ARLINO

ARLINO
Episode 157



Lalu Ana segera mengambil ponselnya.


"Mah, udah dulu ya" ucap Ana.


Ana segera mematikan panggilan teleponnya.


"Ya udah, No! besok aku ikut" ucap Ana.


"Oh iya, Na! boleh tolong pilihin jas gak buat besok kesana" ucap Lino.


"Boleh" ucap Ana.


"Ya udah ayo ke kamar" ucap Lino.


Lalu Ana dan Lino segera menuju kamar.


Setelah sampai di kamar, Lino segera membuka lemari dan ia langsung mengeluarkan beberapa jas nya.


"Bagus yang mana?" tanya Lino.


"Ya pake dulu lah jas nya" ucap Ana.


Lalu Lino segera memakai jas tersebut.


"Bagus gak?" tanya Lino.


"Bagus, tapi coba deh yang ini" suruh Ana.


Lalu Lino segera mencoba jas pilihan Ana.


"Gimana?" tanya Lino.


"Yang ini coba" suruh Lino.


Lino segera mencoba jas yang lainnya.


"Yang ini?" tanya Lino.


"Coba yang ini" ucap Ana.


Lalu Lino segera mencoba jas tersebut.


"Udah yang ini aja" ucap Ana.


"Oke" ucap Lino.


Lalu Lino segera memasukan jas yang tidak ia pilih kedalam lemari, sedangkan jas yang di pilih ia simpan di meja yang berada dikamarnya.


"Oh iya, kamu mau beli dress gak? nanti biar aku yang bayar" ucap Lino.


"Gak usah, lagian aku punya banyak dress kok" ucap Ana.


"Oh iya, nanti kamu ke rumah aku nya jam berapa?" tanya Ana.


"Jam lima kali ya soalnya perjalanannya lumayan jauh" ucap Lino.


"Oh ya udah" ucap Ana.


"Nanti pas aku ke rumah kamu, kamu harus udah siap ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


"Jangan lupa dandan yang cantik" ucap Lino.


"Iya nanti aku bilang ke mamah biar dandanin aku" ucap Ana.


"Tapi jangan terlalu cantik, soalnya nanti orang-orang ngira kamu yang nikah" ucap Lino.


"Kamu juga jangan terlalu ganteng, nanti banyak cewek yang suka" ucap Ana.


Lalu Lino hanya tersenyum mendengar ucapan Ana.


"Ya udah ayo ke ruang tamu" ajak Lino.


Lalu mereka berdua segera pergi menuju ruang tamu.


Trining...trining


Lalu Ana segera melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari Clara.


"Siapa?" tanya Lino.


"Clara" ucap Ana.


Lalu Ana segera menjawab panggilan telepon dari Clara.


"Hallo, Ra" ucap Ana.


"Na, main yuk! gue bosen di rumah" ucap Clara.


"Hmm...gimana ya masalahnya gue sekarang lagi di rumah Lino" ucap Ana.


"Oh lagi pacaran ya" ucap Clara.


"Gue ke rumah Lino karena dia lagi sakit, bukan karena mau pacaran" ucap Ana.


"Emang dia sakit apa?" tanya Clara.


"Katanya sih gak enak badan" ucap Ana.


"Oh gitu" ucap Clara.


"Ya udah kalau gitu, gimana kalau besok kita main bareng Felisa sama Lia" ucap Clara.


"Gue besok juga gak bisa main, soalnya mau ke nikahan" ucap Ana.


"Nikahan siapa?" tanya Clara.


"Nikahan sepupunya Lino" ucap Ana.


"Wah! luh diundang sepupunya Lino? berarti luh udah deket banget dong sama keluarga Lino" ucap Clara.


"Gue sebenernya gak diundang, cuma Lino aja yang nyuruh gue supaya datang kesana" ucap Ana.


"Ya udah kalau gitu lain kali aja deh mainnya" ucap Clara.


"Iya, lain kali aja ya" ucap Ana.


"Kalau gitu gue tutup dulu ya teleponnya" ucap Clara.


"Iya" ucap Ana.


Lalu Clara segera mematikan panggilan teleponnya.


"Iya juga ya" ucap Ana.


"Mungkin karena Clara sama aku sama-sama cerewet kali ya, makanya jadi lebih deket" ucap Ana.


"Aku bilangin ke Clara ah" ucap Lino.


"Hah? bilangin apa?" bingung Ana.


"Bilangin kalau kamu ngegosipin dia, terus bilang dia cerewet" canda Lino.


"Ih jangan dong! kan aku bilangnya Clara sama aku yang cerewet, bukan cuma Clara doang" ucap Ana.


