
"Kurang ajar, siapa kau gadis sialan? apa urusanmu dengan kami sehingga kaaau mengganggu kesenangan kami malam ini hah?" bentak salah satu pria yang mentraktir mereka malam ini.
"Hahahaha mengganggu kesenangan kalian? iya, itulah hobiku. Dan memang aku sengaja datang disaat seperti ini untuk melihat manusia-manusia yang tidak punya hati seperti kalian" jawab Maggie dengan nada mencibir.
"Oke baiklah, kau sendiri yang mengantarkan nyawamu untuk mati binasa di tanganku" ucap pria itu sambil menggulung lengan bajunya sebagai tanda pertarungan segera dimulai.
Acara baku hantam pun terjadi di ruangan itu dengan lawan yang tidak seimbang karena Maggie yang seorang diri harus berhadapan dengan beberapa orang sekaligus bahkan mereka semua berjumlah tujuh orang laki-laki yang berada dalam ruangan tersebut.
Suasana yang semakin memanas karena beberapa dari mereka yang sudah tumbang akibat tendangan gadis itu yang sulit dibaca karena gerakannnya seperti bayangan yang begitu lincah membuat pria yang menjadi ketua mereka itu sedikit segan dengan gadis yang menjadi lawan mereka.
Gadis-gadis sewaan mereka sudah gemetar dan histeris karena mereka hendak keluar namun semua pintu terkunci sehingga mau tidak mau mereka harus tetap berada di dalam untuk menyaksikan pertarungan tersebut.
Perkelahian terjedah saat pria yang adalah ketua mereka itu mengucapkan sesuatu kepada Maggie.
"Siapa kau sebenarnya? sebaiknya kamu pergi sebelum masa mudamu berakhir dengan sia-sia di tempat ini" ucap pria itu sambil mendkat kearah Maggie yang tengah berdiri sambil mengatur nafasnya akibat pertarungan tadi.
"Ka.." ucapan pria itu terputus saat bibir sisi kiri dan kanannya robek akitab benda tajam yang melekat di tangan kanan gadis itu dan entah sejak kapan ia mengayunkan benda itu. Pria itu tegang saat mulutnya sudah mengeluarkan darah segar.
"Tutup mulut busukmu itu dan jangan pernah berucap hal yang sembarangan. Kau pasti tahu kan? bahkan kau pasti masih ingat tiga puluhan tahun lalu dua anak kecil lebih tepatnya mereka adalah kembar yang hidupnya luntang lantung. Apa kau tahu apa penyebabnya?" ucap Maggie geram dan kembali memberi satu tendangan tepat di perut pria itu.
Teman-temannya kembali menyerang gadis itu dengan brutal bahkan Maggie sempat kewlahan menghadapi mereka tapi karena strateginya yang banyak mampu mengatasi mereka semua.
Keadaan semakin memanas dan tiba-tiba masuklah beberapa pria perkasa sehingga kesempataan para wanita sewaan itu berhasil keluar dari sana dengan cepat.
Salah seorang dari pria yang baru masuk itu langsung menodongkan pistolnya kearah Maggie sehingga membuat gadis itu berhenti namun tetap menatap mereka dengan tatapan sinis.
"Cih, bisanya berlindung dibalik senjatanya" cibir Maggie membuat pria yang sedang menodongnya semakin emosi. Maggie sedikit berantakan karena ia sempat mendapat beberapa pukulan dari para lawan tapi sama sekali tidak mengurangi semangat bertarugnya.
tiga dua sa..tu
Maggie menghitung dalam hati dan tepat hitungan satu, lampu kembali padam dan gelap gulita kembali menutupi ruangan itu. Dalam waktu yang singkat, kira-kita dua menit lampu kembali menyala dan tinggal beberapa orang saja yang berdiri sedangkan yang lainnya sudah tumbang dengan keadaan yang kritis bahkan ada yang sudah tidak bernyawa.
Empat orang pria yang yang tersisa itu sangat ketakutan apalagi gadis itu tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka.
""Sial, siapa dia? kenapa dia membunuh orang tanpa jejak?" ucap seorang pria lagi dengan susah payah karena tadi ia mendapat cukup banyak tendangan dari gadis itu.
*****
Roberth tersenyum membayangkan tingkah lucu kagis itu waktu kecil namun wajahnya kembali murung saat mengingat kembali tingkah Maggie saat ia membuka kedua tangannya untuk menyambut pelukan gadis itu namun semuanya hanya harapan belaka.
"Aku tidak boleh nyerah, aku harus menanyakan semua saat dia masuk kuliah. Pantas semua mimpiku seolah berkaitan" ucapnya lagi sambil mengingat kembali mimpinya yang lalu.
Roberth baru menutup matanya hampir subuh karena terlalu banyak pikiran tentang gadis masa kecilnya.
*****
"Sial, seharusnya aku jangan mengulur-ulur waktu untuk membunuh para kaparat itu. Tapi tak apalah, itu seharusnya tugas om Riko sama om Roky, kan mereka yang dibuat menderita kenapa aku yang harus bernafsu membunuh para bajingan itu?" gerutu Maggie karena keinginannya tidak terpenuhi walaupun sudah lima orang yang nyawanya melayang karenanya.
"Aku hanya seorang monster yang menghilangkan banyak nyawa, apakah aku masih pantas untuknya" gumam Maggie sambil menatap kedua telapak tangannya dengan raut wajah yang sedih.
"Kamu tidak boleh jatuh cinta kaka, hidupmu hanya untuk menyelesaikan misi keluargamu. Tapi aku juga ingin hidup seperti orang lain yang merasakan cinta dan mencintai seperti kebanyakan orang. Mereka terlihat bahagia walaupun dengan cara yang sederhana. Ternyata harta tidak menjamin kebahagiaan seseorang" gumam gadis itu dengan nada sedih.
Bayangan kebahagiaan yang murni dimasa kecil saat pergi dari rumah daddy. Mereka hidup begitu bahagia walaupun sangat pas-pasan tapi ia dapat merasakan bagaimana bisa berteman dengan anak-anak tetangga dan hidup apa adanya.
Maggi pun baru memejamkan mata saat hampir subuh. Kejadian semalam benar-benar menguras emosi dan tenanga.
Pagi-pagi sekali, Mey sudah menelepon sang puteri untuk memastikan apakah dia baik-baik saja atau tidak karena memang dari semalam wanita itu jga gelisah memikirkan puterinya yang pergi dari villa pas tengah malam.
"Halo mom" jawb Maggie saat telepon sudah tersambung. Gadis itu masih mengantuk sehingga suara seraknya masih sangat kentara.
"Sudah sampai nak? tadi mommy bangun kaka sudah pergi" ucap Mey pura-pura tidak tahu jika puterinya pergi dari semalam.
"Iya mom, kaka pergi masih subuh dan sudah sampai. Kaka masih ngantuk jadi tidur sedikit lagi ya mom?" jawab Maggie.
"Iya sayang" Mey lega saat mendengar puterinya baik-baik saja. Ia membiaran puterinya tidur sedikit lebih lama karena sebentar lagi ia haru ke kampus.
BERSAMBUNG