Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Menemani Suami



Satu bulan kemudian


Oma Ratna dan opa Alberth sudah kembali ke London. Urusan Riko dan Lili sudah diselesaikan, mereka bahkan sudah menikah secara sederhana dan resepsi kecil-lecilan karena itu semua atas kesepakatan mereka sebagai suami isteri.


Riko membawa Lili tinggal di apartemennya karena mereka ingin mandiri. Riko tidak melarang sang isteri untuk berhenti bekerja karena ia tahu bahwa Reno membutuhkan adiknya untuk menangani perusahaan itu.


Apalagi Reno tidak ingin kecolongan lagi dengan perusahaannya yang baru direbut kembali dari para orang jahat itu, sehingga ia sangat percaya kepada sang adik yang sudah belasan tahun membantunya.


Setiap pagi, kebiasaan baru Riko adalah mengantarkan sang isteri ke kantor Reno dan setelah itu ia pun pergi ke kantor dimana ia bekerja.


"Sayang, hari ini aku tidak jemput ya? aku akan keluar kota untuk melihat pekerjaan di sana. Kamu tidak apa-apa kan?" ucap Riko saat ia dan istrinya tengah bersiap di kamar.


"Tidak apa-apa ka. Apakah aku boleh ke rumah papa sama mama?" tanya Lili yang sudah merindukan kedua orang tuanya. Sejak menikah dan tinggal di apartemen suaminya tiga minggu lalu, ia belum pernah mengunjungi kedua orang tuanya.


"Oke sayang, kalau begitu sepulang dari kantor langsung ke sana saja. Dan tunggu sampai aku yang jemput ya?" ucap Riko.


"Iya ka" jawab sang isteri sambil menyodorkan dasi untuk suaminya dan membantu memasangkan dasi tersebut. Walaupun menikah diumur yang tidak muda lagi namun tidak mengurangi keromantisan keduanya.


Riko tidak mempermasalahkan soal anak dan tidak ingin memaksa isterinya, semuanya kembali pada yang di atas. Keduanya tetap berusaha dan berdoa karena mengingat bahwa usia mereka sudah tidak muda lagi.


Setelah selesai bersiap, keduanya menuju ke meja makan untuk sarapan. Makanan telah disiapkan oleh Lili karena ia tidak ingin memakai jasa pembantu dan hal itu tidak dilarang oleh Riko karena jika ia punya waktu luang, ia sering membantu isterinya mencuci pakaian, dan membersihkan rumah serta masak di dapur.


Setelah sarapan, keduanya pun pergi meninggalkan apartemen itu dan lebih dahulu mengantarkan Lili ke kantor.


.


.


.


.


"Sayang, katanya kaka mau singga sini ya?" tanya Alfa yang mendapat cerita dari abang waktu itu jika bulan madu mereka selesai, mereka akan mampir di keluarga Maggie.


"Nggak tahu sayang tapi jika kaka sudah janji ya pasti betul" jawab mey.


"Ko belum siap sayang?" tanya Alfa yang melihat isterinya tidak siap ke kantor pagi ini.


"Malas sayang. Pengen pensiun tapi abang sama ade kuliahnya kelamaan" ucap Mey cemberut.


"Bersabarlah sayang. Tapi ada Riko jadi kamu boleh istirahat jika lelah, oke?" saran Alfa yang mengerti jika isterinya lelah.


"Tapi malas di rumah sendiri" ucap Mey manja membuat sang suaminya gemas.


"Lalu? atau kamu temani aku ke kantor saja" usul Alfa.


"Ide bagus, tapi jangan suruh-suruh aku untuk membantu ya? aku hanya menemani bukan membantu" ancam Mey karena ia benar-benar malas.


"Siap tuan putri. Kamu cukup duduk manis dan temani aku di ruangan saja pun sudah jadi vitamin untuk aku semangat bekerja" ucap Alfa.


"Cih gombal" gerutu Mey dan masuk kamar mandi untuk bersiap-siap karena harus menemani suaminya ke kantor.


Setelah bersiap, keduanya menuruni nak tangga rumah itu menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama dengan anak dan juga kedua orang tuanya.


"Loh, mommy ke kantor dengan style begini?" tanya Abang saat melihat wanita yang melahirkannya itu hanya memakai baju santai ke kantor.


"Mommy mau fashionshow di kantor kali" ucap Raffi membuat semua menatapnya tajam.


"Nak, ko berpakaian seperti ini?" akhirnya tuan besar Smith yang bersuara saat merasa heran dengan fashion puterinya pagi ini.


"Mey menemaniku ke kantor ayah. Hari ini dia kelelahan untuk bekerja tapi malas juga di rumah sendirian jadi temani aku ke kantor" Jelas Alfa mewakili isterinya.


"Oh gitu. Mommy istirahat saja dulu, hari ini abang sama ade cuma satu mata kuliah nanti keluar kita langsung ke kantor membantu om Riko" ucap Daffa yang memahami keadaan sang mommy.


