
Alfa menarik nafasnya dalam setelah tiba di sana. Ia dapat melihat kedua wanita yang tengah menikmati Chicken Parmigiana
dengan segelas minuman sambil tersenyum ceria.
"Sayang, ternyata kamu di sini?" ucap Alfa begitu tiba di depan isterinya dan disusul oleh Reno.
Novi menatap sang suami dengan penuh tanya namun Reno mengangkat kedua pundaknya acuh seolah memberitahukan kalau dia diajak Alfa. Novi memutar bola matanya malas karena waktu bebas keduanya berlangsung hanya sebentar.
"Sayang, kenapa ikut ke sini?" tanya Mey membulatkan matanya.
"Kenapa tidak pamit?" tanya Alfa tanpa menjawab pertanyaan sang isteri.
"Jangan bilang kamu datang untuk menghentikan kami belanja pakai kartu kalian" geram Mey membuat Alfa gelagapan.
"Bukan begitu sayang, apapun yang mau kamu beli, ya beli saja asalkan pergi itu telepon kasih tahu agar aku tahu posisi kamu di mana?" jelas Alfa kepada sang isteri.
"Alahhh bohong" ucap Mey cuek. Alfa duduk tepat di depan isterinya dan mengambil alih piring yang berisi Chicken Parmigiana yang masih setengah itu dan menyiapkan ke dalam mulutnya membuat Mey tidak habis pikir dengan suami posesif nya itu.
"Sayang, itu punyaku. Kamu pesan yang lain aja deh" gerutu Mey. Beda dengan Reno yang mendapat suapan dari sang isteri. Bukan keinginan Reno tapi paksaan Novi setelah melihat banyak mata ibu-ibu dan gadis-gadi yang sedang menatap kedua pria itu dengan intens.
"Sayang, dicoba... enak loh?" ucap Novi sambil menyodorkan sendok yang berisi bakso ke mulut suaminya.
"Tidak suka" ucap Reno menolak.
"Dicoba dulu sayang, baru protes" ucap Novi memaksa ia melakukan itu agar orang-orang tahu bahwa pria yang mereka tatap itu adalah miliknya.
Mau tidak mau Reno membuka mulut dan menerima suapan isterinya. Mereka terus melakukannya hingga selesai tanpa peduli banyak mata yang ada.
"Novi sepertinya kita masih belum selesai belanja kan?" ucap Mey dan dijawab dengan anggukan oleh Novi.
Keduanya kembali bergandengan dan melangkah pergi dengan diikutin oleh para suami menuju tempat dimana para isteri inginkan. Setelah semuanya dirasa cukup, supermarket lah tempat belanjaan terakhir dan saat ini mereka ada di sana.
Baik Alfa maupun Reno ditugaskan mendorong troli dan para isteri bagian mengambil barang-barang yang diinginkan untuk memenuhi troli tersebut.
Satu jam kemudian, aktifitas belanja berakhir.
"Mau langsung pulang atau?" tanya Novi.
"Cari makan dulu ahhh" seru Mey dan mereka kembali berputar di dalam sana untuk mencari makan setelah barang-barang ditaruh dalam mobil.
"Sayang, sebaiknya kita cari restoran lain saja" usul Alfa.
"Ide bagus tu sayang" jawab Mey bersemangat.
Mereka pun keluar dari mall besar itu dan mulai mencari restoran yang lain untuk makan siang dengan tenang di sana.
Para isteri tidak diperbolehkan membawa mobil sehingga mereka harus mengikuti suami mereka masing-masing.
Setibanua di restoran yang dipilih sebagai tempat makan, mereka pun masuk ke dalam dan mencari tempat paling pojok dan tentu yang bisa untuk menikmati pemandangan sekaligus.
Alfa minta untuk mengambil tempat VIP namun dengaan tegas Mey menolak. Hari ini dia ingin seperti orang biasa yang baerbaur dengan orang lain.
"Novi, ke toilet dulu ya? sayang tolong dipesan sekalian punyaku" ajak Mey kepada Novi sekaligus memberi perintah kepada sang suami.
"Oke ka. Sayang pesan juga punyaku" keduanya pergi meninggalkan para suami menuju ke toilet.
