
"Bukan Lino kok" ucap Ana.
"Tapi tipe luh mengarah ke dia loh" ucap Clara.
"Enggak! mana ada dia perhatian" ucap Ana.
"Luh gak nyadar, Na? Dia perhatian loh sama luh waktu ada rumor tentang luh" ucap Clara.
"Bahkan waktu dia ketemu sama orang yang nyebarin rumor tentang luh, dia marahin tuh orang" ucap Clara lagi.
"Dia marahin orang itu?" tanya Ana memastikan.
Clara pun mengangguk mengiyakan ucapan Ana.
"Oh iya besok ada pelajaran Pak Dimas, luh bawa kan tugas nya?" tanya Clara.
"Bawa kok" ucap Ana.
"Coba gue lihat" ucap Clara.
Ana pun segera memperlihatkan gambarnya kepada Clara.
"Ini beneran Lino yang gambar kan?" tanya Clara memastikan.
"Iya" ucap Ana.
"Jago juga dia ngegambarnya" ucap Clara.
"Tapi kok dia gambar luh sih? apa jangan-jangan dia suka sama luh?" tanya Clara.
"Enggak lah! kan Lino masih suka sama sahabat luh" ucap Ana.
"Iya gue tahu, tapi kenapa dia gambar luh?" tanya Clara.
"Mana gue tahu, tanya aja sama Lino" ucap Ana.
Trining...trining
(Dering panggilan telepon)
Ana pun melihat layar ponsel miliknya.
"Siapa, Na?" tanya Clara.
"Lino" ucap Ana.
Ana pun segera mengangkat panggilan telepon dari Arlino.
"Hallo" ucap Ana.
"Na, luh dimana? kok rumah luh sepi sih" tanya Lino.
"Gue dirumahnya Clara" ucap Ana.
"Oh di rumah Clara, yaudah gue kesana sekarang" ujar Lino.
"Mau ngapain ketemu gue?" tanya Ana.
"Mau ngembaliin jaket sama celana" ucap Lino.
"Oh gitu" ucap Ana.
"Yaudah gue kesana ya sekarang" ucap Lino sambil menutup panggilan teleponnya.
"Mau ngapain si Lino?" tanya Clara.
"Mau ngembaliin jaket sama celana olahraga gue" ucap Ana.
"Oh iya! tas luh bawa ke kamar gue aja, Na" ucap Clara.
"Oh iya" ucap Ana.
"Gue bantu ya" ucap Clara.
Ana dan Clara pun segera pergi menuju kamarnya Clara untuk menyimpan barang-barang Ana.
"Ra, gue ikut mandi ya! soalnya gue belum mandi" ucap Ana sambil nyengir.
"Iya, silahkan! yaudah gue tunggu di ruang tamu ya" ucap Clara.
"Iya" ucap Ana.
Ana pun segera mandi di kamar mandinya Clara. Sedangkan Clara pergi menuju ruang tamu.
Tintong...tingtong
(Suara bel rumah Clara)
Clara pun segera pergi keluar rumahnya untuk menemui seseorang yang menekan bel rumahnya.
"Oh Lino" ucap Clara.
"Ana ada di rumah luh?" tanya Lino.
"Iya, dia ada didalem" ucap Clara.
"Yaudah ayo masuk!" ucap Clara lagi.
Mereka berdua pun segera masuk kedalam rumah.
"Mau minum gak, No?" tanya Clara.
"Boleh" ucap Lino.
Clara pun segera pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
Setelah mengambilkan minum, Clara pun segera menghampiri Lino dan memberikan air minum padanya.
"Makasih" ucap Lino.
"Iya, sama-sama" ucap Clara.
"Ana nya mana? kok gue gak lihat dia disini" bingung Lino.
"Ana lagi mandi di kamar gue" ucap Clara.
"No, tunggu dulu" ucap Clara.
"Kenapa, Ra?" tanya Lino.
"Ana bakal nginep di rumah gue, mungkin sampai orang tuanya pulang ke rumah" ucap Clara.
"Terus hubungannya sama gue apa?" tanya Lino.
"Ana ketakutan, soalnya ada yang nguntit dia" ucap Clara.
"Nguntit dia?" bingung Lino.
