ARLINO

ARLINO
Episode 6



"Ana, luh punya masalah apa sih sama Lino?" tanya Lia.


"Gue enggak punya masalah kok sama Lino" ucap Ana.


"Tapi tadi kenapa Lino sikap nya kayak gitu ke luh" ucap Lia.


"Lino gak sengaja kali" ucap Ana.


"Tapi tadi Lino bilang nya sengaja loh buat luh kayak gitu" ucap Clara.


"Udah lah biarin" kata Ana.


"Ana, gue mau nanya dong sama luh" ucap Naya.


"Mau nanya apa, Nay?" tanya Ana.


"Luh, Lino sama Gilang waktu di kelas ngomongin video tentang apa?" tanya Naya.


"Video? Video apaan nih?" tanya Lia.


"Itu bukan video apa-apa kok guys" ucap Ana.


"Aduh perut gue kembung nih akibat kebanyakan makan mie" ucap Felisa.


"Ke bawah yuk, bosen gue dikamar terus" ucap Lia.


"Yuk" ucap Clara dengan semangat.


"Gue disini aja ya" ucap Ana.


"Tuh kan luh gak mau ke bawah, pasti luh ada masalah ya sama Lino" ucap Lia.


"Enggak kok" ucap Ana.


"Kalau gak ada masalah, kok luh gak mau sih ketemu Lino" ucap Lia.


"Iya..iya gue ke bawah deh" ucap Ana.


Ana, Lia, Naya, Clara dan Felisa pun segera ke bawah untuk mencuci bekas piring yang dipakai masing-masing.


Lalu kita berlima pun menghampiri cowok-cowok yang sedang bermain PS.


"Guys, kita nonton film hantu yuk" ajak Naya.


"Ide bagus tuh, udah lama gak nonton film horor" ucap Gilang.


"Gue gak mau, Nay" ucap Ana.


"Luh takut ya?" ucap Naya


"Iya" ucap Ana.


"Masa sama hantu bohongan aja takut" ucap Lino


"Ya kan muka mereka juga nyeremin kayak luh" ucap Ana kepada Lino.


Semua orang pun tertawa kecuali Lino.


"Enak aja kalau ngomong" ucap Lino.


"Gue baru pertama kali lihat si Lino dinistain, sama cewek lagi dinistain nya" ucap Gilang.


"Berisik luh, Lang" ucap Lino kepada Gilang.


"Na, luh kenapa sih nyari ribut mulu sama anak cowok" ucap Aldi.


"Heh! gue itu gak nyari ribut, kalian aja yang pada sensi setiap kali gue ngomong" ucap Ana.


"Habisnya mulut luh itu bawel banget, makanya waktu di rooftop si Lino nyi-" ucap Gilang namun terpotong karena Lino membekap mulut Gilang.


"Si Lino kenapa?" tanya Naya.


"Lino ngebekap mulut gue" ucap Ana berbohong.


"Nah itu" ucap Gilang dan Lino.


Bagas dan Aldi pun tersenyum karena mendengar ucapan Ana. Karena mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Tapi seru tahu kalau ada Ana, suasana nya jadi happy gitu" ucap Clara.


"Happy, mata mu! yang ada telinga gue sakit dengernya" kata Gilang.


"Jahat banget luh sama gue" ucap Ana.


"Oh iya, gue pilihin ya film nya" ucap Bagas.


"Nah ketemu" ucap Bagas.


"Gue ke kamar aja ya, gue gak bisa tidur kalau nonton kayak gituan" ucap Ana.


"Emang kalau di kamar sendiri luh gak takut gitu? Biasanya kalau sendirian suka digangguin sama hantu loh" ucap Lino sambil menakuti Ana.


"Ya udah gue disini aja" ucap Ana pasrah.


Gilang pun mematikan lampu agar menonton film nya terasa seperti di bioskop.


"Kok lampu nya dimatiin sih, Lang" ucap Ana.


"Biar suasana nya kayak di bioskop, Na" ucap Gilang.


Ana pun pindah tempat duduk menjadi duduk di antara Naya dan Aldi.


"Ngapain luh pindah ke sebelah sini?" tanya Aldi.


