
"Kamu kenapa hmm?" tanya Alfa lagi saat sudah berhasil mendapatkan isterinya di tengah-tengah tangga menuju ke kamar mereka.
"Tidak" jawab Mey singkat dan tegas.
"Lalu kenapa kamu sepertinya marah begitu?" tanya Alfa yang belum menyadari perubahan sikap isterinya itu disebabkan oleh apa.
"Iya aku memang marah. Aku marah karena kenapa wanita itu tidak puas sapai harus menyakiti anakku yang aku rawat dengan susah payah, anak yang harus menanggung semua masa kelam yang seharusnya bukan kesalahannya" teriak Mey embuat Alfa terkejut karena isterinya yang terkenal lembut itu meluap dengan tiba-tiba.
Deg
"Oh jadi itu sebabnya kamu pergi tanpa memberitahuku? kamu alasan ada masalah kantor sehingga kamu tidak merasa lelah sama sekali karena ingin bertemu dengannya?" ucapnya lagi dengan suara yang masih lantang membuat para ART pada menjauh dari sana. Beruntung si kembar lagi keluar bersama opa Devid dan isterinya.
"Maaf..." ucapan Alfa terputus saat Mey mengeluarkan satu bahasa lagi yang membuatnya tercekat.
"Cukup!!! sekali pengkhianat tetaplah pengkhianat dan aku muak dengan semua ucapanmu" ucapnya lagi dan langsung pergi dari hadapan Alfa begitu saja.
Deg
Untuk kedua kalinya Alfa harus mendengar kata-kata menyakitkan dari sang isteri. Alfa hanya menatap kepergian sang isteri dengan tatapan kosong.
Wanita itu masuk ke kamar mereka dan langsung mengunci kamar tersebut tanpa peduli dengan sang suami yang masih terpaku di tengah-tengah tangga itu.
Alfa kini menyesal karena ternyata luka yang ia torehkan kepada sang isteri masih membekas hingga sekarang. Wanita itu begitu sensitif jika menyangkut puteri semata wayangnya. Alfa bisa melihat jika si kembar yang mendapat masalah, Mey selalu memberi motivasi dengan mengatakan kalau hal itu biasa karena mereka adalah anak laki-laki jadi harus bisa menangani masalah mereka sendiri. Akan tetapi jika itu adalah Maggie maka cerita beda apalagi yang membuat ulah adalah wanita dari masa lalu Alfa sendiri.
Alfa membiarkan sang isteri untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum ia menjelaskan lebih lanjut tentang masalah penculikan puterinya.
Alfa memilih pergi ke ruang kerja dan merenungkan semua perbuatannya yang terlanjur ia lakukan terhadap isteri dan anaknya di masa lalu.
Bukannya aku mau menyembunyikan tentang penculikan kaka terhadapmu sayang, tapi aku tidak mau kamu panik jika mengetahui kaka dalam keadaan tidak baik-baik saja. Aku juga tahu, luka yang aku torehkan tidak akan hilang bekasnya sehingga setiap kali kamu mendengar soal wanita masa laluku, kamu pasti akan seperti ini. Tapi aku memakluminya, itu artinya kamu sangat mencintaiku sehingga kamu tidak mau kehilangan aku lagi. Batin Alfa menguatkan diri sendiri.
Malam ini terlewatkan begitu saja tanpa ada damai di hati Mey, wanita beranak tiga itu merasa ada yang disembunyikan oleh sang suami terhadapnya sehingga ia berusaha untuk melakukan sesuatu karena sudah cukup ia menderita selama beberapa tahun bersama puterinya karena tidak diakui oleh suami sendiri.
"Maaf, aku terpaksa harus melakukannya" gumam Mey yang sudah bangun sejak pukul tiga dini hari tadi.
Setelah mempersiapkan semuanya dan menelepon anak buah sang ayah untuk mempersiapkan semuanya juga, Mey akhirnya keluar dari rumah mewah itu masih subuh.
