Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
Kecelakaan Kecil



Perjalanan Rockzy dan Maggie yang memakan waktu cukup lama itu membuat pria itu akhirnya ketiduran, namun tidak dengan Maggie yang masih memikirkan banyak hal yang mengganggu otak kecilnya itu.


"Apa maksud opa memaksa kami harus kembali" gumam Maggie sambil melihat keluar dari jendela pesawat yang menampilkan awan putih yang membatasi pandangannya.


******


Keluarga Reno semakin bahagia walaupun keluarga mereka hanya dikaruniai seorang anak saja yakni Eunike yang biasa dipanggil Ike.


Gadis yang kini sudah menginjak masa remaja dan semakin cantik itu tak bisa dipungkiri bahwa ia menjadi primadona di sekolahnya. Ike kini sudah duduk di bangku SMA kelas 1 sedangkan Daffa dan Raffi kini sudah masuk kuliah semester awal.


Perjuangan Ike untuk mendapatkan Daffa masih tetap berlanjut walaupun hingga sekarang belum ada kemajuan jika anak muda itu membalas perasaannya. Daffa masih tetap sama, menganggap Ike sebagai adik perempuannya. Daffa yang jutek orangnya membuatnya risih jika bertemu dengn Ike yang sedikit genit.


Hari-hari terus berlanjut dan kedua keluarga itu tetap akur. Alfa sering meminta bantuan dari Reno jika punya kendala dengan perusahaannya maupun perusahaan sangat isteri, begitu juga Reno yang sering meminta bantuan jika menemui kendala perusahaannya.


Tok tok tok


"Masuk" terdengar suara dari arah dalam memberi perintah kepada Pria yang tengah berdiri dan mengetik pintu yang di atasnya bertulis CEO.


Seorang pria yang masih gagah masuk ke dalam ruangan tersebut dengan senyuman mengembang di wajahnya.


"Apa kabar bro?" ucap pria yang baru masuk itu.


"Lumayan" jawab Alfa yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Ia berhenti beraktifitas sejenak menyambut kedatangan pria yang sudah dianggap seperti adik sendiri.


"Loh, ko lumayan?" ucap Reno cepat karena penasaran dengan keadaan pria itu. Ya yang sejak tadi berbicara adalah Alfa dan Reno. Reno menyempatkan dirinya mendatangi perusahaan Alfa saat mendengar jika kaka telah dipanggil kembali ke California.


"Iya, aku hanya merasa ada yang berbeda saat kaka dipanggil kembali ke California. Sepertinya paman Gaston sedang merencanakan sesuatu." ungkap Alfa mewakili perasaannya.


"Paman Gaston bisa diandalkan jadi kamu jangan gelisah seperti itu bro" ucap Reno berusaha menenangkan Alfa.


"Puteri ku masih sangat muda Ren, bagaimana bisa dia harus memegang perguruan opanya yang sangat berbahaya itu. Apa salahnya paman menunggu sebentar lagi sampai Daffa atau Daffi dewasa nanti" ucap Alfa.


"Kaka berbeda dari si kembar, karena itu yang membuat opanya memilih dia." jawab Reno.


"Dia seperti itu karena situasi Ren. Semua anak pasti akan reflex jika dalam bahaya. Si kembar juga sudah diajarkan memegang senjata tajam sejak usia mereka masih sangat kecil, tapi karena siatuasinya beda sehingga mereka tidak menunjukkan kemampuan mereka" ucap Alfa lagi. Ia berpikir akan merelakan puteri satu-satunya untuk menangani dunia gelap mamanya, namun semakin ke sini, dia semakin gelisah.


"Apa kamu tidak dipanggil juga ke sana?" tanya Reno yang hanya dijawab dengan anggun kepala oleh Alfa.


"Setidaknya kamu harus ke sana untuk mengetahui apa maksud paman untuk Kaka" ucap Reno menyadarkan Alfa.


"Betul, aku harus ke sana, pasti mama juga sudah ke sana" ucap Alfa yang langsung membereskan lat kantornya di atas meja kebesaran itu.


"Hei, ngomong-ngonong bagaimna perkembangan anak-anak" ucap Alfa.


"Perkembangan apa? " tanya Reno balik.


"Bukannya Puteri ku sangat tergila pada putera sulung ku" ucap Alfa terkekeh. Para orang tua itu memang sudah menyadari sejak dulu hanya mereka tidak ingin ikut campur.


"Aku tidak setuju, dilihat dari sifat dingin puteramu yang selalu mengabaikan Puteri ku, aku tidak mau Puteri ku akan kecewa nanti" ucap Reno serius membuat Alfa heran.


"Mereka hanya belum menyadari saja Ren, lagian mereka masih sekolah, biarkan semuanya mengalir saja dulu" ucap Alfa.


"Oke, sudah berangkat sana kamu. Jangan sampai kamu terlambat" usir Reno.


"Oke, aku pergi. Kamu?" tanya Alfa.


"Ya pulanglah, masa aku harus menjaga kantormu" jawab Reno sambil melangkah keluar.


Keduanya beriringan keluar hingga parkiran dan terpisah di sana dengan mobil masing-masing.


