
Satu per satu mulai memberi selamat kepada mempelai dengan doa yang bermacam-macam.
"Selamat ya anak mommy. Ingat, sekarang kamu sudah jadi seorang isteri. Boleh sibuk, asal jangan lupa tugas kamu sebagai isteri ya?" ucap Mey memberi selamat kepada puterinya. Keduanya saling berpelukan, rasanya ia tidak rela melepaskan puterinya.
"Iya mom, Terima kasih sudah ada buat kaka dalam susah atau senang. Mommy juga sehat selalu ya? mommy juga harus bahagia sama daddy and twins" ucap Maggie dalam pelukan sang mommy.
"Selamat menempuh hidup baru, cucuku berdua. Bahagia sampai opa oma ya?" ucap opa Devid yang diangguki oleh oma Ani.
"Selamat ya ka. Ade tidak minta banyak-banyak, cukup buat keponakanku otewe lebih cepat ya?" ucap Daffi membuat Maggie melotot.
"Amin" jawab Roberth tersenyum.
"Selamat ya kakakku berdua. Pokoknya Ike bahagia banget, karena Ike nggak sendirian lagi di rumah" ucap Ike.
Daffa hanya memberi pelukan dan ciuman tanpa bicara apa-apa.
"Dan kamu jangan buat adeku menangis lagi" ucap Roberth yang tidak Terima karena adik iparnya itu tidak mengucapkan doa untuknya.
"Cih, urus aja keluarga kecilmu biar semua harapan para orang tua segera terjawab karena hadirnya seorang bayi dikeluarga kita" gerutunya sambil menarik Ike turun dari pelaminan.
Semua terus berdatangan ke pelaminan dan memberi selamat., baik dari keluarga Maggie maupun keluarga Roberth.
A: Bos, kami sudah berusaha namun penjagaan sangat ketat dan kita bisa tertangkap. Sepertinya mereka bukan orang sembarangan.
B: Sial. Oke baiklah kita menunggu di lain waktu.
Pesan antar seorang pria dan anak buahnya yang sudah siap untuk menjalankan rencana mereka namun gagal karena tempat acara tersebut betul-betul disterilkan.
Acara pun berakhir
Semua undangan telah pulang. Kini semua kamar hotel ditempati oleh keluarga bersar mempelai, dan termasuk sepasang suami isteri yang baru menikah itu.
Di kamar pengantin
"Apa kamu lelah sayang?" tanya Roberth yang memaklumi jika sang isteri kelelahan.
"Iya, tapi aku nggak bisa tidur kalau nggak mandi dulu" ucap Maggie.
"Tapi sudah sangat larut sayang. Basuh wajah aja ya? mandinya esok aja" saran Roberth.
"Nggak bisa, sejak tadi dibalut baju pengantin membuatku gerah" ucap Maggie lagi.
"Oke baiklah, aku siapkan air hangat terlebih dahulu" Roberth akhirnya masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat karena sudah sangat larut.
Beberapa saat kemudian, Roberth keluar dan mendapati Maggie yang masih kesusahan melepaskan baju pengantinnya.
"Kenapa?" tanya Roberth karena begitu menyadari kehadiran sang suami, gadis itupun mendadak berhenti dari aktivitasnya.
"Susah lepasnya" ucap Maggie.
"Oke sini aku bantu" ucap Roberth.
"Ahh nggak boleh" ucap Maggie mengelak.
"Kenapa?" tanya Roberth.
"Pokoknya nggak boleh, aku bisa sendiri" jelasnya.
"Kenapa? malu? Aku suamimu sayang" ucap Roberth sambil mendekat dan hendak meraih resleting bagian belakang gaun.
"Nggak boleh, kita kan belum... " ucapnya terputus saat menyadari jika ia hampir salah ucap.
"Belum apa? belum itu?" ucap Roberth menggoda sang isteri yang kini sudah malu setengah mati.
"Ka...!!!!" teriak Maggie yang tidak mau suaminya terus menggodanya.
"Makanya sini aku bantu. Nanti kalau semakin larut, kamu tidak boleh mandi lagi" ancam Roberth.
"Iya, tapi tutup matanya dulu dan jangan melihat" ucap Maggie dengan konyolnya.
"Mana bisa gitu sayang? nanti juga tetap dilihat" ucap Roberth sambil memaksa sang isteri untuk berbalik karena waktu terus berjalan. Maggie yang sudah sangat malu akhirnya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Mana ada? dia yang menutup mata? Batin Roberth terkekeh geli. Tidak mau membuat isterinya semakin mengikuti waktu, Roberth pun langsung memakaikan handuk jubah ke tubuh sang isteri begitu gaun itu berhasil lepas dari tubuh mulusnya.
