Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
112. Rencana Reno



"Ayah, siapa yang memborong ini semua?" tanya Alfa


"Ya siapa lagi kalau bukan bibit premiummu itu. Suka memanfaatkan keadaan mengurasku" gerutu opa pada ayah dari gadis kecil itu.


"Yeeee siapa sulu tadi kaka tanya tidak dijawab, katanya ambil aja kaka nanti opa bayal, mentang-mentang lagi asyik bicala sama oma Ani jadi ta mau kaka ganggu" ucap Maggie sambil menirukan gaya bicara sang opa saat di Mall tadi.


Alfa tersenyum puas mendengar sang puteri membungkamkan sang opa.


Yang membuatnya aku, tapi kenapa dia malah duplikat oma Ratna ya? Batin Alfa sambil melihat puterinya yang asyik memilah barang-barang untuk memisahkan mainannya dari mainan si kembar.


Barang yang tadi sudah rapi ditata bi Ani kembali berserakan akibat gadis kecil itu. Para orang tua yang melihat hanya sapu dada, mau protes pun akan panjang masalahnya.


"Daddy, bantu dong jangan bengong" seru Maggie membuyarkan lamunan Alfa.


"Hah? bantu ngapain?" tanya Alfa bingung.


"Ya elah pakai nanya lagi, emang kaka lagi ngapain?" tanya balik membuat Alfa langsung diam dan ikut berjongkok menyusun kembali mainan yang diafker puterinya. Itu tandanya milik si kembar.


"Barang-barang siapa ni ayah?" tanya Mey yang baru saja turun setelah memastikan si kembar tidur dengan aman.


"Anak-anakmu" jawab Ayah cuek.


"Hah? kenapa harus sebanyak ini?" ucap Mey lagi lagi karena kaget.


"Tanya puterimu yang terlalu bersemangat untuk berbelanja" jawab ayah sambil duduk santai sedangkan bi Ani sudah ke kamar untuk bertukar pakaian karena gerah seharian berkeliling.


Mey yang melihat sepasang anak dan daddy lagi sibuk itu memilih diam tanpa bertanya karena jika sudah menyangkut Maggie siapapun akan menarik diri untuk berdebat.


*****


Hari ini Reno pulang ke mansion utama orang tuanya untuk berunding dengan sang ayah. Ia tidak ingin berlama-lama bermain dengan para musuh orang tua kandungnya karena itu akan berdampak pada hubungannya dengan Novi.


"Malam papa, mama, ade" seru Reno yang baru masuk ke dalam rumah orang tua angkatnya.


"Malan juga abang" ucap Mama dan ade serentak sedangkan papa hanya tersenyum melihat puteranya yang baru nongol lagi di rumah.


"Ayo makan dulu bang" ucap mama yang lagi sibuk menatap makan malam di atas meja sementara anak dan papa itu lagi duduk sambil ngemil krupuk yang ada di toples.


"Abang masih bersih-bersih dulu" ucap Reno sambil terus melangkah ke atas menuju kamarnya.


"Hisss sudah lapar harus tunggu lagi" gerutu Oca, adik Reno.


"Jangan begitu de, abang baru pulang kerja" tegur mama pada puterinya.


Setelah beberapa saat datanglah Reno yang langsung duduk di samping adiknya dan merekapun mulai makan malam bersama.


"Pa, aku mau bicara setelah makan" ucap Reno saat akan menyuapkan sendok pertama ke dalam mulut.


"Oke nak. Makanlah dulu." ucap papa pada puteranya.


(Reno adalah anak angkat keluarga Gilang. Papa Sandro Fernandes Gilang dan mama Jeny Bettie. Papa Sandro adalah adik kandung mendiang maminya Reno. Sejak kecelakaan itu Reno diasuh oleh sang pamannya)


Setelah makan, mereka berpindah ke ruang keluarga untuk membicarakan hal penting yang mau disampaikan sang putera.


