
Di salah satu kota besar yang cukup terkenal yakni Dubai, Sepasang suami isteri yang baru menikah seminggu itu tengah menghabiskan waktu bersama. Hampir semua tempat tempat wisata mereka datangi.
Roberth benar-benar memanjakan isterinya karena selama berpacaran mereka jarang bepergian bersama-sama apalagi liburan bareng. Waktu satu bilang yang diberikan oleh keluarga benar-benar mereka manfaatkan untuk menikmati sepuasnya. Seperti sore ini Roberth mengajak isterinya datang ke sebuah taman warna warni yang dikenal dengan Miracle Garden. Maggie yang memang suka dengan segala sesuatu yang berbau taman, sangat bahagia ketika sang suami mengajaknya ke sana.
"Ka, ini cantik sekali" ucapnya bahagia sambil meminta sang suami untuk mengambil gambarnya dan dengan gaya dan latar yang berbeda-beda.
Mereka juga foto bersama dengan meminta bantuan pada orang-orang yang ada di sana untuk mengabadikan momen istimewa ini.
"Iya sayang. Kamu suka?" tanya Roberth.
"Iya sayang, aku suka bangat. Makasih ya? sudah ajak aku ke sini" ucap Maggie dengan wajah bahagianya.
"Iya sayang, aku senang melihatmu bahagia seperti ini" ucap Roberth yang tidak melepaskan genggaman tangan sang isteri. Sesekali ia mendekapnya dan mengecup pucuk kepala isterinya. Keduanya berkeliling di semua sisi taman itu sampai benar-benar lelah.
"Apa kamu sudah lapar? kita cari makan terlebih dahulu sebelum pulang ke hotel." ajak Roberth kepada Maggie karena hari sudah mulai gelap.
"Iya sayang, aku juga sudah lelah" jawab Maggie yang mengikuti langkah suaminya untuk mencari makan malam sebelum pulang.
Setelah makan malam, keduanya kembali ke hotel untuk beristirahat karena esok mereka akan bepergian ke tempat lain lagi.
"Sayang, kamu mandi lebih dahulu" ucap Maggie yang merasa lelah dan ingin berbaring mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
"Mandi bersama?" goda Roberth.
"Nggak." jawab Maggie tegas.
"Oke baiklah, kalau begitu kamu yang harus mandi lebih dahulu biar tidak kemalaman" perintah Roberth yang mau tidak mau harus dilakukan oleh wanita tersebut.
Maggie masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri terlebih dahulu sedangkan Roberth duduk di ranjang sambil memainkan ponselnya.
Beberapa saat kemudian Maggie keluar dengan sudah mengenakan baju tidurnya.
"Sayang, ayo mandi." ucap Maggie kepada suaminya.
"Kamu sudah selesai sayang?" tanya Roberth sambil mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap ke arah isterinya yang sudah kelihatan segar setelah mandi.
"Iya, yuk gantian kamu mandi" ucap Maggie lagi. Roberth bangun dari duduknya dan melangkah pergi ke kamar mandi, namun sebelum pergi masih sempat-sempatnya ia menjahili sang isteri dengan mengecup pipi isterinya sehingga membuat wanita itu kesal.
"Iihhh belum mandi juga" kesalnya sambil mengusap pipinya bekas ciuman sang suami.
Roberth malah masuk ke kamar mandi dengan tertawa bahagia karena berhasil membuat isterinya kesal.
Dua puluh menit kemudian, Roberth keluar dengan hanya mengenakan handuk yang hanya sebatas pinggangnya saja.
Roberth mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang ia pegang. Setelah beberapa saat ia baru menyadari jika kamar itu sangat sepi. Roberth pun menatap ke arah ranjang, ternyata sang isteri sudah terlelap di sana dengan posisi bersandar di kepala tempat tidur.
"Rupanya sudah tidur. Kasihan isteriku pasti kecapean sampai tidur dengan posisi duduk." gumam Roberth sambil membenarkan posisi tidur sang isteri lalu menyelimuti nya dan setelah itu ia pun kembali melanjutkan aktifitasnya mengeringkan rambut. Roberth yang juga kecapaian akhirnya menyusul sang isteri ke alam mimpi setelah mengenakan pakaiannya.