"Ren, apa kamu tahu kenapa mereka sampai seperti ini?" tanya Alfa yang masih belum bisa berpikir dengan perubahan isterinya yang sampai menghabiskan hampir ratusan juta dalam sehari.
"Mana aku tahu? mungkin saja mereka kesepian karena ditinggal anak perempuan mereka sehingga di lampiaskan dengan cara berbelanja" ucap Reno memberi pendapat.
"Bisa juga" ucap Alfa ikut membenarkan pendapat Reno.
Dengan penuh semangat keduanya mulai memesan makanan sekaligus untuk para isteri masing-masing setelah seorang pelayanan datang dan memberikan daftar menu kepada mereka.
.
.
.
.
Hari ini Daffa, Daffi, Harry, Dave dan Gabriel mencari makan di luar kampus karena ada sesuatu yang istimewa yakni hari ini adalah ulang tahun dari salah satu sahabat merek Harry.
"Makan di mana?" tanya Gabriel.
"Di restoran A saja" usul Daffi.
"Gila, itu kan Restoran termahal. Jangan bilang kalian mau membuatku miskin" gerutu Harry.
"Setahun sekali Harry" tambah Dave.
Tanpa menunggu persetujuan dari Harry, mereka sudah bergerak menuju ke parkiran dan masing-masing membawa mobilnya. Daffa adalah orang yang paling irit bicara diantara mereka berlima jadi ia mengikuti saja kemana mereka pergi.
Setelah beberapa saat kemudian putera-putera dari para Sultan itu tiba di parkiran restoran yang mereka datangi.
Lima mobil mewah berjejer di parkiran menarik perhatian para pengunjung restoran tersebut apalagi saat ini pengunjung semakin ramai karena tepat jam makan siang.
Ke lima pria tampan itu masuk dengan gaya cool mereka dan berhasil menarik perhatian para pengunjung yang sedang menikmati makan siang mereka di dalam gedung itu.
"Tuh ada tempat" ujar Harry mengajak sahabat-sahabatnya ke tempat tersebut. Disaat yang lain sampai berhenti mengunyah makanan yang sudah ada di dalam mulut karena kedatangan para cowok ganteng.
Dua orang pria ber jas yang ada di pojok ruangan itu malah sibuk dengan daftar menu untuk memesan makan siang sehingga mereka tidak begitu tertarik dengan pemandangan yang lumayan menghebohkan itu.
Ke lima cowok tampan itu duduk sambil menunggu pelayan membawa daftar menu untuk pesanan sambil berbincang ria di sana.
Di saat yang sama, Mey dan Novi kembali dari toilet dan melangkah dengan anggun menuju ke arah para suami.
"Bang, bukannya itu mommy sama tante Novi ya?" ucap Daffi memberitahu kepada sang abang.
Daffa dan para sahabatnya langsung menoleh dan melihat kedua wanita itu.
"Benarkan?" tanya Daffi dan abang hanya mengangguk.
"Tunggu aku samperin" ucap Daffi bersemangat.
"Jangan, tidak lihat tuh? mereka lagi double date" ucap Daffa melarang adiknya membuat sangat adik kembali duduk.
"Hehehe iya ya, double date antar besan" goda Daffi sehingga mendapat tatapan tajam dari sang abang.
"Maksudnya?" tanya ke tiga sahabat itu serentak.
"Itu orang tuaku sama calon mertua abang" jawab Daffi tanpa peduli dengan tatapan abang sejak tadi.
"Hah? benaran tu Daffa? jadi kamu sudah punya tunangan?" tanya Harry kepo.
"Daffi" ucap Daffa penuh penekanan.
"Loh, kenapa? kan aku bicara atas kenyataan? atau abang tidak mau ada yang tahu kalau sudah punya cewek" ucap Daffi tiada henti.
"Pantasan Alyne dilewatkan sama Daffa, orangnya sudah punya cewek" seru Gabriel. Daffa menarik nafasnya panjang.
"Jadi pasangan yang satunya calon mertuamu bro?" tanya Dave
Daffa hanya bisa mengangguk karena jika ia menutupi maka mulut ember Daffi akan melaporkan kepada Ike.
