
Hari ini keluarga Smith dan menantu mereka Alfa kembali ke Indonesia selain untuk mengambil cincin bersejarah mereka, sekalian akan berkunjung ke makam seorang wanita yang sudah menjadi kenangan untuk seorang Devid Smith.
Seperti biasa mereka menggunakan jet pribadi keluarga Smith, karena hari ini papa Alberth dan mama Ratna juga harus terbang ke London, untuk papa menyelesaikan pekerjaannya sebelum kembali ke negara ini lagi agar mendampingi puteranya menikah untuk yang kedua kalinya dengan wanita yang sama.
“Mom, ade mau ketemu juga teman-teman ade ya” seru Maggie saat mereka semua berada di meja makan keluarga Smith.
“Memangnya ade punya teman di mana?” ucap Novi sengaja tidak tahu.
“Di pantailah” ucapnya santai.
“Ade juga mau ketemu oma Nul (Ibunya Novi)” lanjut Maggie membuat semua orang yang ada di meja makan hanya menjadi pendengar setia.
Keluarga itu akhirnya menyelesaikan acara makan dan bersiap pergi menuju bandara. Alfa adalah orang yang paling bahagia karena kali ini perjalanannya di termani orang-orang tercintanya. Pria itu bersyukur karena masih diberi kesempatan kedua oleh ayah meretuanya dan juga mantan isterinya untuk memperbaiki segala kesalahannya.
Perjalanan yang cukup lama itu tidak sama sekali membuat mereka jenuh dan cape, karena mereka hanya kesepian saat gadis kecil itu tertidur tapi setiap ia bangun pasti akan ramai di manapun mereka berada.
Setelah sekian lama perjalanan, akhirnya pesawat mereka mendarat juga. Hiro orang kepercayaan ayah Devid yang sudah stanby di sana untuk menjemput mereka dan juga orang-orang Alfa juga yang sudah ada di sana menanti mereka. seperti biasa Alfa dan calon keluarga kecilnya menggunakan satu mobil dan ayah bersama Novi ikut bersama Hiro.
Tujuan mereka yang pertama adalah mencari makan dulu di Restoran karena mereka cukup lelah jadi mereka hanya kembali untuk beristirahat.
Mereka akhirnya tiba di sebuah restoran yang cukup bagus menurut penilaian orang-orang karena masakannya yang enak, mereka akhirnya memilih untuk makan di sana. Maggie yang memang sangat kecapaian hanya makan sedikit dan kembali tertidur di pangkuan sang daddy.
Setelah menyelesaikan makan, mereka melanjutkan perjalanan menuju mansion keluarga Adipaty, ya sebenarnya ayah bersi keras untuk menginap di apartemennya namun karena paksaan Maggie akhirnya mereka semua datang ke mansion sang menantunya.
*****
“Bu Ani” ucap Mey yang baru kembali bertemu dengan ibu angkatnya itu.
“Nak, kamu sudah kembali sayang. Ibu sangat merindukan kalian” ucap bi Ani sambil memeluk puterinya itu dan menangis.
“Apa ini cucuku? ” ucap bi Ani sambil mengambil alih Maggie dari gendongan sang daddy. Gadis kecil itu yang merasa tidurnya diganggu menjadi tidak nyaman dan akhirnya bangun.
“Ayo masuk tuan” ucap bi Ani dengan masih tetap menggendong cucunya.
“Omaaa” teriak anak kecil yang baru sadar itu membuat semua orang terkejut dengan suara lengkingnya.
“Masih ingat oma sayang?” tanya bi Ani yang berpikir bahwa gadis kecil itu sudah melupakannya.
“Iyalah oma Ani yang selalu sama ade saat mommy masak, nyuci, mandi” jelasnya sambil menghitung jari tangannya membuat semua terkekeh kecuali Alfa yang setiap kali membahas masa lalu pasti dia adalah orang yang paling bersalah.
“Jangan tinggalin oma lagi ya?” ucap oma dengan mata berkaca-kaca.
“Tapikan ade mau tinggal sama daddy sama mommy” jawabnya polos. Bi Ani menatap ke arah kedua orang tua gadis itu dan mereka hanya tersenyum membalas rasa bingung wanita paruh baya tersebut.
