
Ana dan Clara pun sedang menonton tv di kamar Ana.
"Ra, gue boleh nanya sesuatu gak?" ucap Ana.
"Boleh, mau nanya apa?" tanya Clara.
"Emangnya orang yang nabrak Acha belum ketemu?" tanya Ana.
"Belum" ucap Clara.
"Luh tahu gak ciri-ciri kendaraan yang nabrak Acha?" tanya Ana.
"Yang tahu cuma Lino, Gilang sama Aldi" ucap Clara.
"Mereka yang lihat kejadiannya" ucap Clara lagi
"Luh nanya ke mereka gak? tentang ciri-ciri kendaraan yang nabrak Acha" ucap Ana.
"Gue udah nanya, tapi mereka gak mau ngasih tahu gue" ucap Clara.
"Emangnya bener ya kalau Raka sama Lino berantem gara-gara mereka berdua suka Acha" tanya Ana.
"Yang gue denger sih gitu" ucap Clara.
"Padahal dulu, Lino sama Raka deket banget" ucap Clara lagi.
"Luh sama Acha sahabatan dari kapan?" tanya Ana.
"Dari pas awal masuk SMA" ucap Clara.
"Emangnya Acha meninggalnya kapan?" tanya Ana.
"Waktu mau naik ke kelas sebelas" ucap Clara.
"Walaupun sebentar kenal sama dia, tapi gue ngerasa kayak udah lama banget kenalnya" ucap Clara lagi.
"Ceritain tentang Acha dong, gue pingin banget denger cerita-cerita luh saat sama dia" ucap Ana.
"Dulu tuh gue sering dijahilin sama Acha, makanya kita sering berantem gara-gara Acha suka jahilin gue" ucap Clara sambil tersenyum campur sedih.
"Dia tuh suka ngeledekin gue juga" kata Clara.
"Ngeledek kayak gimana?" tanya Ana.
"Suka ngeledek kalau gue sama Aldi pacaran, padahal kan gue udah nolak Aldi" jawab Clara.
"Jadi yang tahu Aldi nembak luh itu cuma Acha?" tanya Ana.
"Iya, yang lain gak tahu" ucap Clara.
"Kenapa gak cerita ke Naya, Lia sama Felisa?" tanya Ana.
"Enggak kenapa-napa, cuma waktu itu yang paling deket sama gue cuma Acha" ucap Clara.
"Gue kira kalian berlima deket banget" ucap Ana.
"Kelihatan dari luar sih gitu, tapi sebenernya enggak" ucap Clara.
"Kalian baik-baik aja kan?" tanya Ana.
"Baik-baik aja kok, cuma kita gak pernah curhat masalah masing-masing" jelas Clara.
"Malah gue sekarang ngerasa lebih deket sama luh deh dari pada mereka" ucap Clara terus terang.
"Kenapa ngerasa lebih deket sama gue? padahal kan gue bisa dibilang masih baru kenal sama luh" ucap Ana.
"Gak tahu, gue ngerasa nyaman aja sama luh" ucap Clara sambil tersenyum.
"Luh mau kan jadi sahabat gue?" tanya Clara kepada Ana.
Jantung Ana pun terasa berhenti sejenak karena ia merasakan dejavu.
Lalu Ana pun tanpa sadar mengeluarkan air mata.
"Na, luh kenapa nangis?" tanya Clara.
"Ucapan luh barusan, sama persis kayak yang Chika ucapin ke gue" ucap Ana sambil menangis.
Lalu Clara pun memeluk Ana.
"Luh juga ngingetin gue sama Acha, Na" batin Clara.
"Udah jangan nangis" ucap Clara dengan mata berkaca-kaca.
"Gue kangen Chika" ucap Ana sambil menangis.
"Iya gue tahu, Na" ucap Clara sambil menepuk pelan punggung Ana.
"Na, lebih baik kita tidur yu! Udah malem, nanti kesiangan lagi berangkat ke sekolahnya" ucap Clara.
Ana pun mengangguk mengiyakan ucapan Clara.
Lalu mereka berdua pun tidur bersama.
...****...
* Pagi hari
Ana dan Clara pun sarapan pagi, setelah itu mereka pun segera berangkat ke sekolah dengan menggunakan kendaraan umum.
Setelah sampai ke kelas, Ana dan Clara pun duduk dibangku masing-masing.
