
"Di ulang tahun ini, cebenalna ade mau ada daddy di cini tapi daddy cakit jadi ade mau bica tetemu daddy cetali lagi nanti" ucapnya dengan suara lantang. Saat membuka mata, ia dikejutkan dengan sosok pria yang telah berjongkok di depannya.
Sementara semua orang terpaku menyaksikannya.
"Daddyyyyy" seru anak kecil itu bahagia.
Anak kecil yang bahagia berlipat ganda itu langsung melompat masuk dalam dekapan pria yang selalu ia rindukan selama ini.
Kedua tangan mengalung di leher daddynya dengan rasa yang tidak bisa diungkapkan.
"Ade tangen daddy. Tangennnn cetali" ungkapnya yang masih berada dalam pelukan daddynya.
Sementara Alfa jangan ditanya lagi, pria itu sudah bergetar hebat sejak puteri tercintanya mengungkapkan rasa rindu kepadanya.
Semua perbuatan kasar, bentakan dan keegoisannya kembali menari-nari dalam ingatannya, membuatnya semakin tak kuasa menahan rasa bersalahnya saat seorang anak kecil yang polos dengan penuh berbinar memeluknya sambil tetap mengakuinya sebagai daddy tanpa melihat seberapa banyak ia menyakiti hatinya.
"Maafkan daddy sayang. Daddy banyak salah sama kamu" ucap Alfa yang masih setia menyembunyikan wajahnya di keruk leher puterinya sambil mengeluarkan air mata yang sudah sebanyak apa.
"Ade tangen daddy. Ade lindu main cama daddy cepelti teman-teman ade yang puna foto belmain cama daddy meleka, daddy mau tan main cama ade?" ungkapan seorang gadis kecil yang malah menambah rasa bersalah seorang daddy dan kedua opa dan omanya yang baru tahu sebesar apa penderitaan gadis kecil ini.
Alfa semakin dibuat sesugukan, hingga puterinya sadar kalau daddynya tengah menangis.
Tangan kecil yang tadi dipakai untuk memeluk leher daddynya, kini beralih mengusap kepala daddynya dengan sayang seperti anak- anak yang saling membujuk, ketika ada teman mereka yang menangis, membuat semua orang disana meneteskan air mata.
"Iya daddy janji sayang" ucap Alfa sambil perlahan melepas pelukannya.
Pria yang masih pucat dan kurus itu perlahan berdiri dan membawa puteri kecilnya dalan gendongan.
"Daddyyy!!!" seru Maggie dengan suara lantang membuat semua kembali terkejut, apa lagi Alfa yang reflex memeriksa kondisi puterinya jangan sampai kenapa-kenapa.
"Kenapa sayang" ucap Mey yang panik dan langsung mendekat ke arah puterinya dan mantan suaminya.
Hal itu membuat jantung Alfa seolah mau copot karena berada diantara dua orang yang kini mulai menguasai hatinya.
"Mana tue ade. Tadi ade beldoa tuena ilang mom" ucap Maggie membuat semuanya tertawa tertawa terbahak-bahak kecuali Alfa melongo dengan tingkah puteri kecilnya.
Gadis kecil yang membuatnya hampir jantungan itu ternyata hanya karena kue ulang tahun.
"Nih tiup lilin dulu" ucap Novi yang kembali membawa kue ulang tahun ke depan anak kecil itu yang sudah duduk bersejajar dengan kedua orang tuanya di sofa.
"Lilinna tenapa 4 mom?" tanya Maggie
"Memangnya ade ulang tahun ke berapa?" tanya Novi yang berdiri di samping memegang pisau, sendok dan piring kecil.
"Empat" sambil menunjukan 4 jarinya kepada semua orang.
"Justru itu lilinnya empat ibu negara" ucap Novi gemas.
"Oh ade lupa" ucap anak kecil itu sambil menepuk jidatnya, membuat semua orang kembali tertawa.
