Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
85. Usaha Reno 2



Setibanya di rumah makan yang semalam ia datangi, Reno langsung turun dari mobil dan melangkah masuk dengan langkah lebarnya karena terlalu bersemangat ingin bertemu sang kekasih.


"Maaf tuan ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pelayan yang melihat Reno melangkah dengan tergesa menuju pintu belakang, hanya kusus buat pekerja yang boleh masuk.


"Apakah ada pekerja yang bernama Novi?" tanya Reno lagi.


"Oh Novi yang anak baru itu?" ucap salah seorang pelayan.


"Iya anak baru itu" jawab Reno yang tahu dari ibunya Novi jika anaknya itu baru datang ke kota beberapa waktu lalu.


"Dia sif malam tuan, dari jam 5 sore sampai jam 12 malam nanti."jelas pelayan tadi.


Deg


"Malam?" tanya Reno memastikan.


"Iya malam tuan" ucap pelayan.


Reno melangkah keluar dengan perasaan yang tidak menentu namun pikirannya kembali teringat dengan ucapan sang anak buah tadi yang mengatakan bawa kosan Novi tidak jauh dari rumah makan tempatnya bekerja.


Reno kembali masuk ke dalam dan itu membuat semua orang di sana heran.


"Mbak, aku bisa tanya di mana dimana kosannya Novi?" tanyanya pada seorang pelayan yang hendak keluar.


"Di ujung jalan sana ada lorong, itu kosannya."


"Baik terima" Reno kembali keluar dan masuk ke dalam mobilnya.


Pria itu pergi ke kosan kekasihnya ternyata Novi juga tidak ada karena ia keluar bersama teman kosnya tadi.


Pemilik kos menunjukan kamar Novi dan Reno dengan setia menunggu di sana, iya tidak ingin melakukan kesalahan lagi jadi ia memilih untuk menunggu hingga gadis itu pulang.


Bebetapa saat kemudian datanglah Novi dan teman-teman kosnya yang baru kembali dari pasar membeli bahan masakan untuk mengisi perutnya.


Novi tidak mengetahui keberadaan Reno karena pria itu duduk membelakangi jalan sehingga tidak juga mengetahui kedatangan Reno.


Saat tiba di depan kamar kosnya ia membuka pintu untuk masuk namun ia terkejut dengan seseorang yang ikut masuk ke kamarnya tanpa suara.


Dengan reflex Novi berbalik, seluruh tubuhnya menegang karena terkejut dan salah tingkah bercampu emosi.


Deg


Reno tercekat saat melihat isi dalam kamar kekasihnya yang sangat menyakitkan.


Sebuah kasur lantai yang dilipat dan ditaruh di bagian pojok ruangan dan tidak ada apa-apa kecuali sebuah magic kecil, kompor, tacu dan beberapa alat masak lainnya


"Ka, kenapa ke sini? tempat ini tidak cocok buat kakak." ucap Novi pelan. Ia berusaha menekan suasana hati yang lagi tidak stabil.


Tanpa menjawab pria itu langsung menarik gadis itu dan membawanya masuk dalam pelukannya.


"Kenapa kamu pergi tanpa memberi tahuku? kenapa kamu tidak menunggu sedikit lebih lama lagi?" ucap Reno sambil mengeratkan pelukannya.


Gadis yang ada dalam pelukannya itu tidak menjawabnya sedikitpun. Ia menutup mulutnya rapat.


"Kenapa tidak menjawab?" tanya Reno yang sama sekali tidak mendengar suara sang kekasih.


"Apa jawabanku penting buat kakak?" ucapnya dengan suara bergetar tapi sekuatnya ia menahan agar air matanya tidak jatuh di dwpan pria yang ada di depannya.


"Iya sangat penting buatku" balas Reno dengan tegas.


"Sebaiknya kamu pulang karena kita berbeda, aku bukan wanita yang cocok buat kakak, carilah yang lebih pantas." ucap Novi sambil berusaha melepaskan rengkuhan Reno yang kian menyesakkan tubuhnya.


