Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
145. Hukuman Untuk Daffi



Reno hari ini akan membawa isterinya kembali ke apartemen yang selama ini dia tempati, karena malam ia akan berangkat bersama isterinya kembali ke Australia karena pagi tadi ia sudah mendapat telepon dari anak buahnya untuk segera bergerak.


"Sayang, kita akan ke apartemen terlebih dahulu karena malam nanti kita akan berangkat. Papa sama mama dan ade sudah lebih dahulu" jelas Reno pada isterinya saat mereka tengah mempaking semua barangbarang yang ada di dalam hotel.


"Lalu bagaimana dengan bunda?"tanya Novi.


"Apa kamu mau memisahkan ayah sama bunda? mereka sudah menikah jadi bunda harus selalu ada di dekat ayah" tanya REno sekaligus menjelaskan dan memberi pengertian kepada isterinya.


Setelah menyelesaikan tugas beres-beres, salah seorang anak buah Reno langsung di panggil masuk untuk membawa barang-barang mereka dan Reno serta isterinya pergi dengan menggunakan mobil Reno.


Keduanya pergi meninggalkan hotel yang penuh dengan kenangan manis itu, kembali ke apartemen keluarga Smith. Setibanya di sana ternyata ayah Devid dan bu Ani sudah tidak ada dan sepertinya mereka juga sudah kembali ke negara mereka.


Reno dan isterinya akhirnya bersantai sebentar di balkon kamar untuk menikmati pemandangan di luar sana. Tiba-tiba bunyi ponsel Novi yang menandakan telepon masuk ternyata dari sang bunda.


Tring tring tring


"Halo bun, aku masih di apartemennya ka Reno" ucap Novi sebelum ada pertanyaan dari sang bunda.


"Ayahmu nak, ayah tidak ada di apartemen. Ayah pergi tanpa kasih tahu sama bunda" jelas bunda Nur dengan suara getar.


"Emang ada masalah apa bun sampai ayah pergi tanpa pamit?" tanya Novi bingung.


"Ini salah bunda, seharunya bunda tidak menyinggung ayahmu. Tapi bunda hanya tanya kepastian soal pernikahan kami, apakah bunda salah?" jelas bunda dengan sudah terlanjur menangis.


"Baikla, aku dan ka Reno akan segera ke sana" ucap Novi sambil menutup teleponnya.


"Ada apa sayang?" tanya Reno penasara dengan obrolan isterinya dan sang mertuanya tadi.


"Kata bunda, ayah pergi dari apartemen tanpa pamit. Kamu tahukan? ayah masih bergantung pada kursi roda dan aku takut ayah kenapa-kenapa" ucap Novi panik.


"Oke, kita segera ke sana, tapi kamu tidak apa-apakan tidak istirahat? atau kamu masih kesakitan?" tanya Reno.


"Tidak apa-apa ka" jawab Novi.


Keduanya kembali keluar untuk pergi ke Rumah sang mertua,, lebih tepatnya pergi ke apartemen yang dia beli untuk sang isteri dan mertuanya itu.


* Halo Ren,


* Halo Arjo, apa ayah sudah kembali ke rumah? kata bunda ayah pergi tanpa pamit sama bunda. Bunda lagi panik mencarinya"


*Ayah tidak ke sini, baiklah aku akan membantu untuk mencarinya.


* Oke.


Sambungan telepon antara Reno dan Arjo berakhir, dan Reno melanjutkan perjalanan bersama isterinya ke apartemen mertuanya.


*


*


Belum sempat menjawab, Arjo dan Reno masuk bersamaan.


"Bunda hanya tanya kepastian, jika ayah menikahi bunda karena untuk menjelaskan status kamu maka sebaiknya tidak usah dilakukan" jelas bunda sesuai apa yang terjadi tadi.