"Berangkat sekarang nyonya?" tanya seorang anak buah ayah Devid yang akan mengantarkan Mey pergi.
Mey yang nekad akhirnya pergi tanpa minta ijin kepada suami, anak-anak dan kedua orang tuanya. Sepanjang perjalanan Mey kembali merenungkan setiap keputusan yang dia ambil.
Wanita itu akhirnya tiba di bandara dan pagi itulah ia berangkat meninggalkan Australia menuju ke Indonesia.
Hanya satu yang ada dalam benak Mey, ia tidak ingin masa lalunya kembali terulangi.
******
"Kamu kemana sayang? jangan membuat aku panik. Kamu boleh marah, kamu boleh mukul aku tapi jangan pernah untuk mengambil tindakan seperti ini" ucap Alfa sambil duduk di ranjang mereka. Pria itu bahkan sudah meneteskan air matanya karena baru kali ini, sang isteri yang terkenal lembut itu beisa melakukan hal seperti ini.
Tok tok tok
"Masuk" ucap Alfa dengan tidak bersemangat.
Pintu terbuka dan masuklah bu Ani yang berjalan ke arah pria yang dulunya adalah anak majikannya, tapi kini menjadi menantunya.
"Bu, apa ini yang dirasakan Mey dulu?" ucap Alfa menyadari bahwa rasanya ditinggalkan itu memang sangat menyesakkan.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Mey tidak mungkin melakukan hal yang tidak bermanfaat. Kamu tahu? dia adalah perempuan yang sudah dewasa sebelum saatnya. Mungkin saat ini dia sedang menenangkan diri disuatu tempat. Atau mungkin dia sedang datang ke Indonesia untuk memastikan langsung keadaan kaka. Kamu tahukan? jika itu adalah kaka, Mey tidak akan pernah tinggal diam" nasehat bu Ani.
Alfa tersadar, dia sudah melewatkan sesuatu yang tidak terpikirkan olehnya.
"Terima kasih bu, aku harus menyusulnya ke sana" ucap Alfa yang langsung bertindak. Padahal bu Ani hanya berandai tapi pria itu begitu yakin dengan ucapan ibu mertuanya itu.
Alfa akhirnya meminta ijin kepada ayah mertuanya dan menitip pesan untuk si kembar yang sudah pergi ke sekolah pagi tadi. Bagi Alfa, amarah Mey bisa meruntuhkan dunianya sehingga ia berusaha sedemikian mungkin untuk mendapatkan maaf dari Mey.
Alfa akhirnya menyusul Mey ke Indonesia tanpa tahu dimana isterinya berada sekarang.
********
Setelah sekian lama berada di atas udara, akhirnya pesawat yang ditumpangi oleh Mey mendarat juga. Wanita itu langsung dijemput oleh orang suruhannya dan menginap di Hotel. ey yang tidak mau memperpanjang urusan langsung menelepon opa gaston.
"Halo paman, apakah paman sudah kembali ke California?" tanya Mey lansung pada intinya.
"Paman asih menangani hama kecil yang merusak tanaman di Indonesia" jawab paman santai. Pria itu bahkan sudah mengetahui kedatangan menantunya itu.
"Lalu di mana paman sekarang?" tanya Mey memastikan posisi sang paman karena ia tahu bahwa hama yang di maksud opa Gaston adalah Nina.
"Tidak perlu kamu tahu nak, ini urusan paman" ucap Paman yang sudah tahu juga maksud Mey.
"Aku ingin ke sana untuk ikut menyaksikan paman membasmi hama tersebut" ucap Mey yang sudah malas berbelit-belit.
"Baiklah, tunggu di situ, opa akan menyuruh orang untuk menjemputmu" ucap paman Gaston yang langsung mematikan ponselnya sepihak.
Mey menunggu dengan sabar kedatangan orang suruhan opa Gaston menjemputnya. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya datang juga orang tersebut. Mereka akhirnya pergi meninggalkan hotel tempatnya menginap.
BERSAMBUNG