
Kini sudah satu Minggu Rockzy mendapat musibah, sudah satu Minggu pula dia tidak masuk kuliah membuat teman sekelasnya bertanya-tanya. Rockzy adalah anak yang tenang namun dia adalah anak yang cukup cerdas. Kelas mereka memang kumpulan mahasiswa dan mahasiswi yang cerdas.
Sering dia dipuji oleh teman cewek sekelasnya jika ia adalah anak yang manis.
"Si Rockzy kemana ya? sudah seminggu tidak masuk kampus?" tanya salah seorang gadis, siapa lagi kalau bukan Vira sahabat Sela.
"Iya Vir, ada apa dengannya ya?" Adel
"Di mana rumahnya ya? biar kita jenguk" ucap Mira.
"Kalian bisa diam nggak sih? dari tadi Rockzy Rockzy Rockzy" sambar Sela yang malas dengar suara berisik sahabat-sahabatnya.
"Iyalah dari pada kamu yang terus mikirin si Roberth itu, kaya nggak ada cowok lain aja." ucap Vira mencibir sahabatnya. Ucapannya yang tidak kontrol membuat Maggie dan Roberth ikut mendengar.
Obrolan gadis-gadis itu terus berlanjut tanpa mereka sadari ada hati seorang hadis yang kini terenyuh mengingat anak muda yang rela mengorbankan nyawa untuknya.
Kamu bodoh Ro' kenapa km bgt nekad mencelakakan diri sendiri demi aku? apa kamu melakukan ini semua demi menutupi kejahatan ibumu yang pernah membuat aku dan mommy menderita? Aku tidak butuh itu, aku hanya ingin kamu tetap ada di sampingku, menjadi paman kecilku yang setia meladeni kenakalanku. Kamu tahu aku merindukanmu. Batin Maggie yang kini sedang menahan sesak di dadanya.
Roberth mengerti dengan kondisi gadisnya sehingga ia mengirim pesan singkat untuk menguatkan gadisnya itu.
📩 Yang, jangan larut dalam penyesalanmu, kamu harus kuat dan mendoakan dia agar cepat melewati masa kritisnya.
Maggie membuka ponselnya tanpa mengeluarkan dari tasnya, ia pun mengiyakan kata kekasihnya dengan mengangguk kecil ke arah ponselnya dan hal itu bisa dilihat oleh Roberth yang akhirnya menghangat karena gadisnya menurut padanya.
"Beb, kenapa akhir-akhir ini kamu beda bangat sih?" tanya Ria yang bisa merasakan perubahan sikap sang sahabatnya itu.
"Aku nggak apa-apa kok?" jawabnya berbohong.
"Sejak kapan kamu belajar berbohong beb? kita itu dari kecil udah bersama dan aku tahu jelas tampang kamu kalau lagi bohong" ucap Ria.
"Pamanku kecelakaan dan sudah seminggu belum sadar" ucapnya sendu.
"Kasihan sekali ya pamanmu itu, semoga cepat sembuh ya?" ucap Ria turun mendoakan.
"Amin. Thanks ya?" ucap Maggie apa adanya.
*****
Opa Gaston yang biasanya tidak pernah menetap di suatu tempat, kini harus bertahan hingga seminggu di Indonesia.
Ia kembali menatap sebuah gambar di layar ponselnya. Gambar seorang bayi laki-laki yang terbujur kaku dengan banyak alat medis menancap di tubuh kecilnya.
Papa yakin kamu bisa nak, diusia kamu yang masih sangat kecil saja kamu mampu melawan penyakit yang membahayakan. Masa cuma satu butir peluruh dlsaja bisa mengalahkan kamu? papa nggak akan membiarkan Tuhan mengambilmu dariku. Batin pria tua itu bergejolak.
Kini ia harus kembali melihat puteranya ada di Rumah Sakit setelah sekian lama tidak pernah masuk ke sana lagi setelah dia dinyatakan sembuh total.
Pria tua itu bangkit dari tempat duduknya yakni di salah satu apartemen milik sang adik. Pria itu melangkah keluar diikuti seorang anak buahnya.
"Antarkan aku ke rumah sakit" ucapnya tanpa berhenti dan tanpamenoleh ke belakang.
Mereka akhirnya tiba di parkiran dan anak buahnya mengambil alih kursi kemudi untuk menyetir mobil tersebut membawa sang bos besar menuju ke rumah sakit tempat puteranya dirawat.
*****
"Bagaimana kondisinya?" tanya papa Gaston yang baru tiba kepada beberapa anak buah yang dia tempatkan untuk menjaga Rockzy di sana.
