
"Ada apa Ren, ko kamu berpakaian seperti ini?" tanya Mey saat turun dari kamar dengan sudah berpakaian rapih.
"Mey, maaf ya. Aku minta cuti untuk beberapa hari ke depan. Bisa kan?" ucap Reno memohon.
"Kamu mau ke mana Ren, sampai minta cuti segala" tanya Mey penasaran
"Aku mau ke Indonesia" ucap Reno lesu.
"Ada apa denganmu Ren?" tanya Mey tidak mengerti dengan asisten sekaligus sudah dia anggap saudara itu.
"Aku melakukan kesalahan padanya tanpa aku sadari makanya dia tidak kembali lagi. Bahkan sekarang dia pergi ke kota untuk mencari kerja" ucap Reno semakin Rapuh. Ia tahu bahwa sejak berada di negara ini, Novi dibujuk berkali-kali untuk bekerja di kantor tetap menjawab bahwa ia tidak bisa karena pendidikan hanya sampai SMA.
"Oke baik baiklah. Usahakan kembali bersamanya" ucap Mey tegas karena ternyata Novi bukan pergi karena ingin berlibur di kampungnya tapi karena kecewa dengan Reno.
"Dia tidak pernah mengenal dunia luar dan kamu pria beruntung yang menjadi orang pertama mendekatinya. Aku harap jangan mengecewakannya" ucap Mey lagi membuat Alfa yang baru mendekat langsung ikut tersentak.
"Iya" jawab Reno dengan suara yang hampir tidak kedengaran.
Pria itu melangkah pergi,
"Pakai saja jet kita biar cepat" ucap opa yang sedang berdiri di sana sambil menepuk pundak Reno.
"Iya ayah" jawabnya
Setelah kepergian Reno, keluarga itu menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama.
"Ayah, mana ade?" tanya Alfa
"Ingat juga kamu sama anak sendiri" ucap ayah pada menantunya. Alfa hanya terkekeh menanggapi ucapan sang mertua.
"Dia masih bersih-bersih. Sejak ingin punya adik, dia berusaha untuk melakukan semua sendiri dan tidak mau dibantu kecuali ia merasa berat."Jelas ayah.
Sejak ada Alfa, Maggie berpindah kamar namun sang opa tidak ingin cucunya tidur sendiri jadi ia meminta cucunya untuk sekamar dengannya hingga Novi kembali.
Mey yang mendengar penjelasan ayahnya tentang sang puteri merasa terharu, rasanya baru kemarin keduanya menjalani hari-hari mereka tapi sekarang ia sudah belajar mandiri.
"Ayah harap, sesibuk apapun kalian berdua, sisihkan waktu untuk menemaninya bermain, belajar, atau berjalan-jalan untuk berbelanja tanpa harus dia minta. Karena jika kamu sudah punya baby lagi, dia akan merasa terasing dan terbuang. Dia lahir dengan kondisi rumah tangga kalian yang tidak sehat dan terbentuk dengan didikan orang tua yang tidak seimbang jadi walaupun tidak ia ungkapkan tapi sikap aslinya atau hasil didikan itu akan muncul saat dia menjadi remaja nanti" jelas ayah kepada anak dan menantunya karena watak pemberontak yang sudah mulai nampak dalam diri cucunya, mungkin karena merasa kurang perhatian sejak Mey mulai aktif bekerja dan ditambah sejak ada Alfa dan ia harus terpisah kamar dengan mereka.
Mey yang mendengar wejangan dari sang ayah, merasa teriris dan sudah sesugukan sejak tadi. Alfa turut merasa bersalah karena seolah dia merenggut paksa Mey dari anaknya sendiri.
Mereka mengobrol sambil menunggu gadis kecil yang masih sibuk di dalam kamar.
"Selamat pagi opa, daddy, mommy" ucapnya memberi salam sambil mencium punggung tangan semua orang tuanya.
"Selamat pagi juga ade" ucap mereka bertiga.
Gadis yang baru keluar dari kamar itu sudah berpakaian rapi dan membawa serta dengan tas sekolahnya.
Maggie mangambil tempat duduk seperti biasa di samping opanya dan seperti biasa, Mey mulai melayani ketiga orang kesayangannya itu dengan telaten.
