
Setelah proses operasi itu berjalan dengan baik, hari ini Roberth memutuskan untuk kembali ke desa di mana ia dan timnya melakukan kegiatan beberapa hari kemarin.
Roberth kembali bersama sang sopirnya untuk mencari keluarga dari korban yang mereka tabrak.
Sepanjang perjalanan, Roberth tidak fokus karena pikirannya hanya tertuju pada sang kekasih yang bahkan belum bisa dihubungi.
Kamu kenapa sih sayang sampai ponselmu saja tidak bisa dihubungi? aku salah apa sehingga kamu menghindari aku?
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu pikiran pria itu.
Setelah memakan waktu beberapa jam, mereka akhirnya tiba di desa tersebut yang sudah mulai ada aktifitas setelah musiba kemarin.
"Tuan muda, kita sudah sampai di desa yang kita tuju" ucap sang sopir menyadarkan tuan mudanya yang masih larut dalam hayalannya.
"Mmm baiklah pak, tapi kita tidak tahu identitasnya jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya balik Roberth kepada sang sopir karena mereka bahkan tidak tahu siapa nama gadis itu.
"Sebaiknya tuan muda menelepin salah satu yang menjaga gadis itu untuk mengambil gambarnya sebagai petunjuk untuk kitaencari tahu tentangnya" jelas sang sopir mengutarakan idehya.
"Betul sekali" jawab Roberth sambil merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi salah satu anak buahnya untuk memotret gadis yang masih nyaman di alam bawa sadarnya.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya sebuah pesan bergambar masuk ke ponselnya. Mereka akhirnya turun dari mobil dan mulai bertanya kepada beberapa orang di sana yang sedang beraktifitas siang itu.
"Bu... maaf numpang tanya, apa ibu kenal gadis yang ini ya?" tanya Roberth sambil menunjukkan ponsel yang berisi potert gadis itu.
"Maaf Pak, aku tidak mengenalinya" jawab ibu itu sopan.
"Oh ya, Terima kasih bu" ucap Roberth dan akhirnya mereka bertanya lagi kepada beberapa orang yang mereka temui tapi tidak satupun yang mengenalnya. Entah karena potretnya yang kurang jelas ataukah memang tidak ada yang mengenali gadis itu.
Mereka kembali ke mobil dan melakukan dengan pelan-pelan hingga tiba di sebuah pangkalan ojek.
Roberth kembali turun dan bertanya.
"Bang, boleh tanya? apa ada dari kalian yang mengenal gadis ini?" tanya Roberth kepada beberapa pria yang sedang bersantai dengan motor mereka masing-masing.
"Oh inikan mbak Asry. Iya Pak dia anak kampung sebelah" jawab salah seorang pemuda sambil menunjukkan ke arah kampung sebelah dimana gadis itu tinggal.
"Thanks ya, siapa namanya tadi bang?" tanya Roberth.
"Mbak Asry pak" jawab anak muda itu lagi.
Roberth akhirnya kembali ke mobil dan menyuruh sang sopir untuk melakukan mobil ke kampung sebelah.
Sedangkan di pangkalan terjadilah gosip dari para anak muda itu.
"Tadi itukan pria yang beberapa hari ke sini untuk membantu warga yang terkenal musibah" ucap salah satu yang berkulit Sawomatang.
"Iya betul. Apa dia punya hubungan sama mbak Asry ya, secara mbak Asry kan bunga desa kita, gadis tercantik di desa kita ini" ucap salah seorang lagi yang bekasi tinggi.
"Bukannya sejak musibah itu, mbak Asry nggak kelihatan sampai sekarang ya?" ucap yang lain lagi.
Mereka bahkan tidak membahas soal orang yang tadi terbaring dengan banyak alat rumah sakit yang menempel di tubuhnya.
Roberth dan sooirnya telah tiba di kampung tetangga sesuai arahan para anak muda tadi.
