
Di atas meja telah tertata rapi dengan makanan kesukaan Maggie sehingga membuat gadis itu merasa semakin istimewa di mata sang kekasihnya.
"Terima kasih sayang, aku sangat bahagia malam ini." ucap Maggie sambil menatap Roberth dengan tatapan yaang penuh cinta.
Pria itu tidakenjawab melainkan langsung Beranjak dari tempat duduknya dan berjongkok tepat di depan sang kekasih. Maggie semakin dibuat berdebar dengan tingkah sang kekasih yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Sayang, maaf ya? walaupun aku sudah melamarmu secara resmi di depan daddy, mommy sama opa oma dan adik-adikmu tapi aku belum melamarmu secara pribadi. Malam ini, aku Roberth Mike ingin melamarmu secara langsung. Maukah menikah denganku dalam waktu dekat ini?" ucap Roberth sambil tangannya memegang sepasang cincin berlian.
Gadis itu bukannya menjawab namun ia malah kembali sesugukan. Acara lamaran yang dilakukan oleh Roberth dan kedua orang tuanya di Australia dua bulan kemari sudah diceritakan kepadanya bahkan kedatangan Roberth ke California pun telah sampai ke telinga gadis itu walaupun Roberth tidak pernah menceritakannya.
"Kenapa? kenapa kamu menangis sayang? atau kamu belum siap? akau akan menunggu sampai kamu siap" ucap Roberth yang panik karena tangis Maggie yang tiba-tiba itu.
"Nggak, aku sangat siap. Aku hanya bersyukur aja, walaupun kami sudah tahu siapa aku, tapi kamu tetap memilihku menjadi pendamping hidupmu" ucap Maggie masih dengan sesugukan.
"Ternyata singa betinaku tidak seseram yang aku lihat selama ini, dia tetap gadis kecilku yang selalu merengek padaku. Terima kasih sayang, aku mencintaimu bukan karena keadaan hidupmu yang seperti apa tapi aku mencintaimu karena hanya kamu gadis Satu-satunya yang telah mengisi hatiku sejak usia kita masih belum mengerti apa-apa dan hanya kamu yang pantas menemaniku sepanjang hidupku" ucap Roberth membuat Maggie langsung ikut berjongkok dan memeluk pria itu dengan sangat erat.
Cukup lama keduanya ada dalam posisi itu hingga Roberth kembali membuka suara.
"Hei acara tukar cincinnya belum" ucap pria itu sambil terkekeh.
"Oh iya lupa" ucap Maggie yang langsung mengambil alih cincin dan memasang yang lebih besar ke jari manis Roberth.
"Salah sayang, sebenarnya aku yang pasangin lebih dahulu ke jarimu, bukan kamu yang dahulu" protes Roberth.
"Ah sama aja, jangan pake drama." ucapnya sambil menyodorkan jarinya ke arah Roberth dan pria itupun langsung memasangkan cincin tersebut ke jari manis Maggie.
"Ini kesannya kamu yang lamar aku" ucap Roberth lagi.
"Dihh setidaknya cara kita beda, tidak ikut-ikutan sayang semua orang. Itu baru namanya luar biasa" jelasnya sambil memainkan jari-jarinya.
"Cantik kan sayang?" ucapnya sambil menunjukkan jari yang sudah terpasang cincin.
"Cantik seperti orangnya" ucap Roberth sambil memberi satu kecupan di kening sang kekasih.
"Ayo mari kita makan" ajak Roberth. Keduanya untuk menikmati makanan malam mereka dengan penuh bahagia.
"Sayang. Aku ingin menikahi kamu secepatnya, tidak apa-apa kan?" tanya Roberth yang mulai mengutarakan isi hatinya.
📞iya sayang. Jangan lama-lama pacarannya, opa mau sebelum ajal menjemput, opa bisa menyaksikan cucu kesayangan opa berdiri di pelaminan.
📞ihhh opa ngomong apa sih? iya nanti kaka paksa cucu menantu opa biar cepat nikahin cucu opa yang cantik ini.
