ARLINO

ARLINO
Episode 97



Akhirnya mereka pun telah sampai di rumah Ana.


"Na, bangun" ucap Lino sambil menepuk tangan Ana.


Lalu Ana pun langsung membuka matanya.


"Udah sampe ya, No?" tanya Ana.


"Iya, udah" ucap Lino.


Lalu Lino pun segera mendekat kearah Ana.


Pada saat wajah Lino mendekat kearah wajah Ana, Ana pun tidak menutup matanya karena ia tahu bahwa Lino hanya mau melepaskan seatbelt.


Lalu wajah Lino pun semakin dekat kearah wajah Ana.


Chup


Lino pun mencium Ana.


Sontak tubuh Ana pun jadi mematung karena Lino menciumnya.


Setelah itu, Lino pun segera melepaskan ciumannya.


Lalu Lino pun segera melepaskan seatbelt Ana.


Ana pun bingung harus bereaksi seperti apa, dan ia pun hanya bisa diam sambil mengatur nafasnya.


Sedangkan Lino, dia juga bingung kenapa tiba-tiba ia mencium Ana.


"Na, maaf" ucap Lino.


"Iya gak apa-apa" ucap Ana tanpa melihat kearah Lino.


"Kamu gak mau turun" ucap Lino.


"Oh iya" ucap Ana.


Lalu Ana pun segera turun dari mobil Lino.


"Hmm...ya udah aku masuk duluan ya" ucap Ana gugup.


"Iya" ucap Lino.


Lalu Ana pun segera masuk kedalam rumahnya.


"Ternyata bener ya kalau berduaan dengan lawan jenis tuh suka diganggu setan" gumam Lino.


Lalu Lino pun segera melajukan mobilnya dan ia pun segera pergi menuju rumahnya.


...****...


Skip


Hari Senin


Setelah selesai bersiap-siap, Ana pun segera menuju ruang makan.


Setelah sampai, Ana pun segera duduk dan ia pun langsung memakan makanan yang telah dimasak oleh mamahnya.


"Na" ucap mamah.


"Kenapa, mah?" tanya Ana.


"Kamu mau ikut mamah atau papah?" tanya mamah.


Ana pun terdiam sejenak.


"Aku ikut mamah aja" ucap Ana.


"Kamu berangkat ke sekolah nya bareng mamah ya" ucap mamah.


"Tapi aku mau sama Lino, mah. Soalnya Lino udah bilang kalau dia mau nganter Ana ke sekolah" ucap Ana.


"Oh ya udah kalau gitu" ucap mamah.


Setelah selesai makan, Ana pun segera pergi menuju ruang tamu untuk menunggu Lino.


"Lino nya belum datang ya?" tanya mamah yang datang menghampiri Ana.


"Belum mah, tapi bentar lagi dia pasti datang kok" ucap Ana.


"Oh iya, nih" ucap mamah sambil memberikan kunci.


Lalu Ana pun segera mengambil kunci tersebut.


"Ini kunci apa, mah?" tanya Ana.


"Itu kunci rumah cadangan" ucap mamah.


"Soalnya pasti nanti kamu pulang duluan ke rumah" ucap mamah.


Tintong...tintong


"Ya udah, mah. Aku pamit dulu ya" ucap Ana sambil mencium tangan mamahnya.


Lalu Ana pun buru-buru pergi keluar untuk menghampiri Lino.


"Nih pake dulu" ucap Lino sambil memberikan helm kepada Ana.


Lalu Ana pun segera memakai helm tersebut dan ia pun segera menaiki motor Lino.


"No, cepatan! takutnya nanti kita telat" ucap Ana.


"Ya udah pegangan" ucap Lino.


Lalu Ana pun segera memegang pundak Lino.


"Cepetan maju" ucap Ana.


"Pegangnya jangan di pundak" ucap Lino sambil membenarkan posisi tangan Ana agar memeluk pinggangnya.


Ana pun langsung menelan saliva nya, karena ia merasa deg-degan.


"Na" panggil Lino.


"Apa?" tanya Ana.


"Jangan dilepas pegangan nya" ucap Lino.


"Iya! ya udah cepet maju!" ucap Ana.


Lalu Lino pun segera melajukan motornya menuju sekolah.


Setelah sampai di parkiran, Ana dan Lino pun segera turun dari motor.


