
Seperti biasa hari ini Ike pergi ke sekolah dengan diantar oleh sang kaka. Setibanya di depan gerbang, ia memilih turun di sana karena Roberth yang buri-buru ke kantor. Bertepatan dengan turunnya Ike, Jackson pun datang dengan motor kesayangannya.
Pria itu melintas tepat si samping Ike sehingga membuat gadis itu hampir jantungan karena ulah teman sebangkunya.
"Woiii pake mata dong... emang kamu doang yang punya motor apa?" teriak Ike tidak Terima baik karena hampir keserempet motor pria itu. Yang diteriaki tidak peduli dan memilih memarkirkan motornya di parkiran.
Ike yang merasa tidak puas pun mendatangi anak laki-laki itu dan menunggu hingga pria itu melepas helm dari kepalanya.
"Kamu budek ya?" sambar Ike begitu melihat Jackson sudah melepas helmnya dan hendak melangkah pergi dari parkiran.
"Kamu ngomong sama aku?" tanya Jackson cuek.
"Ya iyalah, emang aku lagi ngomong sama arwah kamu?" ucap Ike penuh emosi.
"Heh anak baru, kalau ngomong itu yang sopan dikit" ucap pria itu yang merasa terpancing.
"Anak baru? emang apa bedanya anak baru sama anak baru? kita itu sama-sama pelajar di sekolah ini dan kamu nggak usah sok berkuasa di sini." ucap Ike dengan lantang. dan tidak pakai lama, parkiran itu sudah dikerumuni oleh banyak siswa siswi yang tengah menyaksikan perdebatan hebat antara anak baru dan siswa terjutek di sekolah ini.
"Dasar cewek bar-bar" ucap Jackson dan pergi begitu saja meninggalkan gadis itu dan kerumunan para siswa-siswi di sana.
Setelah kepergian Jackson, Lia mendekat ke arah Ike.
"Nyali seorang anak baru memang cukup diacungi jempol ya? selain merusak nama baik sekolah dengan bertunangan masih sekolah, kamu juga pasti pakai pelet untuk mengelabui para guru sehingga mereka tidak menanggapi berita soal pertunanganmu itu" cibir Lia, musuh buyutnya Ike dengan saudara lantang agar semua siswa-siswi bisa mendengarnya.
Ike malas berdebat dan memilih memperbaiki penampilannya dengan berkaca pada cermin kecil yang baru saja dia keluarkan dari tas cantiknya.
"Hei, sombing sekali kamu? aku lagi ngomong tapi kamu malah sibuk sendiri" hardik Lia.
"Apa penting dengan anjing menggonggong tanpa aturan?" ucap Ike yang langsung pergi begitu saja.
Gadis itu melangkah masuk lalu duduk di tempat duduknya dan ternyata di sana sudah ada Jackson yang tengah fokus dengan sebuah buku cetak di tangannya.
Ike memilih duduk dengan dian tanpa mempedulikan siapapun yang ada di sana.
Jackson tidak 100โ fokus pada buku itu namun sesekali ia mencuri pandang pada gadis yang baru beberapa waktu lalu bertengkar dengannya.
Beberapa saat kemudian guru pun masuk dan pelajaran dimulai.
Seperti biasa Jackson mulai tertantang dengan Ike yang kini menjadi saingan kepintaran di dalam kelas.
"Jangan pikir kamu bisa mengalahkan aku menjadi bintang kelas" ucap Jackson penuh penekanan. Ia cukup geram saat beberapa kali kurang cepat menjawab pertanyaan dari guru sehingga Ike lah yang menjawab hampir 60โ dari pertanyaan yang ada.
"Aku nggak pernah merasa bersaing sama siapapun karena aku belajar untuk mengetahui sesuatu yang belum aku ketahui bukan untuk ajang perlombaan" balas Ike tidak kalah dinginnya.