Pembicaraannya bersama sang opa beberapa waktu lalu kembali terngiang di kepalanya. Kata-kata opa yang membuatnya sedikit takut namun ia meyakinkan diri bahwa itu hanya permintaan para orang tua yang sudah semakin tua.
"Mmm aku sih terserah kaka aja" jawab Maggie setelah beberapa saat berpikir. bukan berpikir untuk menolak namun berpikir tentang permintaan sang opa.
"Kamu serius sayang?" tanya Roberth memastikan.
"Iya, aku serius" jawab Maggie serius membuat pria itu begitu bersemangat.
"Terima kasih sayang. Baiklah aku akan membicarakan ini sama papa mama untuk bertemu dengan kedua orang tuamu agar membicarakan waktunya, oke?" ucap Roberth dengan semangat berapi-api.
"Iya sayang, nanti hubungi aku untuk memberitahukan juga pada daddy dan mommy" ucap Maggie juga dengan tersenyum walaupun ada sesuatu yang mengganggu perasaannya tapi ia sendiri tidak tahu apa itu.
"Baiklah sudah malam. aku antar pulang sebelum semua singa-singa mengaum" ucap Roberth sambil berdiri dari duduknya dan kembali menggenggam tangan kekasih dan pergi dari sana.
"Iya deh" jawab Maggie yang menyambut uluran tangan sang kekasih. Keduanya pergi meninggalkan tempat itu dengan saling bergandengan tangan.
Roberth kembali mengantarkan sang kekasih ke mansion keluarga gadis itu dan ia pun kembali ke mansion keluarganya.
"Telepon ya jika udah nyampe" ucap Maggie setelah turun dari mobil sang kekasih
"iya sayang. Aku pergi ya" jawab Roberth.
"Iya bye" ucap Maggie sambil melambaikan tangan kepada sang kekasih yang hanya dibalas dengan membunyikan klakson mobilnya.
.
.
.
Roberth yang baru pulang hendak langsung menuju ke kamarnya karena ada beberapa pekerjaan juga yang harus diselesaikan malam ini.
"Iya ka, bagaimana jalan sama ka Maggie tadi" sambung Ike.
"Mmm baik, aku juga sudah melamarnya secara langsung" ucap Roberth bangga sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Wah, kaka hebat!!" seru Ike senang karena Roberth dan Maggie adalah dua orang yang sangat penting dalam hidupnya.
"Hanya sebatas itu aja?" tanya mama yang ikut berbicara. Roberth akhirnya duduk dan tidak jadi ke kamar.
"Kita sudah sepakat untuk menikah dalam waktu dekat pa, ma, aku juga mau ngomong sama semuanya termasuk opa dan oma. Dan Maggie juga akan segera menghubungi om Alfa dan tante Mey" jelas Roberth dengan wajahnya yang masih terlihat bahagia.
"Bagus boy jika kamu sudah mengambil satu langkah lebih maju lagi. Papa harap yang terbaik untuk kalian" ucap Arjo yang ikut senang dengan penjelasan sang Putera.
"Bagus sayang, biar mama bisa punya satu anak perempuan lagi" sambung sang mama yang ikut bahagia juga.
"Kira-kira kapan ya kaka akan menikah" tanya Ike penasaran.
"Anak kecil dilarang tahu, belum cukup umur" sambar Roberth membuat sepupunya ngambek.
"Nanti aku kasih tahu abang biar nggak Terima kaka jadi iparnya" gerutu Ike.
"Emang abang akan percaya sama kamu?" cibir Roberth.
Iya juga, dia saja nggak pernah melihatku bahkan nggak pernah menganggap aku ada. Ike, kamu nggak salah ambil keputusan ini, kamu sudah semakin jauh darinya dan memang sudah saatnya kamu melupakan dia. Kamu harus bisa, masih ada banyak cowok yang mungkin akan sangat menghargai kamu. lupakan cinta masa kecilmu. Ka Maggie emang mujur bisa menikah dengan cinta masa kecilnya tapi tidak dengan aku yang harus menguburnya dalam-dalam.