.
.
.
Hari ini abang dan kembarannya kembali masuk kuliah.
"Daffa kamu ke mana saja sampai tidak masuk kuliah begini lama?" ucap seorang gadis yang menghadang mereka saat akan masuk ke ruang kelas mereka.
"Awas jika tidak mau aku berlaku kasar" tegas Daffa dengan tatapan sini nya namun gadis yang bermental baja itu tetap pada pendiriannya. Setelah hampir satu tahun ia tidak berhasil mengambil hati pria itu sehingga kali ini ia mengabaikan harga dirinya.
"Tidak akan" ucapnya tidak mau kalah.
"Benar-benar ni gadis ondel-ondel" ucap Daffi yang ikut marah.
Daffi yang emosi karena moodnya pagi ini menjadi berantakan, akhirnya melangkah pergi dengan sedikit mendorong gadis itu hingga hampir jatuh namun siapa sangka, Daffa malah bergerak cepat untuk mengajar gadis itu.
Keduanya dalam posisi yang cukup intim sehingga membuat banyak gadis yang histeri menyaksikan kedekatan mereka.
"Terimakasih Daffa" ucap gadis itu tersenyum senang karena walaupun pria itu sangat dingin namun ada sisi lembutnya. Gadis itu semakin nekad karena memiliki kesempatan dan kemungkinan.
Pertunjukkan itu membuat Daffi naik darah.
"Bang, kenapa sih kamu menolong dia?" tanya Daffi emosi.
"Daffi, jangan kasar sama perempuan jika itu menyangkut fisik" saran abangnya.
Sejak kapan kamu berubah? dulu kamu sering berlaku kasar jika Ike menyentuhmu sedikit saja tapi kamu langsung bertindak dan beberapa kali kamu membuat Ike mengeluh kesakitan. Batin Daffi penuh amarah dan pergi meninggalkan sahabat dan abangnya.
.
.
.
Di dalam ruang latihan yang ada di mansion keluarga Smith, si kembar tengah membakar kalori dengan melakukan banyak latihan di sana.
"Bang, apa benar abang sudah pacaran sama Ike?" tanya Daffi serius.
"Kenapa?" jawab Daffa yang sudah kembali sifat alaminya.
"Abang ko tega ya? bukannya daddy akan melamarnya untukku?" ucap Daffi.
"Apakah kau sudah melamarnya? jika belum maka akui saja kekalahanmu" ucap Daffa tegas.
"Bang, kita tumbuh bersama sejak dari dalam kandungan mommy, kenapa abang lakukan ini sama aku?" ucap Daffi penuh penekanan. Ucapannya mampu membangkitkan amarah sang abang. Daffa sempat berpikir jika kembarannya tidak serius dengan ucapannya yang sudah lalu ternyata kini dia kembali mengungkitnya.
"Apa maksud kamu?" ucapnya dengan nada yang cukup berat.
"Aku mencintai Ike." ucap Daffi yang langsung mendapat bogem di rahangnya.
"Jaga ucapanmu Daffindra Barak Adipaty" ucap Daffa yang mulai tersulut emosi.
"Cih, bukannya kamu sangat tidak suka dengan gadis petakilan? dan bukannya kamu sudah mengabaikannya selama ia berada di sini? lalu setelah dia pergi karena perbuatanmu lalu kamu segampang itu mengejarnya kembali?" ucap Daffi dengan senyum sinisnya sambil mengusap sudut bibirnya yang sedikit sobek akibat amarah sang abang.
"Aku yakin dia terpaksa menerima kamu kembali karena paksaan. Dia terpaksa menerimamu tanpa mempermasalahkan apapun yang sudah kamu lakukan untuknya dulu" ucap Daffi tegas dan pergi meninggalkan sang abang.
Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti adik kecilku lagi. Kau sudah mencampakkan nya lalu kau mengambilnya kembali dan sekarang kau juga mau mengkhianatinya? Batin Daffi.
Bersambung