Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
36. Misi Mama



Dengan langkah gontai Alfa melangkah menuju kamar hotel tempat ia menginap namun ia kembali dikejutkan dengan sosok yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya, dengan senyum yang meremehkan sambil melipat kedua tangan di dadanya.


Alfa heran kenapa orang tersebut bisa ada di sana.


"Mama" ucap Alfa dengan suara bergetar


*****


"Bagaimana acaranya, lancar?" tanya mama mengejek


Alfa yang sudah menahan sesak di dada sejak tadi langsung tumpah di hadapan mamanya. Pria yang biasa terlihat dingin dan tegas itu tumbang dipelukan mama dan menangis sejadinya.


Mama sebenarnya merasa kasihan pada puteranya tapi mengingat keangkuhan selama ini yang selalu menantang dan berbicara kasar pada orang tuanya membuat mama ingin puteranya tahu rasa.


"Masuklah dulu, ada yang ingin mama beri tahu"ucap mama Ratna


Beberapa saat kemudian mereka melangkah masuk dan duduk di tempat tidur yang ada di dalam kamar hotel tersebut.


"Jadi mama sudah tahu semua sebelumnya?" tanya Alfa yang kembali berkaca-kaca


"Hmmm" jawab mama hanya dengan daheman


"Kenapa ma, kenapa mama tidak kasih tahu Alfa?" ucap pria itu merasa kecewa karena mama menyembunyikan rahasia sebesar itu.


"Apa penting berita tentang seorang babu buat kamu? Nina lebih di atas segalanya, jadi mama pikir wanita yang kamu sebut babu itu tidak penting untuk seorang Alfaro" ucap mama penuh penekanan yang kembali membuat puteranya meneteskan air mata


"Apa Alfa masih punya kesempatan ma?" tanya Alfa


"Alasan mama tidak kasih tahu soal mereka karena mama ingin kamu mengejarnya sebagai Meylani Larasaty bukan sebagi Meylani Larasaty Smith. Mama ingin kamu mencintai mereka apa adanya tapi kamu malah menantang jika Nina pilihan yang tepat buat kamu" ucap mama ikut meneteskan air mata


"Mama juga tahu, kamu pernah berlaku kasar kepadanya di butik waktu itu bahkan secara terang-terangan kamu membela Nina dan puteranya di depan Mey. Wanita mana yang kuat jika pria yang adalah daddy dari anaknya lebih membela anak lelaki lain dari pada anak kandungnya sendiri. Jangan pernah tanya soal kesempatan karena itu sulit untuk kamu dapatkan" lanjut mama mengeluarkan unek-uneknya


Alfa hanya menangis dalam diam. Mama membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa berkas dan memberikan kepada puteranya.


"Mama tahu kamu cerdas. Lakukan sesuai kecerdasanmu, esok pagi mama sudàh kembali ke London" ucap mama


Alfa menerima dengan diam, sambil menatap punggung mama yang sudah melangkah pergi ke kamarnya, karena mama juga menginap di hotel yang sama dengan puteranya.


Malam semakin larut, pria yang tengah menikmati sakit hati itu tak kunjung menutup mata. Semua kejadian di acara tadi kebali berputar di otaknya, membuat pria ini menangis dalam diam sambil meringkuk di tempat tidur hotel itu.


Pagi-pagi sekali, Alfa membersihkan diri lalu keluar dari hotel, karena hari ini weekend jadi dia ingin menghabiskan waktu di sana sebelum pulang ke Indonesia.


Alfa terus berjalan kaki hingga langkahnya terhenti di sebuah gedung yang menghadap ke taman dan terdapat sebuah bangku, di sanalah ia duduk sambil merenung nasibnya.


Dibagian yang tidak jauh dari sana, seorang wanita bersama adik angkat dan puterinya juga sementara tertawa lepas akibat kejahilan Novi membuat Maggie berontak dalam gendongan mommynya. Alfa yang sementara menunduk langsung mengangkat kepalanya saat mendengar suara cekikikan anak kecil itu, setelah melihat kearah tiga orang itu, perasaannya antara senang dan sedih karena puterinya saat ini sangat dekat dengannya tapi untuk menggapainya sangat tidak mungkin.


