
Seorang anak muda tengah kalang kabut mencari gadisnya yang sudah hampir seharian penuh tidak ada informasi dan perkembangannya.
Bahkan untuk menjagamu saja aku tidak mampu, aku benar-benar pria bodoh yang tidak bisa diandalkan. Semoga kamu baik-baik saja sayang. Batin Roberth yang terus mengutuk dirinya sendiri.
Sejak semalam hingga saat ini hari kembali gelap, Roberth bahkan belum pulang ke rumah, ia hanya mengirim pesan singkat bahwa ia menginap di rumah teman agar membuat sang mama tidak khawatir.
Anak muda itu bahkan masaih dengan pakaian yang sama dan penampilan yang acak-acakan, ia sudah meminta bantuan kepada orang-orangnya namun sama sekali belum ada perkembangan yang menunjukkan di mana gadis itu berada.
"Aku harus menelepon kembali om Alfa mungkin sudah ada petunjuknya" gumam Roberth sambil mengambil benda pipihnya dan mendial nomor dari om Alfa.
📞 Halo om, apakah sudah ada informasi soal Maggie?
📞 Om baru saja tiba beberapa jam yang lalu dan masih mengatur strategi untuk menuju ke lokasi dimana Maggie di sekap.
📞 Jadi om sudah tahu di mana dia di sekap?
📞Iya, om sudah tahu dari sinyal yang ada di kalungnya.
📞Baik om, sekarang om ada di mana?
📞Jika kamu ingin ikut, datanglah ke mansion agar kita segera pergi.
Alfa yang mengerti perasaan dan kepanikan anak muda itu akhirnya memintanya untuk bergabung.
Roberth langsung melajukan mobilnya menuju ke sana dengan kecepatan di atas rata-rata.
Dia puluh menit kemudian, Roberth sudah tiba di depan gerbang mansion keluarga Adipaty, bertepatan dengan dua mobil yang akan keluar dan ternyata itu adalah Alfa dan beberapa anak buahnya.
"Masukan mobilmu dan ikutlah di mobil ini" perintah Alfa yang langsung dilakukan oleh Roberth.
Mereka akhirnya pergi dengan dua mobil. Alfa yang sebenarnya tidak tenang saat ini karena puterinya dalam bahaya tapi melihat wajah panik Roberth, ia merasa geli sendiri.
Puteriku amazing, anak muda ini sampai nggak sadar kalau dia sangat berantakan. Bagaimana jadinya kalau aku tidak merestui mereka, bisa gila dia. Batin Alfa terkekeh membayangkan tindakan gilanya.
******
Tepat jam delapan malam, pertahanan Oma Ratna semakin bergeser posisi untuk semakin dekat ke tempat di mana Maggie di sekap.
Oma Ratna sudah bertukar pakaian dengan pakaian kebesarannya dan keluar dari kamar hotel.
Wanita yang sudah kepala lima menjelang enam itu sudah duduk manis di dalam mobil dengan salah seorang anak buahnya.
"Jalan" perintah Oma dan mobil itupun langsung dilajukan.
Hai mantan ibu mertua, tunjukan kehebatanmu. Saat ini cucu kesayanganmu ada dalam tanganku. Jika ingin dia selamat, surulah Alfa sendiri yang datang ke sini.
Isi pesan yang diterima oleh Oma Ratna.
Rupanya kau wanita tidak tahu diri. Aku bahkan suka dengan ancamanmu ini. Menarik. batin oma Ratna sambil menampilkan senyum iblisnya membuat sang sopir merinding.
*****
"Makan yang cepat" bentak Nina membuat Maggie hanya menatapnya tanpa berucap karena mulutnya yang penuh dengan makanan.
"Sayang, alasan apa kau membawanya kemari?" tanya Nina yang sejak tadi penasaran dengan maksud dan tujuan Ridho menculik Puteri dari mantan suaminya.
Aku hanya ingin Alfa mati di depanmu agar kamu bisa menikah denganku.
"Dia tidak boleh mati, karena dia harus kembali ke tanganku dan tetap menjadi suamiku" ucap Nina tegas dan penuh emosi karena dengan gampangnya Ridho mengatakan akan membunuh pria yang dia cintai. Nina baru menyadari akan cintanya kepada Alfa saat mereka sudah resmi bercerai dan mendekam di dalam penjara.
Maggie hanya makan dengan diam sambil menyimak pembicaraan kedua manusia itu yang tengah berdebat.
