Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
109. Curhat



Mey turun dan mendapati sang ayah yang masih setia berada di taman, entah kenapa malam ini pria itu terlalu lama berada di luar.


"Ayah, sudah larut" ucap mey pada ayahnya ketika baru sampai dan duduk di samping pria paruh baya tersebut.


"Sudah pulang sayang? mana cucu dan menantuku?" tanya ayah sambil menatap ke arah puterinya.


"Maggie sudah tidur sama ibu, twins juga sudah tidur dijaga daddynya." jawab mey apa adanya.


"Maaf ya sayang," ucap ayah.


"Maaf untuk apa ayah?" tanya Mey bingung karena ayahnya tiba-tiba meminta maaf.


"Maaf karena ayah terlambat menemukanmu sampai kamu harus menderita berlapis-lapis" ucap ayag dengan sayu.


"No ayah, jangan minta maaf karena itu memang sudah takhdir hidup yang harus aku jalani, jika aku tidak mengalami itu semua maka kaka tidak ada saat ini." jelas Mey yang sudah filing jika ibunya pasti sudah menceritakan banyak hal soal masa lalu kepada sang ayah.


"Ayah berhutang budi sama bi Ani, disaat ayah tidak ada untuk kamu waktu itu, dia yang setia menemani kamu melewati masa-masa sulit" ucap ayah kemudian.


"Dia sudag aku anggap sebagai ibuku sendiri, seandainya aku bisa berharap maka aku akan berharap punya sosok ibu seperti dia" ucap Mey yang memeng mengaharapkan bi Ani jadi ibunya tapi melihat ayahnya yang begitu mencintai mendiang ibunya, tidak mungkin ia akan memenuhi keinginannya.


Deg


Ayah Devid tidak menyangka bahwa ucapan itu akan keluar dari mulut puteri semata wayangnya. Dulu ketika dia ingin menikah lagi tapi ia memikirkan jika wanita ang dia nikahi tidak mau menerima puterinya bahkan mungkin tidak mengijinkannya untuk mencari puterinya. Setelah dia menemukan sang puteri, ia kembali memikirkan perasaan anaknya jika ia menikah maka kasih sayangnya akan terbagi dan itu akan mengecewakan puterinya dan cucunya.


Ayah Devid terdiam. Dia tidak mampu menjawab ucapan sang puteri.


"Maaf" lirih Mey,


"Kenapa?" tanya ayah.


"Mungkin aku salah berucap, maaf" jawab Mey pada akhirnya.


"Aapakah kamu mengijinkan jika ayah nikah lagi?" tanya ayah Devid.


"Hah??" Mey yang sejak tadi menunduk karena merasa tidak enak sudah menyinggung perasaan sang ayah.


"Apa kamu mengijinkan ayah menikah lagi?" tanya ayah sekali lagi.


"Sebenarnya aku ingin ayah menikmati hari tua ayah, entah dengan cara apa saja, tapi aku juga mengharapkan ayah tidak larut dengan kepergian ibu, aku ingin ayah bisa menikah lagi, soal siapapun itu terserah pada ayah karena hati tidak bisa dipaksakan" ucap Mey mengutarakan isi hatinya, walaupun ia sangat berharap ayahnya bisa memilih ibu Ani tapi semua kembali kepada siapa hati ayahnya terpaut.


"Usia ayah sudah kepala lima, jadi ayah tidak memilih siapapun orangnya karena ayah hanya ingin yang terbaik untuk puteri ayah dan semua cucu ayah." ucap ayah pada akhirnya.


"Aku harap lebih cepat" ucap Mey sambil terkekeh.


"Yuk, masuk sudah larut" ucap Mey yang sudah berdiri sambil mengulurkan tangannya pada ayahnya.


Sepasang ayah dan anak itu melangkah masuk ke dalam mansion. saat tiba di dapur, bertepatan dengan bi Ani yang tengah mengambil air untuk Maggie.


"Ibu, belum tidur?" tanya Mey ke arah bi Ani.