"Bunda, maaf jika hal ini terjadi. Aku minta maaf karena semua ini terjadi karena keegoisanku. Ayah bertahan tidak menikahi bunda karena ia takut melukaiku lagi, tapi aku sadar ternyata cinta ayah sangat besar untuk bunda, dua hari sebelum ade menikah, ayah sudah sadar dan ia banyak menceritakan kisahnya bersama bunda. Ia merasa bersalah dan ia juga sempat mengatakan jika bunda tidak memaafkannya maka dia akan pergi dari kita semua." jelas Arjo yang baru juga masuk itu.


Deg


"Ayah meminta ijin padaku untuk menikahi bunda, dan ia juga mengatakan bahwa ade sudah jadi tanggung jawab Reno sebagai suaminya maka ia minta agar aku mengijinkanya bersama bunda kembali ke pantai tempat tinggal yang dulu, karena ia ingin menghabiskan waktu bersama bunda di sana" lanjut Arjo menjelaskan keinginan ayahnya selama ini.


Bunda meneteskan air mata, ternyata suaminya ingin menghabiskan waktu bersamanya tanpa memikirkan harta gono gini dan kemewahan lainnya. Rupanya pria paruh baya itu sudah memutuskan untuk hidup bersama isterinya dalam kesedehanaannya.


"Aku akan memerintahkan anak buahku untuk mencari ayah di rumah lama yang ada di pantai" ucap Reno sambil mengangkat ponselnya dan menelepon seorang anak buah yang berada di daerah sekitar pantai yang mengawasih usaha kecil mereka di sana.


****


"Dede, jangan lusakin buku kaka" teriak Maggie pada si kembar yang menjadi pengacau saat ia lagi belajar.


Daffi malah tidak peduli, anak bungsu Alfa dan Mey itu memang lebih aktif dan suka membuat onar sehingga membuat Maggie sering mencubitnya karena nakal. Anak laki-laki kecil yang jalannya belum betul dan masih jatuh-jatuh itu terus mengusik kakanya.


"Kakakaka xixixi" ucapnya sambil cekikikan dan berusaha merampas lagi buku Maggie.


"Daddy, anakmu nyebelin ihhhh" teriak Maggie kesal saat melihat sang daddy yang duduk santai sambil menonton kedua puteranya yang seolah melawan sang kaka.


Alfa tidak peduli ia malah mengangkat remot tv dan menyalahkannya lalu menyilang kaki sambil menonton berita terkini di negera tersebut.


"Ihhh anak sama daddy sama aja, ngeselin" gerutu Maggie sambil menyimpan buku-bukunya. Namun si kecil mengikutinya dan mengamburnya lagi.


Maggie yang kesal naik ke lantai atas dan masuk ke kamar orang tuanya lalu mengeluarkan beberapa syal mommynya dari lemari pakaian lalu kembali turun. Setibanya kembali di tempatnya tadi, ia melihat daddynya yang masih santai padahal buku-bukunya sudah diacak sama Daffi, sementara Daffa yang mengambil salah satu buku kakanya malah duduk bersembunyi di belakang sofa lalu membuka selembar demi selembar sambil bibirnya bergerak-gerak seolah ia lagi belajar dengan serius.


Maggie mengeluarkan beberapa syal lalu mengikat kedua tangan Daffi bersamaan dan satu syal lagi mengikat kedua kakinya bersamaan. Daffi yang awalnya pasrah karena berpikir kakanya melakukan sebuah permainan baru bersamanya hanya pasrah saja. Namun setelah dia terikat dengan sempurnah dan sang kaka malah mengangkat buku-bukunya dan memasukan ke dalam tas dan dengan santai melangkah naik kembali ke kamarnya, membuat pria kecil itu berteriak.


"Kakakakak" ucap Daffi dengan suara keras.


"Daaa dede, selamat menikmati" ucap Maggie yang berhenti sejenak di tengah-tengah tangga naik ke kamar dan tersenyum menang.


Gadis kecil itu melangkah naik sambil berhitung dalam hati.


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 tepat angka ke sepuluh gadis kecil itu sampai di pintu kamarnya dan bersamaan dengan suara menggelegar dari Alfa.


"Kaka!!!!!!"


BERSAMBUNG


Ikuti juga Novel terbaruku💜