Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
162. Penyelamatan



Hi para pembaca setiaku, semoga semua dalam keadaan sehat.


.


.


.


Alfa sudah berhasil masuk ke dalam ruangan tempat papa Sandro di sekap, dengan di dampingi beberapa orang itu namun tidak semua orang yang masuk dan hanya Alfa saja yang masuk.


"Om, apa kamu baik-baik saja?" tanya Alfa yang menyadari jika papa Sandro saat ini sangat prihatin.


"Si siapa ka kamu?" ucap papa Sandro terbatah. Ia mulai gelisah saat menyadari ada seseorang di sana. Pria itu tidak dapat melihat Alfa dengan baik karena lampu yang suram ditambah dengan dia sedang menahan rasa sakit karena sejak tiba di markas itu, ia diperlakukan dengan sangat kasar.


"Aku Alfa om, aku akan membantumu keluar dari sini ya om?" ucap Alfa setengah berbisik.


"Selamatkan isteriku dan puteriku juga nak" ucap papa Sandro yang juga terigat akan kedua orang yang dicintainya.


"Jangan dipikirkan om, Reno dan teman yang lain sudah ke sana untuk membantu mereka jadi sekarang kita keluar dari sini sebelum para kaparat itu mengetahui kebaradaab kita." jekas Alfa sambil membuka tali ikatan yang melilit di tangan pria paruh baya itu.


"Terima kasih nak," ucap papa Sandro setelah ikatannya berhasil dibuka oleh Alfa.


"Dad, cepat keluar ada yang sedang berjalan menuju ke sana" perintah gadis kecil itu melalui alat yang menempel di telinga daddynya.


"Iya sayang, kamu segera keluar" jawab Alfa membuat pria paruh baya itu bingung.


"Jangan dulu bertanya karena mereka sedang berjalan ke arah sini, jadi cepatlah utuk kita keluar sekarang" Alfa berucap sambil memapah papa Sandro keluar dari sana.


Beberapa orang penjahat itupun semetara melangkah menuju ke arah mereka dengan membawa senjata api mereka. Tim Alfa yang siaga di luar ruangan semakin panik saat pria-pria bertubuh kekar itu semakin dekat.


"Dad, aku akan berhitun dan pada hitungan ke sepuluh daddy sama tim harus berbalik arah untuk keluar dari lorong yang ada di sebelh timur oke?" perintahnya Maggie.


"Ayo kita segera pergi dari sini karena mereka sudah menuju ke sini" ucap Alfa memberi instruksi kepada para anak buahnya.


"Baik tuan" jawab mereka serentaj namun dengan suara yang sangat pelan.


Dua orang berjalan di depan dan yang lainnya berjalan di belakang Alfa dan papa Sandro.


"Dengar jika aku memberi perintah untuk berubah hakuan maka kita semua langsung berbelok ke arah timur" ucap Alfa kepada anak buahnya atas saran puterinya.


"Siap tuan" jawab mereka sambil berjalan dengan langkah kaki yang dijaga agar tidak menimbulkan bunyi kaki mereka.


"1, 2, 3, ...... .... .... 7, 8, 9. siap ya dad 10" ucap Maggie yang langsung diikuti oleh daddynya dan tim, mereka langsung berbelok ke arah yang diperintahkan Maggie sehingga mereka berakhir di sebuah terowongan yang cukup gelap.


Saat itu jarak Alfa bersama tim dengan para penjahat hanya dibatasi oleh tembok yang menjulang tinggi, dan para penjahat dapat mendengar dengan jelas bunyi langkah kaki mereka namun sayang, saat mereka tiba di balik tembok tersebut mereka sudah tidak menemukan apa-apa lagi karena bunyi langkah kaki tadi sudah menghilang.


"Akhh sial, apakah tadi kamu mendengar kalau ada orang di sini?" tanya seorang pria yang dianggap sebagai bos dalam tim mereka.


"Iya bos, tadi seperti ada bunyi langkah kaki di sini." ucap salah satunya.


"Akhh dasar penakut" ucap bos mereka sambil melangkah terus ke ruangan yang mereka tuju.


