
"Awas!!" bentak Lino karena tangannya dipegang oleh Gilang.
"No, udah" ucap Ana.
"Na, panggil guru sana" ucap Raka.
Lalu Ana pun segera berlari untuk mencari guru.
"Pak, ada yang berantem" ujar Ana.
"Siapa?" tanya pak Dimas.
"Arlino sama Aldi, pak" ucap Ana.
Lalu Ana dan pak Dimas pun segera menghampiri Arlino dan Aldi.
"ARLINO ALDI!!" bentak pak Dimas.
"Kalian apa-apaan sih, gak malu apa dilihatin anak-anak sekolah lain" tegas pak Dimas.
Lalu Lino dan Aldi pun langsung terdiam.
"Kalian berdua ikut bapak!" perintah pak Dimas.
Lalu Lino dan Aldi pun segera mengikuti pak Dimas.
"Pasti dihukum tuh mereka" ucap Gilang.
"Si Lino dari dulu sampai sekarang, masih aja emosinya gak bisa dikontrol" ucap Raka.
"Guys, gue jadi merasa bersalah nih" ucap Ana.
"Bukan salah luh kok, Na" ucap Raka.
"Na, luh lebih baik sekarang ke tenda cewek deh" ucap Gilang.
"Ya udah, gue pergi dulu ya" ucap Ana.
"Iya" ucap Gilang dan Raka bersamaan.
Lalu Ana pun segera pergi menuju tenda.
Setelah sampai, Ana pun langsung masuk kedalam tenda dan ia pun langsung tidur karena merasa lelah.
...****...
Skip
Malam hari
"Untuk seluruh siswa dan siswi diharapkan berkumpul di lapangan" ucap guru sekolah lain.
Lalu semua siswa dan siswi pun segera berkumpul dilapangan.
Setelah semuanya berkumpul, guru tersebut pun langsung memberikan pengumuman bahwa sekarang akan dilaksanakan makan bersama.
"Setelah selesai makan bersama, kalian boleh menampilkan pertunjukan bebas didepan semuanya. Nanti yang berani tampil, akan dapat hadiah dari guru-guru" ucap guru itu.
"Yeay!!" sorak semuanya.
"Ya sudah, sekarang kalian boleh memakan makanan yang telah disediakan. Tapi kalian harus antri, jangan rebutan" ucap guru tersebut.
"Baik, pak" ucap semuanya.
Lalu murid-murid pun segera pergi untuk mengambil makanan dan minuman. Dan mereka pun mengantri untuk mengambil makanan dan minuman.
Setelah mengambil makanan dan minuman, Ana pun segera menghampiri Clara, Felisa, Lia dan juga Naya.
Kemudian Ana pun langsung memakan makanan tersebut.
"Guys, katanya tadi Lino sama Aldi berantem tahu" ucap Felisa.
"Tahu dari mana luh?" tanya Clara.
"Tahu dari guru" ucap Felisa.
"Mereka berantem kenapa?" tanya Naya.
"Gue juga gak tahu" ucap Felisa.
"Fel, tadi luh disuruh apa sama guru?" tanya Lia.
"Tadi gue disuruh bantuin bikin hadiah buat yang tampil" ucap Felisa.
"Oh, kirain disuruh apa" ucap Lia.
"Lia, gue minta maaf ya atas kejadian yang tadi" ucap Ana.
"Kejadian apa nih?" tanya Clara.
"Bukan apa-apa kok" ucap Lia.
"Luh mau kan maafin gue?" tanya Ana.
"Iya, gue udah maafin kok" ucap Lia.
"Emang ada masalah apa sih?" tanya Naya.
Lalu Ana pun langsung melihat kearah Lia.
"Tadi siang, Ana gak sengaja tumpahin minum ke baju gue" bohong Lia.
"Oh gitu" ucap Naya.
Setelah selesai makan, semua orang pun duduk sambil menunggu pengumuman lagi.
"Selamat malam semuanya" ucap guru dari sekolah lain.
"Malam, bu" ucap semuanya.
"Yang mau menunjukkan bakatnya, silahkan ke depan. Nanti kami bakal ngasih hadiah kepada yang mau tampil" ucap Bu Nana.
"Guys, mau tampil gak?" tanya Clara.
"Enggak ah! males" ucap Naya.
"Emang isi hadiahnya apa sih?" tanya Lia.
