
Roberth akhirnya menandatangani berkas yang diminta oleh dokter tersebut. Setelah selesai dengan tugasnya di rumah sakit, pria itu kembali memberikan tanggung jawab kepada para anak buahnya untuk berjaga karena ia akan pulang ke rumah.
Roberth keluar dari rumah sakit namun tujuannya berubah, ia memilih datang ke taman di yang ada di pusat kita untuk menenangkan pikirannya yang sedang galau.
.
.
Di sebuah bangku panjang yang ada di tengah taman, di situlah ia menikmati kesendiriannya sambil menenangkan diri.
Roberth kembali menghubungi sang kekasih namun seperti sebelumnya ponsel Maggie berasa di luar jangkauan.
Ahhh aku tidak boleh seperti ini, aku harus menyelesaikan semuanya dan menyusuknya ke sana. Pasti dia punya alasan sehingga pergi dengan tiba-tiba. Batin Roberth mantap.
Pria itu akhirnya melangkah pergi dari taman itu dan kembali ke rumah. Ia sudah bertekad untuk menyelesaikan tanggungjawabnya yakni setelah operasi gadis itu selesai, ia akan menyusup sang kekasih.
.
.
"Eh sudah kembali sayang? mana calon menantu mama?" tanya sang mama saat melihat puteranya datang sendirian padahal ia sudah berjanji untuk membawa gadisnya ke sana.
"Dia pergi ma" ucap Roberth lesu.
"Hah? pergi ke mana?" tanya mama kaget dengan ucapan sang Putera. Ia berpikir bahwa Maggie pergi meninggalkan puteranya.
"Dia kembali ke orang tuanya dan aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba mengambil keputusan seperti itu" jelas Roberth yang masih belum mengerti jalan pikiran sang kekasih yang pergi secara tiba-tiba.
"Mungkin dia rindu sama orang tuanya. Bersabarlah dia pasti kembali" ucap mama menenangkan sang Putera.
"Aku juga berharap begitu ma" balas Roberth.
"Oke, kalau begitu mari temani mama makan siang" ajak mama dan dituruti oleh sang Putera.
*****
Seperti kesepakatan antara Maggie dan sang opa untuk menjalani masa kurungan selama satu bulan, gadis itu akhirnya harus memulainya agar lebih cepat selesai.
"Kamu sudah siap" tanya opa Gaston.
"Siap" jawab Maggie tegas.
"Baiklah" ucap opa Gaston yang langsung pergi dan diikuti oleh Maggie dari belakangnya.
Pria tua itu membawanya ke salah satu ruangan bernuansa abu-abu yang cukup besar lengkap dengan semua senjata tajam dengan berbagai bentuk dan model.
"Di sini kamu bisa memulai apapun yang kamu inginkan. Setidaknya selama sebulan nanti kamu bisa keluar dengan membawa sesuatu yang bermanfaat" ucap pria itu dan langsung pergi meninggalkan cucunya. Ruang itu pun secara otomatis kembali tertutup.
"Angker juga ruangan ini" gumam Maggie sambil melihat-lihat sekeliling ruangan tersebut.
Gadis itu mengelilingi ruangan itu dan menyentuh setiap senjata tajam itu satu persatu. Tidak ada rasa takut atau aneh karena ia sudah cukup bersahabat dengan benda-benda itu sejak usianya masih balita.
"Ini adalah kesempatan ku untuk melindungi keluargaku. Aku tahu sebagai keluarga terkaya tentu tidak terlepas dari musuh-musuh dan para penjilat, jadi aku harus melindungi daddy dan mommy juga semua keluargaku di dunia bisnis" gumamnya lagi penuh tekat.
Gadis itu akhirnya memulai dengan aktivitasnya yakni berlatih dan bersemedi.
****
Alfa telah kembali ke mansion Smith. Walaupun tidak tega dengan puterinya yang harus menerima tanggungjawab yang cukup berat itu namun mau tidak mau ia harus mendukungnya karena itu atas kemauan puterinya.
Dengan berat hati ia melangkah masuk ke dalam mansion dengan banyak pikiran. Apa yang harus ia sampaikan kepada sang isteri mengenai puterinya.
