
Ike yang dipesan bahwa sang kaka tidak menjemputnya pun akhirnya harus menunggu dijemput oleh sopir yang di rumah.
Beberapa saat menunggu, Ike mala mendapat telepon dari mamanya Roberth bahwa sopir tidak jadi menjrmputnya dikarenakan akan mengantar tantenya itu pergi arisan.
Jackson yang baru keluar dengan motor kesayangannya melihat teman sebangkunya tengah menunggu seseorang.
"Hei kenapa belum juga pulang? masih nunggu tunanganmu itu ya?" kelakar Jackson yang sudah berhenti tepat di depan Ike.
"Nggaklah, hari ini dia sibuk untuk persiapan pernikahan, jadi nggak bisa jemput" jelas Ike dan berhasil didengar oleh beberapa siswa yang ada di sana.
"Kalau begitu mari aku antar sekalian" ajak Jackson.
"Kita berlawanan arah, jadi aku tunggu taksi aja" jelas Ike merasa tidak enak dengan teman sebangkunya yang baru baikan kemarin itu.
"Nggak apa-apa, untuk mengantar gadis secantik kamu, aku rela menempuh perjalanan yang jauh" ucap Jackson membuat Ike berdecak kesal.
"Kamu itu cowok dingin tapi suka ngegombal juga ya?" gerutu Ike membuat anak muda itu terkekeh.
"Ayo aku antar, sebentar lagi semua sudah pada pergi dan akan sepi di sini. Jangan sendirian karena ini area yang rawan terjadi kekerasan" jelas Jackson yang memang tidak tega meninggalkan gadis yang masih anak baru itu di sana.
Ike yang melihat keadaan mulai sepi pun merasa sedikit gelisah sehingga ia pun menerima tawaran temannya itu.
"Tapi nggak menyusahkan kamu kan?" ucap Ike sambil berusaha naik ke atas motor besar temannya itu dengan berpegang pada pundak Jackson sebagai tumpuan.
"Ya menyusahkan sih iya, tapi mau gimana lagi?" ucap Jackson sambil tersenyum namun tidak dilihat oleh Ike.
"Ckkk nggak tulus bangat jadi orang" gerutu Ike yang sudah duduk manis di belakang.
"Ready? pegangan yang kuat ya?" ucap Jackson.
"Jangan macam-macam kamu, nanti aku minta turun ya" ucap Ike kesal.
"Baiklah ibu negara" ucap Jackson yang langsung menancap gas pergi meninggalkan sekolah itu.
Keduanya sambil bercerita sehingga Jackson melupakan niat awalnya untuk ngebut. Pria itu menunjukkan dan menyebut setiap nama tempat yang mereka lewati kepada Ike, dan gadis itu hanya menghafal nama-nama tempat tersebut.
Setelah setengah jam, keduanya tiba di depan mansion keluarga Arjo atas arahan Ike.
"Ini rumah sepupumu itu?" tanya Jackson.
"Iya, mau mampir?" tanya Ike.
"nggak usah, kalau esok nggak ada yang mengantarkanmu hubungi aku untuk menjemputmu,. aku balik ya? " ucap Jackson.
"Iya. Hati-hati di jalan" ucap Ike kemudian melangkah masuk.
"Cieh diantar sama siapa tu?" Ike dikejutkan dengan Asry yang tengah memegang kamoceng untuk membersihkan kaca ruang depan.
"Teman ka" jawab Ike sambil berlari ke kamarnya karena tidak mau diganggu oleh gadis yang sudah dia anggap seperti saudaranya itu.
"Kenapa dia jadi malu begitu?" gumam Asry sambil terkekeh melihat keponakan majikannya yang sudah berlari menaiki tangga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua hari sudah berlalu dan hari ini adalah jadwal keberangkatan Alfa dan putera sulungnya ke Indonesia.
"Sayang, jangan kecapaian ya? istirahatlah jika lelah dan minta bantuan sama Riko untuk menghendelnya" ucap Alfa kepada sang isteri sebelum berangkat.
"Dad, jalan ya jalan aja. Biar ade yang jagain mommy" ucap Daffi yang merasa sang daddy begitu berlebihan.
"Dasar anak tidak tahu diuntung" gerutu Alfa.
"Dad, ayo berangkat sekarang. Jangan lupa salam sama para pelayanan di mansion" ucap Mey yang begitu dekat dengan para pelayanan di sana.
"Iya sayang. Kami berangkat ya?" pamit Alfa sambil mencium kening sang isteri.
"Mom, abang sama daddy berangkat" pamit Daffa juga sambil mencium kedua pipi sang mommy yang membuat Alfa berdecak kesal.
Kedua pria beda usia itu pun berangkat ke Indonesia dengan jet pribadi keluarga mereka.
"Bagaimana kerja kamu sama ade selama membantu mommy" tanya Alfa kepada sang putera.
"Baik dad" jawab Daffa.
"Abang tidak bisa melangkahi kaka, dad?" ucap Daffa yang memang tidak ingin mendahului apa yang seharusnya menjadi haknya kaka.