Alfa sejak tadi diam dan menatap dalam ke arah anak gadisnya yang memang sudah mulai terlihat sikap dewasanya.
"Mom ade mau paha ayamnya saja sama kerupuk" ucap Maggie yang sudah terbiasa kalau sarapan harus makanan berat karena gadis kecil itu mudah sekali untuk lapar. Beda dengan yang lain hanya sarapan dengan roti sama susu atau kopi hitam.
"Iya sayang, pakai bubur atau nasi de?" tanya Mey.
Keluarga kecil itu akhirnya sarapan dengan tenang hingga makanan yang ada di depan mereka habis.
"Ade diantar sama daddy dan mommy saja ya?" tawar Mey.
"Daddy sama mommy tidak tellambat ke kantol?" tanya gadis kecil itu kembali.
"Tidak sayang" jawab Mey
"Oke deh, opa istilahat saja ya? ade diantal sama daddy dan mommy" ucapnya pada sang opa.
Mey merasa anaknya sudah lebih banyak berubah, sudah lebih pengertian dengan orang lain.
Mereka bertiga akhirnya pergi setelah bersalaman dengan opa.
Sepanjang perjalanan Maggie terus bercerita soal teman-teman sekolahnya ada yang baik namun ada yang tidak mau dekat dengannya.
Maggi juga sempat menyinggung kapan adiknya datang tapi dengan seribu penjelasan Alfa dan Mey memberi pengetian hingga bisa di mengerti. Alfa bahkan sampai menunjukan foto wanita hamil agar anaknya tahu bahwa kehadiran seorang adik akan lebih dahulu ada di perut sang mommy.
Perjalanan mereka cukup menyenangkan hingga tiba di gerbang sekolah. Sekuriti yang bertugas di sana mempersilahkan untuk masuk sehingga Alfa memutar mobilnya menuju ke parkiran.
Setibanya di parkiran Alfa dan Mey ikut turun dan seorang anak laki-laki yang seusia Maggie langsung mendekat.
"Halo om, tante" ucap seorang pria kecil sambil menyalami Alfa dan Mey.
Anak yang sopan. Batin Alfa
"Hai Lobelt kamu sudah datang?" tanya Maggie pada anak laki-laki itu.
"Maggie, namaku Robert bukan Lobelt" protes pria kecil itu.
"Ah kamu mah tidak pengeltian sama aku" ucap Maggie merajuk membuat kedua orang tuanya tersenyum karena anak gadis mereka sangat manja dengan pria kecil ini.
"Olang tuamu mana" tanya Maggie.
"Sudah ke kantor" ucap Robert dan Maggie hanya menanggapi dengan mulutnya yang berbentuk huruf O.
"Ade, daddy sama mommy kerja dulu ya sayang? nanti keluar jangan lupa telepon daddy supaya jemput." ucap Alfa yang sudah berjongkok di depan puterinya dan mendapat kecupan di kedua pipinya dari sang anak. Maggie juga memberi isyarat pada mommynya untuk turut berjongkok dan melakukan hal yang sama.
"Oke. Mommy sama daddy pergi dulu ya? Robert, om sama tante pergi dulu" ucap Mey sambil melambaikan tangan pada kedua nak kecil yang juga sudah melangkah pergi ke kelas mereka.
"Iya om tante" jawab pria kecil itu sambil melambaikan tangannya juga ke arah kedua orang tua teman perempuannya itu.
Alfa dan Mey melangkah masuk kembali ke dalam mobil dan pergi meninggalkan sekolah puteri mereka.
"Sayang, maaf ya?" ucap Alfa.
"Kenapa mas?" tanya Mey
"Aku sudah merusak kebahagiaan anak kita selama ini" ucap Alfa penuh penyeaalan.
"Mas, apa yang sudah berlalu jangan diungkit lagi. Seperti kata ayah, sebaiknya kita membagi waktu untuk membuatnya bahagia" ucap Mey sambil menyatuhkan telapak tangannya dengan sang suami. Alfa mengangguk aambil tersenyum dan mencium punggung tangan isterinya yang ada dalam genggamannya.
BERSAMBUNG