Alfa ikut tersenyum melihat dua orang yang dulu diabaikannya terlihat bahagia, seolah tidak ada beban dalam hidup mereka.






Setelah mereka hilang dari pandangannya, iapun melangkah pergi dari taman itu kembali ke hotel karena siang ini ia harus pulang ke Indonesia untuk menjalankan misi mamanya.


******


Alfa yang baru tiba di mansion langsung disambut hangat oleh isterinya.


"Sayang, kamu baru pulang?" ucap Nina manja pada suaminya


"Iya aku lelah" ucap Alfa tenang


"Tapi sayang kita harus bahas dulu soal perawatan putra kita" ucap Nina memohon


"Baiklah esok saja kita bicarakan karena aku baru pulang dari London mengambil berkas pengalihan harta dari orang tuaku" ucap Alfa menjelaskan


"Iya sayang. Apa perlu aku siapkan air hangatnya?" ucap Nina


"Tidak perlu, aku hanya ingin beristirahat"


Alfa langsung pergi begitu saja ke kamar dan membersihkan dirinya dan langsung beristirahat, meninggalkan Nina sendiri di ruang keluarga.


"Hmmm akhirnya warisan itu jatuh juga ke tangannya, ini akan memudahkan aku untuk mendapatkan semuanya" gumam Nina sambil tersenyum licik


"Aku harus berusaha lebih giat untuk mendapatkan warisannya"gumam Nina yang mulai bertekat untuk mendapatkan apa yang dia inginkan


*****


Alfa yang merasa isterinya sudah terlelap melangkah pergi dan masuk ke ruang kerjanya lalu menguci rapat pintunya, ia kembali memutar video puteri kecilnya saat akan pergi dari mansion ini.


"Beginikah rasa sakit yang seharusnya?" ucap Alfa sambil memegang dadanya


Alfa kembali mengambil berkas yang diberikan mamanya.


"Apa maksud semua ini?" gumam Alfa saat melihat berkas warisan harta dengan logo emas asli dan warisan itu atas nama Alfaro putra Adipaty. Alfa menyentuh logo emas itu ternyata tidak timbul disitulah dia tahu bahwa berkas itu hanya untuk sebuah jebakan.


Dirapikannya Map istimewah yang berisi berkas itu lalu menyimpannya ke dalam laci lemari tempat penyimpanan berkas-berkas penting dan sengaja tidak menguncinya.


Malam berlalu begitu cepat hingga pagi menjelang. Alfa bersiap dengan pakaian kantornya setelah itu ia keluar dengan buru-buru tanpa pamit dan tanpa sarapan juga.


Nina yang melihat suaminya pergi dengan buru-buru merasa heran dan hendak mengejarnya namun saat melewati ruang kerja suaminya, matanya melihat ruang kerja suaminya yang tidak tertutup rapat. Niat mengejar suami diurungkan, dan hanya memastikan suaminya untuk benar-benar pergi.


Setelah suaminya benar-benar pergi, Nina mulai menjalankan aksinya. Dia melihat keadaan sekitar agar jangan ada yang melihatnya masuk ke ruangan itu termasuk para pelayan di rumah itu.


Dirasa keadaan cukup aman, Nina masuk dengan cepat dan menutup pintu tersebut lalu mulai membongkar laci satu per satu.


Map demi map ia buka namun tidak menemukan apa-apa, matanya melirik kearah lemari yang ada di belakang kursi kerjanya dan dengan penasaran ia melangkah mendekati. Nina mencoba membuka lemari itu ternyata tidak terkunci.


(Hmmm rupanya keberuntungan lagi memihak padaku) batin Nina sambil melihat map-map istimewah yang berjejer di sana.


Satu per satu ia buka ternyata semua berisi berkas penting, hingga tangannya menyentuh sebuah map berwarna silver dan map itu yang paling bagus dari map yang lain. Nina hampir tidak percaya saat melihat isi map tersebut. Hatinya berbunga-bunga dan ia langsung menutup kembali lemari tadi dan dengan hati-hati ia membawa map itu pergi dari ruangan tersebut.


-Bersambung-