
"Ade mau tidul cama daddy, cetaliii aja. Bica tan daddy? Ade mau dipeluc daddy malam ini" ucap gadis kecil itu memohon sambil menangis.
Alfa yang serba salah, bingung mau membujuk puterinya seperti apa karena tidak mungkin ia tidur di rumah mantan isterinya.
Alfa hanya diam sambil memangku puteri kecilnya dan mengusap kepalanya. Gadis kecil itu terus menangis hingga perlahan suaranya mulai melemah dan akhirnya tertidur.
Alfa juga merasa teriris saat melihat anaknya yang tertidur dalam dekapannya dengan sesekali masih terdengar sesugukan walaupun gadis kecil itu sudah nyenyak
Keluarga Alfa baru bisa pulang saat gadis kecil itu sudah terlelap. Sejak tadi ketika mama Ratna berpamitan untuk pulang, Maggie malah tidak membiarkan daddynya ikut pulang hingga terjadilah drama tangis-menangis yang memakan waktu cukup lama.
Semalaman Alfa tidak dapat menutup matanya, keadaannya yang masih lemah tapi mengingat kembali sikap dingin mantan isterinya beberapa saat lalu ketika merek berbincang dan tangisan anaknya membuat Alfa semakin terpuruk.
Aku pantas menerima semuanya, karena ini belum seberapa ketika kamu berjuang melahirkan puteri kita, mendidiknya dan mbesarkannya tanpa ada aku di sampingmu. Maaf, mungkin harapan untuk mendapatkanmu kembali sangat tipis tapi aku cukup bahagia dan berterima kasih karena kamu masih memberi kesempatan kepadaku untuk menemui anak kita. Batin Alfa
Malam semakin larut namun mata pria itu sama sekali tidak terpejam hingga hampir subuh.
******
Di sisi lain
Meypun demikian. Tadi tidak bisa memejamkan matanya, ia hanya duduk dan bersandar di kepala tempat tidur sambil menatap hadis kecilnya yang sudah terlelap sejak tadi. Ada rasa kasihan pada anaknya yang terus memohon pada daddynya untuk semalam saja tidur dan memeluknya, tapi apa daya kehidupan mereka sudah berubah sekarang.
Maafkan mommy sayang, ini pasti sangat berat buat kamu yang masih sangat kecil tapi sudah harus menanggung beban hidup yang sangat berat. Karena keegoisab kami membuat kamu jadi korbannya. Batin Mey
Mey bingung akan hidupnya setelah kembali terjalin dengan Alfa saat ini, memang berat yang dia rasakan namun ia berusaha adil untuk puteri kecilnya.
Sejak tadi perbincangannya dengan Alfa, Mey merasa bahwa ia adalah orang yang paling egois karena pengorbanan Alfa pada puterinya dia anggap sesuatu yang tidak berpengaruh dalam hidupnya.
Tidak semudah itu mas. Aku lebih menderita selama ini, dan tidak segampang itu kamu bisa masuk lagi ke dalan kehidupanku. Aku takut kamu hanya melakukan ini semua demi Maggie karena kamu sudah tahu anak yang dilahirkan isterimu itu bukan anak kandungmu. Aku tidak mau kamu memanfaatkan lagi aku dan anakku demi kepentinganmu. Cukup kami kecewa sekali ini saja dan jangan untuk yang kedua. Mey sampai meneskan air matanya di tengah malam.
********
Pagi kembali menyapa kota itu, dan membangunkan satu keluarga yang ada di apartemen itu kecuali si kecil Maggie yang masih berdamai dengan mimpinya walaupun Mey sudah membuka gorden dan sinar matahari menerobos langsung ke dalam kamar itu.
Hari ini merupakan hari terakhir keluarga Smith berada di London karena esok hari mereka harus pulang ke Australia karena banyak pekerjaan yangbtelah menunggu mereka di sana khususnya Mey.
Ayah Devid ingin mengajak keluarganya menghabiskan waktu mereka hari ini dengan berjalan-jalan menikmati kota London.