Ya Tuhan, apa salah dan dosa hambaMu ini. Apakah aku ditakdirkan untuk selalu ada di dekat orang-orang egois dan dingin?. Batin Ike yang seperti melihat Daffa di dalam diri teman sebangkunya ini.
Kedua mata itu masih saling mengunci dengan sorot mata tajam entah apa yang ada di dalam pikiran keduanya masing-masing.
Setelah beberapa menit keduanya pun memutuskan aksi saling tatap menatap itu karena memang jam pelajaran hampir berakhir.
Tring tring tring
Ponsel Ike berdering setelah gurunya keluar dan gadis itu pun mengangkat telepon yang ternyata Roberth lah si penelepon.
๐ Halo ka
๐Entar kaka nggak jadi jemput ya
๐Loh kenapa emangnya?
๐Kaka lagi ada urusan. Ingat, keluar langsung pulang ke rumah ya. Sepertinya kaka akan pulang nanti malam
๐Iya ka. Hati-hati.
Jackson menatap Ike dengan tatapan yang sulit diartikan. Jarak yang cukup dekat membuat pembicaraan mereka dapat didengat oleh Jackson.
"Apa liat-liat" hardik Ike yang merasa tatapan pria itu sangat mengintimidasi.
Ike memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam lalu dikeluarkan secara kasar. Ia menetralkan perasaannya yang begitu membara dan sudah kelewatan menurutnya.
"Aku berharap kamu menutup telingamu dari kebenaran agar kamu nggak nyesal kalau semua berawal dari kesalah pahaman" ucap Ike dengan mata berkaca-kaca dan penuh emosi namun sebisa mungkin ia menahan suaranya agar tidak tinggi dan mengundang perhatian banyak orang.
Deg
"Apa maksudmu?" tanya Jackson namun sayang hanya ia sendiri yang mendengar pertanyaannya itu karena orang yang hendak diajak bicara telah keluar dari kelas itu.
Jackson hanya bisa menatap punggu g gadis itu dari jauh bahkan dengan jelas ia dapat melihat bahwa walaupun sudah cukup lama gadis itu pindah ke sekolah ini tapi ia bahkan tidak punya teman satu pun. Itu semua berawal dari gosip tersebut sehingga semua orang tidak mau bergaul dengannya.
Ike kamu harus kuat. Tunjukan kalau kamu bisa move on dari abang walaupun kehidupan di luar lebih menyakitkanmu. Seiring berjalannya waktu, aku pasti terbiasa hidup sendiri tanpa teman. Batin Ike sambil menyantap makanan yang dia pesan di kantin barusan.
.
.
.
.
"Aku akan memberi pilihan kepadamu orang tua" ucap Eliz Chapo begitu masuk ke ruang penyekapan dan mendapati opa Gaston tengah membuka matanya.
"Sebelum kau memberi pilihan, aku sudah lebih dahulu menolaknya" ucap opa Gaston dengan nada dingin. Walaupun posisinya saat ini dalam keadaan terikat namun seorang jiwa mafia tetaplah mafia, pantang mundur apalagi menyerah.
"Bagaimana kalau kita bicara baik-baik. Kamu berhenti menghalangi pemasaran narkoba yang aku jual di berbagai negara dan memperkenalkan aku pada pemimpin baru yang menggantikan posisimu" El tetap menawarkan niatnya walaupun sudah ditolak mentah-mentah oleh opa Gaston.
"Jangan mimpi. Yang pertama, aku tidak akan membiarkanmu untuk merusak masa depan semua orang dengan obat-obat laknatmu. Dan kedua, siapapun yang menggantikanku bukan urusanmu." ucap opa penuh penekanan.
"Jika demikian maka kau tidak akan melihat lagi dunia luar. Kau tahukan? siapa itu El Chapo? pemimpin geng mafia Kartel yang paling ditakuti karena dia tidak segan-segan membunuh siapapun yang melawannya" ucap pria itu geram.
