ARLINO

ARLINO
Episode 22



(Di perjalanan)


"Raka" panggil Ana.


"Kenapa?" tanya Raka sambil mengendarai motornya.


"Kenapa sih luh sama Lino gak baikan aja?" tanya Ana.


"Gue udah terlalu benci sama dia" kata Raka.


"Karena Acha?" tanya Ana.


"Luh kok tahu Acha" ucap Raka.


"Iya gue tahu, Lino cerita ke gue" ucap Ana.


"Gue benci sama Lino karena dia selalu nuduh gue sebagai pelaku yang nabrak Acha. Padahal kan gue sayang banget sama dia, mana mungkin gue nyelakain dia" jelas Raka.


"Lino pernah bilang ke gue kalau yang nabrak Acha itu sebenarnya niatnya mau nabrak Lino. Mungkin Lino pikir itu luh karena mungkin luh benci banget sama Lino, karena Lino sama Acha pacaran" jelas Ana.


Raka pun memarkirkan motornya disisi jalan.


Lalu Raka pun turun dari motornya.


"Kenapa, Ka?" tanya Ana bingung.


"Lino bilang apa lagi?" tanya Raka.


"Katanya Lino, waktu di rumah sakit ada orang yang sengaja nyelakain Acha sampai Acha menghembuskan nafas terakhirnya" ucap Ana.


"Kenapa dia gak bilang ke gue, Na" keluh Raka.


"Andai aja waktu itu gue ada di basecamp, mungkin gue bakal ngejar tuh pelaku sampai dapet" ucap Raka dengan mata yang berkaca-kaca.


Ana pun turun dari motornya Raka, lalu ia pun langsung memeluk Raka untuk menenangkannya.


"Luh gak perlu ngerasa bersalah, karena semua itu bukan salah luh, tapi itu semua adalah takdir" ucap Ana.


"Na" ucap Raka.


"Iya" ucap Ana.


"Luh janji ya gak akan ninggalin gue" ucap Raka.


"Iya, gue janji" ucap Ana.


"Na" ucap Raka lagi.


"Apa lagi" ucap Ana.


"Kayaknya kita lebih cocok sahabatan aja ya, dari pada jadian" ucap Raka.


"Iya, makanya ngapain coba luh waktu itu nembak gue" ucap Ana.


"Karena gue sayang sama luh, tapi setelah dipikir-pikir ternyata lebih nyaman sahabatan sih dari pada pacaran" ujar Raka.


"Iya bener, gue sebenernya geli banget waktu gue ngomong pake aku kamu waktu kita pacaran" ucap Ana.


"Maaf ya, waktu itu gue nyobekin tugas luh sama Lino. Karena waktu itu gue masih kesel aja sama dia" ucap Raka.


"Kalau yang itu gue udah maafin, tapi kalau yang luh nyebut gue cewek murahan gue gak bakal maafin" ucap Ana.


"Sumpah gue waktu itu gak niat kok ngomong kayak gitu" ucap Raka.


"Gak niat mata mu! gue kena mental tahu waktu luh ngomong kayak gitu" ucap Ana terus terang.


"Iya gue salah waktu itu, maafin ya?" tanya Raka


"Yaudah gue maafin, tapi gue minta satu permintaan buat luh" ucap Ana.


"Permintaan apaan?" tanya Raka.


"Gue mohon agar luh sama Lino baikan" ucap Ana.


Raka pun terdiam sejenak.


"Gue sih mau aja baikan sama dia, tapi kayaknya dia gak mau deh baikan sama gue" ujar Raka.


"Nanti gue bantu deh, biar luh baikan sama Lino" ucap Ana.


"Luh kenapa pingin lihat gue baikan sama Lino?" tanya Raka.


"Karena gue pingin lihat luh berdua akur lagi" ucap Ana.


"Luh suka ya sama Lino?" tanya Raka.


"Enggak" ucap Ana.


"Bohong" ucap Raka.


"Ih beneran" kata Ana.


"Pantes aja waktu itu curhatnya ke Lino" ucap Raka.


"Gue curhat gak cuma ke Lino, tapi ke Clara sama Gilang juga" ucap Ana.


"Kenapa gak curhat ke gue aja?" tanya Raka.


