Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Bubur Ayam



Alfa melangkah masuk dengan langkah gontai mendekati sang Puteri yang juga sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Puteri kecilku, kamu terasa semakin jauh dari dekapan daddy. Hari ini level kamu sudah lebih tinggi dari daddy, kamu adalah atasan daddy dalam dunia gelap. Tetap berhati-hati ya sayang? tetap rendah hati, daddy akan selalu ada untuk mendengar keluh kesahmu dan siap membantumu dimasa sulitmu. Kamu tetap Puteri kecil daddy yang tidak pernah tergantikan" nasehat Alfa kepada sang Puteri.


"Maaf dad, kaka tidak sempat menghubungi daddy" ucap Maggie penuh penyesalan.


"nggak apa-apa, kaka pantasrndapatkan ini semua" Alfa berbicara sambil mengusap pucuk kepala sang Puteri dari arah samping. Ia berusaha membuat puterinya yakin jika tanggung jawab tersebut layak untuknya.


Malam ini pun berlalu begitu saja, seorang gadis yang sudah dipersiapkan oleh kedua saudara itu akhirnya terwujud.


Setidaknya aku bisa tenang karena mewariskan Marah Salvatrucha ke tangan orang yang tepat. Kalaupun aku dijemput ajal, aku bisa pulang dalam damai. Batin opa Gaston yang kini sudah berada di kamarnya.


Pria tua itu menyangka jika akan sulit mencari penerus peninggalan orang tua mereka namun ternyata dari cucu mereka satu-satunya yang adalah gadis yang dulu pernah disia-siakan oleh putera mereka yang kini di sahkan sebagai pengganti.


...****************...


Di tempat lain.


Setelah melewati tragedi siang ini dan membawa gadis korban tabrakan itu ke salah satu rumah sakit di kota itu, Roberth menyuruh beberapa bawahannya untuk berjaga-jaga, sementara dia kembali ke mansion keluarganya.


"Kamu sudah balik nak?" ucap sang mama yang sedang menyiapkan makan malam.


"Iya ma, di mana papa?" jawab Roberth sekaligus menanyakan keberadaan sang papa.


"Papa bentar lagi sampai, tadi pergi sebentar, ditelepon sahabat lamanya" jelas sang mama.


"Oke ma, aku ke kamar dulu" ucap Roberth yang berlalu pergi.


"Iya sayang, bersihkan diri dan turun makan bersama ya?" ucap mama sedikit berteriak karena anaknya yang semakin jauh dari pandangannya.


Anak muda itu akhirnya kembali ke kamarnya, ia langsung membuang diri ke atas ranjangnya dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


Roberth baru menyadari jika ia tidak memeriksa ponselnya sejak pagi bahkan kemarin pun karena sudah kelelahan ia tidak memeriksanya walaupun ia mendengar ada banyak pesan masuk.


Akh soal, aku bahkan lupa ponselku sejak kemarin-kemarin.


Roberth cepat-cepat bangun dan mencari ponselnya.


"Akhhh mati lagi" umpatnya saat mendapati ponselnya mati kehabisan baterai. Dengan buru-buru Menchanger ponselnya. Yang ditakuti hanya satu jika sang kekasih menghubunginya dan tidak ada balasan maka ia akan sangat merasa bersalah.


"Maaf sayang, aku bahkan tidak mengecek ponselku" gumam Roberth yang tidak sabaran menunggu hingga ponselnya bisa dinyalahkan.


Setelah baterai ponsel itu terisi sedikit, ia langsung menyalahkan ponselnya, dan benar saja, banyak pesan yang masuk dan juga panggilan tak terjawab dari beberapa nomor termasuk nomor sang kekasih.


Roberth kembali menekan tombol hijau dinomor kekasihnya dan ternyata hanya suara operator yang berbicara. Pria itu mengulangi panggilan untuk beberapa kali namun tetap terdengar suara operator.


"Baiklah sayang, aku akan menjemputmu besok dan kita akan jalan-jalan." gumam Roberth sambil menatap foto sang kekasih yang tertera di layar depan ponselnya.


Pria itu akhirnya masuk ke kamar mandi untuk berendam sebentar sebelum turun untuk makan bersama kedua orang tuanya. Mungkin papanya belum pulang sehingga sang mama belum datang memanggilnya di kamar.


...****************...


