
Pagi ini, Mey sengaja membuat strategi agar ayah dan ibu Ani bisa jalan bersama.
"Kaka, ke sekolahnya sama opa ya?" ucap Mey
"Emang daddynya ta mau antal kaka ya?" tanya Maggie.
"Daddy sibuk di kantor opa Alberth jadi daddy lebih dulu pergi ke kantor" jelas Mey.
"Iya deh, tapi oma Ani tetap antar kaka kan?" ucap Maggie.
"Iya sayang oma tetap sama kaka ke sekolah" ucap Mey pada akhirnya. Ya selama ini Mey memeng tidak membiarkan puterinya pergi ke sekolah sendiri sejak terjadi penculikan waktu itu, apalagi Nina yang sudah kabur membuat mereka semakin berwaspada.
"Oke deh" jawab Maggie sambil berdiri tenang karena rambutnya sedang di tata oleh mommy Mey.
Setelah Mey selesai dengan mengurus puterinya, ia kembali ke kamar untuk mengurus sang suami, memasang dasi, menyiapkan jam tangan dan kaos kaki dan lain sebagainya.
"Mas, nanti mas dahulu saja ke kantor biar ayah yang mengantar ibu sama kaka" ucap Mey pada suaminya.
"Apa kamu akan seperti ini jika puteri kita dewasa nanti?" tanya Alfa sambil memeluk sang isteri di pinggangnya saat wanita beranak tiga itu tengah memasang dasi di leher suaminya. Mey sudah menceritakan semuanya pada Alfa sejak semalam soal keinginannya untuk mengikat ayah sama ibu angkatnya.
"No daddy, aku hanya ingin ayah bahagia di masa tuanya dan aku rasa ibulah yang pantas untuk mendampingi ayah," ucap Mey.
"Kalau soal kaka aku tidak khawatir lagi karena aku sudah mengenal calon menantuku hihihi" ucap Mey cekikikan karena anaknya yang begitu genit jika bersama teman sekolahnya yang bernama Roberth, apalagi orang tua dari pria kecil itu adalah kolega bisnis Mey dan Alfa.
"Okelah, mommynya akan maha benar jika menyangkut urusan jodoh" ucap Alfa mengalah.
"Ayo kita keluar sarapan dulu mas." ucap Mey sambil menarik tangan suaminya keluar dari kamar dan tangan sebelahnya membawa tas kerja suaminya.
"Daddy kerja dulu anak-anak daddy. Jangan Rewel ya biar mommynya tidak kecapaian" ucap Alfa sambil menghadiahkan kecupan di kening kedua puteranya sebelum pergi besama sang isteri meninggalkan twins yang masih berkelana di alam mimpi.
"Kaka nanti sama opa ya, daddy lagi buru untuk ke perusahaan opa Alberth" ucap Alfa saat sudah tiba dan duduk di kursi yang ada di ruang makan. Mey sengaja tidak tahu, wanita itu terus sibuk mengambil makan untuk sang suami dan dirinya karena yang lain sudah mengambil.
Akhir-akhir ini, opa sering berkunjung ke perusahaan karena mengingat Mey yang mengambil cuti berkepanjangan.
"Oke daddy. Bisa kan opa?" tanya Maggie sambil menatap ke sang opa.
"Iya tuan puteri" jawab opa singkat sambil terus menikmati makannya.
Ibu Ani juga tidak tahu soal rencana anak angkat dan keluarganya jadi ia merasa bodoh amat tanpa beban, sementara sejak tadi seorang pria paruh baya terus mencuri pandang padanya.
Gelagat dari ayah tidak lepas dari pantauan Mey dan sang suaminya.
(Papa mertua lagi jatuh cinta nih, berasa muda lagi walaupun janda tapi janda berkelas, mana masih awet lagi.) bati Alfa sambil terkekeh melihat tingkah sang Mertua. Ya Alfa tidak meragukan seorang bi Ani apalagi jarak umur Alfa dan bi Ani hanya 10 tahun jadi wanita itu memang masih kelihatan sangat muda.
