
Keesokan harinya, Ana pun segera berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Ana pun segera bergegas ke kelasnya.
Pada saat tiba di kelas, semua orang yang berada dikelas pun menatap Ana.
"Ada apa?" ucap Ana bingung karena ditatap oleh mereka.
"Na, ini rumor cuma hoax kan?" tanya felisa sambil memperlihatkan ponselnya kepada Ana.
"Ini rumor dari mana asalnya?" tanya Ana.
"Dari grup angkatan" ucap Felisa.
"Siapa yang nyebarin?" tanya Ana lagi.
"Gue gak tahu, soalnya gue gak save no yang nyebarinnya" ucap Felisa.
Tiba-tiba geng Zahra pun datang menghampiri Ana.
"Oh jadi ini alasan dia pindah sekolah" sindir Zahra.
"Kasian korban bully nya sampai bunuh diri" ucap temennya Zahra yang bernama Ajeng.
"Maksud kalian apa?" tanya Ana.
"Alah sok polos luh" ucap Ajeng.
Ana pun menaruh tasnya dan langsung pergi keluar kelas, lebih tepatnya menuju rooftop.
Sesampainya di rooftop, Ana pun menangis sejadi-jadinya.
"Ini semua emang salah gue" ucap Ana yang merasa bersalah.
Ana pun jadi teringat kembali masa lalu yang kelam itu.
Flashback On
"Na, kenapa sih kamu sekarang berubah?" tanya Chika.
"Berubah? maksudnya?"
"Hmm...kamu jadi sering ngehindarin aku"
"Itu cuma perasaan kamu kali"
"Maafin Ana, Ana ngehindarin Chika karena Ana gak mau ikut terbully" batin Ana.
* Kelas
"Heh, cewek culun! beliin gue roti sana tapi pake uang luh" ucap Elma.
"Beliin gue juga dong" ucap Tiara.
"Iya" ucap Chika.
Ana pun melirik kearah mereka lalu kembali fokus ke buku novelnya.
Setelah beberapa menit kemudian, Chika pun datang dengan membawa roti.
"Lama amat sih luh" ucap Elma.
"Ini rotinya"
"Apaan nih kok rasa coklat, gue gak suka rasa coklat!!!" teriak Elma.
"Yaudah, Chika beliin yang baru aja ya"
"Gak! gue udah gak mood sekarang. Lebih baik luh yang makan ini" ucap Elma sambil memasukkan paksa roti itu ke mulut Chika.
Ana pun mulai kesal, lalu Ana pun bangkit menuju mereka bertiga.
"Ngapain luh kesini? Mau bantu dia? Atau mau gue bully sekalian"
"Gimana nih, gue kasian sama Chika tapi kalau gue bantu nanti gue juga dijadiin bahan bullyan" batin Ana.
Ana pun keluar dari kelasnya.
"Tuh, lihat kan! luh gak punya temen lagi disini. Ana itu cuma kasian sama luh" ucap Elma.
Ana pun masuk ke ruang BK dan melaporkan kejadian itu kepada guru BK.
Ana dan guru BK pun segera menuju ke kelas.
"Pak saya izin ke toilet ya"
"Yaudah sana, masalah dikelas biar bapak aja yang selesaikan"
Ana pun menuju toilet, dan tidak ada seorang pun di toilet itu.
Ana pun melihat pantulan wajahnya dicermin.
"Gue jahat banget sih jadi orang, ngebiarin sahabatnya dibully" gumam Ana dan tanpa sadar Ana pun meneteskan air mata.
Hari berikutnya.
"Guys..guys! ada berita duka" ucap ketua kelas yang bernama Adam.
"Berita apa?" ucap semuanya.
"Chika meninggal akibat bunuh diri"
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un" ucap semuanya.
"Adam, gue izin ya! gue mau ke rumah nya Chika" ucap Ana sambil buru-buru meninggalkan kelasnya.
Sesampainya di rumah Chika, Ana pun tidak berhenti menangis.
Kemudian mamahnya Chika pun menghampiri Ana.
"Ana"
"ii..iya, tante" ucap Ana gemetar.
"Sebelum Chika bunuh diri, dia bikin surat buat kamu" ucap mamah Chika.
"Surat?"
"Iya, ini surat buat kamu" ucap mamahnya sambil menahan tangisnya.
Ana pun mengambil surat itu dan langsung membacanya.
Untuk : Ana
Dari : Chika
Hai Ana.
Pertama-tama Chika pingin ngucapin makasih ke Ana karena udah mau jadi temen Chika, Chika seneng banget karena punya temen yang cantik dan baik kayak Ana. Tapi beberapa bulan belakang ini, Chika ngerasa Ana selalu ngehindarin Chika. Apa Chika punya salah ya sama ana?? Atau Ana malu punya temen kayak Chika??? Tapi dengan surat ini, Chika harap Ana bisa maafin Chika ya. Surat ini juga menjadi surat pertama dan terakhir untuk Ana dari Chika. Karena saat Ana baca surat ini, kemungkinan Chika udah gak ada didunia ini. Chika sayang banget sama Ana.
