Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Hamil



Pagi-pagi sekali, Roberth sudah lebih dahulu bangun dan membasuh muka serta menggosok gigi kemudian keluar dan membenarkan selimut isterinya dan turun ke lantai dasar lebih tepatnya menuju ke dapur untuk menyiapkan permintaan sang isteri semalam.


"Tuan muda, mau dibuatkan apa?" tanya salah seorang art yang juga tengah sibuk di dapur.


"Tidak perlu bu, cukup tunjukkan kepadaku letak bahan-bahan yang aku butuhkan" jawab yang mulai dengan pertempuran di dapur demi isteri tercinta.


Dengan telaten pria itu mulai memasak dan sesekali melihat ponselnya untuk memastikan kandungan gizi yang sesuai. Jika benar saat ini isterinya tengah hamil maka semuanya akan dia perhatikan mulai dari makan minum dan istirahat.


Saat tengah asyik dengan kegiatannya, Mey pun masuk ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya seperti biasanya.


"Loh, kamu di sini nak?" tanya Mey heran karena menantunya bisa ada di dapur sepagi ini bahkan masih subuh.


"Maggie semalam minta dibuatkan bubur ayam mom" jelas Roberth.


"Kenapa tidak kasih tahu mommy atau minta bantuan sama bibi di sini?" ucap Mey.


"Tidak mom, dia minta aku yang buatkan untuknya" jelas Roberth lagi.


"Pasti kamu lelah, kan masih pagi jadi bisa sebentar kan?" ucap Mey sambil mulai ikut sibuk.


"Dia minta untuk dimakan tepat jam 6 pagi makanya aku bangun lebih awal untuk menyiapkan" jelas Roberth membuat mommy terharu.


"Terimakasih ya sayang, kamu sudah menjaga Puteri mommy dengan baik. Jangan sungkan jika kamu lelah ya?" ucap Mey kepada menantunya.


Aku bersyukur, Puteri ku mendapatkan suami yang bertanggungjawab. Perhatian, sayang dan siaga dalam hal apapun. Batin Mey sambil melihat gerakan menantunya yang cukup gesit. Keduanya masak sambil bertukar pikiran. Roberth banyak bertanya soal wanita hamil dan aturan-aturan yang harus dilakukan dan dihindari. Mey dengan senang hati mulai menjelaskan dan juga berbagi pengalaman perbedaan antara hamil Maggie dan juga si kembar.


Roberth banyak tahu dari mertuanya kalau isterinya sempat menderita waktu kecil dan bahkan masih dalam kandungan. Banyak keingjnan yang tidak terpenuhi dan hal itu membuat Roberth tidak mau isterinya melewatkan apa saja yang dia inginkan.


"Mom, aku bawa sarapan Maggie ke kamar dulu ya?" ucap Roberth yang sudah selesai masak dan sudah menyiapkan di atas nampan.


"Iya sayang, jangan lupa turun sarapan ya? mommy sama daddy tunggu" Pesan Mey.


"Iya mom" jawab Roberth yang pergi meninggalkan dapur dengan membawa pesanan sang isteri.


Kurang 20 menit Roberth membawa sarapan Maggie. Ia menyimpan di atas meja lalu membangunkan sang isteri.


"Sayang, ayo bangun.. sarapan yang kamu minta semalam sudah siap loh" ucap Roberth sambil merapikan rambut sayang isteri yang masih tidur pulas.


"Belum jam enam ka" gumamnya dalam tidurnya.


Dari mana dia tahu kalau belum jam 6? dia saja masih nyenyak? batin Roberth sambil menatap ke arah jam yang ada di atas nakas.


Roberth duduk di ujung tempat tidur sambil sesekali menatap ke arah sang isterinya yang masih sangat pulas. Pria itu benar-benar sudah tidak sabar untuk pergi ke dokter untuk memastikan apa yang menjadi terkaannya bersama kedua orang tua isterinya.


Kurang dia menit tepat jam enam, Maggie mulai menggeliat dan membuka matanya dengan sempurna.


"Ka mana bubur ayamnya?" tanya Maggie membuat Roberth melongo melihat waktu yang ada dengan kenyataan yang terjadi.


"Ko bengong sih mana bubur ayamnya?" ucapnya dengan nada yang mulai naik membuat Roberth langsung tersadar dan menarik meja yang terdapat sarapan isterinya itu mendekat ke arah ranjang.


"Belum gosok gigi sayang" ucap Roberth.


"Setelah makan ka, keburu lewat waktunya" hal itu membuat Roberth semakin merinding dengan kenyataan pagi ini.


Anak ajaib. Malas mandi tapi soal waktu dia tidak main-main. Batin Roberth tidak habis pikir.


Dalam waktu singkat, mangkuk yang berisi bubur ayam itu habis tidak tersisa.


"Suamiku pintar masak" ucap Maggie sambil mengusap perutnya yang sudah kenyang.


"Ka, aku mau mandi" ucap Maggie manja.


"Oke, aku siapkan air angat terlebih dahulu ya" ucap Roberth langsung melangkah masuk ke kamar mandi. Mumpung dia sendiri yang mau untuk mandi jadi secepatnya disiapkan keburu malasnya datang lagi.


