
Lalu mamah Ana menghampiri Lino, Clara dan Felisa.
"Tante" sapa Clara.
"Eh Clara" ucap mamah Ana.
Lalu Clara dan Felisa langsung mencium tangan mamah Ana.
"Kenapa nunggunya diluar?" tanya mamah Ana.
"Ana nya nyuruh kita keluar, tan" ucap Clara.
"Loh Ana udah sadar?" tanya mamah Ana.
"Udah, tante" ucap Lino.
"Kenapa dia nyuruh kalian keluar?" tanya mamah Ana.
"Gak tahu tante" ucap Clara.
"Ya udah ayo masuk aja" ucap mamah Ana.
"Enggak tante, kita disini aja. Mungkin Ana nya kecapean kali, makanya dia pingin sendiri" ucap Felisa.
"Ya udah kalau gitu tante masuk ya, soalnya Ana belum makan dari tadi pagi" ucap mamah Ana.
"Iya, tante" ucap Clara, Felisa dan Lino.
Lalu mamah Ana segera masuk kedalam.
"Ana, kamu kenapa nangis sayang?" tanya mamah.
"Enggak kenapa-napa kok, mah" ucap Ana sambil mengusap air matanya.
"Kamu kenapa ngusir temen-temen kamu?" tanya mamah.
Ana pun hanya terdiam.
"Kamu berantem ya sama mereka?" tanya mamah.
Ana hanya menggelengkan kepalanya seraya menjawab enggak.
"Terus kenapa mereka disuruh pergi?" tanya mamah.
"Mah, Ana lapar" ucap Ana mengalihkan pembicaraan.
"Ya udah, kamu makan dulu nih buburnya" ucap mamah sambil memberikan bubur kepada Ana.
"Mau disuapin gak?" tanya mamah lagi.
"Enggak" ucap Ana.
Lalu Ana langsung menyantap bubur tersebut.
...****...
"No, kita berdua mau bicarain sesuatu sama luh" ucap Clara.
"Bicarain apa?" tanya Lino.
"Penguntit itu emang Naya" ucap Clara pelan.
"Beneran Naya?" tanya Lino memastikan.
"Iya" ucap Clara.
"Tadi Felisa lihat CCTV nya, terus dia yakin bahwa itu Naya soalnya sepatu penguntit itu mirip sama sepatu yang dikasih Felisa ke Naya" jelas Clara.
"Serius, Fel?" tanya Lino.
"Iya, gue serius" ucap Felisa.
"Gue gak nyangka kalau Naya sejahat itu" ucap Clara.
"Sama gue juga" ucap Felisa.
"Apa jangan-jangan dia juga yang nyelakain Acha?" ucap Lino.
"Gue gak tahu" ucap Felisa.
Lalu Lino berniat pergi namun dicegah oleh Clara.
"Luh mau kemana?" tanya Clara.
"Gue mau nyamperin Naya" ucap Lino sambil pergi.
"Ra, gue takut" ucap Felisa.
"Takut kenapa, Fel?" tanya Clara.
"Lino serem banget, nanti kalau Naya ditonjok gimana?" ucap Felisa.
"Kita susul aja yuk" ucap Felisa.
"Tapi Ana gimana?" tanya Clara.
"Dia kan lagi sama mamahnya, jadi kita gak perlu khawatir" ucap Felisa.
"Ya udah ayo" ucap Clara.
Lalu mereka berdua segera pergi menyusul Lino.
...****...
Setelah sampai, Lino segera membunyikan bel rumah Bagas dan Naya.
Kemudian pagar rumahnya dibuka oleh Bagas.
"Ngapain luh kesini?" tanya Bagas.
"Naya mana?" tanya Lino.
"Ngapain nyari Naya?" tanya Bagas.
"Gue mau ngomong sama dia" ucap Lino dengan ekspresi wajah yang serius.
"Cepet suruh dia keluar!" suruh Lino.
"No" panggil Clara dan Felisa yang baru sampai.
Lalu mereka berdua segera menghampiri Lino dan Bagas.
"Ada apa sih rame-rame kesini?" tanya Bagas.
"Cepet panggilin Naya!" ucap Lino dengan tegas.
"Ya udah luh semua masuk aja" ucap Bagas.
Lalu mereka segera masuk kedalam rumah.
Kemudian Bagas segera pergi menuju kamar Naya.
"Nay, ada temen-temen luh di ruang tamu" ucap Bagas.
"Mau ngapain?" tanya Naya.
"Mana gue tahu" ucap Bagas.
Lalu Naya segera pergi menuju ruang tamu.
"Kalian ngapain kesini?" tanya Naya.
PLAKK
Lino pun langsung menampar pipi Naya.
"Aww" ringis Naya.
"No!" teriak Clara dan Felisa saat melihat Lino menampar Naya.
"Luh ngapain nampar Naya?" tanya Bagas yang baru turun dari tangga.
"Udah gue duga ternyata emang luh penguntit itu" ucap Lino.
"No, luh ngapain sih nuduh-nuduh Naya segala" ucap Bagas sambil mendorong tubuh Lino.
"Gue bukan nuduh, tapi itu emang fakta!" ucap Lino.
"Emang luh punya bukti apa kalau Naya penguntit itu?" tanya Bagas.
"Banyak buktinya! ada gantungan kunci, tulisan tangan Naya yang mirip sama penguntit itu dan juga CCTV" ucap Lino.
