
"Katanya pingin tahu" ucap Lino.
"Iya, tapi jangan dilihatin juga kali" ucap Ana.
"Iya deh iya maaf" ucap Lino.
"Perasaan salah mulu jadi cowok" batin.
Setelah itu, Bobby segera menghampiri Lino dan Ana. Kemudian ia segera memasukan kucing yang pingin di adopsi Lino ke kedalam kardus.
"Nanti urus yang bener ya" ucap Bobby sambil memberikan kardus yang berisi anak kucing.
"Iya" ucap Lino sambil mengambil kardus tersebut.
"Oh, iya! papah sama mamah tiri luh kemana?" tanya Lino.
"Jalan-jalan kali" ucap Bobby.
"Oh iya, No! katanya Naya meninggal karena overdosis ya?" tanya Bobby.
"Iya" ucap Lino.
"Ya ampun, padahal gue udah lama gak ketemu dia eh tahu-tahu malah dapet berita duka" ucap Bobby.
"Ya udah, Bob! gue sama Ana pulang dulu ya" ucap Lino.
"Oh iya" ucap Bobby.
Lalu Ana dan Lino segera keluar dari rumah Bobby.
"Na, nih pegangin" ucap Lino.
"Enggak mau, nanti dia loncat" ucap Ana.
"Emangnya kodok apa pake loncat segala" ucap Lino.
"Ya kan siapa tahu kucingnya bisa loncat" ucap Ana.
"Enggak bakal lah, kucingnya juga lagi tidur" ucap Lino.
"Ya udah sini" ucap Ana sambil mengambil kardus yang di pegang Lino.
Lalu mereka berdua segera menaiki motor. Setelah itu, Lino langsung melajukan motornya menuju rumahnya.
...****...
Skip
* Rumah Arlino
Setelah sampai rumah, Lino dan Ana segera turun. Kemudian mereka berdua segera masuk kedalam rumah. Lalu Lino dan Ana segera pergi ke taman yang berada di rumah Lino.
Lalu Lino segera menyimpan kardus tersebut dekat dengan kandang Dori. Kemudian Lino segera memberi Dori makanan karena tadi ia lupa tidak memberi Dori makan.
"No, Dora nya gak dikasih makan?" tanya Ana.
"Kan ini juga mau dikasih" ucap Lino.
Lalu Lino segera memberikan susu kepada kucing yang baru ia adopsi dengan menggunakan pipet.
"Itu susu buat kucing?" tanya Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Enak gak?" tanya Ana.
"Ya gak tahu lah, kan aku belum pernah coba" ucap Lino.
"Ya udah cobain" ucap Ana.
"Ini kan buat kucing bukan buat manusia" ucap Lino.
"Ya gak apa-apa, kan sama-sama susu" ucap Ana.
"Cobain aja sama kamu" ucap Lino.
"Enggak ah! aku lagi diet" bohong Ana.
"Bisa aja ngeles nya" ucap Lino.
Lalu Ana berniat memegang kucing tersebut.
"DOR!!!" teriak Lino.
Sontak Ana langsung terkejut saat mendengar teriakan Lino.
"Ih Lino, kaget tau!" kesal Ana sambil memukul bahu Lino karena reflek.
"Kamu mau ngapain?" tanya Lino.
"Aku pingin pegang kucing nya" ucap Ana.
"Katanya takut kucing" ucap Lino.
"Kan tadi aku pingin ngelus doang bukan pingin gendong kucing nya" ucap Ana.
"Oh iya, Na! kamu lapar gak?" tanya Lino.
"Lapar" ucap Ana.
"Mau apa? nanti aku pesenin" ucap Lino.
"Terserah kamu" ucap Ana.
"Tikus bakar mau gak?" canda Lino.
"Enggak mau, aku mau nya tikus goreng" ucap Ana.
"Ya udah aku beliin ya" ucap Lino.
"Loh, emang ada yang jualan tikus?" tanya Ana.
"Ada" ucap Lino dengan ekspresi wajah serius.
"Beneran ada?" tanya Ana memastikan lagi.
"Iya ada" bohong Lino.
"Gak jadi deh, beli yang lain aja" ucap Ana.
"Ya udah, kamu mau apa?" tanya Lino.
"Seblak" ucap Ana.
"Seblak mulu perasaan" heran Lino.
"Ya kan itu makanan favorit aku" ucap Ana.
"Terus minumnya mau apa?" tanya Lino.
"Es jeruk" ucap Ana.
Lalu Lino segera memesan makanan dan minuman lewat aplikasi.
"Kamu beli apa?" tanya Ana.
"Beli vanilla latte sama strawberry cake" ucap Lino.