"Sudah sayang. ayo mandi" ucap Roberth. Maggie masuk dan langsung menutup pintu dan menguncinya, Roberth yang hendak masuk membantu sang isteri terakhir hanya diam di depan pintu.


Beberapa saat kemudian Maggie keluar dengan menggunakan handuk jubahnya dan bersolek di depan cermin. Roberth memilih untuk masuk mandi karena ia kegerahan saat memasak tadi.


Setelah habis mandi dan memakai pakaian, Roberth mengajak isterinya turun ke bawah karena mungkin semua telah menunggunya di meja makan. Dengan membawa piring kosong bekas makan isterinya, ia menuntun Maggie turun ke pantai dasar, dan benar seperti apa yang dia pikirkan ternyata satu keluarga itu sudah berada di ruang makan dan sedang menunggunya.


"Selamat pagi semuanya" Ucap Roberth dan seorang Art mengambil alih nampan yang ia bawa dari kamar tadi.


"Selamat pagi" jawab semuanya serentak.


Roberth menarik kursi untuk isterinya duduk lalu ia pun menempati kursi kosong yang ada di samping sang isteri.


"Bagaiamana? apakah tidurnya nyaman sayang?" tanya mommy kepada puterinya.


"Nyaman mom, tapi badan kaka terasa remuk semuanya, padahal masih ngantuk" ucapnya manja.


"Nggak apa-apa sayang. Setelah ini temani mommy ke rumah sakit ya sayang?" ajak mommy.


"Hah? emang mommy sakit?" tanya Maggie terkejut.


"Nggak ko, mommy sehat, cuma mau kontrol aja biar semua normal" ucap Mey sedangkan Alfa dan Roberth dapat mengerti apa maksud wanita beranak tiga tersebut.


"Baiklah" jawab Maggie.


"Daddy sama Roberth mau ikut kan?" tanya Mey.


"Ya pasti dong mom, sekalian daddy juga kontrol, siapa tahu ada kolestrol atau gula mungkin? biar selalu terjaga kesehatan" jelas Alfa. Gelagat Alfa dan Mey dapat ditangkap oleh oma Ani apalagi melihat perubahan fisik cucunya yang lebih berisi.


Keluarga ini telah menyelesaikan sarapan pagi mereka, dan yang membuat Roberth semakin heran karena Maggie ikut sarapan lagi bersama mereka dan dengan layaknya ia makan tadi.


Mereka bersantai sejenak di ruang keluarga sedangkan si kembar berpamitan menuju ke kampus dan Alfa pun menelepon sang asisten untuk Menghendel pekerjaan hari ini karena ia ingin ikut melihat calon penerusnya nanti.


"Oke, bagaimana kalau kita jalan sekarang" ajak Alfa.


"Kamu tunggu sini ya sayang? biar aku yang ke atas untuk ambil" ucap Roberth yang lagsung kembali ke kamar dan mengambil tas kecil milik sang isteri dan juga handphone nya serta jaket untuk isterinya.


"Ayah, ibu, kami ke rumah sakit sebentar ya?" pamit Mey kepada kedua orang tuanya.


"Iya sayang, semoga pulang bawa kabar baik ya?" ucap Ibu Ani. Mey sempat terkejut namun kembali menormalkan perasaannya. Ia semakin yakin jika puterinya hamil karena wanita itu pasti tahu seperti waktu ia hamil Maggie wanita itulah yang mengetahuinya pertama kali.


Mereka berempat berangkat dengan Alfa yang kembali menyetir karena Roberth pasti lelah karena semalam tiba sudah larut lalu ditambah lagi harus bangun pagi menyiapkan permintaan sang isteri.


Sebelum berangkat tadi, Mey sudah lebih dahulu menghubungi salah satu dokter kandungan di rumah sakit yang akan mereka datangi dan dengan senang hati ia bersedia menunggu keluarga konglomerat tersebut.


Setibanya di rumah sakit, mereka langsung menuju ke ruangan yang sudah ditentukan oleh dokter tadi untuk melakukan pemeriksaan.


"Loh, ko kita ke ruangan kandungan sih?" tanya Maggie heran. Ia melangkah dengan ragu-ragu di samping sang mommy sedangkan dia pria selalu siaga di belakang mereka.


"Kita cek kandungan kaka terlebih dahulu. Kan kaka mau segera punya anak kan, siapa tahu ada masalah kandungan kan bisa diatasi dari sekarang" ucap Mey berusaha menjelaskan kepada puterinya.


"Hai dok, selamat pagi" ucap Mey begitu masuk dan bertemu dengan dokter yang tadi ia telepon.


"Selamat pagi juga tuan dan nyonya" jawab dokter Steven.


"Siapa yang mau diperiksa? nyonya atau nona muda?" tanya dokter.


"Puteriku dokter," jawab Mey.


"Silahkan naik ke atas ranjang nona" ucap Dokter dan Roberth langsung membantu sang isteri untuk nak sekalian berbaring.


"Maksudnya mau diperiksa kandungan untuk apa ya?" tanya Dokter.


