
"Oh iya, nih jaket sama celana olahraga luh" ucap Lino.
Ana pun mengambil tas jinjing yang berisi jaket dan celana olahraga miliknya.
Lalu ia pun segera mengeluarkan jaket dan celana olahraga miliknya itu.
"Kenapa dikeluarin? udah bawa aja sama tas nya" ucap Lino.
"Gue mau mastiin dulu, siapa tahu gak dicuci sama luh" ucap Ana.
"Enak aja! gue udah cuci kok. Cium aja pasti wangi" ucap Lino.
Lalu Ana pun mencium jaket dan celana olahraga miliknya.
"Kok bau nya cowok banget sih" ucap Ana.
"Ya kan itu pake parfum punya gue, pastinya parfum cowok lah" ucap Lino.
"Kalau gak suka, cuci lagi aja jaket sama celana nya" kesal Lino.
"Gue suka kok, siapa yang bilang gak suka" sahut Ana.
"Kirain gue, luh gak suka" ucap Lino.
"Oh iya, kalian cuma berdua disini?" tanya Lino.
"Kok luh tahu sih?" tanya Clara.
"Sepi aja gitu rumahnya" kata Lino.
"Iya, soalnya orang tua gue lagi keluar kota" ucap Clara.
"Lebih baik kalian ajak anak cewek yang lain deh" ucap Lino.
"Kenapa?" tanya Ana.
"Kan ada orang yang nguntit luh, takutnya luh kenapa-napa" ucap Lino.
"Wih! Lino perhatian banget sama Ana" sahut Clara.
"Gue bukan perhatian, tapi gue ngasih saran doang" ucap Lino.
"Sama aja" ucap Clara.
"Luh tahu dari mana ada yang nguntit gue?" tanya Ana.
"Tadi gue yang bilang, Na" ucap Clara.
"Yaudah, cepet ajak temen cewek luh yang lain" ucap Lino.
"Kita gak bakal kenapa-napa kok, lagian nanti pintu nya bakal dikunci" ucap Clara.
"No, luh gak pulang?" tanya Ana.
"Luh ngusir gue, Na?" tanya Lino.
"Enggak, gue cuma nanya kok. Lagian kan bukannya luh kesini mau ngasih jaket sama celana gue doang" ucap Ana.
"Gue bosen di rumah, makanya gue mau main disini dulu" ucap Lino.
"Emang orang tua luh belum balik dari luar negerinya?" tanya Ana.
"Udah, tapi mereka gak tinggal bareng sama gue" ucap Lino.
"Kenapa?" tanya Ana.
"Gue risih kalau serumah sama mereka berdua, kerjaannya berantem mulu. Makanya gue bilang ke mereka agar beliin rumah buat gue, biar gue tinggal sendiri di rumah itu" ucap Lino.
Ana pun langsung terdiam mendengar ucapan Lino, ia merasa bersalah karena telah membicarakan hal itu.
"Luh gak perlu merasa bersalah kayak gitu" kata Lino karena ia melihat raut wajah Ana yang merasa bersalah.
"Maafin gue" ucap Ana.
"Ngapain minta maaf, luh gak salah kok" ucap Lino.
"Kalian laper gak?" tanya Clara.
"Laper" ucap Ana dan Lino bersamaan.
"Yaudah gue masakin mie instan ya" ucap Clara lalu ia pun segera pergi ke dapur.
"Na" panggil Lino.
"Apa?" tanya Ana.
"Mau gue laporin polisi gak?" tanya Lino.
"Gak usah" ucap Ana.
"Luh yakin gak bakal kenapa-napa?" tanya Lino.
"Gue gak tahu" ucap Ana.
"Kalau ada apa-apa, telepon aja gue" ujar Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Lino" panggil Ana.
"Iya, kenapa?" tanya Lino sambil menatap Ana.
"Gue boleh minta satu permintaan gak?" tanya Ana.
"Permintaan apa?" tanya Lino.
"Gue mau luh baikan sama Raka, gue yakin Raka bukan orang yang nabrak Acha. Bahkan tadi sebelum kesini, Raka nangis dan dia nyesel banget waktu kejadian itu dia gak ke basecamp geng skz, dia bilang kalau aja dia ke basecamp mungkin dia bakal ngejar pelaku itu sampai dapet" jelas Ana.