Saat melihat seperti orang kaya yang masuk kampung itu, seorang ibu mendekat dan bertanya maksud kedatangan orang itu.
"Selamat siang Pak, sedang mencari siapa?" tanya ibu tersebut.
"Oh iya bu, mau bertanya, apa di kampung ini ada yang bernama Asry ya?" tanya Roberth langsung pada intinya.
"Oh nak Asry, iya Pak dia anak kampung sini tapi sudah beberapa hari ini orangnya tidak kelihatan padahal biasanya selalu menyiram bunga pagi sore atau mengambil air di kampung sebelah" jelas ibu itu sedikit mencurhat.
"Apa dia punya orang tua?" tanya Roberth.
"Orang tuanya merantau dan dia tinggal sendirian bersma neneknya yang sudah tua" jelas ibu itu lagi.
"Apa saya boleh tahu letak rumahnya di mana?" tanya Roberth
"Oh itu rumahnya pak, neneknya ada ko?" jawab ibu itu lagi sambil menunjukkan ke sebuah rumah sederhana yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Baiklah, Terima kasih bu" ucap Roberth sopan dan memberi kode untuk soalnya agar menuju ke rumah tersebut sedangkan ia hanya berjalan karena letaknya rumah bahkan tidak sampai tiga puluh meter jauhnya.
Setibanya di rumah itu, Roberth dan sang sopir berdiri tepat di pintu rumah itu lalu sooirnya itu mengetuk pintu berulang-ulang hingga beberapa saat kemudian pintu terbuka dan tampaklah sosok seorang wanita tua yang usianya sekitar 70-an tahun.
"Cari siapa nak?" tanya wanita tua itu dengan suara serak ala nenek-nenek.
"Nenek sendirian aja?" tanya Roberth basa basi dan masih berdiri di sana. Maklumlah si nenek sudah pikun sampai lupa mengajak tamu itu masuk.
"Iya, nenek sendirian saja. Cucu nenek sudah beberapa hari belum kembali, nenek sedang mencarinya" jawab wanita tua itu dengan mata berkaca-kaca.
"Oh iya nek, maaf aku hanya mampir karena diminta oleh cucu nenek untuk memberikan ini kepada nenek. Katanya jangan sedih karena dia sudah bekerja di kota lebih tepatnya di rumahku" jelas Roberth sambil menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat muda yang berisi uang tunai yang cukup banyak yang baru dia ambil dari balik jasnya dan entah sejak kapan ia siapkan itu semua.
Sang sopir melongo melihat tindakan sang tuan muda yang secara spontan itu. Padahal tujuan mereka kemari adalah memberitahukan kepada keluarga soal keadaan gadis itu tapi semuanya berubah sesuai drama sang tuan muda.
"Anak itu, kenapa jalan saja tidak pamit?" gumam nenek itu yang tidak rela cucunya bekerja, namun masih bisa di dengar oleh Roberth.
"Begini nek, sebenarnya dia mau pamit tapi takutnya nenek tidak mengijinkan. Mungkin ada yang mau nenek pesan biar saya sampaikan" ucap Roberth.
"Tolong beritahu saja untuk berhati-hati dan kalau ada sempat bisa menjenguk nenek sesekali" ucap wanita tua itu penuh harap.
"Baiklah nek, akan saya sampaikan. pakailah uang itu untuk kebutuhan nenek, itu yang Asry pesan. kalau begitu kami permisi" pamit Roberth dan mereka pun benar-benar pergi dari sana. Nenek itu hanya melihat mereka sampai mobil itu menghilang.
Di dalam mobil, Roberth masih kepikiran dengan keadaan nenek tua itu. Sampai ia fikulejutkan oleh pertanyaan sang sopir.
"Tuan muda, kenapa tadi tidak memberitahukan yang sebenarnya?" tanya sopir itu.
"Aku tidak tega melihat keadaan nenek itu, apa jadinya kalau dia mengetahui keadaan cucunya yang bahkan belum siuman" jawab Roberth.
BERSAMBUNG