“Ade dudu dulu ya, oma ambil minum dulu” ucap oma Ani yang diangguki gadis kecil itu dan berpindah tempat ke sofa.
“Berapa oma yang ade punya?” Tanya Novi.
“Ade punya empat oma, nanti kita akan berkunjung ke sana melihatnya.” Ucap Mey yang mengerti dengan perubahan raut wajah sang ayah.
“Siapa mom?” tanya Maggie bingung.
“Ibunya mommy. Oma Mery” ucap Mey menjelaskan.
“Memangnya oma Mely tinggal di mana? Kenapa opa tidak tinggal sama oma? Opa sama oma malahan kaya mommy sama daddy ya?” ucap Maggie polos dan membuat para orang tua salah tingkah.
“Oma sudah hidup sama Tuhan, jadi nanti kita hanya pergi untuk kunjung ke rumah oma tapi omanya nanti tidak keluar” jelas sang opa.
“Emang oma punya lumah sendili ya” tanya Maggie
“Iya oma punya rumah sendiri” ucap opa, singkat tidak mau memperpanjang nanti ribet.
“Yeee ade mau ke lumah oma Mely” ucapnya sambil bergoyang. Oma Ani yang sedang menghidangkan minum ikut tersenyum.
“Oma, boneka beluagnya ade masih ada kan?” tanya Maggie memastikan. Alfa salah tingkah karena sudah membuang barang-barang itu ke gudang karena marah waktu itu.
“Ada sayang, mau oma ambilkan?” ucap oma.
“Iya oma” ucap gadis kecil itu dengan semangat.
Bi Ani melangkah pergi untuk mengambil boneka tersebut di kamarnya yang selama ini ia simpan menjadi kenangan dari cucunya itu.
“Oma, ade ikut” ucap Maggie yang langsung berlari menysul sang oma, sedangkan Alfa semakin gelisah apa yang harus dia katakan kepada Mey soal barang-barang yang sudah dia suruh para pelayannya untuk memindahkannya ke gudang. Seharusnya ia menyuruh mereka menyimpannya kembali pada tempatnya saat ia berencana kembali dengan wanitanya dan anaknya itu. Alfa merasa sangat bersalah,
“Ayah istirahat dulu, pasti kelelahan” Ucap Mey, Alfa yang mengerti langsung memanggil para pelayan membawa koper Novi dan Ayah ke kamar tamu.
Ayah dan Novi yang sudah masuk ke kamar masing-masing, sekarang tinggal Alfa dan Mey.
“Mas aku bisa ke kamar untuk mengambil cincinnya?” ijin Mey, bagaimanapun sekarang dia adalah orang baru di rumah ini. Ucapan Mey membuat Alfa menegang. Namun Mey yang tidak tahu melangkah naik ke kamar yang dulu dia tempati bersama anaknya itu, Alfa panik dan ikut melangkah ke atas.
Mey tiba di kamar yang dulu dia tempati sudah sangat berubah, namun dengan percaya diri ia melangkah mendekati lemari yang dulu tempat mereka menyimpan pakaian mereka. Saat membuka lemari tersebut, Mey terpaku di depan lemari saat tidak mendapat apa-apa di sana. Tak terasa wanita itu meneteskan air mata.
“Mas, di mana semua barang-barang” ucap Mey lirih.
“Maaf” jawab Alfa rasa bersalah.
Mey kembali melangkah keluar dari kamar itu dengan diam, wanita itu seperti mayat hidup yang tidak mampu berbuat apa-apa. Wajahnya mendadak pucat setelah tahu kenyataan bahwa mereka bukan siapa-siapa lagi di rumah ini karena semua barang-barang mereka bahkan sudah dibuang. Pantas saja bi Ani membawa Maggie ke kamar pembantu untuk mengambil boneka anaknya.
“Maaf, maafkan aku” ucap Alfa yang sudah melingkarkan kedua tangannya di di pinggang ramping wanita itu agar jangan keluar dari kamar itu.
-BERSAMBUNG-