
Roberth akhirnya tersadar dan pergi dengan semangat namun hatinya tetap gelisah karena pernyataan yang mengatakan bahwa gadis yang ia tunggu sudah menikah dan memiliki anak.
*****
Malam telah tiba, Roberth yang sudah tidak sabaran sejak sore tadi sudah siap dengan penampilannya yang cukup menawan walaupun yang ia temui bukan gadisnya melainkan keluarga gadis itu.
"Huhhh, semoga semua itu tidak betul. Tapi aku juga harus menguatkan hati jika itu yang merupakan kenyataannya" gumamnya sebelum melangkah keluar dari kamarnya.
.
.
"Mau ke mana sayang?" tanya sang mama saat melihat puteranya keluar dengan penampilan yang tidak biasanya.
"Aku akan memastikan sesuatu, nanti aku akan memberitahukan kepada papa dan mama" jawab Roberth yang tidak mau kedua orang tuanya mengetahui terlebih dahulu karena nanti mereka kecewa jika tidak sesuai kenyataan.
"Soal apa sayang, apa mama akan segera punya menantu?" ucap sang mama yang mulai menggoda sang putera.
"Aku akan memberitahukan nanti pulang ma, aku pergi ya" ucap Roberth sambil menyalami kedua orang tua serta opa omanya yang sedang bersantai di ruang keluarga lalu pergi dari sana.
Roberth yang sudah diberi tahu tempat pertemuan mereka langsung menancap gas ke sana. Sepanjang perjalanan ia sedikit gelisah karena sebuah ketidak pastian yang mungkin bisa membuatnya bahagia tapi mungkin juga bisa membuatnya kecewa.
Setibanya di restoran yang telah ditentukan, Roberth melangkah masuk walaupun ia tahu keluarga gadis itu pasti belum tiba. Anak muda itu bersantai sebentar di tempat yang telah dibooking oleh keluarga Maggie sebelumnya.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya keluarga yang ia temui di bandara itu datang juga.
"Hei semangat bangat, sampai datang lebih dahulu" ucap Alfa saat tiba di ruang VVIP dan ternyata anak muda itu sudah berada di sana.
"Mas, bukannya salam malah diledekin" ucap Mey geram dengan suaminya.
"Selamat malam semuanya" ucap Roberth sambil berdiri dari duduknya lalu menyalami semuanya.
"Selamat malam nak, sudah lama" tanya Mey lembut.
"Belum lama tante" jawabnya dan mereka akhirnya duduk dan memesan makan mereka masing-masing sesuai salera.
"Mom, pesenin sekalian buat ade" ucap Daffi sambil fokus pada ponselnya.
"Lah terus ade ngapain?" ucap Mey menanggapi sang putera bungsunya.
"Malas ah! jangan lupa paha ayamnya mom" pesan Daffi yang tetap fokus pada ponselnya.
(Benar-benar mirip sama Maggie) Batin Roberth saat mendengar Daffi memesan paha ayam.
Mereka akhirnya berbincang sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Nah, ini adik kembar kaka pasti kamu belum kenal kan?" ucap Mey memulai pembicaraannya sedangkan yang lain menjadi pendengar setia.
"Ini abang Daffa dan yang ini dede Daffi" ucap Mey memperkenalkan kedua puteranya sambil menujuk satu per satu.
"Mom, Daffi udah gede jangan di panggil dede lagi kenapa sih?" protes Daffi mebuat semua terkekeh.
"Jadi selama ini kamu di Indo ya?" tanya Mey lagi.
"Iya tante sejak pergi dari Australia waktu itu, aku dan kedua orang tuaku menetap di sini" jawab Roberth.
"Kenapa waktu itu kamu pergi tanpa pamit sama kaka?" tanya oma yang sejak tadi diam karena lagi memantau sesuatu dari ponsel cantiknya begitu juga opa yang sedang memantau pekerjaan melalui Ipednya.
"Maaf oma, waktu itu aku masih kecil dan tidak tahu soal rencana papa mama yang akan pindah. Aku baru tahu saat pagi kami akan berangkat menuju ke bandara" jelas Roberth merasa bersalah karena memang betul waktu itu ia tidak pamit kepada sahabat kecilnya.