"Iya, di CCTV itu gue ngelihat kalau sepatu penguntit itu mirip sama sepatu yang dikasih gue ke Naya" jelas Felisa.
"Nay, luh penguntitnya?" tanya Bagas sambil menatap wajah Naya.
"Bukan!" bohong Naya.
Lalu Naya pun langsung pergi menuju kamarnya.
"No, lebih baik kita ke rumah sakit lagi yuk!" ucap Clara sambil menarik tangan Lino.
Lalu Clara, Felisa dan Lino segera keluar dari rumah Naya dan Bagas.
"ARRGHH" teriak Lino.
"No, udah! jangan emosi" ucap Clara.
"No, jangan marah-marah! Gue jadi takut, kalau ngelihat luh kayak gitu" ucap Felisa.
"Ya udah ayo kita ke rumah sakit" ucap Clara.
Lalu Lino pun segera pergi menuju rumah sakit dengan menaiki ojek.
Lalu Clara segera menaiki motor Felisa. Kemudian Felisa langsung melajukan motornya menuju rumah sakit.
Setelah sampai, Lino segera pergi ke ruangan Ana.
Saat pintu ruangan tersebut dibuka, ternyata Ana dan mamahnya tidak ada di ruangan tersebut.
"Suster" panggil Lino.
"Iya, ada apa?" tanya suster itu.
"Pasien ruangan ini kemana ya?" tanya Lino.
"Tadi baru aja pulang" ucap suster.
"Oh gitu, makasih ya sus" ucap Lino sambil pergi.
"No, mau kemana?" tanya Clara dan Felisa yang baru sampai.
"Ke rumah Ana, soalnya Ana udah pulang" ucap Lino sambil menaiki motor abang ojek.
"Ayo ke rumah Ana" ucap Clara.
Lalu Felisa pun segera melajukan motornya menuju rumah Ana.
...****...
Setelah sampai di rumah Ana, Lino pun segera menekan bel rumah Ana.
Tidak lama setelah menekan bel, mamah Ana segera membukakan pintu untuk Lino.
"No" ucap mamah Ana.
"Iya, tante" ucap Lino.
"Kamu berantem gak sama Ana?" tanya mamah Ana.
"Enggak kok, tante" ucap Lino.
"Serius?" tanya mamah Ana.
"Iya serius" ucap Lino.
"Kalau sama temen-temennya yang tadi ke rumah sakit?" tanya mamah Ana.
"Dia juga gak berantem sama mereka kok, tante" ucap Lino.
"Terus Ana kenapa dong? dia nangis mulu dari tadi" ucap mamah Ana.
"Saya boleh ketemu sama Ana nya gak, tante?" tanya Lino.
"Ya udah sana" ucap mamah Ana.
Lalu Lino segera masuk kedalam dan ia segera pergi menuju kamar Ana.
Tok...tok
"Buka aja, mah" ucap Ana.
Cklek
"Lino" gumam Ana.
"Na, kamu kenapa?" tanya Lino sambil menghampiri Ana.
"No, aku mohon! kamu jangan deket-deket sama aku" ucap Ana.
"Kenapa aku gak boleh deket-deket sama kamu?" tanya Lino.
"No, pergi!" ucap Ana sambil melemparkan bantal kepada Lino.
Kemudian Lino pun langsung mendekat kepada Ana, lalu ia langsung duduk dipinggir kasur Ana.
"Na, kamu kenapa sih?" bingung Lino.
"Pergi!!" ucap Ana sambil menangis.
Lalu Lino langsung memeluk tubuh Ana.
"Lepasin!!!" ucap Ana sambil memukul dada Lino.
"Aku gak bakal lepasin sebelum kamu jawab pertanyaan aku" ucap Ana.
"No, aku mohon sama kamu! jauhin aku" ucap Ana sambil menangis sesenggukan.
"Aku gak mau jauhin kamu" ucap Lino.
"No, aku takut" lirih Ana.
"Kamu takut sama Naya?" tanya Lino.
Ana hanya terdiam sambil meneteskan air matanya.
"Na, kamu takut sama Naya?" tanya Lino ulang.
"No, cepet pergi!" ucap Ana sambil berusaha melepaskan pelukannya.
"Naya bilang apa sama kamu?" tanya Lino namun tidak dijawab oleh Ana.
"Dia ngancem kamu?" tanya Lino.
Ana hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lino.
"Dia ngancem apa?' tanya Lino.
"No, aku mohon! jauhin aku" lirih Ana.
"Dia ngancem apa, Na?" tanya Lino lagi.
"No, cepet pergi!" teriak Ana.
Lalu Clara dan Felisa masuk kedalam kamar Ana.
"Na, luh gak apa-apa kan?" tanya Clara.
"Pergi!!!" usir Ana.
Lalu Lino segera melepaskan pelukannya.
"Guys ayo ikut gue" ucap Lino.
Lalu Clara dan Felisa segera mengikuti Lino.
"Tante, kita pulang dulu ya" ucap Lino.
"Loh kok sebentar kesininya" ucap mamah Ana.
"Iya, soalnya Ana nya gak mau ketemu kita" ucap Lino.
"Ana marah ya sama kalian?" tanya mamah Ana kepada Clara dan Felisa.
"Enggak kok, tante! kita gak berantem" ucap Clara.
"Ya udah tante, kita pulang dulu ya" ucap Lino.
"Iya hati-hati ya" ucap mamah Ana.
Lalu mereka bertiga segera keluar dari rumah Ana.