Maggie meniup semua lilin yang tertancap di atas kue ulang tahun itu, lalu tangan kecilnya kembali bersiap untuk mencomot kue itu namun dihentikan oleh Novi yang mengancamnya dengan pisau dan melototinya. Anak kecil itu cepat-cepat menarik kembali tangan kecilnya karena takut dipotong oleh kakaknya itu.
"Nah sekarang potong kuenya terus disuapkan untuk daddy sama mommy, oma dan opa-opa semua" ucap Novi memberi arahan
"Teluc adena tapan matan tuena?" tanya Maggie yang tidak mendengar namanya disebutkan.
"Pah, cucu kita persis seperti daddynya waktu kecil. Hobinya makan, apalagi makanan enak dan kue-kue" ucap mama Ratna yang dibenarkan oleh papa Alberth.
Alfa sejak tadi diam mengamati tingkah puterinya seperti melihat dirinya waktu kecil.
Maafkan daddy sayang. Batin Alfa yang tidak pernah habis dalam penyesalannya
Semua yang tengah sibuk lupa dengan gadis kecil yang tengah menikmati kue yang disediakan Novi untuk disuapkan kepada semua orang. Gadis kecil itu dengan santai duduk memangku piring kecil itu dan memasukan satu per satu potong kue ke dalam mulut tanpa beban.
"Adeeee, ka Novi suruh suap kasih yang lain bukan ade yang makan" ucap Novi geram bercampur gemas, namun apa daya? kue itu sudah habis dimakannya.
"Tenapa cemua pada celita dan tida peduli cama ade?" ucapnya membenarkan diri karena memang sejak tadi para orang tua itu asyik berbincang.
Alfa yang sejak tadi merasa gemas dengan puterinya yang selalu membuat orang tersenyum hanya dengan tingkah konyolnya itu, membawa puterinya ke atas pangkuan dan mengecup pucuk kepalanya berulang-ulang. Papa Alberth dan mama Ratna yang menyaksikan hal itu merasa haru sampai meneteskan air mata.
Mey ikut bahagia karena ulang Maggie kali ini adalah ulang tahun pertama yang dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya. Tidak seperti tiga tahun kemarin, puterinya harus berjuang untuk mendapatkan perhatian daddynya hingga akhirnya harus mendapat luka hatinya yang mendalam.
Tuhan. Jangan biarkan kebahagiaan ini berlalu dari hidup puteriku. Batin Mey
"Baiklah karena ade sudah menghabiskan kuenya sendirian jadi lebih baik kita makan malam saja" ucap opa Devid sambil tersenyum, sedangkan yang disinggung merasa malas tahu dan mencibir opanya.
Semua melangkah menuju meja makan dan seperti biasa Maggie akan lebih dahulu karena dia tahu malam ini hidangan di meja makan lebih istimewa.
Semua sudah mengambil posisi duduk di seputar meja makan.
"Mom, ade mau ayam goleng tapi pahana, cama telupuk telus..." ucap gadis kecil itu dengan jari yang menempel di dagu sambil mengetuk-ketuk seolah masih memikirkan lauk apa yang mau dimakannya malam ini.
"Oh ya cama tuah ceditit. Ceditit ya mom" ucapnya kemuadian.
Dengan anteng gadis kecil itu duduk di atas pangkuan daddynya tanpa mau beranjak dari sana.
"Iya nyonya ratu" jawab Mey yang dengan cekatan melayani puterinya.
Masing-masing melayani pasangan mereka. Mama Ratna melayani papa Alberth. Novi melayani ayah Devid. Mey melayani Maggie.
Setelah menaruh lauk dan menyodorkan piring ke depan puterinya. Gadis kecil itu kembali bersuara.
"Mom, puna daddy belum" ucapnya yang hampir melahap makanannya.
"Sebelum makan apa dulu de?" ucap Mey memperingati puterinya sambil kembali mengambil makan buat mantan suaminya.
"Play dulu mom" ucapnya langsung mengatup kedua telapak tangannya dan tutup mata lalu berdoa.
Ķamu mendidiknya dengan sangat baik. Aku banyak berhutang budi sama kamu. Batin Alfa sambil matanya tidak lepas dari sosok wanita yang semakin dewasa itu.
-Bersambung-