"Gue takut, gue disini ya" ucap Ana.


"Ya udah kalau takut sini, deketan sama gue" ucap Aldi.


"Kalau takut lebih baik luh ke kamar aja" ucap Bagas.


"Masa gue sendirian di kamar" ucap Ana dengan kesal


"Jadi luh ngode pingin ditemenin di kamar sama gue gitu" ucap Bagas.


"Ih siapa juga yang pingin ditemenin sama luh" ucap Ana.


"Berisik, film nya udah dimulai" ucap Lino.


Ana pun lebih memilih memainkan hp dari pada menonton film.


Setelah beberapa menit kemudian, Ana pun mengantuk dan ia pun tanpa sadar tertidur di ruang tamu.


23:30 WIB


Ana pun terbangun karena kebelet pipis.


"Loh kok lampunya gak di nyalain sih" ucap Ana.


Ana pun segera menyalakan senter dari ponsel miliknya dan saat menyalakan senter ia pun melihat teman-temannya yang sedang tertidur.


"Nay" ucap Ana sambil membangunkan Naya namun Naya tidak terbangun.


"Mau apa bangunin Naya?" tanya Lino.


"Luh belum tidur, No?" tanya Ana.


"Luh sendiri lihat kan, gue belum tidur" sinis Lino.


"No, nyalain lampunya dong" ucap Ana.


"Lagi mati lampu" ucap Lino.


"Ih nyesel gue nginep disini" ucap Ana.


"Ra, antar gue ke toilet dong. Gue pingin pipis" ucap Ana tetapi Clara tidak terbangun.


"Mau gue antar gak?" tanya Lino karena merasa kasihan kepada Ana.


"Enggak usah, gue bisa tahan kok" ucap Ana.


"Ya udah kalau gitu, gue tidur dulu ya" ucap Lino


"No" panggil Ana.


"Hmm apa?" ujar Lino.


"Ya udah ayo anterin gue ke toilet" ucap Ana.


"Enggak ah, kan tadi luh bilang gak mau gue antar"


"Anterin gue, please!" ucap Ana.


"Ya udah ayo!" ucap Lino.


Ana pun diantar Lino ke toilet.


"Luh tunggu di luar, jangan kemana-mana" ucap Ana sambil menutup pintu toilet.


2 menit kemudian Ana pun keluar dari toilet.


"No, luh dimana?" ucap Ana.


Lampu pun menyala.


"Akhirnya lampunya nyala juga" gumam Ana.


Lino pun menghampiri Ana dengan memakai topeng yang sangat seram milik Bagas.


Lalu Lino pun menghembuskan nafas berat di tekuk leher Ana.


Karena merasa ada hembusan nafas, Ana pun langsung menoleh ke belakang.


"Aaaaaaaa!!!" teriak Ana.


Teriakan Ana membuat semua orang yang ada di rumah terbangun.


"Hiks...hiks mamah, papah, Ana takut" tangis Ana.


Kemudian semua orang yang ada di rumah itu segera menghampiri ke sumber teriakan Ana.


"Hiks...hiks"


"Ini gue, Na" ucap Lino.


"Eh anjir, kaget gue!" ucap Gilang saat melihat Lino yang memakai topeng.


"Kenapa, Na?" tanya Naya, Clara, Lia, dan Felisa yang baru datang.


"No, luh kenapa pake topeng gue segala" ucap Bagas.


"Buat nakutin Ana lah" ucap Lino dengan santainya.


"Ngeselin banget luh...hiks" ucap Ana sambil memukul Lino.


"Ya ampun kirain gue ada apa, luh berdua ganggu tidur gue aja" ucap Aldi dan ia pun pergi ke ruang tamu untuk melanjutkan tidurnya.


"Btw ini masih jam 12 malam loh, lebih baik kita pada tidur lagi aja yuk" ucap Felisa.


"Kita tidur di kamar Naya aja yuk, lagian lampunya udah nyala" ucap Clara.


"Ya udah yuk ke kamar gue" ucap Naya.


Akhirnya kita berlima pun ke kamar Naya dan setelah di kamar kita pun tidur bersama.