ARLINO

ARLINO
Episode 55



"Maaf pak, saya telat" ucap Lino yang baru datang.


"Iya, gak apa-apa. Kelompok kamu udah ngumpulin tugas belum?" tanya pak Dimas.


"Belum" ucap Lino.


"Ya udah cepet kumpulin" ucap pak Dimas.


Lalu Lino pun segera mengumpulkan gambarnya di meja.


Setelah itu, ia pun segera duduk dikursinya.


"Luh ngegambar apa sama Ana?" tanya Bagas.


"Ngegambar Albert Einstein" jawab Lino.


"Bukannya ngegambar Ana ya?" tanya Bagas.


"Enggak kok" ucap Lino.


"Ana, Lino" panggil pak Dimas.


"Kenapa, pak?" tanya Ana dan Lino bersamaan.


"Ini yang buat gambarnya siapa?" tanya pak Dimas.


"Lino, pak!" sahut Ana.


"Beneran kamu Lino?" tanya pak Dimas memastikan.


"Iya, pak! saya yang gambar" ucap Lino.


"Emangnya kenapa pak?" sahut Ana.


"Gambarnya bagus" ucap pak Dimas.


Semua yang berada dikelas pun langsung melirik kearah Lino dengan tatapan tak percaya.


"Lino sama Ana ikut bapak ke ruang guru" ucap pak Dimas.


"Mau apa, pak?" tanya Ana.


"Pokoknya ikut aja! sekalian tolong bawain gambar-gambarnya" ucap pak Dimas.


Lalu Lino segera mengambil gambar-gambar tersebut. Kemudian mereka berdua pun mengikuti pak Dimas dari belakang.


"Mau ngapain sih?" bisik Ana.


"Gue juga gak tahu" bisik Lino.


Setelah sampai di ruang guru, Lino pun menaruh kertas karton putih itu dimeja pak Dimas.


"Ada apa ya, pak?" tanya Ana.


"Nih, buat kalian" ucap pak Dimas sambil memberikan dua box coklat kepada Lino dan Ana.


Lino dan Ana pun hanya terdiam karena bingung.


"Bapak ngasih ini karena gambar kalian yang paling bagus dikelas" jelas pak Dimas.


"Nih ambil" ucap pak Dimas.


"Makasih, pak" ucap Ana dan Lino sambil mengambil coklat tersebut.


"Iya sama-sama" ucap pak Dimas.


"Lino" panggil pak Dimas.


"Kenapa, pak?" tanya Lino.


"Kamu mau gak ikut ekskul melukis?" tanya pak Dimas.


"Enggak, pak" ucap Lino.


"Kenapa? padahal gambar kamu bagus loh" ucap pak Dimas.


"Gak apa-apa, pak. Saya cuma gak mau ikut aja" ucap Lino.


"Oh gitu ya" ucap pak Dimas.


"Ya udah pak, kita berdua mau ke kelas dulu" ucap Ana.


"Oh iya" ucap pak Dimas.


Lalu Ana dan Lino pun segera pergi.


"Nih, buat luh aja" ucap Lino.


"Itu kan buat luh, masa dikasih gue" ucap Ana.


"Gue gak suka" ucap Lino.


"Beneran buat gue nih?" tanya Ana memastikan.


"Iya" ucap Lino sambil tersenyum.


"Makasih" ucap Ana sambil mengambil coklat tersebut.


"Oh iya, handphone gue mana?" tanya Ana.


"Ada di tas gue" jawab Lino.


"No" panggil Ana.


"Kenapa?" tanya Lino.


"Bagas tuh orangnya kayak gimana sih?" tanya Ana.


"Luh kan pacarnya, harusnya luh tahu dong" ucap Lino.


"Tapi kan luh yang paling lama kenal sama dia" ucap Ana.


"Bagas baik kok orangnya" ucap Lino.


"Beneran baik?" tanya Ana memastikan.


"Iya, dia baik" ucap Lino.


"Emang kenapa sih?" heran Lino.


"Gak apa-apa" ucap Ana.


Setelah sampai, mereka pun segera masuk kedalam kelas. Saat Ana baru mau duduk, tiba-tiba bel istirahat pun berbunyi.


Semua siswa dan siswi yang berada dikelas pun segera pergi menuju kantin.


"Ana, nih" ucap Lino yang menghampiri Ana.


"Kok handphone Ana bisa sama luh?" tanya Felisa.


Lalu Clara dan Naya pun melihat kearah Lino.


