
Jika saja kamu tahu yang sebenarnya de, ka Novi tidak membayangkan bagaimana jadinya kamu nanti. Orang yang kamu rindukan, orang yang kamu harapkan untuk mendampingi kamu untuk acara ulang tahun kamu malam ini ternyata sudah berada diujung maut. Batin Novi
*****
Mey yang baru mengetahui kenyataan tentang mantan suaminya yang selama ini berjuang antara hidup dan matinya setelah menolong puterinya merasa sangat bersalah namun ia tidak ingin ada kesalah pahaman.
"Lalu di mana isterinya ma, kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Mey
"Isteri yang mana yang kamu maksudkan? bahkan selama ini Alfa hanya seorang duda yang sangat mengenaskan" ucap mama Ratna
"Maksudnya?" ucap Mey penasaran.
"Alfa sudah bercerai sejak lama dengan Nina, bahkan Ninalah dalang dari penculikan Maggie yang artinya Nina juga yang membuat Alfa sekarat sekarang" ucap mama Ratna menjelaskan
"Jadi maksud mama, Nina punya hubungan sama Aldrich?" tanya Mey semakin penasaran.
"Kekasih gelap Nina adalah anak buah dari pria yang kamu sebut Aldrich itu dan dia adalah ketua mafia dari perguruan Naga Hitam" ucap mama Ratna yang sudah tahu siapa itu Aldrich
Deg
Mey semakin dibuat mati kutu dengan kenyataan demi kenyataan yang ia ketahui saat ini.
Tapi kamu jangan takut, anggaplah semua ini tidak terjadi dan bertemanlah selayaknya kalian berteman selama ini" ucap mama Ratna juga yang sudah curiga jika tuan Devid tengah menggunakan puterinya sebagai umpan untuk menjebak Aldrich.
"Bagaimana mungkin mama tahu tentang semua ini?" ucap Mey penuh selidik
"Jangan ragukan kemampuan mantan mertuamu itu" ucap tuan Devid sambil terkekeh dengan tampang polos puterinya.
"Jangan sebut aku mantan mertua, Mey masih tetap menjadi menantuku" ucap mama Ratna geram
"Tidak semudah itu. Aku kesini bukan berarti aku akan kembali membiarkan puteriku jatuh ke tangan orang yang tidak memiliki hati. Lagian kamu perlu berjuang lagi dan jika puteramu selamat" ucap tuan Devid tegas
Mama Ratna tercekat dengan penuturan mantan besannya ini, ia menatap tuan Devid dengan dengan berkaca-kaca.
"Maka aku juga merelakan puteraku untuk tidak selamat" ucap mama Ratna menahan sakit hatinya. Ia tahu jika sampai saat ini puteranya dapat bertahan itu karena puterinya dan mantan isterinya. Tapi jika kalau bukan mereka mungkin Alfa sudah menyerah dan berhenti berjuang untuk hidup.
"Mah" ucap Mey yang merasa hatinya teriris belati tajam saat dua orang tua ini mempertahankan ego mereka masing-masing tanpa mengerti akan perasaan hati seorang anak kecil yang saat ini sudah tertidur di pangkuan Novi.
Tiba-tiba dokter keluar dengan wajah lelahnya.
"Bagaimana keadaan puteraku dokter?" ucap mama Ratna panik.
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun Tuhan berkehendak lain" ucap dokter yang langsung disambut dengan rasa terkejut semua orang di sana.
Mama Ratna langsung drop dan dibawa ke ruang rawat untuk ditangani karena penyakitnya yang langsung kumat.
Mey terhuyung kearah samping dan ditahan oleh ayah yang berada di sampingnya.
Novi juga yang terkejut, dengan reflex langsung bangun dan membuat Maggie yang tertidur pulas di pangkuannya hampir terjatuh namun dengan cepat ia mengendalikan diri sehingga anak itu tidak jatuh. Maggie yang kaget karena hampir jatuh itupun langsung bangun.
"Ta Novi, ada gempa ya?" ucap Maggie yang melihat semua orang panik.
Roky yang baru mendapat telepon langsung datang dan mendapati mantan isteri tuan mudanya.