"Ade.... mau ikut atau tidak? kita mau ke pantai loh?" ucap Mey saat membangunkan puterinya.
"Akhhh mommy nebelin" ucap Maggie yang merasa tidurnya terganggu.
"Ya sudah, ade tinggal, kita semua akan ke pantai" ucap Mey sambil melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Gadis kecil itu kembali tertidur dengan memeluk boneka pandanya yang semalam jadi hadiah dari oma Ratna.
Mey yang sudah selesai dengan ritualnya di dalam kamar mandi dan keluar dengan sudah rapi hanya bisa menggeleng kepalanya melihat puteri kecilnya yang sama sekali malas untuk bangun pagi ini.
Mey melangkah keluar dari kamar dan mendapati semua yang sudah rapi dan duduk menunggunya dan Maggie untuk sarapan pagi.
"Malas bangun" jawab Mey singkat
"Akhhh anak kecil itu, seperti banyak kerjaan saja makanya malas bangun" ucap Novi gemas
"Ayo, kita sarapan saja sambil menunggu tuan putri bangun" putus ayah Devid.
Merka semua akhirnya mulai dengan acara sarapan paginya. Saat sementara sarapan tiba-tiba munculah seorang gadis kecil dengan muka bantalnya dan masih setia memeluk boneka panda yang sama besar dengannya itu.
"Mommy nebelin, tenapa tida bangunin ade?" ucap Maggie sambil mendudukan bonekanya di salah satu kursi lalu ia juga duduk di salah satunya lagi di sebalah bonekanya.
"Bukannya sudah mommy kasih bangun?" ucap Mey sambil melirik tajam pada puterinya.
"Tadi butan tacih bangun tapi ganggu tidulna ade" ucap anak kecil itu santai.
Mey melototkan matanya karena ucapan gadis kecil ini membuafnya naik darah.
Oh Tuhan, cuma satu saja aku hampir gila dibuatnya. Bagaimana kalau dua atau lebih, aku bisa mati muda. Batin Mey geram karena tidak bisa menang jika berdebat dengan anaknya.
"Ade mau apa duduk di situ?" tanya Mey pada puterinya
"Ya matanlah, emang guna meja matan buat main bola?" ucap Maggie kembali membuat Mey kehabisan kata-kata.
"Tapi ade kan belum sikat gigi sayang???" ucap Mey gemas.
"Ade malac tembali te tamal" ucapnya yang tidak mau beranjak dari tempat duduk, akhirnya Mey yang mengalah kembali ke kamar mengambil perlengkapan gadis kecil itu untuk bisa menyikat giginya.
Mey melangkah pergi sambil menggerutu karena acara sarapannya diganggu oleh anaknya itu.
Beberapa saat kemudian Mey kembali dengan perlengkapan mandi puterinya.
"Nih tuan puteri" ucap Mey sambil memberikan sikat gigi kecil yang diatasnya sudah dibubuhkan dengan pasta gigi.
Anak kecil itu turun dengan tenang dari kursinya dan menuju ke wastafel yang ada di ruangan itu dan mulai dengan ritual sikat giginya.
"Momm... sudah bersih belum?" teriak Maggie sambil menunjukan giginya yang masih penuh busa.
"Kumur dulu nak" ucap Mey sambil kembali berdiri mendekati puterinya untuk membantunya kumur karena tubuhnya yang pendek tidak dapat menjangkau kran airnya.
Setelah membantu puterinya berkumur, mereka kembali ke meja makan dan seperti biasa, Mey melayani anaknya dengan mengambil makan dan lauk sesuai kemauan puterinya itu.
"Sebelum makan apa dulu de?" kebiasaan Mey setelah mengambil makan untuk puterinya maka dia akan mengingatkan untuk berdoa sebelum makan.
"Play dulu mom" ucap gadis kecil itu dan seperti biasa dia langsung katup tangan tutup mata dan berdoa.
Mereka akhirnya melanjutkan makan setelah melewati tingkah gadis kecil yang selalu ada-ada saja itu.
-Bersambung-