"Iya nanti jika semuanya sudah selesai maka daddy akan minta kaka untuk membagikan bagian serta tugas dan tanggung jawab kalian" jelas Alfa. Bagaimanapun ia tetap menghargai Puteri sulungnya karena dialah yang merasakan pahit manisnya kehidupan dari masa sulit keluarga hingga sekarang.
Gabungan harta keluarga Adipaty dan Smith bukanlah sedikit, apalagi ditambah harta opa Gaston, bisa dibagi untuk puluhan orang pun bisa namun Alfa tetap bijak dan semuanya dikembalikan kepada Maggie untuk mengaturnya.
Sepasang anak daddy itu bercerita di atas pesawat hingga kantuk melanda mereka dan tertidur begitu saja.
...****************...
"Riko, apakah kamu ingin hidup menyendiri seperti ini terus? nggak adikmu, nggak kamu sama aja. Gila kerja sampai nggak pikir menikah" gerutu Mey melihat asistennya yang kamu itu.
"Jangan menggantung perasaan seseorang terlalu lama karena jika dia malas, dia akan pergi dari sisi kamu" ucap Mey lagi.
"Aku kasih kamu waktu tiga hari untuk mencari kekasih. Dan diacara kaka nanti kamu juga nggak jomblo lagi" ucap Mey mengusir asistennya pulang.
"Baik nyonya" ucap Riko dan membereskan pekerjaan yang tersisa karena ia harus pulang sesuai perintah nyonya nya.
Setelah membereskannya, Riko pun pergi dari kantor karena ia harus libur tiga hari ke depan dan harus kembali dengan berita bagus.
Di tempat lain
Seorang gadis tengah berkutat dengan kertas-kertas yang ada di atas meja kerjanya.
"Bagaimana?" tanya Reno kepada sang sekretaris nya.
"Semuanya sudah dan kita bisa langsung ke restoran yang telah dibooking" ucap gadis yang adalah sekretaris Reno itu.
"Oke, kita jalan sekarang" ucap Reno yang kembali ke ruangannya dan mengambil jas serta ponsel dan juga dompetnya.
Keduanya beriringan keluar dari perusahaan itu dengan Lili yang setia mengikutinya. Ya sekretaris Reno adalah adik kesayangannya sendiri.
Reno sendiri menyetir dan adiknya duduk di kursi penumpang sambil membuka kembali map yang berisi beberapa file yang akan mereka bahas di makan siang ini bersama kolega bisnis mereka.
"De, apa tidak ada pria yang kamu kencang selama ini?" tanya Reno karena usia adiknya yang sudah lebih dari matang itu bahkan belum ingin menikah sampai hari ini.
"Lili malas bahas soal cowok" ucapnya sambil terus menatap kertas-kertas yang ada di atas pangkuannya.
"Memangnya kamu tidak mau menikah? mama sama papa semakin tua dan abang juga cuma punya satu orang Puteri. Kamu harus menikah dan punya anak untuk mendukung abang" ucap Reno serius.
"Atau kamu dikecewakan seseorang?" tanya Reno penuh selidik.
Lili kembali memutar memorinya soal kejadian belasan tahun yang lalu yang membuatnya jatuh hati dengan seorang pria yang membantu sang abang Dalam misi penculikan dirinya waktu itu. Sampai saat ini ia masih berharap namun pria itu tidak pernah mengungkapkan perasaan kepadanya.
Lili dan abangnya tiba di restoran dan masuk ke dalam bertepatan dengan seorang pria yang sepertinya ingin makan siang di restoran yang sama.
"Eh Riko?" ujar Reno membuat Lili menegang mendengar nama itu. Riko yang melangkah tidak jauh di depan sepasang adik kakak itu langsung berbalik saat namanya di sebutkan.
Deg
"Tuan Reno?" ucap Riko berusaha menyapa Reno namun matanya tak lepas dari gadis yang ada di samping Reno.
"Lagi apa di sini?" tanya Reno.
"Aku dari kantor mau pulang apartemen tapi mampir terlebih dahulu pesan makan." jelas Riko.
"Kenapa pulang jam begini?" tanya Reno heran karena sekarang waktu makan siang namun pria ini malah sudah akan pulang.
"Aku diberi waktu istirahat beberapa hari oleh nyonya" ucap Riko.
"Baik juga nyonyamu itu" ucap Reno terkekeh mengingat wanita beranak tiga yang sudah dia anggap seperti adiknya itu.
Ya karena aku dikasih waktu buat cari calon isteri. pikir cari calon isteri kaya cari makan di restoran apa? Lili, aku harap ini adalah cara Tuhan mempertemukan kita. Batin Riko.
"Baiklah kami ada meeting sama klien di dalam.?" ucap Reno.
"Iya, baiklah tuan" jawab Riko.
Pertemuan yang tiba -tiba itu membuat Riko senang namun tidak dengan Lili yang mulai diam dan banyak menghayal dan itu semua tidak lepas dari pantauan Reno. Pria itu tidak tahu apa yang terjadi namun ia mendiamkan saja, biar adiknya sendiri yang cerita nantinya.
BERSAMBUNG