"Sayang, abang sama ade belum pulang ya?" tanya Alfa saat melihat sang isteri lagi bersantai di ruang keluarga bersama ayah dan ibunya.
"Eh mas, sudah pulang? abang sama ade lagi di kamar mas" jawab Mey sambil berdiri menyambut sang suami dengan mengecuo punggung tangannya dan dibalas dengan satu kecupan di kening sang isteri.
"Oh, ayah, ibu" sapa Alfa yang ikut nimbrung bersama keluarga isterinya.
"Bagaimana nak?" tanya ayah Devid. Dari pertanyaannya saja Alfa sudah tahu bahwa itu mengenai puterinya. Walaupun tuan Devid bukan seorang yang bergabung di dunia gelap namun sebagai seorang pebisnis ia juga punya pelindung yang demikian sehingga tidak salah jika mansion itu juga punya satu ruangan khusus sebagai tempat menyimpan alat-ala keramat tersebut.
"Seperti yang ada di pikiran ayah. Dia sendiri bersedia menerimanya dan aku tidak bisa membatasi keinginannya" jelas Alfa jujur.
"Kita tidak bisa melarangnya nak, kamu tahu? puterinya memang sudah punya kemampuan dalam hal itu sejak masih kecil. Kaka pasti bisa menjaga dirinya, dan opanya tentu tidak melepas tangan dan membiarkannya yang masih awak ini untuk melakukan semuanya sendiri.
" Jadi maksud ayah dan mas Alfa, kaka sudah menerima jabatan sebagai di untuk Marah Salvatrucha?" tanya Mey dengan nada panik.
"Sabar sayang. Aku juga tidak bisa membatasi keinginannya. Aku tiba setelah acara pelantikan berakhir" jelas Alfa yang tahu jalan pikiran isterinya.
"Mas, aku takut puterinya kita kenapa-kenapa. Kamu tahukan? bagaimana sadisnya ada dalam lingkaran dunia gelap? dia Puteri kita satu-satunya, dengan dia diangkat menjadi ketua, itu artinya tugasnya semakin berat dan satu hal yang aku takuti adalah dia akan punya banyak musuh" ucap Mey sambil membayangkan nasib puterinya, tanpa sadar ia meneteskan air mata.
"Sayang. Kaka diangkat sebagai ketua namun secara tertutup jadi orang luar tidak akan tahu. Dan soal musuh, baik keluarga kita maupun ayah dan papa mama, secara tidak sadar kita juga punya banyak musuh di dunia bisnis. Tidak ada seorang pebisnis ternama yang tidak punya musuh, jika bukan dari luar tentu dari dalam. Akan ada orang-orang yang tidak puas dengan kejayaan kita dan berusaha menjatuhkan kita cuma kita belum tahu siapa orangnya dan belum saatnya mereka bertindak secara terang-terangan". jelas Alfa memberi pengertian kepada sang isteri karena Mey bahkan tidak sadar jika di kantornya ada yang berusaha menjatuhkannya. Ia tidak pernah tahu karena Riko tidak pernah memberitahukan kepadanya tentang orang-orang yang mencurigakan. Ia hanya melaporkan semua itu kepada mama Ratna, Alfa dan ayah Devid. Mereka juga tidak memberi tahu kan kepada Mey agar wanita itu tetap nyaman bekerja sambil menunggu kedua puteranya menggantikannya jika sudah tiba waktunya.
Perbincangan pun berakhir. Alfa menuntjn isterinya menuju kamar karena sejak pulang ia belum masuk kamar. Begitu juga ayah Devid dan isterinya.
*****
"Bang" panggil Daffi saat keduanya sedang asyik dengan ponsel mereka masing-masing.
"Hmmm" jawab Daffa hanya dengan berdaheman.
"Abang pernah merasa nggak?" tanya Daffi membuat sang abang mengerutkan keningnya saking tidak mengerti arah pembicaraan sang adik.
"Apanya?" tanya Daffa penasaran.
"Nggak jadi deh, takut moodnya abang rusak" jawab Daffi pada akhirnya membuat sang abang naik darah.
"Heh kamu itu kalau mau bicara yang jelas" sungutnya sambil melempar bantal ke arah sang adik.
"Pulang sana, ke kamarmu" usirnya lagi namun yang diusir malas tahu tanpa beban.
BERSAMBUNG