Di bagian lain


Riko dan tim sementara berusaha untuk masuk ke ruangan tempat isteri papa Sandro di sekap namun mereka masih berusaha mengalihkan perhatian para penjahat yang tengah bermain kartu di depan ruangan itu.


"Kita harus cari cara agar mengalihkan perhatian mereka, supaya kita bisa masuk ke dalam sana" jelas Riko kepada temannya yang lain.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya salah satu dari antara mereka.


"Suluh aja dua olang nakuti meleka dari jauh, begitu meleka lali ke sana, om Liko bisa masuk dong" jawab gadis kecil yang sejak tadi menyimak pembicaraan para orang tua itu.


"Apa itu berhasil kaka?" tanya Riko kepada Maggie.


"Ya belhasillah" ucap gadis kecil itu sewot karena Riko meragukan masukannya.


"Baiklah, om Riko akan mencobanya." jawab Riko pada akhirnya.


Riko akhirnya melakukan seperti yang diperintahkan oleh Maggie yaitu dengan memberi tugas kepada dua orang lainnya untuk menjalani rencana mereka yakni memberi umpan dari tempat yang agak jauh dan lumayan gelap.


Riko dan timnya akhirnya berpisah di sana, tiga orang lainnya berjalan dengan hati-hati ke tempat persembunyian yang agak gelap juga sehingga ketika para penjahat itu lari ke arah umpan mereka maka dengan gampang mereka dapat membasminya.


Sedangkan Riko dengan satu orang temannya sudah siaga untuk masuk ke ruangan itu jika para penjahat itu sudah pergi.


"Om Liko, nanti di dalam luangan itu ada pintu belakang jadi saat kelual nanti lewat sana saja jangan kembali lewat pintu depannya" jelas Maggie dan diiyakan oleh Riko.


Seperti dugaan mereka, saat dua orang teman Riko memberi umpan dengan menimbulkan bunyi dahan kayu kering di sana, semua penjahar itu berlari ke arah sana dan dengan mudah mereka langsung menghajar para penjahat tersebut.


Acara baku hantam pun terjadi malam itu, sehingga mereka tidak lagi peduli dengan ruangan yang sementara mereka jaga tersebut.


Riko dan temannya berhasil masuk dan mendapati isteri papa Sandro yang tertidur di sebuah kursi tua dengan tangan terikat ke belakang melingkar di sandaran kursi dan mulutnya di ikat dengan kain kecil sehingga membuat wanita paruh baya itu tidak bisa bersuara dan berbicara.


"Mmmm mmm mmm" wanita itu berusaha berteriak dan berontak namun tidak bisa karena ikatan yang sangat kuat dan susah dilepaskan.


Wanita itu semakin ketakutan dan panik saat Riko melangkah ke arahnya dan semakin dekat.


"Mmmm mmm mmm" usahanya untuk berteriak dan memberontak semakin menjadi-jadi.


"Jangan takut tante, aku temannya Reno yang akan membantu tante keluar dari sini. Jangan berteriak nanti kita ketahuan" Ucap Riko membuat wanita itu mulai tenang.


Dengan telaten Riko melepaskan semua ikatan yang melekat di tubuh wanita itu dan tentu dengan gerakan yang cepat agar mereka segera keluar dari sana.


Setelah berhasil melepaskan semua ikatan itu, Riko langsung membawa keluar wanita paruh baya itu melalui pintu belakang seperti yang diperintahkan oleh Maggie. Mereka pun berhasil keluar dan merjalan sedikit jauh ke arah belakang yang sepertinya ada di hutan. Disana mereka menemukan sebuah terowongan sehingga beristirahatlah mereka di sana.


Di tempat lain, Maggie tengah kesusahan mengatur strategi karena tepat penyekapan puteri Sandro lumayan berbahaya karena harus melewati banyak tantangan. Dan sepertinya para penjahat itu sudah mengetahui keberadaan mereka sehingga mereka tidak mau teralikan lagi dengan umpan dari tim Reno. Sepertinya mereka melepaskan dua orang tua itu dengan sangat gampang tapi tidak dengan puteri mereka.


BERSAMBUNG