"Begini dok, sudah beberapa hari puteriku mengalami gejala seperti wanita hamil, suka tidur, banyak makan, malas mandi" jelas Mey


Deg


Maggie baru menyadari perubahannya dan langsung berkaca-kaca sambil melihat ketiga orang yang ia sayangi itu. Ia takut mengecewakan mereka jika tebakan itu salah.


"Sudah kita hanya periksa, kalau belum ya tidak salah. Kitakan baru menikah sayang, jadi tidak harus langsung hamil tapi kalau diberikan ya kita bersyukur" jelas Roberth menenangkan kegelisahan sang isteri.


"Oke baiklah. Permisi ya!" ucap Dokter sambil menyibakkan pakaian bagian atasnya Maggie lalu mengoles gel dan mulai mengarahkan benda kecil yang menjadi petunjuk untuk melihat hasilnya.


Wajah sang dokter yang tadinya serius mulai tersenyum sambil terus menggerakan benda yang dipegang tadi di atas perut Maggie.


"Selamat ya tuan dan nyonya. Nona muda benaran hamil, ini janinnya yang sedang berkembang dan sangat sehat." jelas dokter sambil berhenti sejenak.


Deg


Maggie yang diberi kejutan bertubi-tubi itu langsung meneteskan air matanya, Roberth pun demikian. Dengan penuh kasih ia menciun kening isterinya. Keduanya merasa sperti mimpi diberi kepercayaan oleh Tuhan.


"Usianya satu bulan ya, kita akan Printout hasilnya ya?" ucap Dokter sambil menyimpan benda tadi dan mengambil tisu untuk membersihkan permukaan perut Maggie.


"Terima kasih ya sayang?" ucap Roberth sambil kembali memeluk isterinya yang masih duduk di atas ranjang rumah sakit tersebut.


"Mom, dad, kaka sudah menjadi seorang ibu" ucap Maggie dengan suara bergetar.


"Iya sayang. Selamat ya? daddy sangat, sangat bersyukur kalau kalian tidak menunda untuk punya anak" ucap Alfa. Ia memang ingin punya cucu secepatnya karena usianya yang tidak muda lagi, berbeda dengan isterinya yang masih sangat muda dan kelihatan seperti adik kakak sama puterinya.


Maklumlah, waktu Maggie lahir, Alfa bahkan sudah berusia tiga puluh lebih tahun, sedangkan Mey baru belasan tahun.


"Dok, apa saja yang harus kami lakukan dan tidak boleh dilakukan?" tanya Roberth.


"Untuk wanita yang hamil muda, sebaiknya kegiatan yang melelahkan dihindari dulu. Rajin minum vitamin dan makan makanan yang bergizi. Nanti akan saya resep kan obatnya. Apakah ada keluhan lain?" jelas dokter.


"Mungkin hanya kelebihan tidur sama malas mandi kali ya, iya itu saja sih, kalau makan sih bertambah nafsu makannya" ucap Roberth.


"Baiklah, kalau kelebihan tidur itu wajar, hormon ibu hamil ya seperti itu dan akan berubah sewaktu-waktu" jelas dokter.


Mereka akhirnya pulang dengan perasaan yang bahagia.


"Apakah papa sama mamamu sudah mengetahuinya?" tanya Alfa.


"Belum dad, aku memastikan terlebih dahulu baru ingin menyampaikan kepada mereka" ucap Roberth saat mereka sudah ada di dalam mobil.


"Oke, nanti biar daddy yang kasih tahu" ucap Alfa membuat Mey memicingkan matanya.


"Iya dad." jawab Roberth.


Maggie sama sekali belum mengeluarkan sepatah katapun. Ia belum bisa berpikir jernih dengan apa yang dia alami saat ini. Ia juga terharu melihat suaminya yang begitu siaga, bahkan sejak mereka masih berada di Dubai tempat mereka berbulan madu.


"Kamu kenpa sayang?" tanya Roberth yang mengerti dengan keheningan isterinya sejak tadi. Pertanyaan Roberth mampu menarik perhatian kedua orang tua yang duduk di depan.


"Nggak ko sayang" jawabnya singkat.


"Apa yang membuatmu diam? apa kamu tidak senang dengan kehadirannya?" tanya Roberth yang langsung mendapat cubitan dari isterinya.


"Kamu ko ngomong gitu sih? aku hanya kaget aja ko aku yang hamil nggak tahu?" ucap Maggie membuat ketiga orang itu tersenyum.


"Iya, saat kaka mulai ada perubahan Roberth langsung telepon ke mommy makanya mommy sarankan untuk diperiksa setelah kalian sampai sini" jelas Mey membuat puterinya menatap sang suami dengan penuh harus karena pria itu mengikuti perkembangannya setiap hari.


"Thanks ya ka" ucap Maggie tulus.


"Iya sayang, kaka juga berterimakasih karena kamu sudah mau mengandung anakku" ucap Roberth yang semakin menguatkan rangkulannya.


"Anakku juga ka" protes Maggie.


"Iya sayang, anak kita" jawab Roberth. Kedua orang tuanya senang karena Puteri mereka mendapatkan suami yang sangat baik.


BERSAMBUNG