Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Pertemuan



Setelah makan siang dan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Mey, kedua anak kembarnya pun berniat untuk pamit pulang terlebih dahulu karena mommy mereka akan jemput oleh sang daddy.


"Oh ya kamu duluan aja, aku lagi ada urusan sama om Riko" ucap Daffa yang langsung melangkah keluar menuju ruangan asisten sang mommy.


"Om! " ucap Daffa yang sudah melangkah masuk ke dalam ruangan itu.


"Mari bang, apa yang mau kamu bicarakan sama om Riko?" tanya Riko to the point.


"Tadi kaka minta aku mencari tahu tentang latar belakang keluarga tunangannya. Aku juga di minta untuk mencari tahu tentang musuh keluarga kita, tapi sepertinya dia orang yang sama ya? sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Daffa penasaran.


"Jadi abang sudah mengetahui orangnya?" tanya Riko.


"Kenapa om menyembunyikan ini semua?" tanya Daffa tidak puas.


"Sebenarnya keluarga opa dan omamu tidak punya musuh. Semua itu berawal sejak omamu menolong om Riko dan om Roky dambawa pulang ke mansion. itulah awal mulai terjadi permusuhan itu. Om tidak menyembunyikan tapi memang semuanya harus dihentikan. Om sudah mengetahui sejak isteri Reno dibawa ke mansion Smith, ditambah lagi hubungan baik antara kaka dan pria yang sudah menjadi tunangannya sekarang, apakah kita harus tetap menjalankan dendam ini?" jelas Riko membuka sedikit wawasan anak muda yang sudah dianggap seperti keponakannya sendiri.


"Tapi om, justru orang yang sama yang hampir mencelakakan ka Roberth saat acara malam itu. Dan itu artinya hubungan antara orang itu dan om Arjo tidak baik-baik saja" jawab Daffa.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Riko.


"Kita cukup duduk diam sambil menunggu kaka memberi perintah, karena sepertinya kaka sudah mulai bergerak." jawab Daffa.


"Baiklah, hubungi om jika membutuhkan sesuatu" jelas Riko. Daffa kembali melangkah keluar dari ruangan itu.


Jika begini persoalannya, maka Ike dalam bahaya karena tinggal di rumah om Arjo. Batin Daffa gelisah.


"Ayo pulang" ucapnya saat kembali ke ruangan sang mommy dan mengajak kembarannya untuk pulang.


.


.


.


Hari terus berganti dan hari ini seperti biasa Ike datang ke sekolah dan pulang dengan diantar oleh sang kaka namun tidak dengan hari ini, gadis itu diantar oleh Maggie karena semalam Ike nginap di mansion Adipaty atas ijin kedua orang tua Roberth dan juga orang pria itu sendiri.


Setibanya di parkiran kusus, Ike keluar dari mobil dan diikuti oleh Maggie yang juga punya urusan di sekolah ini.


Ike menuju ke kelas setelah berpamitan kepada Maggie, sedangkan gadis itu pun melangkah masuk ke area sekolah karena ia ada urusan dengan kepala sekolah dan beberapa orang penting di sekolah ini.


Langkah gadis itu terhenti saat melihat ada kerumunan banyak siswa siswi di depan papan pengumuman entah apa yang mereka lihat di sana. Setelah bel masuk berbunyi, Maggie akhirnya melangkah ke arah papan pengumuman tersebut dan mengurungkan niatnya yaang akan bertemu kepala sekolah tadi.


Begitu mendekat, ia dikagetkan dengan foto-foto sepasang pria dan gadis kecil yang sangat ia kenali.


"Apa-apaan ini?" gumam Maggie sambil membaca keterangan di setiap foto yang ditempel di sana. Tangannya terkepal kuat karena gosip yang beredar.


Siapa orang yang menyebarkan gosip ini?


Maggie melangkah ke ruang kepala sekolah untuk bertemu pria itu sesuai tujuannya tadi.


"Selamat pagi nona muda" ucap sang kepala sekolah begitu melihat kedatangan seorang gadis yang tidak dikenalinya.


"Selamaat pagi pak" jawab Maggie sambil duduk tanpa di persilahkan.


"Pak, saya minta sekarang juga semua isu yang beredar soal siswi yang bertunangan saat masih sekolah itu segera dibereskan" ucapnya tegas.


"Apa maksud nona?" ucap kepala sekolah itu bingung karena ia belum melihatnya.


"Di papan pengumuman ada berita yang beredar jika ada seorang siswi yang sudah bertunangan. Jika isu ini sampai berkembang dan membuat mutu sekolah buruk maka aku pastikan bahwa kalian semua baik kepala sekolah maupun guru-guru akan diberhentikan mengajar di sini" ucap Maggie tegas.


Sang kepala sekolah bahkan tidak mengenal gadis itu namain melihat aura gadis itu yang cukup luar biasa, dia akhirnya memberi perintah kepada guru-gurunya untuk membereskan kekacauan tersebut.


Maggie melangkah keluar dan pulang ke rumahnya, namun sebelumnya ia juga menghubungi sang kekasih.