Saat ini Australia sudah menunjuk pukul 12 malam. Mey belum bisa tidur karena belum mendapatkan kabar dari sang suami soal keadaan puterinya.


Mey harap-harap cemas sehingga memaksanya untuk masih terjaga hingga saat ini.


"Ahh nggak mungkin opa Gaston mau mencelakakan cucunya sendiri" ucap Mey terus berperang dengan pikirannya sendiri.


Wanita beranak tiga itu baru memejamkan matanya tepat pukul dua tengah malam.


.


.


Pagi-pagi sekali, Mey sudah bangun dan langsung mengecek ponselnya, ternyata hanya ada pesan masuk dari sang suami kalau semuanya baik-baik saja.


Mey menuruni anak tangga hingga tiba di dapur yang ternyata sudah pada sibuk para ART di sana.


"Selamat pagi nyonya" ucapa para ART begitu menyadari kehadiran nyonya muda di sana.


"Selamat pagi semuanya. Lagi pada ngapain?" tanya Mey.


"Lagi siapkan sarapan nyonya" ucap salah satu.


"Ya sudah biar aku saja, kebetulan ade minta buatkan bubur ayam dari kemarin-kemarin tapi aku belum sempat, jadi mumpung masih ada waktu, aku buatkan sekarang sebelum dia bangun" curhat Mey sambil menyiapkan bahan dan alat masakan dengan di bantu oleh art di sana.


Mereka akhirnya membuat masakan dengan terus bercerita. Itulah kebiasaan Mey dan bu Ani saat ada waktu luang. Mereka terlihat sangat dekat dengan para pekerja layaknya ibu dan anak bahkan terlihat seperti saudara.


"Nya' non Maggie betah ya pergi lama-lama, padahal kita sudah sangat rindu sama dia." ucap salah satu art yang bekerja sudah sangat lama bahkan sebelum Mey dan Maggie ditemukan.


"Dia akan pulang dalam waktu dekat bu, maklumlah dia harus dipersiapkan matang sebelum mengambil alih perusahaan daddynya" jelas Mey.


"Wah non Maggie hebat ya! dari dulu memang dia anak yang luar biasa walaupun cewek" ucap art itu memuji anak majikannya yang super heboh itu.


Semua masakan akhirnya tersedia dan ditata di atas meja makan.


"Ya sudah kalian lanjutkan yang belum selesai ya? aku bangunkan si kembar" ucap Mey sambil meninggalkan dapur dan kembali ke lantai atas.


"Abang... abang,, ayo bangun nak, sudah pagi" ucap Mey yang sudah masuk ke kamar putera sulung sambil membuka gorden agar udara pagi bisa masuk. Anak-anaknya memang tidak pernah mengunci pintu sehingga kedua orang tua mereka bisa masuk kapan saja, karena bagi mereka tidak ada yang dirahasiakan dari daddy mommy serta opa dan oma mereka. Namun kalau para art akan masuk atas ijin mereka jika mau membersihkan kamar tersebut.


Setelah melihat putera sulungnya mulai bergerak dan mengucek matanya sambil bangun dari tidurnya, Mey akhirnya memutuskan untuk berpindah ke kamar sebelah yakni putera bungsunya karena dia yang paling sulit dibangunkan sama seperti Maggie.


"Kaka mandi terus turun ke bawah ya, mommy sudah masak bubur ayam untuk kalian" ucap Mey sambil melangkah keluar meninggalkan kamar tersebut.


.


.


"Ade, bangun nak" ucap Mey sambil memungut setiap benda yang berserakan di lantai. Selain bangun kesiangan, Daffi juga tidak ada kerapian, beda dengan kembarannya di abang yang suka rapih dan bersih sehingga kamarnya terlihat selalu rapih.


"Ade, ayo bangun. Awas telat tidak dapat bubur ayam buatan mommy loh" ucap Mey yang sudah duduk di sisi ranjang puteranya sambil mengguncang tubuh yang belum ada pergerakan sama sekali.


Mendengar kata bubur ayang, Daffi langsung bangun tanpa paksaan.


"Sana mandi dan cepat turun" ucap Mey dan langsung dituruti putera bungsunya itu.


"Hmm apa bedanya daddy, kaka sama ade" gumam Mey terkekeh geli dengan tiga pribadi yang beda generasi tapi sama-sama membingungkan.


BERSAMBUNG