"Hahahaha apa kau bangga dengan kehebatanmu itu? Bahkan kau akan menyesal karena membunuh pria tua yang tidak membawa keberuntungan apapun untukmu dan untuk gengmu. Kenapa aku mulai tampil di dunia nyata? hahaha itu karena aku sudah tidak penting lagi di dunia mafia. Kau boleh membunuhku tapi kau tidak bisa membunuh kejeniusan dan ilmu yang sudah aku turunkan kepada semua pengikutnya bahkan cara kerjanya. Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bebas menjalankan rencanamu" ucap opa Gaston panjang lebar. Pria tua itu bahkan tidak takut mati karena merasa bahwa semuanya sudah ia turunkan untuk anak cucunya bahkan prinsip membela orang-orang lemah yang selama ini ia lakukan.
"Kurang ajar!!! Toni,.. kerjakan tugasmu, buat pria tua ini mati secara perlahan-lahan" perintah El Chapo penuh emosi kepada asistennya. El Chapo berusaha untuk menyelesaikan semuanya baik-baik karena bagaimanapun ia tidak bisa meremehkan para anak buah pria tua itu apalagi adik perempuannya yang bahkan sampai saat ini belum bisa ia lacak. Ada kegelisahan di hati pria itu bahwa akan ada orang hebat lainnya yang punya hubungan darah dengan pria tua itu yang mungkin akan meneruskan takhtanya kepemimpinannya di dunia gelap. Namun sampai saat ini ia bahkan hanya mendengar isu bahwa adik perempuan Gaston sudah berkeluarga dan bahkan memiliki keturunan tapi ia tidak tahu siapa orangnya.
Opa Gaston memang memisahkan diri dari sang adik dan memilih untuk tidak menikah. Ia hanya mengharapkan jika suatu saat ada seorang penggantinya yang berasal dari rahim sang adik.
"Baik tuan" jawab pria itu dan pergi untuk beberapa saat.
Toni keluar dari ruangan itu untuk mengambil sesuatu entah apa yang dia ambil. Beberapa saat kemudian, Toni kembali masuk dengan membawa salah satu jarum suntik yang ada di tangannya.
"Apakah kau masih mempertahankan egomu untuk melindungi sosok yang menggantikanmu?" cibir El saat melihat sang asisten telah kembali dengan membawa apa yang dia inginkan.
"Apakah seorang Gaston adalah pria pengecut yang bisa dikendalikan dengan ancaman?" tanya balik opa Gaston dengan raut wajahnya yang sangat dingin.
"Rupanya mantan pemimpin geng Marah Salvatrucha adalah orang yang tidak main-main dengan ucapannya. Aku pikir itu hanya opini belaka. Tapi apakah setelah ini egomu masih tetap tinggi?" ucap El dengan senyum devilnya.
"Toni, bawa kemari benda itu" perintah El dan diikuti oleh sang asisten.
Setelah menerima jarum suntik yang sudah terisi dengan obat entah obat apa itu tapi sama sekali tidak menggetarkan sang pria tua itu sedangkan sang asisten sudah sangat pias wajahnya.
"Jangan lakukan itu kepada tuanku, biar aku saja yang menanggungnya" ucap anak muda yang adalah asisten opa Gaston.
Sebenarnya opa Gaston cukup terkejut dengan permintaan anak muda itu namun ia tidak mau menunjukkan kelemahannya di depan musuhnya sendiri.
"Wah ternyata ada pahlawan yang mau mengorbankan nyawanya demi pria tua tidak berguna ini. " cibir El.
"Dengan senang hati jika kamu ingin menggantikan posisiku untuk dianiaya oleh mereka karena memang kau tidak berarti apa-apa untuk Marah Salvatrucha" ucap Opa Gaston penuh penekanan membuat El jadi bingung.
Deg
Jantung sang asisten mendadak stop karena pria yang baru saja kemarin menasihatinya dan begitu menyayanginya ternyata hanya kebohongan belaka.
Bersambung