Ike malah terbentang membuat semua orang menatapnya heran. Hanya mamanya Roberth yang tahu isi hatinya karena Novi sudah menceritakan semuanya tentang alasan gadis kecil itu nekad pergi dari tanah kelahirannya.
"Kamu kenapa de?" tanya Roberth yang melihat sang adiknya yang cerewet itu tidak lagi membalas ucapannya.
"Mmmm nggak ko" jawab Ike menyangkal apa yang dia rasakan saat ini.
"Oke, oke, sekarang istirahatlah, esok ade ke sekolah kan?" ucap Arjo mengakhiri pembicaraan mereka.
"Iya om, Ike masuk kamar dulu ya?" pamit Ike kepada semuanya.
"Iya sayang" jawab mama yang merasa kasihan dengan anak gadis yang bahkan belum memulai merajut kasih namun sudah lebih dahulu tersakiti.
Ike pergi meninggalkan semua dengan perasaan hampa berbeda dengan sang kaka yang tengah berbunga-bunga setelah bertemu sang kekasihnya tadi.
"Ada apa dengan ade ya?" gumam Roberth namun masih bisa di dengar oleh kedua orang tuanya.
"Kaka sih bersyukur karena nggak pernah dikecewakan oleh cewek, sekali kenal sampai pacaran dan sampai menikah. Nah adenya yang na'as, belum juga mulai udah disakiti" ucap mama santai namun membuat kedua laki-laki itu menatapnya penuh tannya.
"Maksud mama?" tanya dua laki-laki beda generasi itu serentak.
"Mmmm maksud mama, ade sudah pacaran ya?" tanya Roberth lagi.
"Bukan pacaran sih, lebih tepatnya seperti kaka, dia menaruh hati pada seorang cowok dari masih kecil dan mereka tumbuh bersama-sama namun sayangnya cowok itu nggak pernah menganggapnya ada. Banyak hal yang dia usahakan untuk mendapat perhatian namun nggak pernah bisa" jelas mama.
"Hah? siapa laki-laki itu, biar aku beri pelajaran untuknya" ucap Roberth menggebu-gebu.
"Kalau kaka sudah mau menikah sebaiknya jangan cari gara-gara, bisa dipecat dari daftar ipar" ucap mama tersenyum geli.
"Hah?" ucap Roberth bingung.
"Yah siapa lagi kalau bukan calon adik iparnya itu, si abang yang barusan kita bicarakan" ucap mama membuat kedua laki-laki itu kembali melongo.
Cih, ternyata manusia muka frizer itu yang membuat adikku galau sampai memilih sekolah di negara ini, rupanya dia. Aku akan buat dia menyesal karena telah mengabaikan gadis sebaik Ike. Batin Roberth.
"Baiklah, aku ke kamar dulu." pamit Roberth.
Pria itu pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang bahkan masih betah di ruang keluarga.
"Pa, anak kita sudah dewasa dan sebentar lagi akan menikah lalu memberi kita cucu. Rasanya baru kemarin mama menimangnya dan mengantarnya ke sekolah taman kanak-kanak" ucap mama membayangkan sang Putera yang sedari kecil sangat menggemaskan bahkan dengan bangga bercerita soal teman kecilnya di sekolah yang sangat manja tapi kadang-kadang jahat jika ia di dekati oleh anak gadis lainnya.
"Iya ma, hanya aku gelisah dengan kejadian malam ulang tahun perusahaan itu. Aku takut pria tua itu kembali merebut semua peninggalan mama, apalagi opa dan oma juga sudah meninggal. Dia akan merasa berkuasa karena ayah hanya pria biasa yang melanjutkan warisan mama." Jelas Arjo gelisah dengan keselamatan sang Putera.
"Putera kita anak yang baik, mama yakin Tuhan akan selalu menolongnya dan akan ada orang baik yang melindunginya. Kita doakan saja biar apa yang kita takutkan tidak terjadi" ucap mama.
"Ya sudah sebaiknya kita tidur. Tidak baik orang tua tidurnya lat" ucap Arjo terkekeh sambil mengajak sang isteri masuk kamar untuk beristirahat karena hari semakin larut.
Bersambung