannya.
"Jangan macam-macam kau Alberth jika tidak ingin keluargamu hancur ditanganku" ucap Adam penuh penekanan. Pria itu tidak lagi menekan pisau itu ke leher Novi namun terlanjur darahnya terus mengalir.
Papa Alberth melirik ke arah Roky dan Reno, hatinya seperti tercabik dengan keadaan ketiga orang itu yang saat ini dalam keadaan kritis.
BERSAMBUNG