"Iya, mungkin orang itu yang nyebarin foto kalian berdua di Facebook" ucap Clara.
"Tapi dia gak di apa-apain kan sama tuh orang?" tanya Lino.
"Gak, tapi gue khawatir banget sama Ana. Untung aja Raka ngelihat orang yang nguntit Ana, kalau Raka gak nyaranin Ana buat nginep, mungkin aja Ana bakal diapa-apain sama tuh penguntit" ucap Clara.
"Dia lihat orangnya?" tanya Lino.
"Lihat, tapi wajahnya gak kelihatan soalnya dia pake masker sama topi" ucap Clara.
"Masker sama topi?" tanya Raka memastikan.
"Iya" ucap Clara.
Raka pun merasa dejavu karena mengingat orang yang nyelakain Acha juga memakai masker dan topi.
...****...
Setelah mandi, Ana pun segera pergi menuju ruang tamu hanya dengan memakai handuk.
"Ra, pinjem hair dryer dong" ucap Ana.
Clara dan Lino pun menoleh ke Ana.
"Lino" ucap Ana terkejut karena ia hanya memakai handuk.
Lino pun segera mengalihkan pandangannya agar tidak melihat kearah Ana.
"Ada di laci bawah dekat kaca, Na" ucap Clara.
Ana pun buru-buru ke kamar Clara, karena ia merasa malu dengan Arlino.
"Aaaa malu banget gue" batin Ana.
"No, luh kenapa?" tanya Clara sambil menahan tawanya.
"Gak kenapa-napa kok" ucap Lino berbohong, karena sebenarnya dia pun malu karena melihat Ana yang hanya memakai handuk.
"Luh malu ya gara-gara lihat Ana?" tanya Clara.
"Enggak!" ucap Lino.
"No" panggil Clara.
"Kenapa?" tanya Lino.
"Entah kenapa ya, gue setiap kali lihat Ana tuh kayak gue lagi ngelihat Acha" ucap Clara dengan mata berkaca-kaca.
"Gue juga sebenarnya ngerasain hal yang sama kayak Luh, Ra" batin Lino.
"No, luh suka ya sama Ana?" tanya Clara.
"Enggak, gue kan udah bilang berkali-kali kalau gue masih suka sama Acha" ucap Lino.
"No, luh harus relain Acha. Gue tahu luh suka sama Acha, tapi dia udah tenang di surga, No" ucap Clara sambil menangis tersedu-sedu.
"Acha juga pasti bahagia kok kalau lihat luh bahagia dengan orang yang luh sukai sekarang. Masa luh mau nunggu Acha sih, No. Kan dia gak mungkin kembali ke dunia ini" Clara pun masih menangis.
Arlino pun langsung terdiam karena mendengar ucapan Clara. Lalu air mata Lino pun terjatuh karena ia tidak bisa menahannya.
...****...
Ana pun segera pergi menuju ruang tamu untuk mengambil jaket dan celana olahraga yang dipinjam oleh Lino.
Saat sampai di ruang tamu, Ana pun melihat Clara yang sedang menangis.
"Ra, luh kenapa?" tanya Ana.
Arlino pun langsung menghapus air matanya agar tidak dilihat oleh Ana.
Ana pun segera duduk disamping Clara.
"Ra, kenapa nangis?" tanya Ana.
"Gak apa-apa kok" ucap Clara sambil mengusap air matanya.
"Pasti gara-gara luh ya Clara nangis?" tuduh Ana kepada Lino.
"Enggak!" sahut Lino.
Ana pun segera memukul Lino, sebab dia mengira Clara menangis karena Lino.
"Aww sakit!" ringis Lino.
"Luh apain Clara?" tanya Ana.
"Gue gak apa-apain dia kok" ucap Lino.
"Beneran?" tanya Ana.
"Iya, tanya aja sama Clara" ucap Lino.
"Bukan sama Lino, Ra?" tanya Ana memastikan.
"Iya, bukan" ucap Clara sambil tertawa karena menurutnya lucu saja ketika melihat Ana sedang memukuli Lino.
"Denger kan, luh!" sahut Lino.
"Iya, maaf" ucap Ana yang merasa bersalah karena ia memukuli Lino.