"Sudah, sana mandi dan istirahat" ucap Roberth sambil mendorong isterinya dengan jari telunjuknya di kepala gadis itu.
Maggie dengan cepat langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam sana ia mengatur nafasnya yang seperti habis dikejar hantu.
"Aduh bagaimana nih? bagaimana kalau aku habis mandi tapi dianya belum juga tidur?" gumamnya yang belum menyentuh air sama sekali. Setelah lama berdebat dengan diri sendiri, gadis itu akhirnya memulai dengan ritual mandinya.
Setelah mandi, ia tidak langsung keluar dan malah duduk diatas kloset sambil menghitung jarinya entah apa maksudnya.
"Aduhhh gimana nih?" gumam Maggie mulai panik.
"Maggie Pradania Adipaty!" panggilnya sekali lagi.
"Sebentar" jawabnya dari dalam kamar mandi.
"Kalau kamu sakit bagaimana hmmm, sudah hampir satu jam loh kamu mandi" ucap Roberth.
"Sudah selesai ka" jawab Maggie lagi.
"Lalu kenapa tidak keluar? di dalam kamar mandi dingin. Bagaimana kalau kamu sakit" ujar Roberth lagi hingga akhirnya pintu kamar mandi terbuka secara Perlahan-lahan dan gadis itupun keluar dengan sudah mengenakan piyama.
"Masih buat apa di dalam kamar mandi?" tanya Roberth sambil mentapnya penuh teliti.
"Ya namanya kan kamar mandi, kalau nggak mandi, emang mau ngapain?" jawabnya sewot.
"Oke sana istirahat, atau...?" ujar Roberth terputis karena jawaban Maggie.
"Iya istirahat, iya iya" ucapnya cepat dan langsung menuju ke atas ranjang lalu membaringkan tubuhnya lalu menutupnya dengan selimut hingga seluruh tubuhnya termasuk rambutnya tak keluar sehelai pun.
"Maggie Pradania Adipaty, tidur macam apa itu? bagaimana kalau kamu tidak bisa nafas?" ucap Roberth pusing dengan tingkah isterinya itu.
"Bisa nafas" jawabnya setengah mati.
"Turunkan selinutnya, aku tahu kamu cape sayang, jadi aku tidak mungkin memintanya sekarang. Ayo kita tidur dan jauhkan pikiran kotor itu dari otakmu oke?" ucap Roberth yang memahami kegelisahan sang isteri yang mengiranya akan menagih jatah malam pertama saat ini juga.
Maggie pun merasa lega dan mulai menurunkan selimut yang sejak tadi menutup seluruh tubuhnya itu.
"Nah kan? gerah lagi, padahal baru saja mandi" ucap Roberth sambil mengusap keringat yang ada di kening sang isteri.
"Ayo tidur" ajak Roberth yang membawa isterinya masuk ke dalam dekapannya. Malam ini, sepasang pengantin baru itu melewati malam pertama mereka tanpa terjadi apa-apa karena keduanya mengerti kalau mereka cukup lelah hari ini, apalagi Roberth yang sudah beberapa pekan ini menyiapkan semua persiapan.
.
.
.
Tring Tring Tring
📞Apa aku mengganggu tidurmu?
📞nggak ko? aku juga belum tidur
📞kenapa belum tidur?
📞Belum ngantuk aja.
📞Esok mau ke sekolah kan? jadi tidur sekarang.
📞Aku belum masuk sekolah esok. Aku diijinin sama papi sampai esok, jadi lusanya baru aku masuk sekolah.
📞Kenapa begitu?
📞nggak tahu aja, kan papi yang minta ijin ke sekolah.
📞Apa kamu akan menghabiskan waktu sama orang tuamu esok nanti?
📞Ya sepertinya gitu sih karena lusa papi sama mami akan pulang.
📞Aku juga akan pulang lusa.
📞Oh
📞Kenapa cuma oh?
📞Nggak ko? memang sudah seharusnya gitu kan?
📞Ya sudah, sekarang kamu tidur nanti esok aku akan membawamu ke satu tempat. Nanti aku kasih tahu sama om Reno.
📞Tapi...
📞Tidur sekarang, aku matiin ya!
Perbincangan via telepon antara sepasang kekasih yang nginap di hotel yang sama namun di kamar yang berbeda itu pun berakhir.
Semuanya tidur dengan tenang setelah melewati hari bersejarah yang cukup melelahkan itu.
Bersambung