📞Halo sayang


📞Apakah sebentar kamu akan menjemput Ike?


📞Apakah kamu sibuk?


📞Tidak, jika kamu ingin menjemputnya, jangan lupa kabari aku.


Telepon pun berakhir.


.


.


.


"Hei, sejak kapan kamu datang?" tanya Maggie.


"Semalam" jawabnya santai, keduanya terlibat pembahasan yang cukup lama dan juga makan siang bersama hingga jam sudah menunjukkan pukul dia siang hari.


"Rockzy, antarkan aku ke kantor Roberth" ucap Maggie.


"Loh, kamu punya mobil kan?" ucap Rockzy


"Aku akan bepergian beragamanya jadi kamu antarkan aku" jelas Maggie dengan memelas.


"Huh, susah ya punya keponakan yang banyak maunya, pacaran aja harus dijaga" gerutu Rockzy.


"Cih, ember" gerutu balik Maggie smbil melangkah keluar dan diikuti oleh Rockzy.


Keduanya sudah tiba di parkiran dan melangkah masuk, namun ditahan oleh resepsionis.


"Maaf tuan, nona, ingin bertemu dengan siapa?" tanya seorang gadis yang ada di balik meja resepsionis.


"Ingin bertemu dengan tuan Roberth" jawab Rockzy.


"Apakah sudah membuat janji dengan beliau?" tanya gadis itu lagi.


"Sudah" jawab Maggie cepat, membuat sang petugas resepsionis merasa curiga tapi terpaksa mengijinkan mereka untuk masuk.


"Heh, apa kamu sudah buat janji sama Roberth?" tanya Rockzy yang juga tidak yakin dengan ucapan gadis ini tadi, saat mereka sedang berada di dalam lift.


"Belum" jawab Maggie santai.


"Lalu?" tanya Rockzy yang frustrasi dengan tingkah gadis itu.


"Emang gue pikirin?" jawabnya santai smbil mengedikkan kedua bahannya dan melangkah keluar dari dalam lift karena pintu sudah terbuka dan mereka sudah tiba di lantai yang mereka tujui.


"Me' aku ke toilet sebentar ya? kamu masuk lebih dahulu" ucap Rockzy.


"Oke" jawab Maggie dan keduanya pun berpisah di sana.


Dengan santai sambil memainkan ponselnya, Rockzy melangkah ke arah toilet namun ada sesuatu yang mencurigakan sehingga ia berhenti sejenak untuk memastikan bayangan orang yang ada di tempat yang sedikit sepi itu.


Siapa orang itu, dan apa yang dia lakukan? Batin Rockzy.


Saat sedang keasyikan menatap bayangan orang itu, tiba-tiba dia kembali terkejut dengan tubuh seseorang yang menabraknya.


"Heh, jalan itu pakai mata" ucapnya sinis namun dengan tangan yang masih menahan tubuh gadis itu agar tidak terjungkal ke lantai.


"Maaf, ak..." ucap gadis itu terputus saat ia merapikan rambutnya yang berantakan dan menutup penglihatannya tadi.


"Ria?" ucap Rockzy yang juga terkejut.


"Rockzy? maaf aku tidak sengaja" ucapnya canggung karena teman satu kelasnya ini tidak begitu akrab dengannya bahkan tidak pernah melirik yang saat kuliah dulu.


"Aku permisi" pamit Ria yang hendak kembali ke ruang kerjanya.


"Tunggu?" ucap Rockzy sambil menahan lengan gadis tadi.


"Apa kamu bekerja di sini?" tanya Rockzy.


"Iya, maaf aku harus kembali karena perkerjaanku masih banyak." ucap Ria sambil membubgkukkan badannya sebagai tanda hormat.


"Tunggu. Baiklah kamu boleh pergi tapi aku boleh minta nomor kamu?" ucap Rockzy lagi.


"Untuk apa?" tanya Ria heran karena ia tidak begitu dekat dengan pria ini.


"Mungkin aku bisa menghubungimu kalau ada keperluan, iya keperluan" ucap Rockzy yang bingung sendiri dengan pernyataannya, membuat Ria memicingkan matanya tapi akhirnya mengambil ponsel pria itu tanpa ijin dari tangannya untuk mengetik nomornya. Ia terpaksa melakukan hal itu agar cepat pergi dari sana karena ia harus membawakan beberapa berkas untuk ditandatangani oleh sang CEO.


Ya, sejak mendapatkan ijazah sarjana, Ria diangkat menjadi karyawan di tim devisi keuangan. Setelah beberapa bulan, kinerjanya sangat memuaskan tuan Arjo sehingga ia diangkat menjadi ketua tim setelah ketua tim yang lama di angkat ke bagian yang lain.


Ria melangkah pergi dengan dadanya yang bergemuruh entah apa yang dia rasakanya.


Sementara Rockzy tidak jauh berbeda dengan Ria, gadis yang dulu terlihat biasa saja di matanya, rupanya sudah menjelma menjadi gadis yang sangat cantik.


Bersambung