"Mom, tenapa nangis?" tanya Maggie
"Daddy sayang. Ade pasti bisa melewati semua ini" ucap Mey menjelaskan seolah puterinya seorang dewasa yang bisa memahami maksudnya.
"Ade mau tetemu daddy mom, tenapa tita lama cekali di cini" ucap Maggie.
Novi yang sering nonton film dan drakor langsung tergerak hatinya dan menggendong kembali Maggie mendekati dokter itu.
"Dok, apa kami bisa melihat jasad pasien?" ucap Novi membuat semua orang kaget.
"Boleh. Silahkan masuk karena sebentar lagi pihak Rumah Sakit akan memindahkan ke ruang mayat" ucap dokter
Novi melesat pergi membawa Maggie mendekati jasad Alfa yang sudah kaku dan tertutup kain putih. Novi yang sebenarnya paling takut mayat, berusaha kuat dan membuka kain itu.
Alfa yang sudah tidak bernyawa dan sudah dilepas dari alat-alat medis, tertidur dengan wajah pucat nan kurus itu.
"Ta Novi, ini daddy tan?" ucap Maggie yang langsung mengenal wajah daddynya walaupun sudah berubah karena pucat dan kurus.
"Iya sayang. Daddy lagi sakit dan tidur, coba ade kasih bangun biar daddy bisa ikut acara ulang tahunnya ade" ucap Novi tanpa mendengar omelan orang-orang dibelakangnya.
"Novi, kamu jangan gila. Maggie masih kecil dan jangan kamu hasut otak polosnya" bentak Mey pada adik angkatnya tapi tidak diperdulikan.
Maggie yang tahu jika itu daddynya langsung duduk di atas tempat tidur tepat di samping daddynya sambil menggoncang tubuh pria itu.
"Daddy, bangun cudah cole, cebental lagi pecta ulang tahun ade" ucap Maggie
"Akhh daddy nebelin, tatana mau ciap tejutan untuk ade tapi daddy malah tidul. Talo daddy tida bangun ade malah, mau?" ucap anak kecil itu yang membuat semua orang tidak menahan air mata. Bahkan mama Ratna yang baru sadar lagi langsung kembali ke kamar puteranya dan mendapati cucunya tengah membangunkan Alfa.
Sementara di alam lain.
“Untuk apa kamu datang?” ucap seorang wanita paru baya kepada seorang pria yang baru saja akan melewati jalan setapak yang ada di sebuah taman yang sangat luas.
“Maaf tante, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya pria itu kepada wanita yang berbicara seolah mengenalnya itu.
“Aku mengenalmu bahkan sangat mengenalmu. Kamu adalah pria brengsek yang ingin sekali aku habisi jika dunia kita sama” ucap wanita itu geram
“Maksud tante? Sepertinya pembicaraan tante semakin aneh karena selama hidup aku tidak pernah bertemu bahkan tidak pernah melihat tante dalam alam mimpi sekalipun. Jadi tolong tante minggir dan jangan menghalangi jalanku” ucap pria itu yang ikut geram.
“Kamu pikir akan semudah itu lari dari tanggung jawab anak muda? Aku pastikan kamu tidak akan pergi begitu saja setelah kamu mengecewakan mereka, kamu sakiti mereka dan kamu buang mereka begitu saja” ucap wanita itu sambil menarik kerah baju pria itu.
“Tante jangan asal membual deh, lebih baik tante pulang rumah dan urus suami sama anak-anak tante” ucap pria itu sambil berusaha melepaskan tangan wanita itu namun pegangannya malah semakin kuat sehingga sulit dilepaskan
“Apa kamu bilang? Heh anak muda, aku bahkan sampai mengorbankan nyawaku demi puteriku dan seenaknya kau bilang aku yang harus mengurusnya lagi? Lalu apa tanggung jawabmu hah? Kau bahkan sudah membuatnya banyak mengeluarkan air mata lalu kau ingin lari? Rasakan ini” ucap wanita itu lansung memberi dua kali tamparan di kedua belah pipi anak muda itu.
-Bersambung-