"Kemarin waktu kerja kelompok ketinggalan" jelas Lino.


"Kerja kelompok apa?" bingung Naya.


"SBK" ucap Lino.


"Bukannya udah ya?" tanya Naya.


"Soalnya gambarnya diganti lagi" ucap Lino.


"Kenapa diganti?" tanya Clara.


"Gak apa-apa, pingin diganti aja" ucap Lino.


"Ya udah guys! kita ke kantin yuk" ucap Felisa.


"Yuk" sahut Clara heboh.


"Lia ayo ikut" ucap Felisa.


"Iya" ucap Lia.


Ana, Lia, Naya, Clara dan Felisa pun segera pergi menuju kantin. Setelah itu, mereka pun segera membeli makanan dan minuman. Lalu setelah itu, mereka pun segera duduk di tempat yang telah disediakan. Dan mereka pun segera memakan makanan yang telah mereka beli.


"Lia, waktu itu kenapa gak gabung sama kita? kita punya salah ya sama luh?" tanya Clara sambil memakan mie.


"Enggak kok" ucap Lia.


"Kalau kita punya salah, kasih tahu aja. Nanti kita bakal introspeksi diri kok" ucap Clara.


"Na, luh kenapa bengong mulu?" tanya Naya.


"Enggak kenapa-napa" ucap Ana.


"Luh berantem ya sama kakak gue?" tanya Naya memastikan.


Ana pun hanya terdiam.


"Beneran berantem?" tanya Naya lagi.


"Enggak kok, Nay" ucap Ana.


"Terus luh kenapa?" tanya Naya.


"Gue gak apa-apa kok" ucap Ana.


"Syukur deh kalau gak apa-apa" ucap Naya.


"Na, tadi luh sama Lino kenapa disuruh ikut pak Dimas ke ruang guru?" tanya Felisa.


"Tadi pak Dimas ngasih coklat ke gue sama Lino" ucap Ana.


"Coklat? kenapa ngasihnya cuma ke luh berdua?" tanya Clara.


"Karena kelompok gue paling bagus gambarnya" jelas Ana.


"Gue gak nyangka tahu, kalau si Lino jago gambar" ucap Felisa.


"Iya sama gue juga gak nyangka" ucap Lia.


"Awalnya gue juga gak percaya Lino jago gambar, tapi waktu Ana bilang bahwa itu gambar yang dibuat Lino, gue jadi percaya bahwa itu beneran gambar yang dibuat Lino" jelas Clara.


"Na, ikut aku dulu" ucap Bagas.


"Enggak mau, aku belum selesai makan" ucap Ana.


"Ikut dulu, bentar!" perintah Bagas.


"Kak, luh apa-apaan sih! ganggu orang lagi makan segala" ucap Naya.


Semua orang yang berada dikantin pun langsung melihat kearah mereka.


"Ya udah cepet habisin makanannya dulu" ucap Bagas sambil duduk disebelah Ana.


"Luh ngapain sih duduk disini! kita jadi gak nyaman nih makannya" ucap Clara.


"Kalau gak nyaman, pindah aja sana" ucap Bagas.


Clara pun menahan emosinya karena ia tidak ingin ribut dihadapan banyak orang.


Akhirnya Ana pun selesai memakan makanan tersebut.


"Ayo ikut aku!" ajak Bagas.


Ana pun terpaksa harus mengikuti Bagas.


Lalu Bagas pun segera membawa Ana ke rooftop.


"Mau ngomongin apa sih, Gas?" tanya Ana.


"Pinjem handphone kamu" ucap Bagas.


"Buat apa?" tanya Ana.


"Pinjem dulu!" bentak Bagas.


"Gak mau!" teriak Ana.


"Kamu udah berani ya ngejawab omongan aku" kesal Bagas.


"Aku mau putus sama kamu" ucap Ana tiba-tiba.


"Apa? coba ulangi lagi yang kamu bilang barusan?" ucap Bagas sambil memegang dagu Ana.


"Aku mau putus" teriak Ana.


Plakkk


Bagas pun langsung menampar pipi Ana.


"Aww" ringis Ana.


Lalu tiba-tiba Lino pun muncul dan langsung menghampiri Ana dan Bagas.


"Gas, luh apa-apaan sih" ucap Lino sambil mendorong Bagas.


"Luh jangan ikut campur, ini urusan kita berdua" ucap Bagas.


"Setidaknya luh jangan nampar pacar luh dong" ucap Lino.


"Bac*t luh!" ucap Bagas sambil pergi.