"Bagaimana nak, apa yang mau kamu bicarakan. Apa mau menikah?" tanya papa serius.


"No papa, aku ingin mulai dengan rencanaku untuk merebut kembali perusahaan papi karena si brengsek itu sudah menarik cukup banyak uang untuk membangun perusahaan baru." jelas Reno membuat papa geram.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan nak?" tanya papa pada sang putera.


"Aku sudah menempatkan orang-orangku di sana dan aku akan mengambil alih perusahaan setelah aku menyatukan saham tuan Alberth dan tuan Devid." jelas Reno.


"Lakukanlah yang menurut kamu baik. Papa akan mendukung kamu, dan berjanjilah untuk tetap baik-baik saja." ucap papa. Sebenarnya papa tidak rela membiarkan anaknya bertindak sendiri.


Malam itu mereka terus berbicara hingga larut dan masing-masing masuk ke kamarnya.


Di kamar Reno


"Bang," seru Oca dari arah pintu. Gadis itu tanpa mengetuk langsung serobot masuk.


"Ada apa de?" tanya Reno.


Gadis itu terdiam sambil melihat-lihat kamar sang abang yang jarang dia masuk akhir-akhir ini karena abangnya yang jarang pulang juga.


"Kenapa abang jarang pulang? abang tidak sayang lagi sama papa mama sama ade ya?" ucapnya dengan berkaca-kaca


"Hei siapa yang bilang? abang sibuk kerja sayang, biar ade bisa shoping setiap hari." ucap Reno sambil memeluk adiknya yang manja itu.


"Abang tahu tidak? dulu aku sendir dan sejak aku tahu punya abang, aku sangat senang. Jika abang ingin bekerja setiap hari tak apa-apa tapi ada syaratnya" ucap Oca lagi.


"Apa syaratnya, palingan temani shoping, minta uang, itu kan?" tebak Reno.


"No, abang harus cepat menikah biar ade punya teman di rumah" tegas Oca.


Reno terdiam cukup lama. Ia juga menginginkan demikian tapi hidupnya masih punya banyak beban jadi ia tidak mau gadis yang ia cintai ikut memikul bebannya, apalagi kalau sampai terbawa menjadi korban seperti beberapa waktu lalu, diculik karena masalah keluarga Alfa.


"Abang kenapa? bukannya abang sudah punya kekasih ya?" tanya Oca yang melihat sang abang melamun.


"Hah? bukan itu de, tapi kaka masih menyingkirkan manusia-manusia bejat yang masih berkeliaran karena abang tidak mau jika dia ikut terseret dalam masalah keluarga kita" ucap Reno behenti sejenak.


"Kamu tahu? dia adalah mutiara yang abang sembunyikan dan abang tidak mau barang berharga abang diincar semua orang" ucapnya serius.


"Apa segitu berharganya ya, ade jadi penasaran dan pengen ketemu sama dia." ucap oca penasaran.


"Sayangnya dia sudah semakin jauh, jika semua masalah sudah tuntas baru abang akan menjemputnya" ucap Reno pada akhirnya.


"Aku ikut," Seru Oca dengan tampang begonya.


"Sekolah dulu yang benar jangan urus shoping sama jalan-jalan saja" ucap Reno sambil menoyor kepala adiknya.


"Abang sangat menyayangi kelian, karena kalianlah orang yang abang miliki di dunia ini" ucap Reno sambil kembali memeluk sang adik.


Dari arah pintu, ada dua pasang mata yang menyaksikan keakuran anak-anak mereka.


Kaka, jika kamu masih hidup, kamu akan bahagia melihat anak-anak kita tumbuh dengan baik dan saling mendukung. Batin papa.


Reno yang sibuk akhir-akhir ini jarang pulang, bisa sampai sebulan baru ia mengunjungi keluarganya itu.


Walaupun demikian, tanggung jawab pada adiknya selalu dia ingat, dan setiap bulan ia mentransfer kusus buat sang adik walaupun papanya bukan orang sembarangan.


BERSAMBUNG