
Kedua pasangan itu akhirnya berpisah di depan Restoran. Alfa dan isterinya kembali ke Mansion dan sebelumnya mereka datang ke hotel tempat sang isteri menginap untuk mengambil barang-barangnya.
Alfa dan Mey tiba di kamar yang ditempati oleh Mey, sambil menunggu sang isteri berkemas barang-barangnya, Alfa berbaring di ranjang yang ada di kamar tersebut.
"Apa yang mebuat kamu pergi tanpa ijin dariku?" tanya Alfa kepada sang isteri.
"......." Mey hanya diam sambil terus sibung memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Dan apa-apaan ini? kamu jadi ikut-ikutan berpenapilan seperti kaka" ucap Alfa lagi.
"Kan dengan penampilan begini, aku bisa bepergian sama kaka" ucap Mey dengan nada sinis.
"Ada-ada saja, kalau mau berpenampilan begini makannya bukan di restoran mewah kaya tadi tadi di pinggir jalan" sambung Alfa tidak habis pikir dengan tingkah sang isteri dan puterinya.
"Mana aku tahu kalau kaka sudah memberitahukan lebih dahulu kepada nak Roberth soal tempat makan kami, jadi mau gimana lagi?" gerutu Mey yang tidak hanya kesal dengan sang suami tapi juga puterinya.
"Yuk jalan" ajak Mey kepada suaminya biar tidak banyak pertanyaan lagi.
Keduanya beriringan keluar dari kamar hotel dengan Alfa yang mengambil alih membawa koper sang isteri. Mereka akhirnya cek-out siang itu juga.
"Daddy minta maaf jika kepergian daddy tempo hari tidak sempat pamit sama mommy, daddy juga panik saat itu karena dapat telepon dari Roberth kalau kaka menghilang. Daddy tidak mau mommy kepikiran makanya pergi tanpa pamit. Daddy bahkan tidak tahu kalau Nina yang merencanakan semua ini" jelas Alfa sambil fokus menyetir.
Mey diam tanpa menjawab, dalam hal ini dia juga merasa bersalah karena tidak seharusnya ia marah kepada suaminya.
"Kamu tahu? ternyata Rockzy adalah putera Nina yang diangkat oleh paman untuk menjadikannya senjata melawan Nina" ucap Alfa membuat Mey terkejut.
"Jadi Rockzy anak Nina? maka aku tidak mau kaka mendekatinya lagi" ucap Mey penuh penekanan.
Mereka akhirnya tiba di mansion keluarga Adipaty. Mey turun dan pergi mendahului suaminya dan langsung masuk ke dalam kamar mereka yang biasa mereka tempati jika ada di sana.
"Dengarkan aku sayang" ucap Alfa yang sudah masuk dan mendapati sang isteri yang tengah duduk di atas ranjang.
"Nina sudah tidak punya ksesmpatan lagi untuk bertemu dengan Rockzy, kamu tahu kenapa karena paman tidak akan pernah mempertemukan mereka" jelas Alfa yang tahu suasana hati sang isteri.
"Tapi jika suatu saat dia tahu tentang siapa dia dan diam-diam dia merencanakan sesuatu yang jahat untuk keluarga kita gimana?" ucap Mey yang sudah meneteskan air mata. Ia bukan memikirkan hal lain tapi keselamatan puterinya.
"Dia bahkan sudah tahu sebelum dia dan kaka kembali ke Indonesia. Dia juga mengorbankan dirinya untuk enghadang peluru yang ditujukan kepada kaka waktu itu, ia sudah berjanji untuk mengabdi kepada paman yang dengan penuh kasih sayang mengangkat dia menjadi puteranya" jelas Alfa membuat Mey sedikit lega.
.
.
Sementara Maggie dan Roberth kini masih belum pulang ke rumah karena gadis itu malah menahan sang kekasih untuk menuntaskan misinya yang baru saja dibuat tadi.
"Sayang, kamu kenal gadis ini tidak?" tanya Maggie sambil menujukkan hasil potret gadis tadi.
"Aku tidak mengenal gadis lain selain kamu sayang" ucap Roberth sambil fokus mengemudi. Roberth sebenarnya heran dengan panggilan sayang kekasihnya itu, ia bahkan merinding karena jika panggilan itu digunakan, itu karena ada maunya.
"Aku serius" jawabnya tegas.
"Mana?" Roberth akhirnya mengalah dan menepikan mobilnya lalu meminta foto yang tadi ditunjukkan oleh kekasihnya agar dia dapat melihat dengan teliti.
Maggie pun kembali memberikan ponselnya kepada Roberth untuk melihat. Pria itu memicingkan matanya seolah wajah gadis ini tidak familiar.
"Matanya tolong dikondisikan ya bang" tegur Maggie karena Roberth terlalu serius memandang foto itu. Roberth yang sadar jika singa betinanya mulai on apalagi cemburunya mulai kumat, lebih baik ia mengamankan diri sebelum dunianya berubah warna jadi gelap.
"Kenal tidak" desak Maggie kepada Roberth.
"Sepertinya tidak asing, tapi siapa ya?" ucap Roberth sambil berusaha untuk mengingat gadis itu.
"Memangnya kamu ada urusan apa sama dia" tanya Roberth penuh selidik.
"Aku hanya ingin memberinya pencerahan soal cara memanfaatkan kekayaan dengan baik dan benar" jawab Maggie santai.
"Apakah tadi terjadi sesuatu di toilet sehingga kamu lama?" tanya Roberth lagi.
"Hmmm" jawab Maggie dengan daheman.
"Apa yang dia lakukan ke kamu?" tanya Robert sekali lagi.
"Mengatakan jika aku memberi mommy makan makanan haram karena scara tidak langsung mommy menjualku kepada kamu untuk bisa makan di tempat itu." Ucap Maggie. Gadis itu akan berubah menjadi manja dan suka mengadu jika itu adalah Roberth.
Roberth yang mendengar penjelasan sang kekasih langsung naik darah. Pria itu paling tidak suka jika kekasihnya direndahkan dan disetarahkan dengan seorang pelacur.
Roberth kembali melajukan mobilnya dengan diam tanpa menyambung kata-kata sang kekasih. Maggie yang menjadi heran dengan tingkah kekasihnya yang tiba-tiba berubah menjadi dingin dan seram.
Mereka akhirnya tiba di satu gedung yang menjulang tinggi yang ada di pusat kota itu.
"Ayo turun sayang" ajak Roberth membuat Maggie semakin heran.
"Ini gedung apa? dan mau apa kita kemari?" tanya Maggie yang belum mengetahui maksud kedatangan mereka ke sana.
BERSAMBUNG