"Aku hanya ingin kita hidup tenang dan masing-masing menjalani hidupnya agar kelak tidak ada yang tersakiti, apakah itu salah?" ucap Novi membuat Reno semakin sulit bernafas.


Tanpa bertanya lagi Reno langsung menari Novi keluar dari kamar itu tanpa menutupnya, ia langsung membawa gadis itu pergi.


Reno mendorong Novi untuk masuk ke dalam mobil dan mengunci pintunua kemudian ia mengitari mobil tersebut dan duduk di depan kemudi dan di samping gadis keras kepala itu.


Mereka pergi meninggalkan area kos itu dengan Novi yang terus marah-marah.


"Turunkan aku cepat" ucap Novi dengan sedikiy berteriak.


Reno tidak merespon teriakannya.


"Reno, aku bilang stop! kamu mau bawa aku ke mana hah?" ucapnya dengan nada berteriak.


Reno yang merasa sedikit emosi langsung menancapkan gas dengan kecepatan tinggi membuat Novi menegang dan tidak lagi bersuara.


Setengah jam kemudian terdengar decitan rem yang cukup keras dan mobil itu langsung berhenti.


Reno keluar dari mobil dan kembali mengitarinya dan membuka pintu mobil di bagian Novi. Setelah pintu itu terbuka tidak ada tanda-tanda gadis itu turun, Reno akhirnya berjongkok untuk memaksanya keluar namun seauatu yang tak terduga membuatnya terkejut ketika mendapati wajah Novi yang pucat pasih dan tubuhnya yang bergetar hebat.


"De, Novi... hei kita sudah sampai sayang" ucap Reno namun tidak ada jawaban ternyata gadis itu sudah pingsan.


Reno yang panik mendapati gadis itu tidak sadarkan diri kembali naik ke atas mobil dengan tergesa-gesa dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


"Apa yanh sudah aku lakukan? kenapa aku terlalu naif? Tuhan tolong dia" gumam Reno sepanjang perjalanan.


Tibalah mereka di sebuah rumah sakit utama kota itu. Reno langsung menggendong Novi menuju ke ruang IGD.


"Tolong dok, tolong sus" ucap Reno dengan paniknya.


"Silahkan diletakan di brankar terlebih dahulu tuan." ucap salah seorang suster yang mèmbawa brankar itu menjemput Reno yang tengah menggendong gadis kecilnya.


Setelah meletakkan Novi di sana, Reno ikut mendorongnya ke ruang kusus untuk dilakukan pemeriksaan.


Kali ini Reno berdoa dengan hati hancurnya memohon pemulihan untuk sang kekasih.


"Tuan boleh kami minta identitas pasien?" tanya seorang perawat


"Bisa," Reno kembali ke mobilnya untuk mengambil tas samping Novi yang sejak dia pulang belanja belum di simpan hingga tadi terjatuh di mobilnya. Reno mengambilnya dan mengeluarkan ktp milik Novi dan membawanya ke perawat yang tadi memintanya.


*******


"Mom, kenapa ka Novi tidak pulang-pulang?" tanya Maggie yang hampir setiap hari seperti itu.


"Mungkin masih membantu oma Nur sayang" ucap Mey memberi pengertian.


"Telus om Leno kangen gimana?" ucapnya membuat Mey tersenyum. Gadis kecil itu memang tidak tabu kalau saat ini Reno tengah berada di Indonesia menyusul gadisnya.


"Om Reno kan sudah dewasa? jadi jika ia merindukan ka Novi maka dia bisa pergi ke Indonesia.


" Telus kapan om Leno sama ka Novi bisa nikah kaya daddy sama mommy waktu itu.


"Secepatnya sayang, kan ade yang dekat sama om Reno kenapa tidak bertanya sama dia?" ucap Mey memancing puterinya.


"Yeee om Leno mah gaya lambat." ucapnya mencobir Reno.


Obrolan kedua wanita beda usia itu berakhir. Alfa hanya menjadi pendengar setia sejak tadi.


BERSAMBUNG