"Karena dia sahabat gue, No" ucap Ana.
"Gue mohon sama luh, baikan sama Raka. Gue mau lihat luh sama Raka akur" kata Ana.
Lino pun tidak tahan melihat Ana sampai memohon-mohon kepadanya. Lalu ia pun berniat untuk pergi dari rumah Clara.
"No, mau kemana?" tanya Ana.
Ana pun langsung menghalangi Lino agar tidak pergi dari rumah Clara.
Ana pun duduk sambil memegang kaki Lino agar ia tidak pergi.
"No, gue mohon" ucap Ana sambil menangis.
"Na, luh nangis?" tanya Lino
Lino pun segera duduk untuk menyamakan posisinya dengan Ana.
"Luh ngapain nangis?" tanya Lino.
"Gue mohon sama luh" ucap Ana sambil menangis.
Lino pun segera membangunkan Ana dan membawanya untuk duduk di sofa.
"Iya, nanti gue bakal baikan sama Raka" ucap Lino.
"Janji?" tanya Ana sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Iya" ucap Lino sambil menyatukan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Ana.
"Hiks...hiks"
"Udah jangan nangis, masa gitu doang nangis sih" ucap Lino sambil mengelus rambut Ana.
Lalu Lino pun memeluk Ana sambil menepuk pelan punggung Ana agar ia merasa tenang.
...****...
Setelah selesai memasak mie instan, Clara pun segera menuju ke ruang tamu.
Pada saat tiba di ruang tamu, Clara pun langsung tersenyum sebab ia melihat Lino yang sedang memeluk Ana.
"Ekhem! ada acara apa nih peluk-pelukan segala" ucap Clara sambil tersenyum.
Lino pun langsung melepaskan pelukannya dari Ana sebab ia malu oleh Clara, karena dirinya ketangkap basah sedang memeluk Ana.
"Nih mie instan nya" ucap Clara.
"Gue pulang ya, soalnya udah mau malem" ucap Lino.
"No, habisin dulu mie instannya. Luh gak ngehargain banget jadi orang" ucap Clara.
"Yaudah iya" ucap Lino.
Mereka bertiga pun segera memakan mie instan yang dibuat oleh Clara.
"Na, luh diapain sama Lino?" tanya Clara.
"Gue gak apa-apain Ana kok" sahut Lino.
"Gue gak nanya sama luh, gue nanya ke Ana" kata Clara.
"Lino gak ngapa-ngapain gue kok" ucap Ana.
"Terus luh kenapa nangis?" tanya Clara.
"Ana tadi mohon ke gue biar gue baikan lagi sama Raka" ucap Lino.
"Kenapa sampe nangis?" tanya Clara.
"Biasalah dia kan cengeng" ucap Lino dan ia pun mendapat tatapan tajam dari Ana.
"Yaudah baikan aja, No. Biar Ana gak sedih lagi" ucap Clara.
"Iya, nanti gue bakal baikan sama Raka" ucap Lino.
Setelah memakan mie instan, Lino pun segera pamitan kepada Ana dan Clara.
"Gue pulang dulu, nanti kalau ada apa-apa telepon gue aja" kata Lino.
Lino pun berniat untuk keluar rumah namun tangannya ditahan oleh Ana.
"Kenapa?" tanya Lino.
"Makasih udah mau nurutin permintaan gue" ujar Ana.
Lino pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ana
Lalu ia pun segera pergi menuju rumahnya dengan mengendarai motornya.
Clara pun segera mengunci pagar rumahnya setelah itu ia pun mengunci pintu rumahnya dan segera pergi ke kamar bersama Ana.
"Ekhem, ekhem!" ucap Clara sambil tersenyum.
"Ra, luh sakit?" tanya Ana.
"Enggak" jawab Clara.
"Terus kenapa batuk?" tanya Ana.
"Itu bukan batuk, Na" ucap Clara.
"Terus apa?" tanya Ana.
"Gledek" ucap Clara.