Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
78. Reno dan Novi



Novi dan Maggie melangkah keluar dengan rambut gadi itu masih terlihat basah karena tidak sempat mengeringkannya karena Maggie yang terus bersuara menceramahinya karena lambat bersiap-siap.


"Om Leno, nih ka Novinya" seru gadis kecil itu yang sudah menggandeng Novi menuju ke arah mereka


"Terima kasih ya de" ucap Reno sambil tersenyum.


"Telima kasihnya diuangkan saja" ucap Maggie sambil bercakak pinggang.


"Hah? memangnya mom Mey sama opa Devid terus daddy Alfa kekurangan uang?" ucap Reno dengan puteri dari atasan sekalian sudah dianggap saudara itu.


"Yee om Leno mah pelit, ade kan sudah cape jemput ka Novi masa tidak di bayal" ucapnya malas sambil naik ke atas sofa dan duduk di aamping opanya.


"Oke, om Reno bawa apa sebentar pulang" ucap Reno kemudian.


"Nah gitu dong. Ade mau ....." ucapnya mulai menguraikan permintaannya satu persatu hampir sekitar lima jenis makanan enak yang dia pesan.


Reno memilih menggandeng tangan Novi dan membawanya pergi.


"Terima kasih ayah sudah ijinin" teriak Reno yang sudah hampir menjangkau pintu keluar.


"Jangan kemalaman" ucap ayah yang ikutan berteriak.


"Iya ayah" jawab Reno sebelum mereka hilang di balik pintu.


Keduanya akhirnya pergi meninggalkan mansion Smit.


Reno yang sejak tadi melihat Novi hanya diam saja bahkan wajahnya yang menampilkan raut wajah seperti tidak bahagia jalan bersamanya menjadi sedikit bersalah karena tidak bertanya sebelum pergi.


"Vi, apa kamu lelah? jika kamu tidak ingin keluar kita bisa pulang" ucap Reno dengan nada seperti kecewa.


"Aku tidak apa-apa ka" jawab Novi apa adanya.


"Tapi sepertinya kamu tidak bahagia jalan denganku, ada apa Vi?" tanya Reno.


"Maaf, aku..."ucap Novi tertahan.


Reno memilih memelankan mobilnya dan akhirnya berhenti di dekat sebuah taman. ia melepaskan sabletnya dan menghadap ke arah Novi.


"Aku apa hmmm" tanya Reno membuat Novi semakin tidak berkutik. Pria turunan bule Indonesia ini mampu menciutkan gadis kecil yang ada di dekatnya itu.


"Kenapa diam hmmm, jika aku melakukan keaalahan beri tahu aku" ucap pria itu selembut mungkin.


"Aku tidak tahu" ucapnya yang tak mampu mengutarakan isi hatinya.


Reno berjongkak tepat di depan Novi dan melepaskan juga sabletnya, Novi yang tidak pernah sedekat ini dengan pria manapun kecuali Reno, merasa sangat gugup.


"Bicaralah aku akan mendengarkanmu" ucap Reno lagi ingin mendengar suara cerewet Novi seperti biasa.


"Kita tidak punya hubungan apa-apa lalu aku harus bicara apa?" ucap Novi pada akhirnya.


Deg


Reno baru menyadari jika selama ini ia belum memberi status yang pasti kepada Novi.


"Maaf. Aku terlalu sibuk selama ini sampai melupakan hal sepenting itu." ucap Reno penuh rasa beraalah.


"Bukannya kamu sudah punya cewek lain?" tanya Novi polos membuat Reno terkekeh dan menakup kedua pipinya.


"Apa kamu melihat tampangku ini seorang playboy?" tanya Reno


"Tapi kamu tidak peduli denganku sejak kamu mengambil ciuman pertamaku" ucap Mey jujur sambil menundukan kepalanya dan matanya juga sudah berkaca-kaca.


"Aku sudah jatuh hati padamu sejak dulu, hanya kesibukanlah membuatku tidak punya kesempatan mengungkapkan isi hatiku." ucap Reno sambil mengusap air mata Novi yang sudah menetes dengan ibu jarinya.


"Maukah kamu menjadi wanitaku? menjadi belahan jiwaku yang terus mendampingiku?" ucap Reno dengan terus menatap dalam ke arah Novi tanpa berkedip.