"Ya udah, sekarang kita ke ruang tamu yuk" ajak Lino.
"Eh kita cuci tangan dulu, siapa tahu ada bulu kucing nempel dikulit" ucap Lino.
"Tapi kan aku gak pegang kucing" ucap Ana.
"Ya cuci tangan aja, biar bersih" ucap Lino.
"Ya udah deh" ucap Ana.
Kemudian Ana dan Lino segera pergi menuju wastafel untuk mencuci tangan.
"Nih, pake sabun dulu" ucap Lino sambil menuangkan sedikit sabun pada telapak tangan Ana.
"Harum banget" ucap Ana sambil mencium sabun tersebut.
"Ya udah cepet bilas" suruh Lino.
Lalu Ana segera mencuci tangannya.
Setelah itu, mereka berdua segera pergi menuju ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, Ana dan Lino segera duduk di sofa.
"No, nyalain tv dong" ucap Ana.
Lalu Lino segera menyalakan televisi miliknya.
"Mau nonton apa?" tanya Lino.
"Sinetron aja" ucap Ana.
Lalu Lino segera memindahkan ke channel indos*ar.
"Kok film azab sih" ucap Ana.
"Kan katanya pingin lihat sinetron" ucap Lino.
"Maksudnya sinetron nya yang tentang percintaan" ucap Ana.
Lalu Lino segera memindahkan channel tv ke sinetron percintaan.
"Yang ini?" tanya Lino.
"Iya itu" ucap Ana.
"Mau minum lagi gak?" tanya Lino.
"Enggak, lagian kan tadi udah pesen minuman juga" ucap Ana.
"Siapa tahu kan kamu haus" ucap Lino.
Lalu Ana dan Lino fokus menonton sinetron tersebut.
20 menit kemudian...
Tingtong...tingtong
Lino segera pergi keluar untuk menemui orang yang menekan bel rumahnya. Lalu ia segera membuka pagar rumahnya.
"Dengan mas Lino ya?" tanya orang itu.
"Iya" ucap Lino.
"Ini pesanannya, mas" ucap orang itu sambil memberikan pesanan Ana dan Lino.
"Makasih" ucap Lino sambil mengambil pesanannya.
"Iya" ucap orang itu.
"Tadi udah dibayar ya lewat ovo" ucap Lino.
"Iya udah, mas" ucap orang itu.
"Ya udah kalau gitu saya pergi dulu ya, mas" ucap orang itu.
"Iya" ucap Lino.
"Semangat kerjanya ya, pak" ucap Lino.
"Iya pasti" ucap orang itu.
Lalu orang tersebut segera pergi.
Setelah orang itu pergi, Lino kembali menutup pagar rumahnya. Kemudian ia segera masuk kedalam untuk menghampiri Ana.
Lalu Lino segera duduk disebelah Ana dan ia langsung menaruh pesanan tersebut di meja.
"Loh kok malah tidur" ucap Lino pelan.
"Na, bangun" ucap Lino.
"Hmm" gumam Ana yang masih tertidur.
Tiba-tiba kepala Ana langsung mendarat di bahu Lino.
"Hey bangun" ucap Lino dengan lembut.
Kemudian Lino segera menepuk pelan pipi Ana.
"Katanya pingin seblak" ucap Lino.
Kemudian Ana langsung membuka matanya dan ia segera duduk dengan benar.
"Sana cuci muka dulu, baru habis itu makan" suruh Lino.
Lalu Ana segera pergi menuju wastafel untuk mencuci muka.
Setelah selesai mencuci muka, Ana segera kembali menghampiri Lino.
Sesampainya di ruang tamu, Ana segera duduk disebelah Lino dan ia langsung memakan seblak.
"Pedes banget" ucap Ana.
Ana yang tadinya mengantuk menjadi tidak mengantuk lagi setelah memakan seblak tersebut.
"Ya udah minum" ucap Lino.
"Enggak, nanti aja minumnya kalau seblak nya udah habis" ucap Ana.
"Katanya pedes" ucap Lino.
"Emang pedes sih, tapi pedesnya masih bisa aku makan" ucap Ana.
"Sok kuat banget makan pedes" ucap Lino.
"Aku emang kuat makan pedes kok" ucap Ana.
"Tapi kok matanya berkaca-kaca gitu, terus keringetan lagi" ucap Lino sambil menahan tawanya.
"Namanya juga pedes ya wajar lah kalau keringetan" ucap Ana.
Lalu Lino segera mengambil tisu dan ia langsung mengelap keringat di kening Ana.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Lino karena Ana menatapnya sambil tersenyum.
"Perhatian banget jadi cowok" ucap Ana.
"Ya iyalah, harus" ucap Lino sambil menekankan kata harus.