"Sejak saat itu keceriaan cucuku berkurang sehingga aku menunggunya hingga bisa mandiri dan tepat usianya yang ke 11 tahun, aku mengirimnya ke Kalifornia" jelas oma membuat Roberth semakin merasa bersalah karena ternyata kepergiannya waktu itu tanpa pamit berdampak besar untuk kehidupan gadis kecil itu.
"Maaf oma" ucapnya sambil menundukan kepalanya. Anak muda itu benar-benar merasa bersalah. Tapi ia juga menunggu lanjutan tentang keadaan gadis itu sekarang.
"Sekarang dia benar-benar berubah. Dia bahkan sangat mandiri dan sejak dia pergi tujuh tahun lalu hingga detik ini kami belum sekali pun bertemu dengannya" ucap oma yang tergambar raut sedih.
"Kenapa harus Kalifornia oma? apa di sana ada keluarga yang bisa menjaganya?" tanya Roberth yang memang lagi gelisah dengan keadaan gadis itu.
"Dia bahkan sudah bisa menjaga dirinya sendiri dan bisa diandalkan untuk menjaga keluarganya dari jarak jauh" lanjut oma membuat Roberth penasaran.
"Di sana dia tinggal bersama opanya, saudaraku" ucap oma membuat Roberth lega tapi karena ia tidak tahu siapa oa Ratna dan saudaranya sehingga membuatnya masih tetap gelisah.
"Tapi kata daddy, kaka sudah di Indonesia sekarang" ucap Daffi tanpa dikontrol membuat semuanya menatapnya dengan tatapan membunuh tapi yang ditatap malah asyik dengan ponselnya.
"Maksudnya?" tanya Roberth yang semakin penasaran karena melihat reaksi keluarga itu saat Daffi membongkar soal keberadaan Maggie.
"Yah begini ya anak muda, seperti yang tadi Daffi katakan, kaka memang berada di Indonesia, tapi keberadaannya memang sengaja di sebunyikan sejak lama bahkan sejak kehadiran kedua adiknya waktu itu." jelas Alfa untuk menghilangkan rasa penasaran anak muda itu.
"Apa aku bisa tahu keberadaannya sekarang? aku mohon, aku sangat merindukannya" ucap Roberth memohon. Ia sedikit kecewa karena ternyata gadisnya itu sudah ada di Indonesia tapa ia ketahui.
"Kami harus menanyakannya terlebih dahulu. Ia mau atau tidak untuk diketahui keberadaannya" ucap Mey menanggapi Roberth yang jelas sekali terlihat rasa rindunya.
"Kan aku sudah bilang, dia sudah menikah dan punya anak?" ucap Alfa lagi untuk ngetes Roberth.
"Mas, kamu kalau ngomong jangan sebarang ya? kalau sampai kaka tahu kamu memfitnahnya bisa perang dia sama kamu" ucap Mey sambil memberi cubitan di bagian perut sang suami.
"J ja di, Maggie belum menikah kan tante?" tanya Roberth dengan wajah ceria bercampur gugup.
"Cucuku masih ting ting" ucap oma membuat Roberth menarik nafas lega.
"Tapi aku sudah menjodohkannya dengan seseorang" ucap Alfa lagi membuat sang isteri menatapnya horor. Roberth yang sudah bahagia mendadak syok kembali.
"Jangan dipercaya omongan om Alfa nak!" ucap Mey membuat anak muda itu kembali ceria.
"Ayo makan dulu biar punya tenaga lagi. Tadi sempat galau kan jadi pasti tenaga juga ikut terkuras" ucap Alfa saat para pelayan menata makanan di atas meja.
"Oma juga mau pesan satu hal sama kamu, jika kamu akhirnya bertemu dengannya dan mungkin dia sudah menyukai orang lain, kamu harus berani terima kenyataan itu" ucap oma menasehati Roberth.
Sebenarnya dia juga sudah punya pemikiran ke sana, tapi ia tepis karena yang terpenting sekarang adalah ia bisa bertemu dengan gadis itu. Selanjutnya akan dia usahan nantinya.
BERSAMBUNG