Setelah menyelesaikan makan mereka, Alfa langsung pergi begitu saja mendahului yang lain diantar oleh sang isteri sampai di depan rumah.
"Ayo bi, kita berangkat. Kaka masuk mobil sayang" ucap opa sambil membuka pintu mobil bagian penumpang. Ketia akan masuk, pria tua itu didahului oleh sang cucu.
"Opa di belakang aja ya, kaka yang di depan soalnya mau buat video jalanan di stoly IG kaka" ucap gadis kecil itu membuat sang opa salah tingkah sedangkan bi Ani biasa saja karena memang belum tahu yang sebenarnya.
Mey yang melihat itu, memuji kecerdasan puterinya dalam hati sambil tersenyum puas. Mau tidak mau opa menuruti cucunya dan kembali mengambil tempat duduk dibagian di belakang bersama sang ibu angkat puterinya.
Seperti biasa, sepanjang jalan Mey adalah orang yang paling heboh, banyak bicara dan lainnya. Beda dengan opa yang sudah berdegup jantungnya sejak tadi karena jaraknya bersama wanita yang ditafsirnya sangat dekat sehingga membuatnya salah tingkah.
"Oma tidak pelnah menikah ya?" tanya Maggie polos membuat bi Ani terkejut.
"Pernah, dulu oma punya suami dan punya anak" jawab bi Ani yang belum tahu arah pembicaraan sang cucu.
"Telus di mana meleka sekalang" tanya Maggie semakin bersemangat.
"Mereka sudah bersama Tuhan di sana" jawab bi Ani sambil menunjuk ke atas.
"Wah sama kaya oma Mely ya opa? apa meleka sudah ketemu di sana ya?" ucap gadis kecil itu sambil mengetuk-ngetuk kepalanya seperti orang yang tengah berpikir keras.
"Kalau begitu opa sama omah nika aja bial kaka sama twins punya opa dua sama oma dua, iyakan opa? oma?" ucap Maggie tanpa rasa bersalah membuat bi Ani yang sebelumnya santai mendadak keringat dingin.
"Apa kaka menginginkan seperti itu?" tanya opa sok col padahal jantungnya lagi negdangdut antara gugup dan enatah apa itu.
"Mau bangat opa, boleh ya?" ucap Maggie memohon. Sementara bi Ani sudah tidak fokus ke jalan lagi, berharap cepat tiba agar dia turun dari mobil sang majukannya.
"Boleh, opa akan minta ijin sama mommy Mey dan daddy Alfa" ucap Opa Devid santai.
Deg
Jantung bi Ani ikut bergetar, wanita itu refleks mengangkat wajahnya dan menatap sang majikan yang duduk di sampingnya.
Opa tersenyum membalas tatapan bi Ani membuat wanita itu cepat-cepat kembali menunduk. Sedangkan Maggie sudah bahagia mendengar pengakuan sang opa.
"Holllle kaka punya oma dua," ujarnya sambil bergoyang di atas mobil.
Tanpa mereka sadari ternyata mereka sudah tiba di depan gerbang sekolah Maggie.
"Jagalah cucu kita dengan baik, aku pasti akan mewujudkan keinginan Mey dan Maggie yang menginginkan punya ibu dan oma" ucap opa pelan namun bisa di dengar dengan jelas oleh bi Ani saat wanita itu akan membuka pintu untuk turun, sementara sang sopir tengah keluar dari mobil untuk membuka pintu pada sang cucu dari majikannya.
Bi Ani kembali terpaku mendengar ucapan dari opanya sang cucu angkat. Tanpa menjawab wanita itu keluar dari mobil dengan perasaan yang campur aduk. Opa merasa puas setelah bisa mengungkapkan semua yang ingin dia utarakan pada wanita incarannya bersama anak dan cucunya itu, walaupun belum semua yang dia ucapkan namun setidaknya wanita itu sudah tahu maksud dan tujuannya. Dengan tersenyum puas mereka pergi meninggalkan wanita itu dengan cucunya di depan gerbang sekolah itu.
BERSAMBUNG