"Kamu kok nganggap serius sih, kan aku cuma bercanda" ucap Lino.


"Soalnya muka kamu kayak yang lagi serius" ucap Ana.


"Lagian kalau aku bilang kenapa? Clara juga gak bakal marah ini sama kamu" ucap Lino.


"Kan siapa tahu dia sakit hati karena aku bilang dia cerewet" ucap Ana.


"Enggak lah, bahkan dulu Acha sering bilang kalau Clara tuh cerewet didepan Clara nya langsung. Tapi dia gak sakit hati kok, malah dia bilang katanya biarin cerewet daripada bisu" ucap Lino.


Ana hanya tersenyum karena mendengar ucapan Lino.


"Kayaknya waktu itu yang paling rame dikelas Acha sama Clara ya?" tanya Ana.


"Iya! kalau mereka lagi konser nyanyi, mungkin kelas setara sama keramaian di pasar. Di tambah lagi kalau Gilang sama Clara debat, mungkin bakal berisik banget. Sampe waktu itu ada guru yang negur ke kelas karena kelas nya berisik" jelas Lino.


"Tapi waktu aku jadi murid baru, kok di kelas gak seheboh yang kamu ceritain sih" ucap Ana.


"Soalnya kan saat naik kelas sebelas, pikiran mereka jadi sedikit lebih dewasa. Jadi mungkin mereka semua ngubah sikap kekanak-kanakannya" ucap Lino.


"Kamu waktu kelas sepuluh sering bolos ya" ucap Ana.


"Tahu dari mana?" tanya Lino.


"Kan waktu itu kamu cerita" ucap Ana.


"Oh iya, aku lupa" ucap Lino.


"Waktu kelas sepuluh sering ngerokok juga?" tanya Ana.


"Enggak, aku kelas sepuluh gak ngerokok" ucap Lino.


"Berarti kamu ikut-ikutan Gilang ya?" tanya Ana.


"Bukan sih, lebih tepatnya aku sama Gilang coba-coba aja eh terus jadi ketagihan" ucap Lino.


"Emang ngerokok enak ya?" tanya Ana penasaran.


"Hmm...gimana ya jelasin" bingung Lino.


"Ya udah gak usah dijelasin" ucap Ana.


"Tapi kok kamu gak pernah ngerokok didepan aku sih" heran Ana.


"Ya aku gak mau nanti kamu batuk-batuk karena ngisep asap rokok" ucap Lino.


"Aku boleh ngerokok gak?" canda Ana tapi dengan muka serius agar Lino kaget dengan ucapan nya.


"Ya gak boleh lah, ngapain coba cewek ngerokok" ucap Lino.


"Kan biar keren" ucap Ana sambil tertawa kecil.


"Malah ketawa lagi" kata Lino.


"Oh iya, aku denger-denger katanya ada rokok rasa buah ya?" tanya Ana.


"Itu vape bukan rokok" ucap Lino.


"Ya udah kalau gitu aku mau nge-vape aja" ucap Ana.


"Jangan!" ucap Lino.


"Emang kenapa gak boleh? kan bukannya rasa buah ya? berarti nanti aku sehat dong kalau nge-vape kan rasa buah" ucap Ana polos.


"Pokoknya itu gak sehat buat kesehatan" ucap Lino.


"Terus yang sehat apa?" tanya Ana.


"Makan buah dan sayur" ucap Lino.


"Tapi aku gak suka sayur" ucap Ana.


"Ya udah buah aja" ucap Lino.


"Aku juga gak suka buah" bohong Ana.


"Ya udah kalau gitu makan nasi aja" ucap Lino.


"Aku juga gak suka nasi" bohong Ana.


"Terus sukanya apa?" tanya Lino.


"Kamu" ucap Ana.


"Ya udah nih makan daging aku" ucap Lino sambil tersenyum.


"Ya udah kalau gitu aku ambil saos dulu ya, soalnya daging lebih enak kalau pake saos" canda Ana.


"Sekalian pake nasi aja makannya" ucap Lino.


"Kalau dibayangin ngeri juga ya" ucap Ana.


"Kamu ngebayangin apa emangnya?" tanya Lino.


"Aku ngebayangin makan jantung kamu" ucap Ana.


Lalu Lino langsung tertawa karena mendengar ucapan Ana.


"Dasar psikopat" ucap Lino.


"Emang psikopat itu beneran ada ya?" tanya Ana.


"Ada" ucap Lino.


"Dan salah satunya kamu" ucap Lino sambil tertawa kecil.


"Enak aja!" ucap Ana sambil memukul pelan tangan Lino.