"Sejauh ini belum ada perubahan tuan" jawab salah seorang dari mereka semua.
"Baiklah, jaga dia, aku akan bertemu dengan dokter yang menanganinya" ucap pria tua itu.
Tok tok tok
"Masuk" ucap sang dokter dari dalam.
Papa Gaston pun melangkah masuk dengan tongkat ajaibnya yang selalu melekat di tangannya.
"Mari tuan, silahkan duduk" ucap sang dokter begitu melihat yang datang adalah ipar dari tuan Adipaty.
"Bagaimana keadaan puteraku, atau aku harus membawanya ke luar negeri?" tanya papa Gaston langsung pada intinya.
"Maaf tuan, sebenarnya dia sudah melewati masa kritis dan dia bisa sadar secepatnya namun raganya yang terlalu berat untuk bergerak. Banyak berkomunikasi mungkin akan mempercepat kesadarannya" jelas dokter dan hanya dianggiki oleh papa Gaston.
Pria itu kembali ke ruang puteranya.
"Hai pemalas, apa kau tidak cape tidur sepanjang hari dan sepanjang malam?" ucap Maggie yang sudah duduk kursi yang ada di samping ranjang pasien.
"Biasanya kau mengatakan aku seperti kerbau yang malas bangun kalau sudah pagi, kenapa sekarang malah kau yang jadi orang pemalas?" cibir Maggie kepada Rockzy yang masih nyaman di alam mimpinya. Gadis itu bahkan sudah meneteskan air mata.
Roberth bisa merasakan bagaimana kehilangan Maggie pada sosok saudara sekaligus paman kecilnya. Pria itu tidak bisa berbuat apa-apa karena dokter pun belumengatakan apa-apa.
Opa Gaston yang sudah masuk sejak tadi ikut sedih mendengar kata-kata sang cucu.
"Kamu juga bilang, kalau aku kebanyakan tidur nanti tidak dapat jodoh. Kamu tahu? aku sudah menemukan pria yang sering aku ceritakan ke kamu. Apa kamu juga mau jodohmu diambil orang kalau kebanyakan tidur?" ucap Maggie yang awalnya lembut, kini berubah jadi gerutuan.
"Akhh aku malas ngomong sama kamu, tidak ada responnya, kamu pikir aku gila sehingga ngomong sendirian?" ucap Maggie menghentakan kaki seperti anak kecil.
Maggie akhirnya bangun dari posisi duduknya dan ingin berpindah ke sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Kenapa bang Alfa sama ka Mey bisa punya anak yang cerewetnya nggak ketulungan sih?" ucap seseorang tanpa membuka mata membuat semua orang di dalam ruangan itu terkejut. Maggie yang sudah membelakanginya pun ikut berbalik.
Perlahan-lahan Rockzy membuka matanya sempurnah.
"Kamu sudah sadar?" ucap Maggie dengan suara sedikit naik dan kembali duduk sambil memukul pundak pria yang baru sadar itu.
"Ahhh" teriak Rockzy membuat Maggie panik.
"Apa yang sakit hah?" ucapnya heboh sendiri.
"Telingaku yang sakit karena sejak tadi kamu ngoceh nggak jelas, mengganggu tidurku saja" gerutu Rockzy membuat Maggie memutar bola matanya dan pergi meninggalkan anak muda yang masih berbaring di sana.
"Apa yang kamu rasakan nak?"tanya papa Gaston yang sudah mendekat ke arah ranjang.
"Semua baik pa, apa papa makan dengan baik selama ini? papa kelihatan kurus" ucap Rockzy meneliti tubuh sang papa.
"Sudah begini juga masih punya tenaga buat ngomel papa ya?" gerutu sang papa yang sebenarnya terharu karena sejak dulu puteranya memang sangat menyayanginya.
"Bagaimana papa bisa jagain aku kalau papa saja sakit karena nggak makan" cibir Rockzy.
"Hei, seharusnya kamu yang jagain papa bukan papa yang jagain kamu, dasar anak tidak tahu diri" ucap papa sambil mengacak-acak rambut puteranya.
"Kamu itu baru sadar tapi sudah membuat dua orang sekaligus yang kesal sama kamu" tambah Roberth yang duduk di sofa ruang itu.
"Kamu harus menghargai ku sebagai paman kecil gadis rese itu. Oh jadi kamu teman masa kecil gadis rese ini ya?" ucap Rockzy mencibir Maggie.
"ROCKZY!!!"teriak Maggie membuat semua orang tertawa.
BERSAMBUNG