"Kan waktu itu kita berantem" ucap Ana.


"Iya juga ya" kata Raka.


"Yaudah yuk! kita berangkat ke rumah Clara" ucap Ana.


"Oh iya gue lupa" kata Raka.


Ana dan Raka pun segera menaiki motor kembali. Lalu mereka berdua pun segera pergi menuju rumah Clara.


* Rumah Clara


Sesampainya di rumah Clara, Ana pun langsung turun dari motornya Raka.


Lalu Ana pun segera menekan bel rumah Clara.


"Eh ada Raka" ujar Clara.


"Iya, Raka yang anterin gue kesini" ucap Ana.


"Kalian baikan lagi?" tanya Clara.


"Iya" ucap Ana dan Raka bersamaan.


"Berarti kalian jadian lagi dong?" tanya Clara


"Enggak!" sahut Ana.


"Kita lebih cocok jadi sahabat dari pada jadi pacar" ucap Ana.


"Yaudah, masuk yuk!" ajak Clara.


"Na, biar gue yang bawa tas nya" ucap Raka.


Ana pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Raka.


Mereka bertiga pun segera masuk kedalam rumah.


"Kalian duduk dulu aja" kata Clara.


Ana dan Raka pun menuruti perkataan Clara.


"Bentar ya! gue mau ambil minum dulu" ucap Clara.


Clara pun segera pergi menuju dapur.


Setelah mengambil minum, Clara pun segera menghampiri Ana dan Raka.


"Nih! minum dulu" kata Clara.


"Makasih" ucap Ana dan Raka.


Ana dan Raka pun meminum minuman yang Clara berikan.


"Ra" panggil Ana.


"Kenapa, Na?" tanya Clara.


"Gue nginep disini karena gue takut, Ra" ucap Ana terus terang.


"Takut sendirian di rumah?" tanya Clara.


"Kalau sendirian di rumah sih gak takut, cuma ada seseorang yang nguntit gue" ucap Ana.


"Nguntit luh?" tanya Clara memastikan.


"Iya, tadi Raka yang lihat orang itu ada didepan rumah" ucap Ana.


"Luh lihat wajah orangnya, Ka?" tanya Clara kepada Raka.


"Enggak, soalnya dia pake masker sama topi" ucap Raka.


"Apa jangan-jangan dia yang nyebarin foto luh sama Lino" ucap Clara.


"Bisa jadi" ucap Ana.


"Yaudah untuk sekarang lebih baik luh tinggal di rumah gue dulu sampai orang tua luh pulang" ucap Clara.


"Hmm...gue gak ngerepotin luh kan, Ra?" tanya Ana.


"Enggak kok, lagian gue seneng kalau ada yang nemenin gue di rumah" ucap Clara.


"Oh iya, orang tua luh kemana?" tanya Ana.


"Mereka lagi pergi keluar kota" ucap Clara.


"Yaudah gue pulang dulu ya, kalau ada apa-apa telepon aja" ucap Raka.


"Makasih ya, Ka" ucap Ana.


Raka pun mengangguk mengiyakan ucapan Ana.


Kemudian Raka pun pulang ke rumahnya.


"Na, luh udah lapor polisi belum?" tanya Clara.


"Gue gak akan lapor polisi, Ra" ucap Ana.


"Kenapa?" tanya Clara.


"Lagian polisi mana percaya sih, lagian pasti mereka pikir ngapain nguntit gue kan gue bukan artis" ucap Ana.


"Iya juga sih" ucap Clara.


"Tapi Raka bakal bilang kok sama satpam komplek biar diperketat keamanannya" ucap Ana.


"Perhatian banget si Raka" ucap Clara.


"Iya lah, kan kita sahabatan" ucap Ana.


"Gak ada niatan jadian lagi gitu?" tanya Clara.


"Enggak! lagian sebenernya Raka bukan tipe gue" ucap Ana.


"Emang tipe luh yang kayak gimana?" tanya Clara.


"Yang kelihatannya dingin tapi perhatian" ucap Ana.


"Oh gue tahu" heboh Clara.


"Maksudnya?" tanya Ana bingung.


"Lino kan maksud luh?" tanya Clara.


Ana pun langsung terdiam.