
Ayah Veron kini sudah bisa dijenguk jadi bunda yang lebih dahulu masuk ke dalam karena hanya diperbolehkan satu-satu orang.
Setelah bunda masuk, Novi punya kesempatan untuk berbicara dengan Reno dan ia berharap pria itu tidak banyak beralasan.
"Ka, apakah kita bisa bicarakan sesuatu sekarang?" tanya Novi.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Reno.
"Ada yang aku mau bicarakan. Kita mencari tempat yang lebih leluasa." ucap Novi tegas membuat Reno mau tidak mau harus mengiyakan titah baginda raja.
"Oke. Kita ke taman rumah sakit saja di bagian samping" ajak Reno kepada Novi.
Keduanya melangkah pergi menuju tempat yang disebutkan Reno dengan bergandengan tangan. Sebenarnya Novi merasa risih namun demi menjawab rasa penasaran ia terpaksa membiarkan pria yang beberapa waktu lalu mengecewakannya itu menggandengnya.
"Duduklah, agar kamu tidak pingsan" goda Reno karena melihat ketegangan di wajah gadisnya itu.
Dengan patuh Novi duduk diikuti Reno, keduanya duduk disebuah bangku panjang yang ada di tengah-tengah taman Rumah Sakit.
"Jelaskan tentang semuanya" ucap Novi tegas.
"Jelaskan apa?" tanya Reno pura-pura tidak tahu.
"Semuanya, kanapa kamu bisa ada dibalik semua teka-teki ini. Apa maksud kamu" ucapnya lagi dengan wajahnya berubah garang.
Reno dapat melihat perubahan itu, ia berusaha untuk tidak membuat Novi kecewa.
"Aku akan kembali bekerja untuk membayar semua uang yang sudah kamu berikan untuk keluargaku" ucap Novi membuat Reno sakit hati.
Deg
Jantung Reno seolah berhenti untuk sekian saat.
"Kenapa kamu bicara seperti itu sayang?" ucap Reno lirih.
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu" ucap Novi tegas.
"Sebenci itukah kamu kepadaku?" ucapnya berhenti sejenak.
"Iya aku minta maaf karena mungkin kamu berpikir aku pria brengsek yang pergi begitu saja setelah melakukan kesalahan besar malam itu." lanjutnya.
"Aku memang pergi, pagi setelah kejadian itu. Dan kesalahanku adalah pergi tanpa memberitahukan kepadamu. Kamu tahu? kenapa aku harus menciptakan jarak diantara kita, aku bahkan menempatkan orang-orang untuk menjaga kamu di Malaysia sekalipun.
Aku hanya tidak ingin kejadian penculikan itu kembali terjadi. Dan kamu tidak mengenal lebih dalam tentang siapa aku sebenarnya, yang kamu kenal aku hanya seorang asisten pribadi keluarga Smith." lanjutnya lagi dengan beraungguh-sungguh.
"Hah, siapa kamu? seorang mafia kah?" ucap Novi dengan ingin menjauh dari Reno namun dengan cepat pria itu menahannya.
"Aku bukan mafia. Aku hanya seorang anak dari sepasang suami isteri yang mati karena harta" ucap Reno membuat Novi semakin penasaran.
"Ja jadi kamu anak yatim piatu? lalu..." ucap Novi terpotong.
"Iya, aku anak yatim piatu. Orang tuaku yang sekarang adalah adik laki-laki dari ibuku." ucap Reno menjawab penasaran Novi.
"Kini, aku lagi berjuang untuk mengambil kembali perusahaan orang tua kandungku, karena itu aku mohon bersabarlah sebentar. Dan aku tidak mengijinkan kamu untuk kerja lagi" tegas Reno.
"Lalu aku harus memayar uangmu dengan apa?" ucap Novi polos.
"Jadi kamu ingin membayarku?" tanya Reno dengan memainkan alis matanya.
"Iya" jawab Novi masih dengan tampang polosnya.
"Aku akan menagihnya jika sudah saatnya" ujar Reno.
"Kamu hanya perlu menjadi isteriku maka hutang antara kita lunas" ucap Reno sambil menanti reaksi Novi.
"Hah? berati kamu tidak memberi mahar kepada orang tuaku?" ucap Novi semakin membuat Reno gemas.