"Good boy. Jika ada waktu luang bantulah mommymu, kasihan harus kerja dikantor dan di rumah juga" ucap Alfa. Walaupun punya banyak pembantu tapi dia wanita beda usia itu sangat teliti dengan makan minum keluarga mereka sehingga oma Ani dan puterinya Mey akan memasak sendiri untuk keluarga mereka. Mengingat opa Devid yang mengudap penyakit gula sekaligus kolestrol membuat dia wanita itu semakin ketat soal makan minum pria itu.


"Ayah sama ibu mau ke rumah sakit lagi?" tanya Mey.


"Iya sayang, hari ini jadwal ayah kontrol" jelas bu Ani.


"Iya sayang. Temani suamimu biar semangat kerjanya" ucap ayah sambil terkekeh karena menantunya itu cukup posesif terhadap sang isteri.


"Ayah paling tahu apa maunya Alfa" ucap Alfa membuat semua orang tertawa kecuali Daffa yang seperti biasa susah untuk diajak bercanda. Sikapnya itulah yang membuat Alyne sejak saat itu tidak lagi menggodanya. Ya waktu itu, Daffa yang sudah diancam oleh kembarannya mengambil tindakan keras dan membuat mental gadis yang inggin menggodanya itu langsung ciut dan menjauh darinya hingga saat ini.


Para isteri melayani suami mereka masing-masing setelah beberapa menit saling bercanda di meja makan.


Bu Ani melayani opa Devid dan membantu melayani abang karena Mey melayani suaminya dan juga putera bungsunya.


Seperti biasa, mereka makan dalam diam tanpa suara kecuali dentingan sendok dan piring.


.


.


.


Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi namun matahari tak kunjung muncul. Mendung dan gelap seperti akan turun hujan.


Maggir masih meringkuk di pelukan suaminya, Roberth pun sama, ia masih bermalas-malasan dan betah memeluk tubuh ramping isterinya.


Ponsel berbunyi dan Roberth hendak mengangkatnya namun saat mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel yang terletak di atas nakas, isterinya seperti tak ingin melepasnya. Dengan perlahan-lahan Roberth mengusp wajah isterinya sehingga Maggie merasa risih lalu menggeliat merubah posisinya sehingga memunggungi suaminya.


Robert melihat begitu gemas dengan isterinya yang tidur seperti anak kecil.


"Awas jika sudah bangun" gumam pria itu.


Roberth turun dari ranjang lalu meraih ponsel yang sudah hening karena terlambat mengangkat telepon. Dan ternyata itu adalah telepon dari mertuanya, siapa lagi kalau bukan Alfa.


Roberth melangkah ke arah jendela dan menekan tombol kontrol sehingga gorden itu dengan sendirinya terbuka. Pria itu berdiri dengan menghadap ke luar menikmati pemandangan kota itu apalagi disaat mendung seperti sekarang.


Ia kembali menghubungi papa mertuanya.


📞Halo dad??


📞Kenapa baru telepon? sudah habis buat adonannya (Sambar Alfa begitu mengangkat telepon menantunya)


📞Maaf dad, tadi mau angkat tapi keburu mati


📞Iya itu karena kamu lagi fokus sama yang lain. Mana kaka?


📞Masih tidur


📞Pasti kamu buat dia kelelahan kan? (Sayang, apaan ngomong gitu) terdengar suara Mey menegur suaminya.


📞Nak, kapan pulang? jadi mampir kan? (Tanya Mey yang sudah mengambil alih ponsel suaminya)


📞Esok malam mom. Iya Maggir sudah kangen katanya jadi kami mampir dulu ke sana.


📞Baiklah mommy senang dengarnya.


Sudah jadi belum calon cucuku (Seru Alfa dari seberang)


📞Baiklah, Aku kasih mati dulu ya?


Roberth cepat-cepat menekan tombol merah supaya tidak lagi mendengar ucapan papa mertua yang aneh itu.


"Kenapa semua jadi gelap begini? mana kepalaku pusing lagi" gumam Maggie sambil mengucek matanya dan sesekali menekan kedua sisi kepalanya yang terasa sakit.


"Kenapa sayang" tanya Roberth setelah beberapa saat melihat isterinya tidak bereaksi di atas ranjang padahal kelihatannya ia sudah bangun.


"Aku sedikit pusing dan ruangan ini gelap semua" ucap Maggie dengan suara pelan membuat suaminya langsung panik.


"Kita ke rumah sakit ya sayang" ucap Roberth sambil mendekat isterinya dan memijit kepalanya.


"Nggak usah, sepertinya kemarin aku kelamaan di kolam renang jadinya begini" ucap Maggie yang sudah dibantu suaminya untuk duduk namun ia kembali merebahkan tubuhnua di ranjang karena merasa ranjang itu ikut bergerak.


Bersmabung