Novi yang melihat langsung manik mata Reno yang yang sangat serius dan penuh cinta kepadanya menjadi malu dan menunduk. Gadis itu langsung menabrakkan kepalanya tepat di dada bidang Reno untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat merah.


Dengan sayang Reno mendekap gadis itu dalam pelukannya. Pria itu tersenyum bahagia karena ternyata membuat wanitanya bahagia hanya dengan hal sederhana apalagi wanita butuh kepastian.


Reno lega setelah mengungkapkan perasaannya pada sang pujaan hatinya.


"Hei, kamu belum menjawabku." ucap Reno sambil menatap ke arah Novi yang masih betah dalam pelukannya itu. Gadis itu akhirnya Mendongak dan menatap pria yang tengah menatapnya juga. Kedua mata mereka saling terkunci dan tanpa suara yang keluar hanya anggukan kepala gadis itu mewakili jawabannya sambil tersenyum.


Reno yang senang dengan jawaban sang gadis yang sudah sah menjadi kekasihnya itu langsung menempelkan kedua benda kenyal itu.


Reno hanya menempel kedua bibir mereka dengan lembut. Saat melihat gadisnya itu memejamkan matanya, Reno mulai menggerakkan sapuan bibirnya perlahan dengan terus mengawasi wajah gadisnya itu yang masih seperti orang ketiduran.


Ciuman mereka semakin dalam dan intim. Reno juga semakin memperdalam lumatannya hingga entah sejak kapan Novi sudah berada di atas pangkuannya dan mengalungkan kedua tangannya di leher Reno.


Novi melenguh dan membuat mulutnya sedikit terbuka dan itu memudahkan Reno untuk mengakses isi dalamnya dengan sapuan lidahnya.


Reno yang tidak ingin kebablasan memilih mengakhiri permainannya dan menutupnya dengan satu kecupan di kening wanitanya.


"Maaf sayang," ucapnya sambil mendongak menatap wajah Novi yang lebih tinggi darinya karena masih berada di atas pangkuannya itu.


Novi tidak bergeming namun wajahnya kembali memerah dan memilih menyembunyikannya di pundak sang kekasih.


"Tetaplah di sampingku sayang. Aku sangat mencintaimu" ucap Reno sambil mengusap punggung sang kekasih.


"Ayo kita cari pesanan ade sebelum semua tempat pada tutup." ucap Reno sambil menyalahkan mobilnya.


"Hah, aku belum turun" ucap Novi kalang kabut.


"Hehehe tidak apa-apa jika kamu betah duduk di sini" ucap Reno membuat Novi kembali malu.


"Ka, tunggu aku turun" ucapnya panik namun Reno tidak memberi cela, kedua tangan pria itu sudah mengapitnya.


"Ka, aku tidak mau mati sebelum ada keturunan ya?" ucap Novi membuat Reno langsung tertawa.


"Aku juga belum mau mati sayang. Kita harus ada baby dulu, masa iya kita tidak menikmati enaknya dulu" ledek Reno sambil membantu wanitanya berpindah ke tempatnya semula.


Keduanya akhirnya mengakhiri sayang-sayangan mereka dan mencari pesanan gadis keci itu sebelum singa betina kecil itu meruak lagi.


"Kapan bawa aku menemui orang tua kandungmu?" tanya Reno.


"Untuk apa?" tanya Novi heran.


"Ya minta restu dari mertua untuk menikahi anak gadisnyalah" ucap Reno dengan percaya diri sambil mengecup punggung tangan kekasihnya yang sejak tadi ia genggam.


"Hah? menikah? secepat itu?" ucap Novi kalang kabut.


"Jadi kamu pikir aku hanya bermain-main sama kamu sayang? aku serius untuk membangun bahtera rumah tangga denganmu sayang" ucap Reno serius.


"Makasih ka, aku pikir kamu lebih mementingkan kerja dari pada masa depan denganku" ucap Novi yang sudah akan menangis lagi dengan kesungguhan pria yang baru beberapa menit lalu jadi kelasihnya.


"Aku bekerja untuk isteri dan anak-anakku, lalu apa gunanya jika aku terus menunda-nundanya" ucap Reno yang benar-benar serius.


BERSAMBUNG