"Wah orang tua kalian keren sekali?" seru Dave.
"Ternyata mommynya kalian masih sangat cantik" puji Gabriel.
"Jaga mulutmu dan jangan sampai daddy tahu kalau kau memuji mommy. Bisa tamat riwayatmu." ancam Daffi.
"Kenapa?" tanya Gabriel heran.
"Kamu belum tahu kan? siapa itu Alfaro Putra Adipaty? pria paling posesif sejagat raya" jelas Daffi dengan senyum gelinya membayangkan bagaimana respon daddynya jika san mommy dipuji oleh brondong.
Daffa ikut tersenyum walaupun senyumnya hanya samar-samar saja.
Kelima orang itu mulai memesan makan.
Ketiga sahabat si kembar sesekali melemparkan pandangan ke dua pasangan yang tengah menikmati makan siang mereka.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, para suami kembali memanggil pelayanan dan membayar makanan mereka dan setelah itu mereka keluar.
"Eh ada abang sama ade" seru Novi yang lebih dahulu melihat karena ia dan suaminya berjalan di depan.
"Sayang? kalian juga makan sini?" tanya Mey yang melihat kedua puteranya juga ada di sana.
"Iya mom. Tumben mommy berpakaian seperti ini? Daffi rasa tadi pagi tidak seperti ini deh" ucap Daffi.
"Mommy lagi malas ke kantor jadi Jalan-jalan sama tante Novi" jelas Mey.
"Om, tante" sapa Gabriel mewakili yang lain.
"Iya sayang, dilanjut makannya" ucap Mey yang langsung mendaptkan tatapan maut dari sang suami karena berani bilang sayang ke pria lain. Yang ditatap tidak peduli sama sekali.
"Sayang, apakah masih mau belanja? atau mau kemana gitu?" tanya Alfa yang tidak suka melihat para anak muda itu menatap isterinya apalagi sambil tersenyum, sehingga ia mengalihkan dengan bertanya bahkan tangannya yang tetap setia ada di pinggang sang isteri.
"Nggak sayang. Mommy sudah puas belanja dan sekarang hanya ingin pulang karena sudah rindu sama ranjang pengen rebahan" jawab mey sambil mendongak menatap suaminya.
"Oke sayang" ucap Alfa.
"Abang, ade lanjut makannya ya sama Teman-teman" ucap Mey sebelum pergi.
Dua pasang itupun pergi meninggalkan restoran tersebut.
"Mey, aku sama Novi langsung balik ke rumah ya?" ucap Reno sambil memindahkan beberapa barang yang menjadi milik isterinya.
"Baiklah, makasih ya Nov, kamu sudah menemaniku hari ini" ucap Mey.
"Thanks juga ka Mey sudah menemaniku menghabiskan uang suami" ucap Novi cekikikan.
"Apakah uangnya berhasil kalian habiskan?" tanya Reno sambil menunduk dan memasang pengaman untuk sang isteri.
"Belum" ucap Novi.
"Bagus, lain kali usahakan sampai habis ya sayang" ucap Reno tersenyum jahil.
Mereka berpisah di sana dan masing-masing pulang ke rumahnya.
Di mobilnya Alfa.
"Sayang, kenapa perginya tidak pamit?" tanya Alfa yang belum puas dengan kepergian isteri tanpa memberitahu.
"Kan mommy nggak mau ganggu daddy kerja" ucap Mey santai membuat suaminya menarik nafasnya dalam.
"Lain kali kasih tahu ya?" ucap Alfa.
"Iya sayang" jawab Mey patuh.
Sedangkan ke lima anak muda itu baru menyelesaikan makan siang mereka dan menunggu bayar untuk kembali ke kampus.
"Daffa, apakah kau memiliki adik perempuan?" tanya Harry
"Kenapa memangnya?" jawab Daffa.
"Jika kau memiliki adik perempuan yang gadis, aku akan menjadikannya kekasih" jawab Harry.
"Tuh adik perempuanku" tunjuk Daffa kepada kembarannya.
"Enak saja, aku Laki-laki tulen ya" gerutu Daffi menataonya jengkel.
Yang lain malah tertawa termasuk Daffa karena berhasil membuat adiknya kesal.
Bersambung