"Sudah, sudah. Kamu belum cukup umur untuk membahas hal itu" ucap Reno sambil bangun dan pergi meninggalkan sang kekasih. Mau tidak mau Novi berlari mengejarnya karena tidak mau ditinggal sendiri di sana.
"Apakah masih ada pertanyaan yang harus aku jawab?" tanya Reno ketika Novi sudah sejajar dengannya.
"Sebenarnya aku masih mau bertanya banyak hal, tapi aku tidak mau mengorek kembali masa lalumu yang nantinya membuatmu sedih." ucap Novi. Walaupun belum mengetahui seluruh ceritanya tapi ia bisa merasakan kalau pria yang ada di depannya ini banyak menanggung beban yang dibawa mati kedua orang tuanya.
"Pintar, kamu cukup percaya kepadaku, jika tiba-tiba aku pergi tanpa pamit." ucap Reno membuat gadis itu mengangguk mengerti.
Keduanya kembali melangkah masuk ke ruang tempat ayah Novi dirawat.
"Bu, aku akan pulang har ini karena banyak pekerjaan yang menungguku" pamit Reno pada bunda Nur.
"Ko kamu tidak bilang sama aku sih?" ucap Novi ngambek.
"Kan sekarang aku pamit sama ibu sekalian kamu sayang" ucap Reno gemas dengan tingkah kekasihnya.
"Tapi setidaknya kamu beri tahu aku saat kita di sana tadi" ucap Novi dengan berkaca-kaca.
"Apakah kamu sangat mencintaiku sampai tidak mau pisah denganku?" ucap Reno menggoda Novi di depan bu Nur membuat gadis itu sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Jaga ayah hingga sembuh dulu, jika ada sempat aku akan sering menghubungi kamu" ucap Reno pada akhirnya.
"Oke, aku pulang ya?" ucap Reno lagi sambil mencium punggung tangan bu Nur dan mencium pucuk kepala Novi.
Reno melangkah pergi meninggalkan sepasang ibu dan anak itu.
Bunda harap, puteri bunda bisa punya keluarga yang utuh. Semoga dia mencintaimu apa adanya dan menerimamu apa adanya walapun suatu saat dia tahu kamu anak dari keluarga yang tidak jelas. Batin binda sedih dengan nasib puterinya.
.
.
"Opa, tolong bantu Arjo" ucap Arjo memohon karena jejak ayahnya hilang. Setelah mencari ayahnya beberapa hari dan sampai di Rumah Sakit yang keempat. Arjo menemukan nama ayanya, tapi sayang ayahnya sudah tidak ada di sana.
Sesuai informasi yang Arjo dapat dari pihak Rumah sakit, ternyata ayahnya sudah keluar diwaktu yang sama dengan datangnya adik tiri ke rumahnya.
Arjo takut ayahnya tidak selamat karena dikeluarkan paksa dari Rumah Sakit. Arjo sudah bertanya tentang penyakit yang diderita ayahnya. Pria itu berpikir, mungkin tidak ada biaya sehingga ayahnya dikeluarkan dengan paksa.
Jika waktu itu adik tirinya minta pertolongan terakhir darinya maka sudah pasti ayahnya dalam bahaya sekarang.
Menyesal? tentu saja Arjo menyesal, karena itu satu-satunya orang yang bisa membantunya untuk menemukan sang ayah adalah opanya.
"Apa yang mau opa bantu?" tanya balik opa kepada Arjo.
"Tolong bantu Arjo temukan ayah, dimana tempat tinggal ayah selama ini, ayah dalam bahaya sekarang" ucap Arjo dengan sudah menangis mengenang kembali betapa ayah yang sangat mencintai ibunya dan sangat memanjakannya.
"Jika memang itu takhdir hidupnya, relakan agar dia tidak menderita" ucap opa ikut berkaca-kaca.
"Tidak opa, aku harus menemukan ayah dan aku akan membawanya keliling dunia sekalipun asal ayah sembuh" ucap Arjo sudah meraung menahan sesak di dadanya.
"Papi kenapa mi" tanya seorang anak laki-laki yang baru turun bersama maminya dari kamar di lantai atas.
BERSAMBUNG