"Ibu ambil air untuk kaka, dia bangun katanya haus" ucap bi Ani sambil mengambil air dan melangkah naik kembali ke atas.


Mey juga sudah melangkah ke atas menuju ke kamarnya. Sedangkan ayah masih terpaku di bawa tanggga menatap dua wanita yang tengah menaiki tangga.


(Jika kamu bahagia menjadikannya sebagai ibu sambungmu, maka ayah akan berusaha) batin Ayah.


******


Di sebuah apartemen di negera Australia


Reno duduk di balkon kamarnya sambil menatap ke langit dengan perasaan yang hampa.


Entah apa yang ada di pikirannya tapi ia merasa bahwa hidupnya terlalu miris.


Setelah aku kehilangan kedua orang tuaku, aku harap tidak kehilangan kamu juga. Tunggulah dalam waktu sebentar lagi, aku akan membuatmu menjadi ratu di hidupku." guman Reno. Malam sudah sangat larut tapi ia tidak beranjak dari sana. Itulah yang selalu dia lakukan setiap malam.


Drrrtttt Drrttt Drrrtttt


Suara ponselnya bergetar, di dalam saku celananya. Pria itu mengambil dan mengangkat telepon yang masuk itu dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca.


"Tuan, sepertinya mereka curiga jika tuan masih hidup. Saat ini mereka mengambil cukup banyak uang untuk membangun perusahaan baru," ucap si penelepon


"Ikuti mereka dan pastikan perusahaan apa yang mereka bangun karena aku akan mengikuti mereka sampai ke lubang semut sekalipun" ucap Reno.


"Baik tuan." ucap pria itu.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Reno.


"Dia sudah lebih baik dari sebelumnya, sudah mulai tertawa dan lebih semangat" jawab pria itu.


"Baiklah, lakukan apa yang ingin kamu lakukan asal jangan seorangpun yang tahu" ucap Reno tegas dan akhirnya ia menutup telepon.


(Akhirnya aku bisa lega mendengar dia sudah kembali seperti dulu. Maaf sayang, membuat kamu banyak menderita dengan misteri hidupku. Tetaplah bahagia sampai aku sendiri datang untuk menjemputmu) ucap Reno dan akhirnya bisa tidur dengan nyenyak malam ini.


*****


"Del, esok temani aku ya?" ucap Novi.


"Mau ke mana? jangan bilang kamu mau pergi untuk bunuh diri ya?" canda Deli.


"Ya elahh emang cowok cuma dia doang makanya aku harus sampai bunuh diri" ucap Novi sambil terkekeh.


"Lalu kita mau ke mana? apa jangan-jangan kamu sudah bertemu dengan tembatan hati kamu sehingga aku harus menemanimu untuk bertemu dengannya? jangan harap ya, aku tidak akan mau jadi obat nyamuk" ucap Deli asal.


"Ya Tuhan kenapa otak kamu makin hari makin koslet ya? aku itu mau kirim uang sama ayah bunda, karena M-BANKING aku tidak aku pakai takutnya dilacak sama pria gila itu" ucap Novi.


"Emang ya, jomblo kelamaan sampai semuanya ditafsir sesuka hati" ucap Novi lagi sambil mencibir sahabatnya.


"Ya Tuhan Novi kenapa kamu jadi manusia paling bodoh sih? eh bukan bodoh tapi bego. Kenapa tidak beri tahu aku kirimkan nanti tinggal kamu kembaliin aja" ucap Deli gemas sambil mencubit pipi sahabatnya.


"Akhhh saki bego" keduanya akhirnya mulai kejar-kejaran di dalam kamar pembantu. Deli senang akhirnya setelah sekian lama sahabatnya kembali ceria, entah sudah move on atau belum tapi intinya dia sudah terlihat tidak seperti kemarin lagi.


Malam semakin larut akhirnya mereka tertidur setelah melewati drama kejar-kejaran.


Novi berpikir bahwa tidak ada untungnya dia larut dalam kesedihan apalagi galau karena pria yang tidak punya hati seperti Reno.


BERSAMBUNG