"Na, luh harus lihat ini deh" ucap temen sekelas Ana yang bernama Putri.
"Ini luh kan?" tanya Putri.
Clara pun menoleh ke Ana dan Putri.
"Ada apa?" tanya Clara.
"Lihat deh" ucap Putri sambil menunjukan layar hp nya kepada Clara.
"Ini kan foto luh sama Lino" ucap Clara kepada Ana.
"Kenapa emang?" tanya Ana bingung.
"Ini captionnya, katanya dua anak SMA tunas bakti sedang berbuat asusila di rumah si cewek nya" jelas Putri.
"Apaan sih!!! itu kan foto waktu kemarin, lagian gue gak berdua sama Lino" ucap Ana dengan kesal.
"Iya, Ana bener. Kita kemarin main berempat kok" sahut Clara
"Heh Ana! itu beneran luh?" tanya Ajeng yang tiba-tiba menghampiri Ana.
"Iya, foto itu emang gue. Tapi gue gak ngelakuin apa-apa kok sama Lino" ucap Ana.
"Oh, jadi cowok itu Lino!!!" teriak Ajeng.
Lino, Bagas, Gilang dan Aldi pun masuk kedalam kelas.
"Ada apa nih? Kenapa bawa-bawa nama gue?" tanya Lino.
"Wah! ternyata sama anak kelas ya" sahut Ajeng.
"Kita main berempat kok, tanya aja Clara, Lino sama Gilang" ucap Ana.
"Iya, kita kemarin berempat kok" sahut Clara.
"Main berempat? maksudnya luh sama Gilang terus Ana sama Lino gitu?" tanya Ajeng.
"Dibayar berapa luh?" tanya Ajeng.
PLAKKK
Satu tamparan pun mendarat di pipi Ajeng.
"Aww" ringis Ajeng.
"Kurang ajar ya luh!!!" teriak Clara sambil menjambak rambut Ajeng.
Lalu Ajeng juga menjambak rambut Clara karena ia kesal sebab Clara menamparnya.
Aldi dan Gilang pun langsung memisahkan keduanya.
"Awas aja ya luh!!!" teriak Ajeng sambil pergi meninggalkan kelas.
Ana pun langsung duduk termenung karena memikirkan ucapan Ajeng.
"Ini ada apa sih sebenernya?" tanya Gilang
"Baca deh" ucap Putri sambil memberikan ponselnya.
Lalu Gilang pun membaca caption yang tertulis difoto tersebut.
"No, luh harus lihat ini" ucap Gilang sambil memberikan ponsel Putri kepada Lino
Lino pun melihat fotonya bersama Ana dan ia pun membaca caption yang tertulis difoto itu.
"Kurang ajar! ini akun Facebook siapa?" tanya Lino.
"Gue juga gak tahu, soalnya gak pake nama asli sama gak ada foto profilnya" ucap Putri.
"Yaudah gue keluar dulu ya, soalnya gue tadi cuma mau sampein berita ini doang" ucap Putri sambil meninggalkan kelas.
"Luh gak apa-apa kan, Ra?" tanya Aldi.
"Gue gak apa-apa, tapi gue kasihan sama Ana. Foto dia kesebar di Facebook" ucap Clara pelan agar Ana tidak mendengarnya.
"Na" panggil Lino.
Ana pun tidak menjawab ucapan Arlino. Ia hanya menenggelamkan kepalanya diatas meja.
"Lino, Ana!!!" teriak Ryan.
Ana pun langsung menoleh kearah Ryan.
"Kenapa?" tanya Lino.
"Luh berdua disuruh ke ruang BK" ucap Ryan.
"Kenapa mereka disuruh ke ruang BK?" tanya Clara.
"Mungkin nyuruh mereka buat jelasin rumor yang beredar di Facebook" kata Ryan.
"Tapi kan mereka gak salah" sahut Clara.
"Kan belum tentu juga mereka bakal dihukum, mungkin guru BK cuma mau tau penjelasan mereka doang" jelas Ryan.
"Na, ayo" ajak Lino.
Lino yang melihat tangan Ana gemetar pun langsung memegang tangan Ana agar dia merasa tenang.
"Luh, tenang aja! gak usah takut, kan kita gak punya salah" ucap Lino.
Ana pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lino.