Kemudian ia pun segera pergi menuju kelasnya.


"Siniin tas kamu" ucap Lino.


"Udah siniin aja" ucap Lino.


Lalu Ana pun segera memberikan tas nya kepada Lino.


"Ya udah, lebih baik kamu duluan sana ke lapangan" ucap Lino.


"Terus kamu gimana?" tanya Ana.


"Ya nanti aku nyusul" ucap Lino.


"Cepet sana! nanti keburu di mulai upacara nya" ucap Lino.


Akhirnya Ana pun segera berlari menuju lapangan. Sedangkan Lino, ia segera menuju kelas untuk menyimpan tas miliknya dan juga tas Ana.


Setelah menyimpan tas, Lino pun segera berlari menuju lapangan.


* Lapangan


"Na, luh kok tumben datang jam segini" ucap Felisa.


"Iya, soalnya Lino tadi datang ke rumah gue nya agak lama" ucap Ana.


"Terus Lino nya mana? kok gak ada dibarisan" ucap Felisa.


"Lino tadi ke kelas dulu soalnya mau nyimpen tas" ucap Ana.


"Upacaranya dimulai berapa menit lagi?" tanya Ana.


"Dua menit lagi" ucap Felisa.


"Lino" panggil Ana saat Lino mau baris didepan.


"Kenapa?" tanya Lino.


"Kamu gak pake sabuk?" tanya Ana.


Lalu Lino pun segera melihat kearah pinggangnya.


"Anjir, gue lupa lagi" batin Lino.


Lalu Lino pun segera berlari menuju UKS dan ia pun berpura-pura sakit agar tidak dihukum oleh guru.


"Loh! Lino mau kemana?" bingung Ana.


"Biasalah palingan dia mau ke UKS" ucap Felisa.


"Kenapa ke UKS?" tanya Ana.


"Mau pura-pura sakit" ucap Felisa.


...****...


* UKS


Setelah sampai di UKS, Lino pun segera tiduran di kasur yang ada di UKS.


Lalu Clara pun segera menghampiri Lino.


"No, luh ngapain disini?" tanya Clara.


"Gue gak enak badan" bohong Lino.


"Alah paling luh cuma pura-pura kan?" tanya Clara.


"Beneran, Ra" bohong Lino.


"Gue bilangin ya ke Bu Windia" ancam Clara.


"Please, Ra! jangan dibilangin" mohon Lino.


"Sekali ini aja, please! nanti gue gak akan bohong lagi kok" ucap Lino.


"Dusta luh! dari kelas sepuluh sampai kelas sebelas juga luh ngebohong kayak gitu" ucap Clara.


"Iya kan itu khilaf" ucap Lino.


"Mana ada khilaf" ucap Clara.


"Gue janji bakal traktir luh makan deh" ucap Lino.


"Bener ya?" ucap Clara.


"Iya bener" ucap Lino.


"Nanti waktu istirahat, gue bakal traktir luh" ucap Lino.


"Oke deh" ucap Clara.


"Ra, ayo bantuin gue! ada anak cewek yang pingsan" ucap anak PMR lainnya.


"Oh iya" ucap Clara sambil berlari.


...****...


Skip


Upacara pun telah selesai.


Semua siswa dan siswi pun segera pergi menuju kelasnya masing-masing.


"Na" panggil Lino sambil berlari kearah Ana.


"Kenapa, No?" tanya Ana.


"Gak kenapa-napa sih, cuma mau manggil aja" ucap Lino.


"Kirain kenapa" ucap Ana.


"Ya udah ayo ke kelas" ucap Lino sambil merangkul Ana.


"No, jangan rangkul aku" ucap Ana sambil melepaskan tangan Lino.


"Kenapa jangan?" tanya Lino.


"Nanti ada guru yang lihat" ucap Ana.


"Ya gak apa-apa" ucap Lino.


"Gak apa-apa gimana? nanti yang ada kita ditegur sama guru gara-gara mesra-mesraan di sekolah" ucap Ana.


"Ditegur ini kan? gak bakal sampe dihukum juga" ucap Lino.


"Iya sih, tapi kan malu aja kalau ditegur sama guru" ucap Ana.


"Ngapain malu? kan kita ditegurnya berdua, jadi gak usah malu. Kalau ditegurnya sendiri, baru malu" ucap Lino.


"Sama aja" ucap Ana.