Gadis itu bahkan mengulur-ulur waktu makan sampai ada tanda yang bisa membuatnya bergerak.
Selama bersama opa Gaston berlatih, Maggie juga sudah diberitahukan soal tanda penyelamatan yang biasa dipakai oleh Mafia Mara Salvatrucha.
Jika seseorang dari mereka ada dalam bahaya dan ada pertolongan yang datang dari anggota yang lain maka mereka akan memberi tanda lewat sekali bunyi seperti kembang api saat meluncur.
Maggie akhirnya menyelesaikan makannya dan mengambil air yang ada di botol kemasan untuk di minum. Maggie heran dengan tutupan botol yang sudah dibuka oleh seseorang entah sengaja atau apa.
Rupanya mereka memang nekat ingin meracuniku. Bati Maggie.
"Cepat minum dan kembali ke tempatmu" perintah Nina kepada Maggie agar gadis itu bisa diikat kembali.
Bunyi yang ditunggu Maggie akhirnya berbunyi bertepatan dengan berakhirnya ucapan Nina.
Maggie langsung melayangkan botol yang masih berisi air itu tepat di mulut wanita itu hingga bengkak.
"Kurang ajar!" teriak Nina dan disaat yang sama ia kembali mendapat tendangan mau dari gadis itu lagi. Roberth yang ikut terkejut dengan aksi tiba-tiba dari gadis itu belum sempat bergerak, ia juga sudah terkena pukulan dari Maggie.
Nina berteriak sehingga orang-orangnya berlari masuk sekitar belasan orang. Mereka langsung mengepung Maggie di tengah-tengah.
"Masih mau menunjukkan kehebatanmu gadis malang?" ejek Nina sambil berusaha untuk berdiri dari tempatnya jatuh karena tendangan Maggie tadi. Hal serupa juga dilakukan oleh Ridho.
"Hajar dia" perintah Ridho yang emosi. Padahal ia sudah berbaik hati untuk tidak menyiksa gadis itu tapi apa yang dia balas? ia justru menghajar Ridho.
Pertarungan pun terjadi di gedung tua itu. Maggie berusaha meladani para pria perkasa itu dengan tenang karena ia tahu pertolongan sudah sangat dekat.
Di luar gedung tua itu, banyak mayat sudah berjejer dan perkelahian pun terus berlanjut baik di dalam maupun di luar.
Maggie sedikit kewalahan karena ada beberapa pria yang datang lagi padahal yang dia lawan saat ini saja sudah belasan orang
Jika sedang melawan musuh, fokusmu hanya kepada musuh yang ada di depan mata. Jangan pernah terkecoh dengan yang lain karena itu hanya akan mengalihkan perhatianmu hingga kamu kala.
Ucapan dan bayangan opa Gaston terus melintas di ingatan gadis itu sebagai kekuatan untuknya. Semakin lama kekuatannya semakin meningkat padahal para lawannya sudah mulai kelelahan.
Nina mulai mencurigai Maggie yang punya kekuatan super sehingga membuatnya mundur selangkah dan mengambil sebuah pistol yang ada di atas meja kecil yang ada di sudut ruangan tersebut.
Maggie yang walapun sedang bertarung namun mata ekornya menangkap apa yang dilakukan wanita itu.
"Semuanya stop!" seru Nina dengan suara lantang membuat semua anak buahnya yang masih tersisa sekitar tujuh orang itu mendadak berhenti termasuk Maggie.
"Buang waktu saja" ucap Nina sambil menodongkan pistol ke arah Maggie dan para anak buahnya mendadak menjauh dari gadis itu.
Oma, Daddy, datanglah sebelum semuanya terjadi. Batin Maggie memohon.
Ia sempat panik melihat Nina yang sudah menampilkan wajah iblisnya namun sebisa mungkin ia menutupi perasaan tersebut.
"Ucapkan selamat tinggal untuk keluargamu, hai gadis malang. Aku terpaksa harus membunuhmu agar impianmu menjadi ketua mafia Mara Salvatrucha juga lenyap." ucap Nina lantang.
Deg
Maggie terkejut saat Nina tahu jika ia akan dinobatkan menjadi ketua mafia menggantikan sang Oma dan opanya.
Bukan hanya Maggie tapi seorang anak muda yang baru sampai di pintu ruang itu yang sedikit terbuka.
BERSAMBUNG