"Uang sama makanan" ucap Felisa.
Drrrttt
Ana pun langsung melihat ke layar ponselnya. Dan ternyata ada pesan masuk dari Lino.
Na, temuin gue ditempat biasa
Lalu Ana pun berdiri.
"Luh mau tampil?" tanya Felisa.
"Enggak, gue mau ke toilet" bohong Ana.
Lalu Ana pun segera pergi ke tempat parkiran bis untuk menemui Lino.
Setelah sampai, Ana pun segera menghampiri Lino dan ia langsung duduk disebelah Lino.
"No, bibir kamu luka" ucap Ana sambil menatap wajah Lino.
"Iya, gara-gara berantem tadi" ucap Lino.
"Udah diobatin belum?" tanya Ana.
"Belum" ucap Lino.
"Ya udah, obatin dulu yuk" kata Ana.
"Gak usah, Na. Lagian gak parah ini" ucap Lino.
"Perih gak?" tanya Ana.
"Enggak kok" ucap Lino sambil tersenyum.
"Lain kali jangan berantem lagi, kamu harus kontrol emosi kamu" ucap Ana.
"Kalau aku gak bisa gimana?" tanya Lino.
"Ya harus bisa dong" ucap Ana.
"Coba ajarin dong caranya biar bisa ngontrol emosi" ucap Lino.
"Ya udah, aku bakal ajarin kamu" ucap Ana.
"Coba kamu bikin aku emosi deh" ucap Ana lagi.
"Oke" ucap Lino.
"Ana, sebenernya aku tuh suka sama orang lain" ucap Lino.
"Siapa?" tanya Ana sambil ber-acting.
"Maemunah" ucap Lino.
"Ih Lino yang serius dong" ucap Ana sambil tertawa.
"Aku udah serius loh, kamu aja yang gak bisa acting" ucap Lino.
"Namanya yang lain kek, aku jadi ngakak kalau pake nama itu" ucap Ana.
"Ya udah coba lagi" ucap Lino.
"Jadi ceritanya aku ketahuan selingkuh sama kamu" ucap Lino.
"Oke" ucap Ana.
"No, dia siapa?" tanya Ana dengan nada serius.
"Dia pacar aku" ucap Lino.
"Terus aku?" tanya Ana.
"Ya kamu pacar aku juga" ucap Lino.
Lalu Ana pun menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
"Jadi kamu selingkuh sama aku?" ucap Ana.
"Kalau iya kenapa?" tanya Lino.
"Ya udah kita putus aja" ucap Ana.
"Nah gitu, No" ucap Ana.
"Terus nahan emosinya gimana?" ucap Lino masih bingung.
"Jadi kan seharusnya tadi aku tuh nampar kamu setelah kamu bilang dia pacar kamu, tapi aku ngontrol emosi aku supaya gak nampar kamu dengan cara menarik nafas dalam-dalam" jelas Ana.
"Emangnya ngaruh?" tanya Lino.
"Kalau di aku sih ngaruh" ucap Ana.
"Tapi kayaknya sama aku gak bakal ngaruh deh, soalnya aku emosian banget orangnya" ucap Lino.
"Iya juga sih" ucap Ana.
"No, kalau misalnya kita berantem, kamu bakal emosi gak sama aku?" tanya Ana.
"Yang namanya berantem pasti emosi lah, Na" ucap Lino.
"Kamu gak bakal kasar kan sama aku?" tanya Ana memastikan.
"Kalau kasar sih aku janji gak bakal kasar sama kamu, tapi paling cuma emosi doang" ucap Lino.
"Beneran?" tanya Ana memastikan.
"Iya, aku janji gak bakal main tangan" ucap Lino.
"No, kita buat kesepakatan yuk" ucap Ana.
"Kesepakatan apa?" tanya Lino.
"Nanti kalau misalnya kita berantem, kita gak boleh diem-dieman" ucap Ana.
"Oke" ucap Lino.
"Oh iya, aku juga punya satu kesepakatan" ucap Lino.
"Apa?" tanya Ana.
"Kalau kita lagi kesel atau marah, ungkapin aja. Jangan dipendem sendiri" ucap Lino.
"Sip" ucap Ana.
"Oh iya, No! kenapa kamu gak ke lapangan?" tanya Ana.
"Enggak kenapa-napa, aku males aja ke tempat yang rame" ucap Lino.