I Love you, My best friend.
Flashback Off
Disaat Ana menangis, tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya dan dia duduk disamping Ana.
Ana pun tidak menjawab perkataan Lino.
"Udah jangan didengerin apa kata orang" ucap Lino lagi.
Ana pun menangis semakin kencang.
Kemudian Lino pun memeluk Ana sambil menepuk-nepuk pelan punggung Ana.
Saat Lino memeluk Ana, entah kenapa hati Ana mulai sedikit tenang.
"Luh gak ke kelas?" tanya Ana.
"Luh sendiri kenapa gak ke kelas?" tanya Lino balik.
"Gue pingin nenangin diri dulu. Terus kalau luh ngapain kesini?" tanya Ana.
"Gue kan emang sering bolos pelajaran Pak Farhan" ucap Lino
"Emang kenapa sih sering bolos dipelajaran pak Farhan mulu?" tanya Ana.
"Males aja, gue selalu kena omel pas pelajarannya"
"Masa cuma diomelin doang langsung takut"
"Gue gak takut ya! cuma telinga gue sakit denger omelannya"
Ana pun tersenyum.
"Nah, gitu dong senyum! btw, luh bener gak bakal ke kelas? Nanti luh gak diabsen loh"
"Iya gak apa-apa, gue masuknya dipelajaran selanjutnya aja "
Skip
Kriningg..kriningg
Bel jam pelajaran kedua pun berbunyi.
" Tuh belnya udah bunyi, ayo masuk" ucap Lino.
"No" panggil Ana.
"Kenapa?"
"Gue takut mereka masih ngomongin gue" ucap Ana sambil menunduk.
"Udah jangan khawatir nanti gue belain luh"
"Luh kenapa mau belain gue? Padahal luh kan gak tahu ceritanya" tanya Ana.
"Na, denger ya! gue bakal ngebela luh karena gue tahu luh gak mungkin ngebully orang lain"
"Makasih udah percaya sama gue"
"Iya, sama-sama"
...****...
Ana dan Lino pun memasuki kelas, sontak anak-anak kelas pun menatap Ana dan Lino.
Ana dan Lino pun duduk dikursi masing-masing.
"Kalian berdua habis dari mana?" tanya Naya.
"Hmm..kita habis dari" ucap Ana gugup.
"Dari UKS, tadi bu Ratna nyuruh kita buat nolongin orang yang pingsan waktu olahraga" ucap Lino berbohong.
"Terus sambil nunggu orang itu sadar, kita disuruh bu Ratna buat bantuin bersih-bersih di UKS" ucap Lino.
"Tumben luh nurut sama guru" ucap Bagas.
"Karena kita dikasih uang" ucap Lino berbohong.
Tidak lama guru pun masuk dan pembelajaran pun dimulai.
...****...
Sebagian orang pun sudah berada di kantin, tinggal menyisakan beberapa orang saja didalam kelas.
"Ana, ayo ke kantin!" ucap Lino.
"Eh, No! luh gak ngajak gue?" keluh Gilang.
"Yaudah ayo!" ucap Lino pada Gilang.
Setelah mau melangkahkan kaki keluar kelas, tiba-tiba ada yang memanggil.
"Ana, gue boleh ikut kan?" tanya Clara.
"Boleh kok" ucap Ana yang merasa senang karena Clara masih mau dekat dengannya.
Kemudian Ana, Clara, Lino dan Gilang pun pergi ke kantin.
...****...
* Kantin
Kami pun memesan makanan lalu duduk di tempat yang telah disediakan.
"Na, luh gak mau cerita apa ke gue tentang masalah luh" ucap Clara.
"Gue pingin cerita tapi kalau gue cerita, pasti gue bakal sedih lagi inget kejadian itu" ucap Ana.
"Yaudah luh cerita aja, lagian kalau luh cerita pasti luh merasa jauh lebih baikan" ucap Lino.
"Yaudah iya gue bakal nyeritain ke kalian kejadian yang sebenarnya" ucap Ana.
"Oh iya luh kan sendiri di rumah gimana kalau malam ini gue nginep di rumah luh" ucap Clara.
"Boleh" ucap Ana sambil tersenyum.
"Gimana kalau curhatnya di rumah luh? Sekalian gue numpang makan" ucap Gilang
"Dasar! makanan mulu otak luh" ucap Lino.
"Jadi kalian bener mau ke rumah gue habis pulang sekolah?" tanya Ana
"Iya, soalnya gue bosen di rumah" ucap Gilang.
"Oh yaudah" ucap Ana.
"Yaudah, nanti pulangnya luh diantar Lino, kalau Clara nanti gue aja yang antar" ucap Gilang.
"Emang Lino mau ikut?" tanya Ana.
"Iya, gue ikut" ucap Lino karena merasa kasihan kepada Ana.
"Tapi Lang, nanti anterin ke rumah gue dulu, gue mau bilang ke orang tua gue dulu sekalian mau ngambil barang-barang" ucap Clara
"Ok, sip!" ucap Gilang.