Di tempat lain, Mey tengah sibuk dengan urusan kantornya. Wanita itu bersyukur karena sangat mama mertua yang telah merelakan salah satu anak buahnya yang sangat bisa diandalkan untuk membantunya. Riko kini dengan setia mendampingi atasannya untuk menyelesaikan semua urusan kantor. Mey juga bersyukur karena kedua puterinya sudah mulai membantu menangani perusahaan setiap pulang kuliah sehingga Mey hanya menghabiskan waktunya di kantor saat pagi hari.


"Riko, apa sudah ada kabar dari mama Ratna?" tanya Mey pada sangat asisten.


"Nyonya besar sudah berangkat ke California nyonya" jawab Riko.


"Apa kamu tahu alasan kenapa kaka dipanggil kembali ke sana?" tanya Mey lagi.


Tidak mungkin aku memberitahukan kalau kaka akan ditetapkan jadi ketua Marah Salvatrucha, Bila-bila tuan besar Gaston membantai ku karena rencananya sampai gagal oleh orang tuanya. Batin Riko.


"Aku sama sekali tidak tahu nyonya, mungkin tuan Gaston kesepian sehingga ia meminta waktu bersama kaka" jelas Riko berusaha meyakinkan.


*****


"Tolong bangunkan kaka" perintah opa Gaston kepada salah seorang asisten rumah tangga nya ketika pria tua itu sudah berkumpul bersama adiknya mama Ratna dan anak angkatnya serta beberapa anak buah kepercayaannya sudah berada di ruang makan.


"Baik tuan" jawab sangat art.


Cucuku sama sekali tidak berubah sejak dulu ia tinggal di sini. Tetaplah seperti sekarang walaupun kamu sudah menjadi orang yang punya kuasa. Batin opa membayangkan sangat cucu yang sebentar lagi sudah menggantikan posisinya.


.


.


.


Tok tok tok


"Non, di suruh tuan untuk turun sarapan" seru art dari depan pintu anak gadis itu namun tidak ada respon.


"Non... " panggil sang art lagi.


Beberapa saat kemudian Maggue keluar dengan muka bantalnya bahkan sambil menggendong boneka kesayangannya sejak dulu ia pertama kali berada di mansion tersebut.


"Non, di suruh tuan besar untuk turun sarapan" ucap sang asisten rumah tangga itu lagi.


"Baik aku akan turun" ucapnya lalu kembali masuk ke kamarnya dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


Maggie akhirnya turun untuk sarapan bersama keluarganya di ruang makan.


"Eh ada oma, sejak kapan sampainya oma" ucap Maggie yang terkejut karena di sana sudah ada sang oma kesayangannya.


"Oma sudah sampai sejak semalam, kaka aja udah tidur" jelas oma sambil menepuk kursi sampingnya sebagai kode agar cucunya bisa duduk disampingnya.


"Ayo, kita makan dulu, setelah itu kita akan membahas rencana kita selanjutnya" jelas opa Gaston dan akhirnya mereka pun mulai menikmati sarapan pagi itu dalam diam.


Setelah menyelesaikan sarapan pagi ini, mereka kembali diminta opa untuk datang ke ruang rahasianya. Di sana mereka membahas banyak hal.


"Apa abang sudah yakin akan mengangkat kaka sekarang untuk menggantikan posisi abang?" tanya oma Ratna kepada sang abang.


"Iya aku sudah sangat yakin. Dan aku memang harus mempercepat kan pengalihan jabatan" jelas opa Gaston entah apa yang yang dirahasiakan pria tua itu dari mereka semua.


"Tapi opa, aku merasa belum sempurna seperti opa" Maggie akhirnya bersuara.


"Bukan kamu yang menilai kinerja kamu sendiri tapi opa yang menilainya. Lagian ada Rockzy yang setia menemani kamu. Iyakan nak?" ucap opa membuat anak muda itu hanya bisa mengangguk sebagai jawaban dan memang seperti itu, ia selalu ada di samping Maggie.


"Aku terserah aja bang, apa baiknya." respon oma Ratna.


"Oke, malam ini kita akan melaksanakan rencana kita" ucap opa menyudahi perbincangan mereka.


*****


Di tempat lain, Roberth tengah sibuk karena hari ini mereka akan menyelesaikan urusan mereka di desa sehingga ia sama sekali tidak peduli dengan ponselnya.


"Tuan muda, semuanya telah disiapkan." ucap salah seorang tim Roberth.


"Oke, kita segera berangkat agar lebih cepat selesai" ucap Roberth.


Mereka pun melakukan semua urusan mereka hingga selesai hari ini agak sedu.


Dalam perjalanan pulang menuju ke penginapan, mereka tak sengaja menabrak seorang gadis berusia 20-an tahun.


"Ada apa?" tanya Roberth yang memang sejak tadi ketiduran di atas mobil sehingga ia tidak mengetahui kejadian tersebut.


"Kita menabrak seseorang" jawab sang sopir gugup.


"Hah?" ucap Roberth sedikit teriak karena terkejut.


Bersambung